← Beranda
7 Hal yang Perlahan Ditinggalkan Orang Saat Mereka Merasa Nyaman dengan Diri Mereka Sendiri
Irfan FerdiansyahSabtu, 5 September 2026 | 06.15 WIB
seseorang yang merasa nyaman dengan diri sendiri./Magnific/benzoix

JawaPos.com - Ada fase dalam hidup ketika seseorang tidak lagi terlalu sibuk membuktikan siapa dirinya kepada orang lain.

Ia tidak menjadi manusia yang sempurna. Ia masih bisa merasa takut, kecewa, marah, malu, atau ragu. Namun, ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya: ia tidak lagi merasa harus mendapatkan persetujuan semua orang agar dirinya terasa berharga.

Menariknya, perubahan ini sering kali tidak terjadi secara dramatis.

Tidak ada pengumuman bahwa seseorang telah menjadi lebih percaya diri. Tidak ada tanda khusus yang langsung terlihat. Sebaliknya, perubahan tersebut muncul melalui hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Cara seseorang berbicara berubah. Cara ia menghadapi kritik berubah. Cara ia memilih teman berubah. Bahkan hal-hal yang dahulu terasa sangat penting perlahan kehilangan kekuatannya.

Dalam psikologi, kenyamanan terhadap diri sendiri dapat berkaitan dengan penerimaan diri, harga diri yang lebih stabil, kemampuan mengatur emosi, dan berkurangnya ketergantungan pada validasi eksternal. Ketika seseorang mulai menerima dirinya dengan lebih realistis, ia tidak lagi harus terus-menerus melawan dirinya sendiri.

Dan ketika pertarungan batin itu mulai mereda, beberapa kebiasaan lama biasanya ikut ditinggalkan.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (29/8), terdapat tujuh hal yang perlahan sering dilepaskan seseorang ketika ia semakin nyaman dengan dirinya sendiri.

1. Kebutuhan untuk Selalu Mendapatkan Persetujuan Orang Lain

Salah satu perubahan paling besar adalah berkurangnya kebutuhan untuk disukai semua orang.

Ketika seseorang belum merasa nyaman dengan dirinya sendiri, pendapat orang lain dapat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perasaannya.

Satu komentar negatif bisa membuatnya memikirkan dirinya sepanjang hari.

Satu orang yang tidak menyukainya dapat membuatnya bertanya-tanya:

“Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?”

“Apakah aku kurang baik?”

“Bagaimana kalau orang lain juga berpikir seperti itu?”

Akibatnya, ia mungkin menghabiskan banyak energi untuk menyesuaikan diri. Ia mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin mengatakan “tidak”. Ia mengubah pendapatnya agar tidak menimbulkan konflik. Ia menyembunyikan bagian tertentu dari kepribadiannya karena takut dianggap aneh.

Namun, semakin seseorang memiliki penerimaan diri yang sehat, semakin ia memahami bahwa disukai bukanlah kebutuhan mutlak.

Ia mulai menyadari bahwa dirinya tidak mungkin cocok dengan semua orang.

Dan itu bukan masalah.

Orang yang nyaman dengan dirinya tidak selalu kebal terhadap penolakan. Ia tetap bisa merasa sedih ketika tidak disukai. Bedanya, penolakan tersebut tidak lagi otomatis diterjemahkan sebagai bukti bahwa dirinya tidak berharga.

Ia mampu mengatakan dalam hati:

“Orang itu mungkin tidak cocok denganku. Itu tidak berarti aku buruk.”

Ini adalah perbedaan penting.

Kepercayaan diri yang sehat bukan berarti seseorang berpikir bahwa semua orang akan menyukainya. Justru sebaliknya, ia mulai menerima kenyataan bahwa ketidakcocokan adalah bagian normal dari hubungan antarmanusia.

Ia tidak lagi menjadikan penerimaan sosial sebagai satu-satunya sumber nilai dirinya.

2. Kebiasaan Membandingkan Diri Secara Berlebihan

Manusia secara alami melakukan perbandingan sosial. Kita melihat kehidupan orang lain untuk memahami posisi diri sendiri.

Masalahnya muncul ketika perbandingan tersebut menjadi kebiasaan yang membuat seseorang terus merasa kurang.

Ia melihat teman yang lebih sukses.

Kemudian merasa tertinggal.

Ia melihat orang yang lebih menarik.

Kemudian merasa tidak cukup baik.

Ia melihat seseorang yang memiliki rumah, karier, pasangan, atau kehidupan yang tampak lebih bahagia.

Lalu ia mulai mempertanyakan kehidupannya sendiri.

Ketika seseorang semakin nyaman dengan dirinya, pola ini biasanya mulai melemah.

Bukan karena ia berhenti melihat keberhasilan orang lain, melainkan karena keberhasilan orang lain tidak lagi otomatis menjadi bukti kegagalannya sendiri.

Ia dapat melihat seseorang yang lebih maju dan berpikir:

“Bagus untuk dia.”

Tanpa harus melanjutkan dengan:

“Berarti aku gagal.”

Ini merupakan perubahan psikologis yang cukup penting.

Orang tersebut mulai memahami bahwa kehidupan bukan perlombaan dengan garis finis yang sama untuk semua orang.

Ia juga semakin sadar bahwa apa yang terlihat dari luar sering kali tidak menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang.

Media sosial, misalnya, dapat memperlihatkan pencapaian tetapi tidak memperlihatkan kecemasan. Foto perjalanan memperlihatkan tempat indah tetapi tidak memperlihatkan masalah yang terjadi di balik layar. Seseorang mungkin tampak sangat bahagia sementara sebenarnya sedang menghadapi banyak hal yang tidak diketahui orang lain.

Karena itu, ketika seseorang semakin menerima dirinya, ia mulai memusatkan perhatian pada pertanyaan yang lebih sehat:

“Apakah aku berkembang dibandingkan diriku yang dulu?”

bukan:

“Apakah hidupku lebih baik daripada hidup orang lain?”

Perbandingan eksternal perlahan digantikan oleh evaluasi internal.

3. Keinginan untuk Menjelaskan Diri kepada Semua Orang

Ada masa ketika seseorang merasa harus menjelaskan setiap keputusan yang dibuatnya.

Mengapa ia memilih pekerjaan tertentu.

Mengapa ia tidak datang ke sebuah acara.

Mengapa ia mengakhiri hubungan.

Mengapa ia memilih hidup sederhana.

Mengapa ia tidak mengikuti kebiasaan orang lain.

Ia merasa bahwa jika orang lain salah memahami dirinya, maka ia harus segera memperbaikinya.

Namun, ketika seseorang semakin nyaman dengan dirinya sendiri, kebutuhan tersebut dapat berkurang.

Ia mulai memahami bahwa tidak semua kesalahpahaman harus diluruskan.

Tidak semua kritik harus dijawab.

Tidak semua tuduhan membutuhkan pembelaan panjang.

Dan tidak semua orang harus memahami pilihannya.

Ini bukan berarti ia menjadi cuek atau tidak peduli.

Ia tetap dapat menjelaskan sesuatu ketika memang diperlukan. Tetapi ia tidak lagi merasa bertanggung jawab atas setiap persepsi yang dimiliki orang lain terhadap dirinya.

Ada perbedaan besar antara:

“Aku ingin menjelaskan karena hubungan ini penting bagiku.”

dan:

“Aku harus menjelaskan karena aku tidak tahan jika seseorang memiliki pandangan negatif tentang diriku.”

Yang pertama berasal dari komunikasi.

Yang kedua sering kali berasal dari kebutuhan akan validasi.

Orang yang nyaman dengan dirinya mulai menerima bahwa dirinya tidak memiliki kendali penuh atas bagaimana orang lain menafsirkan dirinya.

Dan menerima keterbatasan tersebut dapat terasa sangat membebaskan.

4. Kebiasaan Mengatakan “Ya” Ketika Sebenarnya Ingin Mengatakan “Tidak”

Batasan pribadi merupakan salah satu tanda penting dalam hubungan yang sehat.

Namun, menetapkan batasan tidak selalu mudah bagi seseorang yang takut mengecewakan orang lain.

Ia mungkin menerima terlalu banyak permintaan.

Membantu ketika sebenarnya sedang kelelahan.

Menghadiri sesuatu yang tidak ingin dihadiri.

Tetap berada dalam hubungan yang membuatnya tidak nyaman.

Atau terus tersedia untuk orang lain karena takut dianggap egois.

Pada akhirnya, ia terlihat seperti orang yang sangat baik, tetapi di dalam dirinya muncul kelelahan dan frustrasi.

Ketika seseorang mulai merasa aman dengan dirinya sendiri, ia perlahan belajar bahwa mengatakan “tidak” tidak selalu berarti menjadi orang jahat.

Ia dapat berkata:

“Maaf, kali ini aku tidak bisa.”

Tanpa merasa harus memberikan sepuluh alasan.

Ia dapat menolak sebuah permintaan tanpa merasa bersalah selama berhari-hari.

Ia mulai memahami bahwa menjaga energi, waktu, dan batas pribadi bukanlah tindakan egois.

Tentu saja, menetapkan batasan bukan berarti menolak semua orang.

Orang yang sehat secara psikologis tetap mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Tetapi ia juga mulai memasukkan kebutuhannya sendiri ke dalam pertimbangan.

Ia tidak lagi berpikir:

“Bagaimana agar semua orang senang?”

Melainkan:

“Bagaimana aku bisa menghormati orang lain tanpa mengkhianati diriku sendiri?”

Pertanyaan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam cara seseorang memandang dirinya.

5. Kebutuhan untuk Selalu Terlihat Kuat dan Sempurna

Ada orang yang merasa harus selalu terlihat baik-baik saja.

Ia tidak boleh terlihat bingung.

Tidak boleh gagal.

Tidak boleh meminta bantuan.

Tidak boleh menunjukkan kelemahan.

Tidak boleh mengatakan bahwa dirinya sedang kesulitan.

Karena jauh di dalam dirinya terdapat keyakinan bahwa kelemahan akan membuat orang lain kehilangan rasa hormat.

Namun, semakin nyaman seseorang dengan dirinya, semakin ia dapat menerima bahwa menjadi manusia berarti memiliki keterbatasan.

Ia bisa mengatakan:

“Aku tidak tahu.”

“Aku salah.”

“Aku membutuhkan bantuan.”

“Aku sedang tidak baik-baik saja.”

“Aku belum bisa melakukannya.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang, mengucapkannya membutuhkan keberanian besar.

Penerimaan diri membuat seseorang tidak terlalu takut terhadap ketidaksempurnaan.

Ia tidak lagi melihat kesalahan sebagai ancaman terhadap identitasnya.

Jika ia gagal, ia dapat berpikir:

“Aku gagal melakukan sesuatu.”

bukan:

“Aku adalah orang gagal.”

Perbedaan bahasa tersebut mencerminkan perbedaan cara melihat diri.

Kegagalan menjadi sebuah pengalaman, bukan identitas.

Dengan begitu, seseorang tidak perlu terus mempertahankan citra sempurna di hadapan orang lain.

Ia dapat menjadi manusia yang apa adanya.

6. Drama yang Tidak Perlu dan Hubungan yang Menguras Energi

Ketika seseorang belum nyaman dengan dirinya sendiri, terkadang ia lebih mudah terjebak dalam dinamika hubungan yang tidak sehat.

Bukan karena ia menginginkan penderitaan, tetapi karena pola tersebut mungkin terasa familiar.

Ia mungkin terus mencari perhatian dari seseorang yang tidak konsisten.

Terus mengejar orang yang tidak menghargainya.

Terus berusaha memenangkan penerimaan dari orang yang selalu merendahkannya.

Atau terlibat dalam konflik yang sebenarnya tidak perlu karena merasa harus membuktikan sesuatu.

Namun, ketika seseorang semakin mengenal dirinya, toleransinya terhadap kekacauan emosional yang tidak perlu dapat menurun.

Ia mulai bertanya:

“Apakah hubungan ini membuatku merasa aman?”

“Apakah aku bisa menjadi diriku sendiri di sini?”

“Apakah masalah ini benar-benar perlu aku tanggapi?”

“Apakah hubungan ini saling menghormati?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuatnya lebih selektif.

Ia tidak selalu memilih hubungan yang paling menarik atau paling intens. Ia mulai menghargai hubungan yang stabil, jujur, dan saling menghormati.

Menariknya, bagi sebagian orang, ketenangan pada awalnya justru terasa membosankan.

Jika sebelumnya terbiasa dengan hubungan yang penuh tarik-ulur, konflik, kecemburuan, dan ketidakpastian, hubungan yang sehat mungkin terasa asing.

Tetapi seiring waktu, seseorang dapat belajar bahwa kedamaian bukan berarti tidak ada cinta.

Ketenangan bukan berarti tidak ada gairah.

Dan hubungan yang tidak penuh drama bukan berarti hubungan tersebut tidak berarti.

Kadang-kadang, kedewasaan emosional terlihat dari kemampuan seseorang untuk tidak lagi mengejar kekacauan hanya karena kekacauan terasa familiar.

7. Kebiasaan Terus-Menerus Menghukum Diri Sendiri

Mungkin inilah hal yang paling dalam.

Ketika seseorang tidak nyaman dengan dirinya, ia dapat menjadi kritikus paling keras bagi dirinya sendiri.

Kesalahan kecil dipikirkan berulang-ulang.

Keputusan masa lalu terus disesali.

Kekurangan terus diperbesar.

Ia mungkin berbicara kepada dirinya dengan cara yang tidak akan pernah ia gunakan kepada orang yang ia sayangi.

“Aku bodoh.”

“Aku selalu gagal.”

“Kenapa aku seperti ini?”

“Aku seharusnya tahu lebih baik.”

Namun, ketika penerimaan diri tumbuh, suara batin tersebut dapat berubah.

Bukan berarti kritik diri menghilang sepenuhnya.

Manusia tetap melakukan kesalahan dan mengevaluasi dirinya.

Tetapi evaluasi perlahan berubah menjadi lebih konstruktif.

Alih-alih:

“Aku memang tidak becus.”

menjadi:

“Apa yang bisa kupelajari dari kejadian ini?”

Alih-alih:

“Kenapa aku selalu seperti ini?”

menjadi:

“Apa yang sebenarnya sedang kubutuhkan?”

Alih-alih:

“Aku seharusnya tidak pernah melakukan kesalahan itu.”

menjadi:

“Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi aku bisa menentukan apa yang kulakukan setelah ini.”

Inilah salah satu bentuk self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri.

Belas kasih terhadap diri bukan berarti membenarkan semua kesalahan.

Bukan pula berarti menolak tanggung jawab.

Justru seseorang dapat mengakui kesalahan sambil tetap memperlakukan dirinya dengan manusiawi.

Ia berkata:

“Aku salah.”

Tanpa menambahkan:

“Karena itu aku tidak layak dihargai.”

Ketika seseorang sampai pada titik ini, hubungan dengan dirinya sendiri berubah secara mendasar.

Ia tidak lagi hidup sebagai musuh bagi dirinya sendiri.

Ketika Seseorang Mulai Nyaman dengan Dirinya, Hidupnya Tidak Selalu Menjadi Lebih Mudah

Ada kesalahpahaman bahwa menerima diri berarti hidup akan menjadi bebas dari kecemasan, rasa takut, atau keraguan.

Tidak demikian.

Seseorang yang nyaman dengan dirinya masih bisa mengalami hari buruk.

Masih bisa merasa insecure.

Masih bisa membutuhkan dukungan.

Masih bisa takut ditolak.

Masih bisa melakukan kesalahan.

Perbedaannya terletak pada cara ia menghadapi semua itu.

Ia tidak lagi menganggap setiap emosi negatif sebagai bukti bahwa dirinya bermasalah.

Ia tidak harus melarikan diri dari setiap ketidaknyamanan.

Ia dapat merasa takut tanpa langsung menyerah.

Ia dapat menerima kritik tanpa langsung membenci dirinya sendiri.

Ia dapat menerima pujian tanpa menjadi bergantung padanya.

Ia dapat kehilangan seseorang tanpa merasa kehilangan seluruh identitasnya.

Dengan kata lain, kenyamanan terhadap diri sendiri bukan kondisi ketika seseorang selalu merasa hebat.

Justru sering kali itu adalah kondisi ketika seseorang tidak perlu merasa hebat setiap saat untuk tetap menghargai dirinya.

Ada Kebebasan yang Muncul Ketika Kita Tidak Lagi Sibuk Membuktikan Diri

Pada akhirnya, mungkin salah satu tanda terbesar seseorang mulai berdamai dengan dirinya sendiri adalah berkurangnya kebutuhan untuk membuktikan sesuatu.

Ia tidak harus selalu menjadi yang paling sukses.

Tidak harus menjadi yang paling menarik.

Tidak harus memenangkan setiap perdebatan.

Tidak harus mendapatkan pengakuan dari semua orang.

Tidak harus membuat semua orang memahami pilihannya.

Ia mulai menjalani hidup berdasarkan nilai yang benar-benar penting baginya.

Dan dari sinilah muncul bentuk kebebasan yang sangat tenang.

Ia bisa berjalan dengan kecepatannya sendiri.

Ia bisa mengatakan tidak.

Ia bisa mengubah pikiran.

Ia bisa mengakui kesalahan.

Ia bisa meninggalkan hubungan yang tidak sehat.

Ia bisa menikmati kesendirian.

Ia bisa menerima bahwa hidupnya tidak sempurna.

Yang paling penting, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai proyek yang harus terus diperbaiki agar layak dicintai.

Ia mulai melihat dirinya sebagai manusia yang sedang bertumbuh.

Dan mungkin, pada akhirnya, merasa nyaman dengan diri sendiri bukan tentang mencintai setiap bagian dari diri kita setiap hari.

Kadang-kadang, itu hanya berarti kita berhenti memusuhi diri sendiri.

Kita berhenti memaksa diri menjadi seseorang yang bukan diri kita.

Kita berhenti mengukur nilai diri berdasarkan pandangan orang lain.

Dan perlahan, kita belajar mengatakan:

“Aku masih punya banyak hal untuk diperbaiki, tetapi aku tidak harus membenci diriku selama prosesnya.”

Itulah salah satu bentuk kedewasaan psikologis yang paling sederhana sekaligus paling sulit dicapai.

Bukan menjadi sempurna.

Melainkan mampu hidup bersama diri sendiri dengan lebih damai.

EDITOR: Hanny Suwindari