← Beranda
8 Alasan Mengapa Orang Mungkin Menjalin Hubungan dengan Pasangan yang Tidak Benar-Benar Mereka Sukai
Irfan FerdiansyahKamis, 3 September 2026 | 06.58 WIB
seseorang yang menjalin hubungan dengan pasangan yang tidak benar-benar mereka sukai./Magnific/komodo

JawaPos.com - Tidak semua hubungan romantis dimulai dari perasaan cinta yang kuat. Ada orang yang sejak awal merasa sangat tertarik kepada pasangannya, tetapi ada pula yang menjalani hubungan karena alasan yang jauh lebih kompleks.

Menariknya, seseorang bahkan bisa tetap bertahan dalam sebuah hubungan meskipun jauh di dalam hati ia menyadari bahwa dirinya tidak benar-benar menyukai pasangan tersebut.

Bagi orang di luar hubungan, situasi seperti ini mungkin terasa membingungkan. Mengapa seseorang mau berpacaran dengan orang yang sebenarnya tidak terlalu ia sukai? Mengapa tidak mengakhiri hubungan saja?

Menurut psikologi, jawabannya tidak selalu sederhana. Hubungan romantis bukan hanya tentang rasa suka. Di dalamnya ada kebutuhan akan keamanan, penerimaan, kedekatan, status sosial, kebiasaan, ketakutan akan kesepian, bahkan pengalaman masa lalu yang dapat memengaruhi cara seseorang memilih pasangan.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (2/9), terdapat delapan alasan yang mungkin menjelaskan mengapa seseorang menjalin hubungan dengan pasangan yang sebenarnya tidak benar-benar mereka sukai.

1. Takut Kesepian

Salah satu alasan yang paling umum adalah ketakutan terhadap kesendirian.

Bagi sebagian orang, memiliki pasangan memberikan rasa aman secara emosional. Mereka merasa lebih tenang ketika mengetahui ada seseorang yang dapat dihubungi, diajak berbicara, ditemani, atau dianggap sebagai tempat bergantung.

Akibatnya, seseorang mungkin memilih tetap berada dalam hubungan meskipun perasaannya terhadap pasangan tidak terlalu kuat.

Dalam kondisi seperti ini, yang dipertahankan bukan selalu hubungan karena cinta, melainkan karena kehadiran orang lain dianggap lebih nyaman daripada menghadapi kesepian.

Seseorang mungkin berpikir:

"Aku sebenarnya tidak terlalu mencintainya, tetapi setidaknya aku tidak sendirian."

Pikiran semacam ini dapat membuat seseorang mengabaikan ketidakcocokan yang sebenarnya sudah dirasakan.

Masalahnya, ketakutan terhadap kesepian dapat membuat seseorang menganggap hubungan yang tidak memuaskan sebagai pilihan yang lebih baik daripada tidak memiliki hubungan sama sekali.

Padahal, secara psikologis, kesendirian dan kesepian bukanlah hal yang sama. Seseorang bisa saja tidak memiliki pasangan tetapi tetap mempunyai hubungan sosial yang sehat dengan keluarga, teman, atau komunitas.

Sebaliknya, seseorang bisa berada dalam hubungan romantis tetapi tetap merasa sangat kesepian.

Karena itu, memiliki pasangan tidak selalu berarti kebutuhan emosional seseorang benar-benar terpenuhi.

2. Merasa Tidak Enak Hati untuk Menolak

Ada orang yang sebenarnya tidak tertarik kepada seseorang, tetapi sulit mengatakan "tidak".

Mereka mungkin takut menyakiti perasaan orang tersebut.

Orang dengan kecenderungan sangat mengutamakan perasaan orang lain bisa mengalami konflik batin ketika mendapatkan perhatian romantis. Mereka merasa bersalah jika menolak seseorang yang sudah menunjukkan keseriusan.

Akhirnya, hubungan dimulai bukan karena perasaan yang kuat, tetapi karena rasa tidak tega.

Misalnya, seseorang berpikir:

"Dia sudah begitu baik kepadaku. Masa aku menolaknya?"

Atau:

"Aku takut dia kecewa kalau aku mengatakan bahwa aku tidak punya perasaan yang sama."

Pada awalnya, keputusan tersebut mungkin terasa seperti bentuk kebaikan.

Namun dalam jangka panjang, menjalani hubungan tanpa perasaan yang cukup dapat menimbulkan masalah bagi kedua pihak.

Pasangan mungkin semakin berharap, sementara orang yang sebenarnya tidak terlalu menyukai hubungan tersebut semakin merasa terbebani.

Ironisnya, keinginan untuk tidak menyakiti seseorang pada awal hubungan justru dapat menyebabkan rasa sakit yang lebih besar ketika hubungan akhirnya berakhir.

Karena itu, dalam hubungan romantis, kejujuran emosional sering kali lebih sehat daripada mempertahankan hubungan hanya karena rasa kasihan.

3. Mendapatkan Validasi dan Merasa Diinginkan

Manusia memiliki kebutuhan psikologis untuk merasa dihargai, diterima, dan diinginkan.

Ketika seseorang mendapatkan perhatian romantis, ia bisa merasakan peningkatan harga diri.

Pesan-pesan perhatian, pujian, ajakan bertemu, atau perlakuan istimewa dari pasangan dapat memberikan sensasi bahwa dirinya berharga.

Dalam kondisi tertentu, seseorang mungkin sebenarnya tidak terlalu menyukai pasangannya, tetapi menyukai perasaan yang muncul ketika mendapatkan perhatian dari pasangan tersebut.

Dengan kata lain, yang disukai bukan selalu orangnya, melainkan validasi yang diberikan oleh hubungan tersebut.

Seseorang mungkin merasa:

"Aku senang ketika dia memperhatikanku."

Tetapi itu berbeda dengan:

"Aku benar-benar menyukai dirinya sebagai pribadi."

Perbedaan ini cukup penting.

Hubungan yang terutama dibangun berdasarkan kebutuhan validasi bisa menjadi rapuh ketika perhatian mulai berkurang. Seseorang mungkin kemudian merasa kehilangan, bukan karena kehilangan pasangan yang benar-benar dicintai, tetapi karena kehilangan sumber perhatian dan pengakuan.

Dalam psikologi, kebutuhan untuk merasa diterima memang merupakan bagian penting dari kehidupan sosial manusia. Namun, jika harga diri terlalu bergantung pada perhatian pasangan, seseorang bisa kesulitan membedakan antara cinta, ketertarikan, dan kebutuhan untuk merasa diinginkan.

4. Terlanjur Nyaman karena Sudah Menjalani Hubungan

Hubungan yang sudah berlangsung lama dapat menciptakan rasa familiar.

Pasangan mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari: saling berkabar, makan bersama, pergi bersama, bertemu keluarga, merayakan ulang tahun, atau merencanakan masa depan.

Akibatnya, membayangkan hidup tanpa pasangan terasa jauh lebih sulit daripada membayangkan tetap bersama.

Ini dapat membuat seseorang bertahan meskipun perasaannya sebenarnya sudah berubah.

Salah satu mekanisme psikologis yang dapat berperan adalah kecenderungan manusia mempertahankan sesuatu yang sudah memiliki investasi waktu, energi, emosi, dan pengalaman.

Seseorang mungkin berpikir:

"Kami sudah bersama selama bertahun-tahun. Sayang kalau berakhir."

Padahal, lamanya hubungan tidak otomatis menunjukkan bahwa hubungan tersebut masih sehat atau bahwa kedua orang masih memiliki perasaan yang sama.

Masa lalu juga dapat membuat seseorang merasa memiliki "utang emosional" terhadap pasangan.

Ia mengingat semua hal yang telah mereka lalui bersama, sehingga mengakhiri hubungan terasa seperti membuang seluruh sejarah tersebut.

Padahal, sebuah hubungan yang pernah bermakna tetap dapat memiliki nilai meskipun pada akhirnya tidak dilanjutkan.

Tidak semua sesuatu yang pernah berharga harus dipertahankan selamanya.

5. Tekanan dari Keluarga atau Lingkungan Sosial

Pilihan pasangan terkadang tidak sepenuhnya berasal dari keinginan pribadi.

Keluarga, teman, lingkungan sosial, dan norma budaya dapat memberikan pengaruh besar terhadap keputusan seseorang mengenai hubungan.

Misalnya, seseorang mungkin mendengar:

"Dia orang baik. Kenapa tidak kamu coba?"

Atau:

"Kamu sudah cukup umur. Kapan menikah?"

Ada pula situasi ketika pasangan dianggap ideal oleh keluarga karena memiliki pekerjaan bagus, berasal dari keluarga tertentu, memiliki pendidikan yang baik, atau dianggap memiliki masa depan yang menjanjikan.

Akibatnya, seseorang bisa merasa terdorong untuk mempertahankan hubungan meskipun dirinya sendiri tidak terlalu tertarik secara romantis.

Dalam situasi seperti ini, muncul konflik antara apa yang diinginkan diri sendiri dan apa yang dianggap benar oleh lingkungan.

Tekanan sosial menjadi semakin kuat ketika seseorang takut dianggap terlalu pilih-pilih, takut mengecewakan keluarga, atau takut mendapatkan pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya.

Hubungan akhirnya dipertahankan karena memenuhi ekspektasi sosial, bukan karena hubungan tersebut benar-benar memberikan kepuasan emosional.

Inilah sebabnya mengapa keputusan tentang pasangan idealnya tidak hanya mempertimbangkan penilaian orang lain, tetapi juga pengalaman subjektif seseorang di dalam hubungan tersebut.

6. Menganggap Pasangannya "Orang Baik", Meskipun Tidak Ada Ketertarikan

Ada perbedaan antara menghargai seseorang dan menginginkan hubungan romantis dengannya.

Seseorang bisa sangat menghormati pasangannya.

Ia mungkin menganggap pasangannya baik, bertanggung jawab, perhatian, pekerja keras, setia, dan memiliki karakter yang positif.

Namun semua kualitas tersebut tidak otomatis menciptakan ketertarikan romantis.

Kadang-kadang seseorang berpikir:

"Dia sebenarnya pasangan yang ideal. Seharusnya aku mencintainya."

Tetapi perasaan tidak selalu bekerja berdasarkan daftar kualitas.

Kita bisa mengetahui secara rasional bahwa seseorang baik untuk kita, tetapi tetap tidak merasakan koneksi emosional atau ketertarikan romantis yang cukup.

Hal ini dapat menciptakan kebingungan.

Seseorang mungkin merasa bersalah karena tidak bisa mencintai orang yang menurutnya "sempurna".

Padahal, tidak adanya ketertarikan bukan berarti pasangan tersebut buruk.

Demikian pula, memiliki ketertarikan terhadap seseorang tidak otomatis berarti hubungan tersebut sehat.

Hubungan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar penilaian bahwa pasangan adalah orang baik. Ada unsur kecocokan, rasa aman, penghargaan, komunikasi, ketertarikan, dan kemauan dari kedua pihak untuk menjalani hubungan.

7. Takut Tidak Menemukan Pasangan yang Lebih Baik

Ketakutan mengenai masa depan juga dapat membuat seseorang bertahan dalam hubungan yang sebenarnya tidak ia sukai.

Seseorang mungkin menyadari bahwa hubungan tersebut tidak terlalu memuaskan, tetapi kemudian muncul pertanyaan:

"Kalau aku putus, bagaimana kalau nanti tidak ada yang mau denganku?"

Ketakutan seperti ini dapat membuat seseorang memilih sesuatu yang familiar daripada mengambil risiko.

Ada kecenderungan manusia untuk lebih menyukai kepastian dibandingkan ketidakpastian, terutama ketika keputusan tersebut berkaitan dengan kebutuhan emosional.

Hubungan yang tidak ideal tetapi sudah dikenal bisa terasa lebih aman daripada kemungkinan harus memulai kembali dari nol.

Hal ini dapat semakin kuat ketika seseorang merasa usia terus bertambah, melihat teman-temannya sudah menikah, atau mendapatkan tekanan sosial untuk segera memiliki pasangan.

Akhirnya, standar keputusan berubah.

Bukan lagi:

"Apakah aku bahagia bersama orang ini?"

melainkan:

"Apakah hubungan ini cukup baik daripada tidak punya pasangan?"

Perubahan cara berpikir tersebut dapat membuat seseorang bertahan dalam hubungan yang sebenarnya sudah tidak sesuai dengan kebutuhannya.

8. Sulit Membedakan Cinta, Keterikatan, dan Kebiasaan

Tidak semua perasaan kuat dalam sebuah hubungan berarti cinta romantis.

Seseorang bisa sangat terbiasa dengan pasangannya. Bisa merasa takut kehilangan. Bisa merasa membutuhkan pasangan. Bisa merasa cemburu. Bisa merasa nyaman.

Namun semua itu tidak selalu sama dengan mencintai pasangan secara romantis.

Keterikatan emosional dapat membuat seseorang sulit menilai perasaannya secara objektif.

Misalnya, ketika membayangkan putus, ia merasa sangat sedih.

Kemudian ia menyimpulkan:

"Berarti aku masih mencintainya."

Padahal, kesedihan tersebut bisa muncul karena kehilangan rutinitas, rasa aman, teman berbicara, atau seseorang yang selama ini menjadi bagian besar dari kehidupannya.

Inilah mengapa memahami perasaan sendiri membutuhkan refleksi.

Pertanyaan yang lebih membantu mungkin bukan hanya:

"Apakah aku takut kehilangan dia?"

tetapi:

"Apa sebenarnya yang aku takutkan dari kehilangan hubungan ini?"

Apakah takut kehilangan orangnya?

Takut sendirian?

Takut mengecewakan keluarga?

Takut harus memulai kembali?

Atau takut kehilangan kenyamanan yang selama ini sudah terbentuk?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya sedang ia pertahankan.

Jadi, Apakah Hubungan Seperti Ini Berarti Palsu?

Tidak selalu.

Perasaan manusia sangat kompleks dan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Seseorang mungkin tidak memiliki ketertarikan yang besar pada awal hubungan, tetapi kemudian tumbuh menjadi semakin dekat. Sebaliknya, seseorang juga bisa memulai hubungan dengan perasaan yang kuat tetapi kemudian menyadari bahwa mereka tidak lagi cocok.

Karena itu, tidak tepat untuk langsung menyimpulkan bahwa seseorang yang menjalin hubungan tanpa ketertarikan yang kuat sedang "memanfaatkan" pasangannya.

Yang lebih penting adalah memahami mengapa hubungan tersebut dipertahankan dan apakah kedua pihak mengetahui kondisi emosional masing-masing.

Masalah menjadi lebih serius ketika seseorang secara sadar memberikan harapan yang tidak sesuai dengan perasaannya, berpura-pura mencintai, atau mempertahankan pasangan hanya demi keuntungan tertentu tanpa mempertimbangkan dampak emosional terhadap pasangannya.

Bagaimana Mengetahui Apakah Kita Benar-Benar Menyukai Pasangan?

Jika seseorang mulai mempertanyakan perasaannya sendiri, ia dapat melakukan refleksi sederhana.

Cobalah tanyakan kepada diri sendiri:

1. Jika tidak ada tekanan dari keluarga atau lingkungan, apakah saya tetap memilih hubungan ini?

2. Apakah saya menyukai pasangan saya sebagai pribadi, atau hanya menyukai perhatian yang ia berikan?

3. Ketika membayangkan masa depan bersama, apakah saya merasa tenang atau justru merasa terbebani?

4. Apakah saya bertahan karena cinta atau karena takut sendirian?

5. Jika pasangan berhenti memberikan semua kenyamanan yang saya dapatkan, apakah saya masih ingin bersamanya?

6. Apakah saya merasa bebas menjadi diri sendiri di dalam hubungan ini?

7. Apakah saya menghormati dan menghargai pasangan, atau sekadar takut kehilangan hubungan?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan alat diagnosis psikologis. Namun, refleksi semacam itu dapat membantu seseorang memahami motivasi di balik keputusannya.

Pada Akhirnya, Hubungan Bukan Sekadar tentang "Punya Pasangan"

Banyak orang tumbuh dengan anggapan bahwa memiliki pasangan adalah tanda bahwa kehidupan mereka berjalan dengan baik.

Padahal, kualitas hubungan jauh lebih penting daripada sekadar status hubungan.

Seseorang bisa memiliki pasangan tetapi merasa tidak dipahami.

Seseorang bisa memiliki hubungan bertahun-tahun tetapi merasa tidak benar-benar terhubung.

Sebaliknya, seseorang yang sedang tidak memiliki pasangan belum tentu kesepian atau tidak bahagia.

Dalam hubungan romantis yang sehat, idealnya kedua orang tidak hanya memilih satu sama lain karena takut sendirian, tekanan sosial, rasa kasihan, atau kebutuhan validasi.

Mereka memilih untuk bersama karena memang menghargai satu sama lain dan bersedia membangun hubungan tersebut.

Jika seseorang menyadari bahwa dirinya tidak lagi memiliki perasaan yang sama, kesadaran tersebut tidak otomatis menjadikannya orang jahat. Perasaan manusia dapat berubah.

Yang penting adalah bagaimana seseorang merespons perubahan tersebut: apakah ia mau jujur kepada dirinya sendiri, berkomunikasi dengan pasangan secara dewasa, dan mempertimbangkan dampak keputusannya terhadap kedua belah pihak.

Sebab pada akhirnya, berada dalam sebuah hubungan bukan hanya tentang menemukan seseorang yang bersedia bersama kita.

Hubungan yang sehat juga membutuhkan keberanian untuk bertanya:

"Apakah saya benar-benar ingin bersama orang ini, atau saya hanya takut kehilangan hubungan yang sudah saya miliki?"

Pertanyaan sederhana itu terkadang menjadi awal dari pemahaman yang jauh lebih dalam tentang cinta, kebutuhan emosional, dan diri sendiri.

EDITOR: Hanny Suwindari