JawaPos.com - Ada kalanya kita begitu mudah memahami kesalahan orang lain, tetapi sangat sulit memaafkan diri sendiri.
Ketika teman gagal, kita mungkin berkata, “Tidak apa-apa, semua orang bisa melakukan kesalahan.”
Ketika orang lain merasa lelah, kita mungkin menyarankan, “Istirahatlah dulu. Kamu sudah melakukan yang terbaik.”
Namun, ketika hal yang sama terjadi pada diri sendiri, kalimat yang keluar justru berbeda.
“Kenapa aku selalu begini?”
“Seharusnya aku bisa lebih baik.”
“Aku memang tidak cukup bagus.”
“Aku sudah membuang-buang waktu.”
Tanpa sadar, kita sering menjadi orang yang paling keras terhadap diri sendiri.
Padahal, menjalani hidup bukan hanya tentang menjadi lebih produktif, lebih sukses, atau lebih kuat. Ada bagian penting yang sering terlupakan: belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih manusiawi.
Bersikap baik pada diri sendiri bukan berarti menjadi malas, egois, atau berhenti berkembang. Dalam psikologi, sikap yang lebih ramah terhadap diri sendiri justru dapat membantu seseorang menghadapi kegagalan, mengelola emosi, dan bangkit ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Salah satu konsep yang banyak dibahas dalam psikologi adalah self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan pengertian ketika sedang mengalami kesulitan, kegagalan, atau kekurangan.
Jadi, jika hari ini kamu ingin mulai belajar bersikap lebih baik kepada dirimu sendiri, tidak perlu menunggu hidup menjadi sempurna.
Mulailah dari hal-hal kecil.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (2/8), terdapat sembilan cara yang bisa kamu coba.
1. Berhenti berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang tidak akan kamu gunakan kepada orang lain
Coba perhatikan cara kamu berbicara kepada diri sendiri ketika melakukan kesalahan.
Apakah kamu mengatakan:
“Aku memang bodoh.”
“Aku tidak pernah bisa melakukan apa pun dengan benar.”
“Aku gagal lagi.”
“Aku benar-benar payah.”
Jika seorang teman datang kepadamu dan menceritakan kegagalan yang sama, apakah kamu akan mengatakan hal tersebut kepadanya?
Kemungkinan besar tidak.
Kamu mungkin akan mengatakan, “Namanya juga manusia,” atau “Coba lagi nanti,” atau bahkan “Kamu sudah berusaha.”
Lalu mengapa kita memberikan standar yang jauh lebih kejam kepada diri sendiri?
Mulai hari ini, cobalah mengubah cara berbicara kepada dirimu.
Bukan dengan membohongi diri sendiri atau berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi dengan menggunakan bahasa yang lebih realistis dan penuh pengertian.
Alih-alih mengatakan:
“Aku gagal, berarti aku tidak mampu.”
Cobalah:
“Aku memang belum berhasil kali ini. Aku bisa melihat apa yang perlu diperbaiki.”
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi cara kita berbicara kepada diri sendiri dapat memengaruhi bagaimana kita memandang sebuah masalah.
Kamu tidak harus selalu memuji diri sendiri.
Terkadang, cukup berhenti menghina diri sendiri.
Itu sudah merupakan awal yang baik.
2. Izinkan dirimu beristirahat tanpa merasa harus mendapatkan izin dari rasa bersalah
Banyak orang menganggap istirahat sebagai sesuatu yang harus “diperoleh”.
Seolah-olah kita baru boleh beristirahat setelah semua pekerjaan selesai.
Masalahnya, daftar pekerjaan hampir tidak pernah benar-benar selesai.
Selalu ada pesan yang belum dibalas, pekerjaan yang belum selesai, rumah yang belum dibereskan, target yang belum tercapai, dan hal-hal lain yang menunggu.
Jika kamu terus menunggu sampai semuanya selesai sebelum beristirahat, kamu mungkin akan terus merasa bersalah setiap kali berhenti.
Padahal, manusia bukan mesin.
Tubuh dan pikiran membutuhkan jeda.
Istirahat bukan tanda bahwa kamu lemah. Istirahat merupakan bagian dari kemampuan untuk terus menjalani aktivitas dalam jangka panjang.
Mulai hari ini, cobalah melihat istirahat bukan sebagai hadiah, tetapi sebagai kebutuhan.
Kamu boleh tidur lebih awal.
Kamu boleh mengambil waktu untuk berjalan santai.
Kamu boleh duduk tanpa melakukan apa pun selama beberapa menit.
Kamu boleh mengatakan, “Hari ini aku sudah cukup banyak melakukan sesuatu. Sekarang waktunya berhenti sebentar.”
Tidak semua waktu harus digunakan untuk menghasilkan sesuatu.
Ada waktu untuk bekerja.
Ada waktu untuk belajar.
Dan ada waktu untuk sekadar menjadi manusia.
3. Jangan menjadikan satu kegagalan sebagai identitas dirimu
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan manusia adalah mengubah sebuah kejadian menjadi kesimpulan tentang seluruh dirinya.
“Aku gagal dalam hubungan ini” berubah menjadi “Aku tidak layak dicintai.”
“Aku gagal mendapatkan pekerjaan” berubah menjadi “Aku tidak berguna.”
“Aku membuat kesalahan” berubah menjadi “Aku memang orang yang buruk.”
Padahal, melakukan kesalahan berbeda dengan menjadi sebuah kesalahan.
Kegagalan adalah peristiwa.
Ia bukan identitas.
Kamu bisa mengalami kegagalan tanpa menjadi seorang “pecundang”.
Kamu bisa melakukan kesalahan tanpa menjadi “orang bodoh”.
Kamu bisa mengalami penolakan tanpa berarti kamu “tidak berharga”.
Cobalah menggunakan bahasa yang lebih spesifik ketika menilai dirimu.
Daripada berkata:
“Aku memang gagal.”
Katakan:
“Aku mengalami kegagalan dalam hal ini.”
Daripada:
“Aku tidak bisa melakukan apa pun.”
Cobalah:
“Ada beberapa hal yang belum bisa kulakukan dengan baik.”
Bahasa seperti ini membantu memisahkan siapa dirimu dari apa yang sedang terjadi dalam hidupmu.
Dan perbedaan tersebut sangat penting.
Karena kalau sebuah kegagalan menjadi identitas, rasanya seperti tidak ada jalan keluar.
Tetapi jika kegagalan dipandang sebagai sebuah pengalaman, selalu ada kemungkinan untuk belajar dan mencoba lagi.
4. Berhenti membandingkan seluruh hidupmu dengan potongan kehidupan orang lain
Media sosial membuat perbandingan menjadi sangat mudah.
Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan impian.
Orang lain menikah.
Orang lain membeli rumah.
Ada yang bepergian ke berbagai negara.
Ada yang terlihat memiliki hubungan yang bahagia.
Ada yang membangun bisnis.
Ada yang tampaknya selalu produktif.
Kemudian kita melihat hidup sendiri dan berpikir:
“Kenapa hidupku tidak seperti mereka?”
Masalahnya, kamu sedang membandingkan kehidupanmu secara keseluruhan dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain yang mereka pilih untuk ditampilkan.
Kita jarang melihat kegagalan, kecemasan, konflik, kebingungan, atau malam-malam sulit yang mungkin mereka alami.
Bukan berarti pencapaian orang lain tidak nyata.
Tetapi kita perlu berhati-hati agar pencapaian orang lain tidak berubah menjadi ukuran nilai diri sendiri.
Kamu tidak harus berada di tahap kehidupan yang sama dengan orang lain.
Setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, pilihan, sumber daya, dan perjalanan yang berbeda.
Daripada bertanya:
“Kenapa aku belum seperti dia?”
Cobalah bertanya:
“Apakah aku sedang bergerak ke arah yang penting bagiku?”
Pertanyaan kedua jauh lebih berguna.
Karena tujuan hidup bukan menjadi versi terbaik dari orang lain.
Tujuannya adalah menjadi versi dirimu yang lebih sehat, lebih sadar, dan lebih sesuai dengan nilai yang kamu pilih.
5. Belajar mengatakan “tidak” tanpa merasa harus menjelaskan semuanya
Bersikap baik kepada diri sendiri juga berarti memahami batasan.
Ada orang yang merasa harus selalu tersedia.
Takut mengecewakan.
Takut dianggap egois.
Takut membuat orang lain marah.
Akibatnya, mereka mengatakan “iya” meskipun sebenarnya ingin mengatakan “tidak”.
Awalnya mungkin terlihat seperti kebaikan.
Namun jika terus dilakukan, seseorang bisa merasa lelah, frustrasi, bahkan kehilangan waktu untuk dirinya sendiri.
Mengatakan “tidak” tidak otomatis membuatmu menjadi orang jahat.
Kamu memiliki hak untuk mempertimbangkan kapasitasmu.
Kamu boleh berkata:
“Maaf, kali ini aku belum bisa.”
“Aku tidak bisa mengambil tanggung jawab tambahan saat ini.”
“Aku perlu waktu untuk diriku sendiri.”
Tidak semua penolakan membutuhkan penjelasan panjang.
Kamu tidak harus membuat semua orang memahami keputusanmu agar keputusan tersebut valid.
Tentu saja, bersikap tegas bukan berarti bersikap kasar.
Kita tetap bisa menghargai orang lain sambil menghargai batas diri sendiri.
Kadang-kadang, bentuk kebaikan kepada diri sendiri adalah menyadari bahwa energimu juga memiliki batas.
6. Berhenti menuntut dirimu untuk selalu kuat
Ada kalimat yang terdengar positif tetapi bisa menjadi beban:
“Kamu harus kuat.”
Masalahnya, manusia tidak mungkin kuat setiap saat.
Ada hari ketika kamu bersemangat.
Ada hari ketika kamu lelah.
Ada hari ketika kamu yakin dengan keputusanmu.
Ada hari ketika kamu mempertanyakan semuanya.
Itu tidak otomatis berarti kamu mundur.
Menjadi manusia berarti memiliki emosi yang berubah-ubah.
Bersikap baik kepada diri sendiri berarti memberi ruang untuk merasakan apa yang sedang dirasakan tanpa buru-buru menghakiminya.
Jika sedang sedih, kamu tidak perlu langsung memaksa diri untuk bahagia.
Jika kecewa, kamu tidak perlu berpura-pura tidak peduli.
Jika lelah, kamu tidak harus membuktikan bahwa kamu sanggup terus berjalan.
Kamu boleh mengakui:
“Aku sedang tidak baik-baik saja.”
Anehnya, terkadang pengakuan sederhana tersebut justru menjadi awal dari proses untuk menjadi lebih baik.
Kekuatan bukan selalu tentang menahan semuanya.
Kadang-kadang, kekuatan adalah keberanian untuk mengakui bahwa kamu membutuhkan jeda, bantuan, atau dukungan.
7. Hargai kemajuan kecil yang sering kamu abaikan
Kita sering menunggu pencapaian besar sebelum merasa bangga terhadap diri sendiri.
Harus mendapatkan pekerjaan dulu.
Harus mencapai target dulu.
Harus memiliki penghasilan tertentu dulu.
Harus menyelesaikan semuanya dulu.
Padahal, kehidupan sebenarnya dibentuk oleh banyak kemajuan kecil.
Bangun ketika sebenarnya ingin terus tidur.
Menyelesaikan satu pekerjaan.
Berani menghubungi seseorang.
Merapikan kamar.
Mulai belajar lagi.
Berolahraga setelah lama berhenti.
Mengurangi kebiasaan yang tidak sehat.
Meminta maaf.
Memaafkan.
Mencoba lagi setelah gagal.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil.
Namun perubahan besar sering kali merupakan hasil dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.
Karena itu, sesekali berhentilah dan lihat sejauh apa kamu sudah berjalan.
Tidak semua kemajuan terlihat dramatis.
Ada kemajuan yang hanya terlihat sebagai:
“Aku sekarang lebih memahami diriku.”
“Aku tidak lagi bereaksi seperti dulu.”
“Aku mulai tahu apa yang kubutuhkan.”
“Aku lebih berani mengatakan tidak.”
“Aku mulai bisa menerima bahwa aku tidak sempurna.”
Itu juga kemajuan.
8. Berikan dirimu kesempatan untuk menjadi manusia yang belum selesai
Kita sering memiliki gambaran tentang bagaimana “seharusnya” diri kita.
Seharusnya lebih dewasa.
Seharusnya lebih disiplin.
Seharusnya lebih percaya diri.
Seharusnya lebih sukses.
Seharusnya sudah tahu apa yang ingin dilakukan dalam hidup.
Seharusnya tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Tetapi kehidupan tidak memiliki jadwal perkembangan yang sama untuk setiap orang.
Kamu mungkin masih belajar.
Masih bingung.
Masih membuat keputusan yang salah.
Masih berubah pikiran.
Masih mencari arah.
Dan itu tidak berarti ada yang salah denganmu.
Kamu adalah manusia yang sedang berkembang.
Daripada menuntut:
“Kenapa aku belum menjadi seperti yang kuinginkan?”
Cobalah bertanya:
“Apa yang sedang kupelajari dari tahap hidupku sekarang?”
Pertanyaan ini mengubah cara kita melihat diri sendiri.
Kita tidak lagi melihat diri sebagai proyek yang rusak dan harus segera diperbaiki.
Kita melihat diri sebagai manusia yang terus berkembang.
Kamu tidak harus sudah selesai.
Memang tidak ada manusia yang benar-benar selesai.
9. Perlakukan dirimu seperti seseorang yang ingin kamu bantu, bukan seseorang yang ingin kamu hukum
Pada akhirnya, bersikap baik kepada diri sendiri bukan tentang selalu merasa positif.
Bukan pula tentang membenarkan semua kesalahan.
Dan bukan berarti kamu tidak boleh memiliki target atau berusaha menjadi lebih baik.
Self-compassion bukan berarti berkata:
“Apa pun yang kulakukan tidak masalah.”
Sebaliknya, sikap yang lebih sehat adalah:
“Aku mengakui kesalahanku, tetapi aku tidak perlu membenci diriku karena melakukan kesalahan.”
Ada perbedaan besar antara evaluasi diri dan penghukuman diri.
Evaluasi diri bertanya:
“Apa yang bisa kupelajari?”
Penghukuman diri berkata:
“Aku memang tidak berguna.”
Evaluasi diri membantu kita bertumbuh.
Penghukuman diri hanya membuat kita semakin terluka.
Jadi, ketika hari ini kamu melakukan sesuatu yang salah, cobalah bertanya:
“Kalau aku benar-benar ingin membantuku menjadi lebih baik, apa yang akan kukatakan kepada diriku sekarang?”
Mungkin jawabannya bukan:
“Kamu harus lebih keras.”
Mungkin justru:
“Tenang. Mari kita lihat apa yang terjadi dan apa yang bisa kita lakukan berikutnya.”
Dan mungkin itulah salah satu bentuk kebaikan paling sederhana yang bisa kamu berikan kepada dirimu.
Bersikap Baik kepada Diri Sendiri Bukan Berarti Menyerah
Ada kesalahpahaman bahwa jika kita terlalu baik kepada diri sendiri, kita akan kehilangan motivasi.
Seolah-olah satu-satunya cara untuk berkembang adalah dengan terus mengkritik diri.
Padahal, ada perbedaan antara motivasi yang berasal dari kepedulian dan motivasi yang berasal dari kebencian terhadap diri sendiri.
Kamu bisa ingin menjadi lebih sehat tanpa membenci tubuhmu.
Kamu bisa ingin lebih disiplin tanpa menganggap dirimu malas dan tidak berguna.
Kamu bisa ingin sukses tanpa menganggap dirimu gagal hanya karena belum sampai di sana.
Kamu bisa mengakui kekurangan sambil tetap menghargai dirimu.
Bahkan, mungkin pertumbuhan yang paling sehat bukan berasal dari pikiran:
“Aku harus berubah karena aku tidak cukup baik.”
Melainkan:
“Aku ingin berkembang karena aku menghargai diriku dan kehidupan yang ingin kubangun.”
Itu adalah motivasi yang berbeda.
Mulai Hari Ini, Tidak Perlu Menunggu Menjadi Sempurna
Jika kamu ingin mulai bersikap lebih baik kepada diri sendiri, kamu tidak perlu mengubah seluruh hidup dalam satu hari.
Mulailah dengan satu hal kecil.
Ketika melakukan kesalahan, jangan langsung menghina diri sendiri.
Ketika lelah, izinkan dirimu beristirahat.
Ketika membutuhkan bantuan, beranilah meminta.
Ketika melihat pencapaian orang lain, jangan gunakan kehidupan mereka untuk merendahkan kehidupanmu.
Ketika gagal, pisahkan kegagalan dari identitasmu.
Dan ketika semuanya terasa berat, ingat satu hal:
Kamu tidak harus membenci dirimu agar bisa menjadi lebih baik.
Kamu boleh bertumbuh sambil tetap menyayangi dirimu.
Kamu boleh memperbaiki kesalahan tanpa terus-menerus menghukum diri.
Kamu boleh memiliki ambisi sekaligus memberikan ruang untuk beristirahat.
Kamu boleh belum tahu jawabannya.
Kamu boleh belum sampai tujuan.
Dan kamu tetap pantas diperlakukan dengan baik—termasuk oleh dirimu sendiri.
Mungkin mulai hari ini, daripada bertanya,
“Bagaimana caranya agar aku menjadi orang yang sempurna?”
cobalah bertanya:
“Bagaimana aku bisa memperlakukan diriku sedikit lebih baik hari ini?”
Tidak perlu besar.
Mungkin dengan tidur cukup.
Mungkin dengan berhenti membandingkan diri.
Mungkin dengan mengatakan “tidak”.
Mungkin dengan memaafkan satu kesalahan lama.
Mungkin dengan mengakui bahwa kamu sedang lelah.
Atau mungkin, cukup dengan menarik napas panjang dan mengatakan kepada diri sendiri:
“Aku masih belajar. Aku tidak harus sempurna. Dan aku akan mencoba lagi.”
Terkadang, perjalanan untuk menjadi lebih baik tidak dimulai dengan melakukan lebih banyak.
Terkadang, perjalanan itu dimulai dengan berhenti menyakiti diri sendiri dengan kata-kata yang selama ini kita anggap biasa.