JawaPos.com - Psikologi menjelaskan bahwa orang yang lebih memilih pengalaman dibanding barang fisik memiliki alasan tersendiri di baliknya.
Menghabiskan uang untuk pengalaman memaksa seseorang tetap hadir sepenuhnya dalam momen yang sedang dijalaninya.
Di tengah masyarakat yang materialistis, sikap ini mencerminkan cara hidup yang lebih penuh kesadaran dan kehadiran.
Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (30/8), berikut enam sifat khas yang biasa dimiliki orang yang lebih suka menghabiskan uang untuk makanan dan traveling.
1. Menikmati proses menciptakan kenangan
Barang fisik memang dapat memberikan kebahagiaan, namun perasaan tersebut biasanya tidak bertahan dalam waktu lama.
Menghabiskan uang untuk pengalaman memungkinkan seseorang menciptakan kenangan yang jauh lebih bermakna dalam hidupnya.
Meski setiap pengalaman selalu berbeda, kenangan yang tercipta dari makanan dan perjalanan tetap terasa unik.
Perjalanan dianggap sebagai aktivitas transformasional yang mengubah seseorang meski tidak membawa pulang benda fisik apa pun.
Orang yang menyukai pengalaman kuliner dan perjalanan kurang tertarik mempertahankan kepemilikan barang secara materi.
Mereka justru lebih mengutamakan kenangan nyata dari berbagai pengalaman hidup yang telah dijalaninya sendiri.
2. Menyukai kehadiran orang lain di sekitarnya
Kesukaan ini tidak selalu berarti harus terus berbicara dengan orang lain secara aktif.
Mereka lebih memilih situasi di mana bisa mengamati atau belajar dari orang di sekitarnya.
Baik di restoran maupun dalam perjalanan jauh, kehadiran orang lain tetap dinikmati meski tanpa banyak percakapan.
Sebagian dari mereka selalu mengajak teman menikmati makanan lokal atau memesan tiket perjalanan mendadak.
Mereka menjadi teman yang menyenangkan karena lebih memilih beraktivitas dibanding hanya duduk melihat barang miliknya.
Kecenderungan ini menunjukkan bahwa kebersamaan tetap menjadi bagian penting dari cara mereka menikmati hidup.
3. Bersikap cermat dalam menentukan kapan mengeluarkan uang
Membeli barang fisik dapat dengan mudah menghabiskan anggaran apabila tidak dikelola dengan hati-hati.
Mereka lebih memilih menyalurkan uangnya pada pengalaman yang memberikan kepuasan emosional yang lebih besar.
Kecermatan dalam mengatur pengeluaran menjadi penting agar dapat menabung untuk satu pengalaman istimewa tertentu.
Mereka memahami pentingnya berhati-hati dalam mengelola keuangan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Penghasilan tambahan sering kali dianggap sebagai kemewahan yang perlu dimanfaatkan dengan bijak dan tepat.
Ketika kesempatan berbelanja tiba, mereka lebih memilih hal yang memberikan manfaat emosional yang sepadan.
4. Menyukai kesibukan dan aktivitas yang padat
Sebagian orang merasa nyaman menghabiskan akhir pekan di rumah dengan buku atau permainan video.
Namun pencinta perjalanan dan kuliner lebih menyukai kesibukan meski terkadang berisiko membuat mereka kelelahan.
Mereka menikmati kehidupan yang terus bergerak sambil terus mencari tempat dan makanan baru untuk dicoba.
Mereka rela mengeluarkan banyak uang demi pengalaman yang dianggap dapat mengubah hidupnya secara mendalam.
Ketika menghadapi hambatan seperti penerbangan dibatalkan, mereka tetap mencari cara menikmati situasi tersebut.
Sikap ini menunjukkan bahwa hidup dipandang sebagai petualangan yang harus terus dijalani dengan aktif.
5. Menghargai waktu sebesar menghargai uang
Kelompok ini sama pentingnya memperhatikan cara menghabiskan waktu dengan cara mereka mencari nafkah.
Mereka menyadari bahwa uang akan terus datang selama tetap bekerja secara konsisten setiap harinya.
Namun pengalaman kuliner dan perjalanan dianggap sebagai hal yang tidak dapat digantikan dalam jangka panjang.
Sejumlah pakar keuangan bahkan menyarankan untuk menghargai waktu sama besarnya dengan menghargai uang itu sendiri.
Terus bekerja demi uang semata justru dapat menghambat kesejahteraan finansial seseorang di masa depan.
Kelompok ini benar-benar memahami betapa berharganya waktu dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka.
6. Menjalani hidup seolah tidak ada hari esok
Orang yang menyukai pengalaman kuliner dan perjalanan ingin menjalani hidup yang kaya dan penuh makna.
Mereka tidak ingin menunggu waktu atau usia tertentu untuk mulai menikmati kehidupan yang diinginkan.
Bagi mereka, menikmati makanan lezat dan menjelajahi dunia jauh lebih berarti dibanding sekadar mengoleksi barang.
Mereka tidak peduli apabila dianggap tidak praktis oleh orang lain di sekitarnya.
Menyisihkan uang untuk menikmati makanan dan perjalanan tetap dianggap penting demi masa depan yang lebih kaya.
Prinsip hidup ini menunjukkan bahwa mereka lebih memilih bekerja untuk hidup dibanding hidup untuk bekerja.