JawaPos.com - Ada masa dalam hidup ketika seseorang merasa dirinya tidak cukup baik. Bukan karena ia tidak memiliki kemampuan, tetapi karena ia terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain, terlalu keras menilai kesalahan sendiri, atau terlalu bergantung pada pengakuan dari lingkungan.
Kita mungkin bekerja lebih keras, mencoba menjadi lebih sukses, memperbaiki penampilan, meningkatkan penghasilan, atau berusaha menjadi seseorang yang selalu bisa diandalkan. Namun, anehnya, setelah semua itu dilakukan, perasaan “saya masih belum cukup” tetap muncul.
Di sinilah kita perlu memahami satu hal penting: meningkatkan nilai diri bukan sekadar menjadi lebih hebat di mata orang lain. Dalam psikologi, cara kita memandang diri sendiri juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita berbicara kepada diri sendiri, menetapkan batasan, menghadapi kegagalan, dan membangun kehidupan yang sesuai dengan nilai pribadi.
Jika saat ini Anda sedang berusaha keras untuk menjadi versi diri yang lebih baik, jangan hanya fokus pada apa yang ingin Anda capai. Perhatikan juga hubungan Anda dengan diri sendiri.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (23/8), terdapat enam strategi yang dapat membantu meningkatkan nilai diri secara lebih sehat.
1. Berhenti Mengukur Nilai Diri dari Penilaian Orang Lain
Salah satu jebakan terbesar dalam meningkatkan nilai diri adalah menjadikan pendapat orang lain sebagai ukuran utama.
Ketika dipuji, kita merasa berharga.
Ketika dikritik, kita merasa gagal.
Ketika diterima, kita merasa cukup.
Ketika ditolak, kita merasa tidak berarti.
Jika pola ini terus berlangsung, harga diri menjadi seperti sesuatu yang berada di tangan orang lain. Hari ini kita merasa berharga karena mendapatkan pengakuan. Besok kita merasa tidak berarti hanya karena seseorang tidak menyukai kita.
Padahal, penilaian orang lain terhadap diri kita tidak selalu merupakan gambaran objektif tentang siapa kita.
Psikologi mengenal pentingnya internal locus of evaluation, yaitu kemampuan seseorang untuk mengevaluasi dirinya berdasarkan standar dan nilai yang berasal dari dalam dirinya, bukan semata-mata berdasarkan penilaian eksternal.
Artinya, Anda tetap boleh menghargai masukan orang lain. Namun, jangan menyerahkan seluruh definisi tentang diri Anda kepada mereka.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah saya memang tidak berharga, atau saya hanya sedang tidak mendapatkan pengakuan yang saya harapkan?”
Keduanya sangat berbeda.
Seseorang dapat menolak Anda tanpa berarti Anda tidak layak dicintai.
Seseorang dapat mengkritik pekerjaan Anda tanpa berarti Anda tidak kompeten.
Seseorang dapat meninggalkan Anda tanpa berarti Anda tidak pantas mendapatkan hubungan yang baik.
Ketika Anda mulai memisahkan nilai diri dari reaksi orang lain, Anda akan menjadi jauh lebih stabil secara emosional.
Anda tidak lagi hidup dengan tujuan membuat semua orang menyukai Anda.
Anda mulai hidup berdasarkan pertanyaan yang lebih sehat:
“Apakah saya menghargai diri saya sendiri dan menjalani hidup sesuai dengan prinsip yang saya yakini?”
Itulah fondasi penting dari nilai diri yang kuat.
2. Tepati Janji yang Anda Buat kepada Diri Sendiri
Banyak orang ingin meningkatkan rasa percaya diri dengan mencari motivasi.
Mereka membaca buku.
Menonton video pengembangan diri.
Membuat afirmasi.
Menyusun target besar.
Semua itu bisa membantu, tetapi ada sesuatu yang sering kali jauh lebih sederhana: mulailah mempercayai diri sendiri.
Dan kepercayaan terhadap diri sendiri dibangun melalui tindakan kecil.
Bayangkan Anda berjanji kepada diri sendiri bahwa mulai besok Anda akan bangun lebih pagi. Tetapi setiap pagi Anda terus menekan tombol snooze.
Anda mengatakan akan berolahraga tiga kali seminggu, tetapi selalu menemukan alasan untuk berhenti.
Anda berjanji akan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, tetapi terus menundanya.
Jika pola tersebut terjadi berulang kali, masalahnya bukan hanya produktivitas. Secara psikologis, Anda bisa mulai kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.
Sebaliknya, ketika Anda mulai menepati janji-janji kecil kepada diri sendiri, terbentuk pengalaman baru:
“Saya mengatakan akan melakukannya, dan saya benar-benar melakukannya.”
Pengalaman seperti ini dapat memperkuat self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa kita mampu menghadapi tugas dan tantangan tertentu.
Karena itu, jangan langsung membuat janji yang terlalu besar.
Jangan berkata:
“Mulai besok saya akan mengubah seluruh hidup saya.”
Buat janji yang lebih sederhana.
“Saya akan membaca lima halaman hari ini.”
“Saya akan berjalan kaki selama 15 menit.”
“Saya akan menyelesaikan satu tugas penting sebelum membuka media sosial.”
“Saya akan tidur sedikit lebih teratur malam ini.”
Lalu tepati.
Kecil tidak masalah.
Yang penting konsisten.
Nilai diri tidak selalu tumbuh dari pencapaian besar. Kadang-kadang ia tumbuh dari ribuan bukti kecil bahwa Anda dapat mengandalkan diri sendiri.
3. Belajar Berbicara kepada Diri Sendiri dengan Lebih Sehat
Perhatikan cara Anda berbicara kepada diri sendiri ketika melakukan kesalahan.
Apakah Anda berkata:
“Bodoh sekali saya.”
“Saya memang tidak bisa apa-apa.”
“Saya selalu gagal.”
“Kenapa saya seperti ini?”
“Saya tidak akan pernah berhasil.”
Jika Anda berbicara seperti itu kepada orang yang Anda sayangi, kemungkinan besar orang tersebut akan terluka.
Namun, kita sering menganggap cara bicara tersebut normal ketika diarahkan kepada diri sendiri.
Inilah alasan self-compassion menjadi konsep penting dalam psikologi.
Self-compassion bukan berarti memanjakan diri, membenarkan semua kesalahan, atau menolak tanggung jawab. Sebaliknya, konsep ini berarti memperlakukan diri sendiri dengan pemahaman dan kebaikan ketika menghadapi kegagalan atau penderitaan.
Perbedaannya sederhana.
Alih-alih:
“Saya gagal. Berarti saya memang tidak mampu.”
ubah menjadi:
“Saya gagal dalam hal ini. Apa yang bisa saya pelajari dan perbaiki?”
Alih-alih:
“Saya selalu membuat keputusan buruk.”
ubah menjadi:
“Keputusan saya kali ini tidak berjalan baik. Saya perlu memahami apa yang salah.”
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat pertama menyerang identitas.
Kalimat kedua mengevaluasi perilaku.
Ini penting karena melakukan kesalahan tidak sama dengan menjadi manusia yang gagal.
Anda bisa membuat keputusan yang buruk tanpa menjadi orang yang buruk.
Anda bisa kehilangan kesempatan tanpa kehilangan nilai diri.
Anda bisa tertinggal tanpa berarti hidup Anda sudah berakhir.
Mulailah mengubah cara Anda berbicara kepada diri sendiri. Bukan dengan kebohongan positif seperti “saya sempurna”, tetapi dengan kalimat yang realistis dan penuh belas kasih:
“Saya masih belajar.”
“Saya memang belum mampu melakukannya sekarang, tetapi kemampuan saya dapat berkembang.”
“Saya melakukan kesalahan, dan saya bertanggung jawab untuk memperbaikinya.”
Cara berbicara seperti ini membantu Anda berkembang tanpa harus menghancurkan harga diri sendiri.
4. Berhenti Membandingkan Perjalanan Anda dengan Perjalanan Orang Lain
Media sosial membuat strategi ini semakin penting.
Anda melihat seseorang membeli rumah.
Orang lain mendapatkan pekerjaan impian.
Teman Anda menikah.
Orang lain bepergian ke berbagai negara.
Seseorang seusia Anda membangun bisnis.
Dan tanpa sadar Anda mulai bertanya:
“Kenapa hidup saya belum seperti mereka?”
Masalahnya, Anda sedang membandingkan kehidupan nyata Anda dengan potongan kehidupan orang lain yang Anda lihat.
Dalam psikologi sosial, perbandingan sosial merupakan proses yang sangat manusiawi. Kita memang cenderung mengevaluasi diri dengan melihat orang lain. Namun, perbandingan yang terus-menerus, terutama dengan orang yang tampak lebih unggul, dapat membuat seseorang merasa kurang berharga.
Karena itu, bukan berarti Anda harus berhenti mengagumi keberhasilan orang lain.
Yang perlu dihentikan adalah kesimpulan bahwa keberhasilan orang lain merupakan bukti kegagalan Anda.
Jika teman Anda sukses lebih dahulu, itu tidak otomatis berarti Anda gagal.
Jika seseorang lebih kaya, bukan berarti hidup Anda tidak bernilai.
Jika seseorang lebih menarik, bukan berarti Anda tidak memiliki daya tarik.
Jika seseorang mencapai sesuatu di usia 25 tahun, bukan berarti Anda terlambat ketika baru mencapainya di usia 35 tahun.
Setiap orang memiliki kondisi awal, kesempatan, lingkungan, pilihan, dan perjalanan yang berbeda.
Daripada bertanya:
“Mengapa saya tidak seperti dia?”
cobalah bertanya:
“Apa yang bisa saya pelajari dari dia tanpa merendahkan diri saya sendiri?”
Ini mengubah perbandingan menjadi pembelajaran.
Dan jika media sosial terus membuat Anda merasa tidak cukup, tidak ada salahnya mengurangi konsumsi konten tertentu.
Anda tidak harus mengikuti semua orang.
Anda tidak harus mengetahui semua pencapaian orang lain.
Menjaga kesehatan psikologis terkadang berarti memberi diri sendiri izin untuk tidak melihat kehidupan orang lain setiap saat.
5. Bangun Kompetensi, Bukan Sekadar Mencari Validasi
Ada perbedaan besar antara ingin terlihat berharga dan benar-benar mengembangkan kemampuan.
Validasi memberi perasaan berharga untuk sementara.
Kompetensi memberikan fondasi yang lebih kuat.
Misalnya, seseorang ingin mendapatkan banyak pujian karena pekerjaannya. Ia mungkin terus mencari komentar positif dari orang lain.
Namun, pendekatan yang lebih sehat adalah bertanya:
“Kemampuan apa yang ingin saya kuasai?”
Kemudian belajar.
Berlatih.
Menerima kritik.
Mencoba lagi.
Membuat kesalahan.
Memperbaiki kelemahan.
Proses tersebut mungkin tidak selalu menyenangkan, tetapi perlahan menghasilkan sesuatu yang sangat penting: bukti nyata bahwa Anda berkembang.
Inilah mengapa peningkatan nilai diri sebaiknya tidak hanya berfokus pada bagaimana Anda terlihat di mata orang lain, tetapi juga pada bagaimana Anda bertumbuh sebagai manusia.
Pilih satu atau dua bidang yang benar-benar penting bagi Anda.
Bisa berupa pekerjaan.
Komunikasi.
Kepemimpinan.
Bahasa.
Keterampilan teknis.
Kesehatan fisik.
Manajemen keuangan.
Kreativitas.
Hubungan interpersonal.
Tidak perlu menjadi hebat dalam segala hal.
Menjadi cukup baik dalam beberapa hal yang benar-benar penting bagi Anda sudah dapat memberikan rasa kompetensi dan arah hidup yang lebih kuat.
Dan ingat, kompetensi dibangun secara bertahap.
Jangan menggunakan standar seorang ahli untuk menilai diri Anda yang masih belajar.
Seorang pemula memang terlihat canggung ketika baru memulai.
Itu bukan tanda bahwa ia tidak berbakat.
Itu adalah bagian normal dari proses belajar.
6. Belajar Mengatakan “Tidak” dan Menetapkan Batasan
Salah satu tanda meningkatnya nilai diri adalah kemampuan untuk mengatakan:
“Tidak.”
Bukan karena Anda menjadi egois.
Bukan karena Anda tidak peduli kepada orang lain.
Tetapi karena Anda mulai memahami bahwa waktu, energi, perhatian, dan hidup Anda juga memiliki nilai.
Orang yang selalu berusaha menyenangkan semua orang sering kali mengalami konflik internal.
Ia ingin membantu meskipun sebenarnya kelelahan.
Ia takut menolak karena takut mengecewakan.
Ia menerima perlakuan buruk karena takut kehilangan hubungan.
Ia terus berkata “iya” karena takut dianggap egois.
Pada akhirnya, ia mungkin marah, lelah, dan merasa tidak dihargai.
Menetapkan batasan membantu Anda mengatakan:
“Saya peduli kepada Anda, tetapi saya juga perlu mempertimbangkan kebutuhan saya.”
Contohnya:
“Maaf, saya tidak bisa membantu hari ini.”
“Saya membutuhkan waktu untuk diri sendiri.”
“Saya tidak nyaman jika diajak berbicara seperti itu.”
“Saya bisa membantu, tetapi tidak dengan cara tersebut.”
“Saya perlu mempertimbangkan keputusan ini terlebih dahulu.”
Tidak semua orang akan menyukai batasan Anda.
Dan justru di situlah tantangannya.
Jika Anda hanya merasa berharga ketika semua orang menyukai Anda, Anda akan selalu takut menetapkan batasan.
Tetapi jika nilai diri Anda semakin kuat, Anda akan memahami bahwa ditolak oleh seseorang tidak selalu berarti Anda melakukan sesuatu yang salah.
Terkadang, menjaga diri sendiri memang membuat sebagian orang kecewa.
Dan itu tidak selalu merupakan sesuatu yang harus Anda perbaiki.
Nilai Diri Tidak Harus Menunggu Sampai Anda Sukses
Pada akhirnya, meningkatkan nilai diri bukan berarti meyakinkan diri bahwa Anda lebih baik daripada orang lain.
Ini bukan tentang menjadi yang paling kaya.
Bukan tentang menjadi yang paling menarik.
Bukan tentang memiliki pekerjaan paling bergengsi.
Bukan tentang mendapatkan pengakuan dari semua orang.
Nilai diri yang sehat justru memungkinkan Anda mengatakan:
“Saya ingin berkembang, tetapi saya tidak harus membenci diri saya yang sekarang untuk menjadi lebih baik.”
Anda boleh memiliki ambisi.
Anda boleh mengejar kesuksesan.
Anda boleh ingin menjadi lebih pintar, lebih sehat, lebih disiplin, lebih kaya, atau lebih kompeten.
Tetapi lakukan semua itu bukan karena Anda percaya bahwa diri Anda saat ini tidak layak.
Lakukan karena Anda percaya bahwa diri Anda layak mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Ada perbedaan besar antara:
“Saya harus berubah karena saya tidak cukup baik.”
dan
“Saya ingin bertumbuh karena saya menghargai diri saya.”
Kalimat pertama berasal dari penghukuman.
Kalimat kedua berasal dari penghargaan terhadap diri sendiri.
Jika Anda sedang berusaha keras meningkatkan nilai diri, mungkin Anda tidak membutuhkan lebih banyak alasan untuk membuktikan bahwa Anda berharga.
Mungkin yang Anda butuhkan adalah mulai memperlakukan diri sendiri seperti seseorang yang memang layak dihargai.
Tepati janji kecil kepada diri sendiri.
Berhenti menggantungkan harga diri pada pendapat orang lain.
Bicaralah kepada diri sendiri dengan lebih penuh kasih.
Kurangi perbandingan yang tidak sehat.
Bangun kompetensi secara nyata.
Dan berani menetapkan batasan.
Karena pada akhirnya, nilai diri bukan sesuatu yang harus Anda menangkan dari dunia.
Nilai diri adalah fondasi dari mana Anda membangun kehidupan.
Dan semakin Anda menghargai diri sendiri, semakin Anda mampu berkembang tanpa kehilangan diri Anda di tengah perjalanan.