JawaPos.com - Mendapatkan pekerjaan pertama atau memasuki posisi baru adalah sebuah pencapaian yang layak dirayakan. Setelah melewati proses mencari kerja, mengirim lamaran, mengikuti wawancara, hingga akhirnya menerima kabar bahwa Anda diterima, mungkin muncul perasaan lega sekaligus bersemangat.
Namun, mendapatkan pekerjaan hanyalah awal.
Justru pada bulan-bulan pertama bekerja, seseorang mulai membentuk reputasi, kebiasaan, hubungan profesional, dan cara berpikir yang dapat memengaruhi perjalanan kariernya dalam jangka panjang. Banyak orang terlalu fokus menunjukkan bahwa dirinya mampu bekerja, tetapi lupa bahwa kesuksesan di tempat kerja bukan hanya ditentukan oleh kemampuan teknis.
Menurut psikologi kerja dan perilaku organisasi, manusia membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Kita belajar memahami aturan yang tidak tertulis, membaca karakter rekan kerja, membangun kepercayaan, mengelola emosi, serta menemukan cara agar kemampuan kita bisa memberikan kontribusi nyata.
Karena itu, jika Anda baru mendapatkan pekerjaan dan ingin membangun karier yang baik, jangan terburu-buru ingin terlihat hebat.
Bangun fondasi yang kuat terlebih dahulu.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (23/8), terdapat tujuh cara yang bisa dilakukan pada awal masa karier.
1. Jangan Terburu-buru Membuktikan Diri, Fokuslah Memahami Lingkungan
Ketika baru masuk kerja, ada dorongan alami untuk menunjukkan kemampuan.
Anda mungkin ingin segera memperlihatkan bahwa perusahaan tidak salah memilih Anda. Akibatnya, sebagian orang berusaha terlalu keras: banyak berbicara dalam rapat, menerima semua tugas, memberikan pendapat tentang segala hal, atau langsung mencoba mengubah sistem yang sudah berjalan.
Padahal, menjadi orang yang kompeten tidak selalu berarti menjadi orang yang paling cepat berbicara.
Pada tahap awal, kemampuan mengamati justru sangat berharga.
Dalam psikologi organisasi, proses penyesuaian seseorang terhadap lingkungan kerja sering disebut sebagai organizational socialization. Anda sedang mempelajari bukan hanya pekerjaan formal, tetapi juga budaya, norma, kebiasaan, ekspektasi, dan hubungan sosial di dalam organisasi.
Karena itu, gunakan beberapa minggu pertama untuk mengamati.
Perhatikan bagaimana atasan berkomunikasi. Pahami bagaimana keputusan dibuat. Cari tahu siapa yang biasanya terlibat dalam sebuah proses. Pelajari bagaimana tim menyelesaikan konflik. Amati standar pekerjaan yang dianggap baik.
Anda juga perlu memahami bahwa setiap perusahaan mempunyai "aturan tidak tertulis".
Misalnya, secara formal semua orang mungkin diperbolehkan memberikan pendapat dalam rapat. Tetapi secara informal, mungkin tim lebih menghargai orang yang mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan masukan.
Hal-hal seperti ini biasanya tidak tertulis di buku panduan karyawan. Anda mempelajarinya melalui observasi.
Bukan berarti Anda harus pasif.
Anda tetap harus menunjukkan inisiatif, tetapi lakukan setelah memahami konteks.
Prinsip sederhananya: pahami permainan sebelum berusaha menjadi pemain terbaik.
Orang yang terlalu cepat ingin membuktikan diri berisiko melakukan kesalahan yang sebenarnya dapat dihindari jika ia mau mengamati terlebih dahulu.
2. Bangun Reputasi sebagai Orang yang Dapat Dipercaya
Pada awal karier, Anda mungkin belum memiliki pengalaman sebanyak rekan kerja yang sudah bertahun-tahun berada di bidang tersebut.
Tidak masalah.
Salah satu aset terbesar yang dapat Anda bangun sejak awal bukanlah kesan bahwa Anda mengetahui semuanya, melainkan reputasi sebagai orang yang dapat dipercaya.
Kepercayaan dibangun dari hal-hal sederhana.
Ketika mengatakan akan menyelesaikan pekerjaan pada hari Jumat, usahakan selesai pada hari Jumat. Jika ada masalah yang membuat pekerjaan terlambat, jangan menghilang. Beri tahu pihak terkait sedini mungkin.
Jika Anda tidak memahami sebuah tugas, jangan berpura-pura mengerti.
Tanyakan.
Jika melakukan kesalahan, akui dan cari solusi.
Perilaku seperti ini terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap reputasi profesional.
Secara psikologis, manusia cenderung lebih nyaman bekerja dengan orang yang perilakunya dapat diprediksi. Rekan kerja akan lebih mudah memberikan tanggung jawab kepada seseorang yang konsisten daripada kepada seseorang yang kadang sangat hebat tetapi sering tidak dapat diandalkan.
Karena itu, jangan berpikir bahwa Anda harus selalu menghasilkan pekerjaan yang spektakuler.
Pada awal karier, konsistensi sering kali lebih penting.
Lebih baik dikenal sebagai:
"Dia mungkin masih belajar, tetapi kalau diberi tugas, dia bertanggung jawab."
daripada:
"Dia pintar, tetapi sulit ditebak apakah pekerjaannya akan selesai."
Reputasi dibangun sedikit demi sedikit.
Satu janji yang ditepati mungkin terlihat kecil. Tetapi puluhan janji yang ditepati selama berbulan-bulan akan membentuk persepsi bahwa Anda adalah orang yang profesional.
3. Cari Mentor, tetapi Jangan Menunggu Ada yang Menawarkan Diri
Kesalahan lain yang sering terjadi pada awal karier adalah menganggap perkembangan profesional sepenuhnya menjadi tanggung jawab perusahaan.
Anda mungkin berharap atasan akan mengajari semuanya.
Padahal, proses belajar akan jauh lebih cepat jika Anda secara aktif mencari orang yang bisa dijadikan sumber pembelajaran.
Mentor tidak harus selalu seseorang dengan jabatan paling tinggi.
Bisa jadi mentor Anda adalah senior yang sudah memahami pekerjaan secara mendalam. Bisa juga rekan satu tim yang memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik, seseorang dari departemen lain yang ahli dalam bidang tertentu, atau bahkan mantan atasan di masa mendatang.
Yang penting adalah Anda menemukan orang yang memiliki kualitas yang ingin Anda pelajari.
Namun, jangan datang kepada seseorang hanya dengan mengatakan:
"Pak/Bu, saya ingin menjadi sukses. Bisa mentoring saya?"
Pertanyaan yang terlalu luas seperti itu dapat membuat orang bingung.
Lebih baik mulai dengan pertanyaan yang spesifik.
Misalnya:
"Menurut Anda, kemampuan apa yang paling penting untuk berkembang di posisi ini?"
atau:
"Kalau Anda kembali ke tahun pertama bekerja, hal apa yang ingin Anda lakukan secara berbeda?"
Pertanyaan seperti itu menunjukkan bahwa Anda menghargai pengalaman mereka.
Selain itu, jangan hanya mencari mentor ketika Anda sedang mengalami masalah.
Bangun hubungan secara natural.
Tunjukkan bahwa Anda benar-benar menerapkan masukan yang diberikan. Jika seseorang memberikan saran dan Anda berhasil menggunakannya, beri tahu hasilnya.
Misalnya:
"Terima kasih atas sarannya minggu lalu. Saya mencoba cara tersebut ketika presentasi dan ternyata diskusinya menjadi lebih terarah."
Kalimat sederhana seperti ini menunjukkan bahwa Anda bukan sekadar meminta nasihat, tetapi benar-benar belajar.
4. Latih Kemampuan Menerima Kritik Tanpa Menganggapnya sebagai Serangan Pribadi
Salah satu tantangan terbesar pada awal karier adalah menerima kritik.
Ketika seseorang mengatakan bahwa pekerjaan kita kurang baik, respons emosional yang muncul bisa bermacam-macam.
Ada yang langsung defensif.
Ada yang merasa malu.
Ada yang menyalahkan keadaan.
Ada juga yang justru kehilangan kepercayaan diri.
Padahal, kritik yang konstruktif merupakan salah satu sumber pembelajaran paling berharga.
Cobalah memisahkan antara kritik terhadap pekerjaan dan penilaian terhadap diri Anda sebagai manusia.
Jika atasan mengatakan:
"Analisis ini masih kurang lengkap."
Itu tidak otomatis berarti:
"Anda tidak kompeten."
Kritik tersebut hanya berarti ada bagian tertentu dari pekerjaan yang masih perlu diperbaiki.
Perbedaan cara memandang kritik ini sangat penting secara psikologis.
Orang dengan pola pikir berkembang (growth mindset) cenderung melihat kemampuan sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan melalui latihan, pembelajaran, dan pengalaman. Dengan pola pikir seperti ini, kesalahan tidak selalu dipandang sebagai bukti bahwa seseorang tidak berbakat.
Kesalahan bisa menjadi informasi.
Karena itu, ketika menerima kritik, jangan langsung sibuk membela diri.
Coba tanyakan:
"Bagian mana yang menurut Anda paling perlu saya perbaiki?"
"Kalau saya mengerjakan ini lagi, apa yang sebaiknya saya lakukan berbeda?"
"Apakah ada contoh pekerjaan yang menurut Anda sudah memenuhi standar?"
Pertanyaan tersebut mengubah kritik menjadi bahan belajar.
Tentu, tidak semua kritik harus diterima mentah-mentah. Ada kritik yang tidak adil, tidak jelas, atau bahkan tidak konstruktif.
Namun, kemampuan untuk mendengarkan tanpa langsung bereaksi secara emosional akan menjadi keunggulan besar dalam karier.
5. Jangan Hanya Mengejar Kesibukan, Kejar Kemampuan yang Bernilai
Pada awal bekerja, Anda mungkin merasa bangga ketika sangat sibuk.
Kalender penuh.
Pesan masuk terus.
Banyak tugas.
Rapat hampir setiap hari.
Tetapi sibuk tidak selalu berarti berkembang.
Ada perbedaan antara aktivitas dan kemajuan.
Anda bisa menghabiskan delapan jam sehari melakukan pekerjaan yang sama tanpa benar-benar meningkatkan kemampuan. Sebaliknya, satu proyek yang sulit mungkin memberikan pengalaman yang jauh lebih berharga daripada puluhan pekerjaan rutin.
Karena itu, tanyakan kepada diri sendiri secara berkala:
"Kemampuan apa yang sedang saya bangun dari pekerjaan ini?"
Misalnya, jika Anda bekerja di bidang pemasaran, jangan hanya mengejar jumlah tugas yang selesai. Perhatikan apakah Anda sedang meningkatkan kemampuan membaca data, membuat strategi, menulis, memahami pelanggan, atau melakukan presentasi.
Jika Anda bekerja di bidang keuangan, pikirkan apakah Anda semakin memahami analisis, pelaporan, pengambilan keputusan, atau komunikasi bisnis.
Jika Anda bekerja di bidang teknologi, jangan hanya mengejar penyelesaian tiket atau tugas. Perhatikan apakah Anda sedang membangun pemahaman sistem, kemampuan problem solving, dokumentasi, atau komunikasi dengan pengguna.
Karier yang kuat biasanya dibangun melalui akumulasi kemampuan.
Oleh karena itu, buatlah semacam "portofolio kemampuan" dalam pikiran Anda.
Setiap beberapa bulan, tanyakan:
Apa yang sekarang bisa saya lakukan tetapi dulu belum bisa?
Masalah apa yang sekarang bisa saya selesaikan sendiri?
Apa yang saya pelajari dari proyek terakhir?
Kemampuan apa yang masih menjadi kelemahan saya?
Kemampuan apa yang paling bernilai untuk posisi saya berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuat Anda tidak sekadar bekerja, tetapi juga berkembang.
6. Bangun Hubungan Profesional, Bukan Sekadar "Cari Muka"
Networking sering disalahpahami.
Sebagian orang menganggap membangun hubungan profesional berarti harus dekat dengan orang penting, sering muncul di depan atasan, atau berusaha membuat semua orang menyukai dirinya.
Padahal, hubungan profesional yang sehat bukan tentang menjilat.
Hubungan profesional dibangun melalui interaksi yang saling memberikan nilai.
Mulailah dari hal sederhana.
Kenali rekan kerja Anda.
Tanyakan tentang pekerjaan mereka.
Pahami bagaimana pekerjaan mereka berhubungan dengan pekerjaan Anda.
Berikan apresiasi ketika seseorang membantu Anda.
Bantu orang lain ketika Anda memang mampu.
Jangan hanya menghubungi seseorang ketika membutuhkan sesuatu.
Mengapa ini penting?
Karena pekerjaan modern hampir selalu melibatkan kolaborasi.
Kemampuan teknis memang penting, tetapi kemampuan bekerja dengan manusia juga menentukan seberapa jauh seseorang dapat berkembang.
Seseorang bisa sangat pintar, tetapi jika sulit diajak bekerja sama, perkembangan kariernya dapat terhambat.
Sebaliknya, seseorang yang mampu berkomunikasi dengan baik, menghargai orang lain, dan membangun kepercayaan sering kali menjadi orang yang dicari ketika ada proyek penting.
Anda tidak perlu menjadi orang paling populer di kantor.
Tujuannya bukan memiliki ratusan teman.
Tujuannya adalah membangun reputasi sebagai orang yang profesional, menghargai orang lain, dan menyenangkan untuk diajak bekerja sama.
7. Tentukan Arah Karier, tetapi Jangan Terlalu Kaku
Ketika baru bekerja, Anda mungkin merasa harus langsung mengetahui apa yang ingin dilakukan selama 10 atau 20 tahun ke depan.
Sebenarnya, Anda tidak harus memiliki jawaban tersebut.
Karier bukan selalu garis lurus.
Apa yang Anda bayangkan ketika berusia 20-an bisa berubah setelah mendapatkan pengalaman nyata. Anda mungkin menemukan bahwa bidang yang dahulu Anda sukai ternyata tidak sesuai dengan kepribadian Anda. Sebaliknya, pekerjaan yang awalnya tidak menarik justru dapat membuka minat baru.
Karena itu, miliki arah, tetapi jangan terlalu kaku.
Anda bisa memiliki target seperti:
"Dalam dua tahun ke depan, saya ingin menjadi orang yang sangat kompeten dalam bidang ini."
Setelah itu, evaluasi kembali.
Apa yang Anda sukai?
Apa yang tidak Anda sukai?
Jenis pekerjaan apa yang membuat Anda merasa tertantang?
Lingkungan seperti apa yang membuat Anda berkembang?
Kemampuan apa yang ingin Anda miliki?
Dengan melakukan evaluasi secara berkala, Anda dapat membuat keputusan karier berdasarkan pengalaman nyata, bukan hanya berdasarkan bayangan atau ekspektasi.
Yang paling penting, jangan membandingkan awal perjalanan Anda dengan seseorang yang sudah berada di tengah perjalanan.
Media sosial sering membuat kita melihat pencapaian orang lain tanpa melihat proses panjang di belakangnya.
Ada orang yang baru beberapa tahun bekerja tetapi sudah menjadi manajer.
Ada yang membuka bisnis.
Ada yang mendapatkan penghasilan besar.
Ada yang bekerja di perusahaan terkenal.
Itu semua bisa menjadi inspirasi, tetapi jangan menjadikannya ukuran nilai diri Anda.
Pada awal karier, fokuslah membangun fondasi.
Karier yang kuat bukan hanya tentang seberapa cepat Anda naik.
Tetapi juga tentang seberapa siap Anda ketika mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar.
Penutup: Awal Karier Adalah Masa untuk Membangun Fondasi
Mendapatkan pekerjaan baru memang membahagiakan.
Tetapi jangan merasa bahwa Anda harus langsung mengetahui semuanya.
Anda tidak harus menjadi karyawan terbaik dalam tiga bulan pertama.
Anda tidak harus selalu punya jawaban.
Anda tidak harus terlihat paling pintar.
Yang jauh lebih penting adalah menunjukkan bahwa Anda mau belajar, dapat dipercaya, mampu menerima masukan, dan terus berkembang.
Jika dirangkum, tujuh hal yang sebaiknya Anda lakukan pada awal masa karier adalah:
Amati dan pahami lingkungan sebelum terburu-buru membuktikan diri.
Bangun reputasi sebagai orang yang dapat dipercaya.
Cari mentor dan belajar dari orang yang lebih berpengalaman.
Belajar menerima kritik tanpa menganggapnya sebagai serangan pribadi.
Kejar perkembangan kemampuan, bukan sekadar kesibukan.
Bangun hubungan profesional yang sehat dan autentik.
Miliki arah karier, tetapi tetap terbuka terhadap perubahan.
Pada akhirnya, kesuksesan karier jarang dibangun oleh satu keputusan besar.
Lebih sering, kesuksesan muncul dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.
Cara Anda bekerja ketika belum memiliki jabatan tinggi.
Cara Anda memperlakukan orang lain ketika belum membutuhkan bantuan mereka.
Cara Anda merespons kesalahan.
Cara Anda menerima kritik.
Cara Anda belajar ketika tidak ada yang memaksa.
Semua itu perlahan membentuk reputasi dan karakter profesional Anda.
Jadi, jika hari ini Anda baru mendapatkan pekerjaan, jangan hanya berpikir:
"Bagaimana caranya agar saya cepat sukses?"
Cobalah bertanya:
"Orang seperti apa yang ingin saya menjadi setelah lima tahun berada di bidang ini?"
Kemudian, mulai membangun orang tersebut dari kebiasaan Anda hari ini.
Karena karier yang sukses bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan yang baik.
Karier yang sukses adalah proses menjadi seseorang yang semakin mampu, semakin dapat dipercaya, dan semakin bernilai dari waktu ke waktu.