← Beranda
Sukses dalam Pekerjaan tetapi Tidak Mengorbankan Kesehatan Mental? Peganglah 6 Kunci Ini
Irfan FerdiansyahSelasa, 25 Agustus 2026 | 18.03 WIB
seseorang yang sukses tanpa mengorbankan kesehatan mental./Magnific/senivpetro

JawaPos.com - Banyak orang mengejar kesuksesan dalam pekerjaan dengan satu keyakinan: semakin banyak yang dikorbankan, semakin besar pula hasil yang akan didapatkan.

Tidur dikurangi. Waktu bersama keluarga dikorbankan. Akhir pekan digunakan untuk mengejar pekerjaan. Pikiran terus berada di kantor meskipun tubuh sudah berada di rumah. Bahkan ketika sedang berlibur, sebagian orang masih merasa bersalah karena tidak produktif.

Pada awalnya, cara seperti ini mungkin terlihat seperti dedikasi.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan:

Apakah kesuksesan masih layak dikejar jika untuk mendapatkannya kita harus kehilangan diri sendiri?

Dalam psikologi, keberhasilan jangka panjang tidak hanya berkaitan dengan seberapa keras seseorang bekerja. Ada faktor lain yang sangat menentukan, seperti kemampuan mengatur stres, menetapkan batasan, menjaga energi, membangun hubungan yang sehat, serta memiliki kehidupan yang tidak sepenuhnya bergantung pada pekerjaan.

Artinya, bekerja keras bukan masalahnya.

Masalah muncul ketika pekerjaan menjadi satu-satunya pusat kehidupan.

Seseorang mungkin mendapatkan promosi, gaji lebih tinggi, jabatan lebih besar, atau pengakuan dari orang lain. Tetapi jika di balik semua itu ia mengalami kelelahan kronis, kehilangan minat terhadap hidup, mudah marah, sulit tidur, dan tidak lagi menikmati hal-hal yang dulu disukai, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (23/8), jika Anda ingin sukses tanpa terus-menerus membayar kesuksesan tersebut dengan kesehatan mental, ada enam prinsip psikologis yang layak dipegang.

1. Jangan Menyamakan Produktivitas dengan Nilai Diri

Salah satu jebakan terbesar dalam dunia kerja adalah mulai percaya bahwa nilai diri kita sama dengan pencapaian kita.

Ketika pekerjaan berjalan baik, kita merasa berharga.

Ketika mendapat pujian, kita merasa cukup.

Ketika target tercapai, kita merasa layak.

Namun ketika melakukan kesalahan, mendapat kritik, kehilangan kesempatan promosi, atau performa menurun, harga diri ikut jatuh.

Pola ini berbahaya karena membuat seseorang hidup dalam kondisi harus terus membuktikan diri.

Hari ini berhasil, tetapi besok harus lebih berhasil.

Hari ini mendapat pujian, tetapi besok membutuhkan pujian berikutnya.

Target tercapai, tetapi target baru segera muncul.

Akibatnya, tidak pernah ada titik di mana seseorang merasa benar-benar cukup.

Dalam psikologi, penting untuk membedakan antara "saya melakukan sesuatu yang tidak baik" dengan "saya adalah orang yang tidak baik."

Begitu pula dalam pekerjaan.

Gagal dalam sebuah proyek tidak berarti Anda adalah orang gagal.

Mendapat kritik tidak berarti Anda tidak kompeten.

Tidak mendapat promosi tidak berarti Anda tidak berharga.

Melakukan kesalahan berarti ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Itu saja.

Orang yang sehat secara psikologis dapat mengevaluasi kinerja tanpa menjadikan hasil pekerjaan sebagai ukuran keseluruhan harga dirinya.

Karena itu, cobalah membangun identitas yang lebih luas.

Anda bukan hanya seorang karyawan.

Anda juga mungkin seorang teman, pasangan, orang tua, saudara, pembelajar, anggota masyarakat, atau seseorang yang memiliki hobi dan nilai hidup sendiri.

Pekerjaan adalah bagian dari identitas Anda, tetapi jangan biarkan pekerjaan menjadi seluruh identitas Anda.

Semakin luas kehidupan seseorang, semakin kecil kemungkinan satu kegagalan di tempat kerja menghancurkan seluruh rasa percaya dirinya.

2. Belajar Menetapkan Batasan yang Sehat

Banyak orang sebenarnya tidak kelelahan karena pekerjaan semata.

Mereka kelelahan karena tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Jam kerja mungkin selesai pukul lima sore, tetapi laptop masih terbuka sampai malam.

Ponsel terus diperiksa.

Pesan pekerjaan dibalas ketika sedang makan.

Email dibaca sebelum tidur.

Bahkan ketika tidak ada tugas yang mendesak, pikiran tetap bertanya:

"Bagaimana kalau ada yang harus saya kerjakan?"

Inilah pentingnya batasan.

Batasan bukan berarti Anda malas.

Batasan juga bukan berarti Anda tidak profesional.

Justru batasan membantu seseorang menjaga kapasitas psikologis agar dapat bekerja dengan baik dalam jangka panjang.

Bayangkan energi mental seperti baterai.

Jika setiap hari digunakan tanpa pernah diisi kembali, pada akhirnya performa akan turun. Anda mungkin masih hadir secara fisik, tetapi konsentrasi, kreativitas, kesabaran, dan kemampuan mengambil keputusan mulai menurun.

Karena itu, buatlah pemisah yang jelas antara waktu bekerja dan waktu memulihkan diri.

Misalnya:

Tentukan kapan pekerjaan benar-benar selesai.
Hindari memeriksa email kerja menjelang tidur jika tidak diperlukan.
Matikan notifikasi pekerjaan di luar jam kerja ketika situasi memungkinkan.
Jangan menganggap semua permintaan sebagai keadaan darurat.
Berani mengatakan, "Saya bisa mengerjakannya, tetapi saya membutuhkan waktu sampai besok."
Sisakan waktu tanpa tuntutan produktivitas.

Yang paling penting, pahami bahwa tidak semua hal harus diselesaikan sekarang.

Ada pekerjaan yang memang mendesak.

Tetapi ada juga pekerjaan yang hanya terasa mendesak karena kita terbiasa selalu tersedia.

Kemampuan mengatakan "tidak sekarang" sering kali sama pentingnya dengan kemampuan mengatakan "ya."

3. Kejar Kemajuan, Bukan Kesempurnaan

Perfeksionisme sering terlihat seperti kualitas positif.

Orang perfeksionis biasanya teliti, memiliki standar tinggi, dan ingin memberikan hasil terbaik.

Masalahnya muncul ketika standar tersebut berubah menjadi tuntutan bahwa segala sesuatu harus sempurna agar diri sendiri merasa cukup.

Akibatnya, pekerjaan sederhana bisa menghabiskan energi yang sangat besar.

Sebuah presentasi yang sebenarnya sudah bagus terus diperbaiki.

Sebuah laporan yang sudah memenuhi kebutuhan masih diperiksa berkali-kali.

Satu kesalahan kecil dapat dipikirkan berjam-jam.

Bahkan setelah pekerjaan selesai, pikiran masih mencari-cari kekurangan.

Padahal, dalam banyak situasi, tujuan profesional bukanlah menghasilkan sesuatu yang sempurna.

Tujuannya adalah menghasilkan sesuatu yang cukup baik, efektif, tepat waktu, dan memberikan hasil.

Ada perbedaan besar antara:

"Saya ingin melakukan pekerjaan ini dengan baik."

dan

"Saya tidak boleh melakukan kesalahan apa pun."

Kalimat pertama mendorong pertumbuhan.

Kalimat kedua menciptakan tekanan.

Karena itu, biasakan bertanya:

"Apakah ini sudah cukup baik untuk tujuan yang ingin dicapai?"

Bukan:

"Apakah ini sudah sempurna?"

Perubahan kecil dalam cara berpikir ini dapat menghemat banyak energi mental.

Orang yang mampu menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari proses biasanya lebih mudah belajar, beradaptasi, dan mencoba hal baru.

Dan justru kemampuan untuk terus belajar itulah yang sangat penting dalam kesuksesan jangka panjang.

4. Jangan Menunggu Hancur Baru Beristirahat

Ada sebuah pola yang cukup umum:

Bekerja keras → lelah → memaksa diri → semakin lelah → akhirnya tidak sanggup → baru beristirahat.

Padahal, istirahat seharusnya bukan hadiah setelah seseorang mengalami kehancuran.

Istirahat adalah bagian dari proses bekerja.

Tubuh dan pikiran membutuhkan periode pemulihan agar dapat kembali berfungsi secara optimal.

Sayangnya, banyak orang hanya menganggap istirahat sebagai sesuatu yang pantas dilakukan setelah semua pekerjaan selesai.

Masalahnya, pekerjaan hampir tidak pernah benar-benar selesai.

Selalu ada email berikutnya.

Ada proyek berikutnya.

Ada target berikutnya.

Ada masalah berikutnya.

Jika Anda menunggu sampai seluruh pekerjaan selesai untuk beristirahat, kemungkinan besar Anda akan menunggu sangat lama.

Karena itu, masukkan pemulihan ke dalam rutinitas, bukan hanya ke dalam keadaan darurat.

Tidur yang cukup.

Bergerak atau berolahraga.

Menghabiskan waktu dengan orang yang penting bagi Anda.

Melakukan hobi.

Berada di luar pekerjaan tanpa merasa harus produktif.

Bahkan melakukan sesuatu yang sederhana seperti berjalan kaki, membaca, mendengarkan musik, atau duduk tanpa melakukan apa pun bisa menjadi bentuk pemulihan psikologis.

Dan jangan merasa bersalah ketika melakukannya.

Anda tidak sedang membuang waktu. Anda sedang memelihara sumber daya yang memungkinkan Anda terus bekerja.

5. Bangun Kehidupan yang Tetap Bermakna di Luar Kantor

Salah satu perlindungan penting terhadap tekanan pekerjaan adalah memiliki kehidupan yang tidak sepenuhnya bergantung pada pekerjaan.

Bayangkan jika seluruh sumber kepuasan Anda hanya berasal dari karier.

Jika pekerjaan sedang bagus, hidup terasa baik.

Tetapi jika pekerjaan bermasalah, seluruh kehidupan terasa ikut runtuh.

Karena itu, seseorang membutuhkan sumber makna yang beragam.

Hubungan sosial.

Keluarga.

Persahabatan.

Kegiatan kreatif.

Olahraga.

Belajar sesuatu yang baru.

Komunitas.

Spiritualitas bagi mereka yang menganggapnya penting.

Atau sekadar memiliki waktu untuk menikmati kehidupan sehari-hari.

Hal-hal tersebut bukan gangguan dari kesuksesan.

Justru semuanya dapat menjadi penyangga psikologis ketika pekerjaan sedang berat.

Ketika seseorang memiliki kehidupan yang seimbang, kegagalan di tempat kerja tidak terasa seperti akhir dunia.

Ia masih memiliki orang-orang yang mendukungnya.

Masih memiliki aktivitas yang disukai.

Masih memiliki tujuan lain.

Masih memiliki alasan untuk bangun di pagi hari selain mengejar target perusahaan.

Inilah mengapa penting untuk bertanya kepada diri sendiri:

"Jika pekerjaan saya tiba-tiba berhenti besok, apa yang masih tersisa dalam hidup saya?"

Pertanyaan tersebut mungkin terasa menakutkan.

Tetapi jawabannya bisa menunjukkan apakah kehidupan Anda saat ini terlalu bergantung pada satu hal.

6. Ukur Kesuksesan dengan Definisi Anda Sendiri

Kunci terakhir mungkin yang paling penting.

Jangan biarkan orang lain menentukan seperti apa kehidupan sukses yang harus Anda jalani.

Masyarakat sering memberikan gambaran kesuksesan yang sangat sederhana:

Jabatan semakin tinggi.

Penghasilan semakin besar.

Rumah semakin bagus.

Mobil semakin mahal.

Pengikut semakin banyak.

Prestasi semakin panjang.

Namun, semua itu belum tentu berarti kehidupan yang lebih bahagia.

Seseorang bisa memiliki karier luar biasa tetapi tidak punya waktu untuk dirinya sendiri.

Seseorang bisa memiliki penghasilan tinggi tetapi hidup dalam kecemasan setiap hari.

Seseorang bisa mendapatkan jabatan yang diinginkan tetapi ternyata tidak menyukai kehidupan yang datang bersamanya.

Karena itu, kesuksesan perlu didefinisikan secara personal.

Mungkin bagi Anda, sukses berarti memiliki pekerjaan yang berkembang tetapi masih bisa makan malam bersama keluarga.

Mungkin sukses berarti memiliki penghasilan yang cukup tanpa harus bekerja sampai tengah malam.

Mungkin sukses berarti memiliki karier yang bermakna sekaligus memiliki waktu untuk kesehatan, hubungan sosial, dan hobi.

Tidak ada satu definisi kesuksesan yang berlaku untuk semua orang.

Yang penting adalah memastikan bahwa tujuan yang Anda kejar benar-benar sesuai dengan nilai hidup Anda.

Jika tidak, Anda mungkin menghabiskan bertahun-tahun menaiki tangga yang ternyata bersandar pada dinding yang salah.

Kesuksesan Tidak Harus Dibayar dengan Kehilangan Diri Sendiri

Ambisi bukan sesuatu yang harus dimatikan.

Keinginan untuk berkembang bukan sesuatu yang salah.

Bekerja keras juga bukan sesuatu yang harus dihindari.

Yang perlu diubah adalah anggapan bahwa satu-satunya cara untuk berhasil adalah dengan mengorbankan diri tanpa batas.

Anda boleh memiliki ambisi sekaligus memiliki batasan.

Anda boleh ingin sukses sekaligus membutuhkan istirahat.

Anda boleh mengejar karier sekaligus mencintai kehidupan di luar pekerjaan.

Anda boleh memiliki target tinggi sekaligus menerima bahwa Anda adalah manusia yang memiliki keterbatasan.

Pada akhirnya, kesuksesan yang sehat bukan hanya tentang seberapa tinggi Anda bisa naik, tetapi juga tentang apakah Anda masih mampu menikmati kehidupan ketika sampai di sana.

Jadi, jika Anda ingin sukses dalam pekerjaan tanpa mengorbankan kesehatan mental, ingatlah enam kunci ini:

Jangan samakan produktivitas dengan nilai diri.

Tetapkan batasan yang sehat.

Kejar kemajuan, bukan kesempurnaan.

Beristirahat sebelum benar-benar kelelahan.

Bangun kehidupan yang bermakna di luar pekerjaan.

Dan yang terakhir, tentukan sendiri seperti apa arti sukses bagi Anda.

Karena karier yang hebat akan terasa jauh lebih berarti jika orang yang menjalaninya juga masih memiliki energi, hubungan, ketenangan, dan kehidupan yang ingin ia nikmati.

EDITOR: Hanny Suwindari