← Beranda
Prokrastinasi Bukan Sekadar Malas, Psikologi Ungkap Alasan Suka Menunda Pekerjaan dan Solusinya
Mellyna Putri DiniarSelasa, 25 Agustus 2026 | 06.02 WIB
Ilustrasi Sisyphus menggambarkan perjuangan manusia menghadapi pekerjaan yang terus berulang dan sulit dihindari (Psychology Today)

 

JawaPos.com - Menunda pekerjaan sering kali dianggap sebagai persoalan kemalasan atau kurangnya disiplin. Namun, prokrastinasi dapat memiliki dinamika psikologis yang lebih kompleks. 

Memahami alasan seseorang terus menghindari pekerjaan yang sebenarnya perlu diselesaikan menjadi bagian penting untuk mengatasi kebiasaan tersebut.

Dilansir dari Psychology Today, Senin (24/8/2026), psikolog Stephen A. Diamond menjelaskan bahwa prokrastinasi merupakan salah satu keluhan yang paling sering dibawa klien atau pasien ke psikoterapi.

Dalam bagian kedua seri mengenai prokrastinasi, Diamond membahas konflik psikologis dan eksistensial yang dapat mempertahankan kebiasaan menunda serta bagaimana seseorang dapat menghadapinya.

Baca Juga: Bukan Antisosial, 7 Kebiasaan Ini Bisa Membuat Seseorang Makin Sulit Didekati Menurut Psikologi

Menghadapi "Inner Child" yang Tidak Sadar

Menurut Diamond, prokrastinasi sering berawal dari konflik tidak sadar antara "diri dewasa" yang matang dan bertanggung jawab dengan "anak batin" (inner child) yang impulsif. 

Diri dewasa memahami apa yang harus dilakukan, sedangkan anak batin cenderung menolak pekerjaan yang membosankan, rutin, atau tidak menyenangkan dan memilih aktivitas yang memberikan kesenangan secara langsung.

Diamond menghubungkan kecenderungan tersebut dengan konsep pleasure principle Sigmund Freud (1911), yakni dorongan untuk menghindari rasa sakit dan mencari kesenangan. 

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang membutuhkan bagian dirinya yang lebih matang untuk mengarahkan dan mendisiplinkan dorongan tersebut. Dalam psikoterapi, kesadaran terhadap bagian-bagian diri ini dapat membantu seseorang mengambil keputusan secara lebih sadar dan bertanggung jawab.

Menerima dan Merangkul Kebosanan Eksistensial

Diamond kemudian memperkenalkan istilah "Sisyphus syndrome" sebagai gambaran eksistensial mengenai prokrastinasi. Dalam mitologi Yunani, Sisyphus dihukum untuk terus mendorong batu besar ke atas bukit, hanya untuk melihatnya kembali menggelinding ke bawah dan mengulangi pekerjaan yang sama.

Menurut Diamond, kehidupan manusia juga memiliki sisi serupa. Kita harus terus mengerjakan berbagai tugas rutin yang melelahkan, sulit, dan berulang. Prokrastinasi menjadi salah satu cara untuk melarikan diri dari kenyataan tersebut dengan mencari aktivitas yang lebih menyenangkan.

Namun, Diamond mengingat kembali pemikiran filsuf Albert Camus (1955), yang melihat bahwa Sisyphus dapat menemukan makna dan kepuasan dengan menerima nasibnya. 

Ia juga mengutip Friedrich Nietzsche (1908), "amor fati", yang berarti mencintai atau menerima takdir. Gagasan tersebut mengajak manusia untuk tidak terus-menerus menghindari bagian kehidupan yang membosankan dan tidak menyenangkan.

Baca Juga: Jika Pasangan Anda Kerap Menanyakan 6 Hal Ini, Dia Memiliki Kecerdasan Emosional Menurut Psikologi

Perjuangan Heroik Melawan Prokrastinasi Kronis

Metafora lain berasal dari salah satu tugas Hercules dalam mitologi Yunani, yaitu membersihkan kandang Augean yang telah dipenuhi kotoran selama bertahun-tahun. 

Tugas yang tampak menjijikkan dan hampir mustahil itu akhirnya diselesaikan Hercules dengan mengalihkan aliran dua sungai untuk membersihkan kandang.

Bagi Diamond, kisah tersebut menggambarkan apa yang terjadi ketika seseorang terus menunda. Masalah yang diabaikan tidak otomatis menghilang. Sebaliknya, masalah dapat menumpuk, menjadi semakin rumit, dan semakin sulit ditangani. 

Karena itu, kandang Augean menjadi metafora bagi persoalan pribadi yang dibiarkan terlalu lama, termasuk masalah psikologis yang baru dibawa seseorang ke terapi setelah bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun.

Kekuatan Kehadiran, Kehendak, dan Kesadaran Penuh dalam Mengatasi Prokrastinasi

Diamond menilai orang sering menunda karena merasa kewalahan oleh besarnya pekerjaan atau menganggap tugas tersebut terlalu membosankan, tidak menyenangkan, bahkan menjijikkan. 

Salah satu cara menghadapinya adalah berhenti memusatkan perhatian pada keseluruhan beban pekerjaan dan mulai mengerjakannya sedikit demi sedikit.

Dalam pandangan Diamond, prokrastinasi pada akhirnya merupakan kegagalan untuk benar-benar hadir terhadap apa yang sedang dituntut kehidupan pada saat ini. Ia menggambarkannya sebagai pelarian dari mindfulness menuju ketidaksadaran. 

Karena itu, seseorang perlu secara sadar memilih pekerjaan yang harus dilakukan meskipun pekerjaan tersebut tidak menyenangkan.

Baca Juga: 3 Titik Buta Emosional yang Diam-Diam Merusak Hubungan, Menurut Psikologi

Diamond mengaitkan gagasan ini dengan konsep act of will dari psikoterapis Otto Rank (1936), yaitu tindakan memilih secara sadar dan berani. Dengan kehendak tersebut, seseorang dapat mengatakan "ya" pada pekerjaan yang membosankan dan "tidak" pada berbagai distraksi sampai tugas tersebut selesai sebaik mungkin.

Pendekatan ini tidak berarti seluruh kebosanan atau kesulitan hidup dapat dihilangkan. Sebagian penderitaan, rutinitas, dan pekerjaan monoton memang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Seperti Hercules yang menghadapi tugasnya dan Sisyphus yang kembali mendorong batunya, manusia perlu menghadapi pekerjaan yang memang harus dilakukan.

Setelah satu tugas selesai, mungkin akan ada tugas lain pada hari berikutnya. Namun, untuk saat itu, siklus prokrastinasi telah berhasil dikalahkan. Menurut Diamond, menerima kenyataan tersebut justru dapat menghadirkan rasa puas, berdaya, dan bahagia, seperti Sisyphus yang menemukan kepuasan dengan menerima pekerjaannya yang tidak pernah benar-benar berakhir.

EDITOR: Candra Mega Sari