JawaPos.com - Dalam hubungan romantis, ada satu fase yang sering kali membingungkan: ketika hubungan terasa dekat, nyaman, bahkan seperti sudah berjalan layaknya pasangan serius, tetapi ketika pembicaraan tentang masa depan mulai muncul, salah satu pihak justru mundur.
Ia mungkin berkata, “Aku belum siap.”
Atau, “Jalani saja dulu.”
Bisa juga jawabannya lebih samar: “Kenapa harus buru-buru?” atau “Aku sayang kamu, tapi aku belum tahu hubungan ini akan ke mana.”
Situasi seperti ini dapat membuat seseorang terus bertanya-tanya. Apakah pasangan benar-benar membutuhkan waktu? Apakah ia takut kehilangan kebebasan? Apakah ia punya pengalaman buruk di masa lalu? Atau sebenarnya ia memang tidak melihat hubungan tersebut sebagai sesuatu yang ingin dibawa ke tahap lebih serius?
Menurut psikologi hubungan, keengganan berkomitmen tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki perasaan. Namun, perasaan dan kesiapan untuk berkomitmen adalah dua hal yang berbeda.
Seseorang bisa menyayangi pasangannya tetapi tetap merasa takut terhadap komitmen. Sebaliknya, seseorang juga bisa mempertahankan hubungan karena nyaman tanpa benar-benar memiliki niat untuk membangun masa depan bersama.
Karena itu, daripada terus menebak-nebak isi kepalanya, ada baiknya melakukan percakapan yang lebih mendalam.
Bukan dengan interogasi.
Bukan pula dengan ultimatum sejak awal.
Melainkan dengan beberapa pertanyaan besar yang dapat membantu kamu memahami apa sebenarnya yang membuat pasangan enggan berkomitmen dan bagaimana ia memandang hubungan tersebut.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (23/8), terdapat empat pertanyaan yang bisa kamu tanyakan.
1. “Sebenarnya, apa yang membuatmu takut atau ragu untuk berkomitmen?”
Ini mungkin pertanyaan paling penting untuk memulai percakapan.
Ketika seseorang mengatakan dirinya “belum siap”, kalimat tersebut sebenarnya belum menjelaskan apa pun. Belum siap karena apa?
Apakah takut terluka?
Takut kehilangan kebebasan?
Takut gagal mempertahankan hubungan?
Takut mengulangi pengalaman buruk dari hubungan sebelumnya?
Atau justru karena belum yakin bahwa kamu adalah orang yang ingin ia pilih untuk jangka panjang?
Psikologi hubungan menunjukkan bahwa orang dapat memiliki alasan yang sangat berbeda ketika menghadapi komitmen. Ada orang yang merasa aman ketika hubungan semakin dekat, tetapi ada pula yang justru merasa terancam ketika kedekatan emosional meningkat.
Karena itu, jangan langsung mengartikan “aku belum siap” sebagai “aku tidak mencintaimu”.
Namun, jangan pula otomatis menganggapnya sebagai alasan yang harus kamu tunggu tanpa batas.
Yang perlu dicari adalah alasan di balik ketidaksiapan tersebut.
Kamu bisa mengatakan:
“Aku tidak ingin memaksamu. Aku hanya ingin memahami, apa sebenarnya yang membuatmu merasa ragu ketika hubungan kita mulai dibicarakan lebih serius?”
Pertanyaan seperti ini membuka ruang bagi pasangan untuk menjelaskan dirinya.
Jika ia mengatakan pernah mengalami hubungan yang sangat buruk, misalnya, kamu bisa menggali lebih jauh tanpa menghakimi.
Jika ia mengatakan takut kehilangan kebebasan, kamu bisa mendiskusikan seperti apa bentuk kebebasan yang ia butuhkan.
Tetapi jika jawabannya terus-menerus kabur—“nggak tahu”, “pokoknya belum siap”, atau “jangan bahas ini”—kamu juga mendapatkan informasi penting.
Sebab, dalam hubungan yang sehat, seseorang tidak harus langsung siap berkomitmen, tetapi idealnya ada kemauan untuk membicarakan alasan dan kebutuhannya secara jujur.
2. “Ketika kamu membayangkan masa depan, apakah kamu melihat aku di dalamnya?”
Ini adalah pertanyaan yang lebih dalam.
Seseorang mungkin takut dengan konsep pernikahan, takut dengan label hubungan, atau belum siap mengambil keputusan besar. Tetapi semua itu berbeda dengan tidak melihat pasangannya sebagai bagian dari masa depan.
Pertanyaan ini membantu membedakan dua hal:
“Aku takut berkomitmen.”
dan
“Aku tidak yakin ingin berkomitmen denganmu.”
Keduanya terdengar mirip, tetapi konsekuensinya sangat berbeda.
Bayangkan seseorang mengatakan, “Aku memang belum siap menikah dengan siapa pun.”
Itu merupakan informasi yang berbeda dari seseorang yang mengatakan, “Aku tidak tahu apakah aku ingin menjalani masa depan bersamamu.”
Jawaban pertama berkaitan dengan kesiapan pribadi. Jawaban kedua menyentuh persoalan kompatibilitas dan keyakinan terhadap hubungan.
Karena itu, kamu dapat bertanya dengan lembut:
“Kalau kamu membayangkan hidupmu beberapa tahun ke depan, apakah kamu membayangkan aku sebagai bagian dari kehidupan itu?”
Tidak perlu menuntut tanggal pernikahan.
Tidak perlu meminta janji seumur hidup.
Tujuan pertanyaan ini adalah mengetahui arah emosional pasangan.
Seseorang yang benar-benar ingin membangun hubungan biasanya mampu membicarakan kemungkinan masa depan, meskipun belum memiliki semua jawabannya.
Misalnya, ia mungkin berkata:
“Aku memang belum tahu kapan siap menikah, tetapi aku ingin hubungan ini berkembang dan aku ingin melihat kita ke arah sana.”
Jawaban seperti ini berbeda dengan:
“Aku tidak pernah membayangkan kita sampai ke tahap itu, tapi aku juga tidak ingin kehilangan hubungan ini.”
Kalimat kedua patut diperhatikan karena bisa menunjukkan adanya ketidakjelasan antara keinginan mempertahankan kenyamanan hubungan dan keinginan membangun masa depan bersama.
3. “Menurutmu, seperti apa bentuk komitmen yang kamu inginkan?”
Kata “komitmen” sering kali dianggap memiliki satu arti.
Padahal, bagi setiap orang, komitmen bisa berarti sesuatu yang berbeda.
Bagi seseorang, komitmen berarti hubungan eksklusif.
Bagi orang lain, komitmen berarti mulai memperkenalkan pasangan kepada keluarga.
Bagi sebagian orang, komitmen berarti tinggal bersama.
Dan bagi yang lain, komitmen baru dianggap nyata ketika sudah ada pembicaraan mengenai pernikahan dan kehidupan jangka panjang.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Kamu mau berkomitmen atau tidak?”
Pertanyaan tersebut terlalu hitam-putih.
Cobalah bertanya:
“Menurutmu, hubungan yang serius itu bentuknya seperti apa?”
atau:
“Kalau kamu mengatakan ingin hubungan yang serius, apa yang sebenarnya kamu maksud dengan serius?”
Jawaban pasangan dapat memberikan gambaran mengenai ekspektasi dan batasannya dalam hubungan.
Misalnya, kamu menginginkan hubungan yang dalam satu atau dua tahun berkembang menuju pernikahan, sedangkan pasanganmu merasa hubungan serius cukup berarti saling setia tanpa perlu membicarakan pernikahan.
Tidak ada satu jawaban yang otomatis benar.
Masalahnya muncul ketika dua orang memiliki definisi komitmen yang sangat berbeda tetapi terus menjalani hubungan tanpa membicarakannya.
Pada akhirnya, salah satu pihak merasa sedang membangun masa depan, sementara pihak lain merasa hanya sedang menjalani hubungan yang menyenangkan untuk saat ini.
Perbedaan ekspektasi seperti ini dapat menjadi sumber konflik besar.
Maka, membicarakan definisi komitmen bukan berarti memaksa pasangan menikah.
Justru sebaliknya, percakapan tersebut membantu kalian mengetahui apakah kebutuhan masing-masing masih dapat dipertemukan.
4. “Kalau kamu memang belum siap sekarang, apa yang perlu terjadi agar kamu merasa siap?”
Pertanyaan terakhir adalah tentang arah dan tindakan, bukan sekadar perasaan.
Sebab, “aku belum siap” bisa memiliki dua kemungkinan.
Pertama, seseorang memang sedang berada dalam proses untuk menjadi lebih siap.
Kedua, “belum siap” sebenarnya adalah cara halus untuk mengatakan bahwa ia tidak ingin mengambil keputusan.
Keduanya bisa terdengar sama, tetapi terlihat berbeda dari tindakan.
Karena itu, tanyakan:
“Aku bisa menghargai kalau kamu belum siap sekarang. Tapi menurutmu, apa yang perlu berubah atau terjadi supaya kamu bisa merasa lebih siap?”
Pertanyaan ini dapat membuka percakapan yang jauh lebih konkret.
Mungkin ia sedang ingin menyelesaikan masalah pribadi.
Mungkin ia ingin memperbaiki kondisi finansial.
Mungkin ia ingin memastikan hubungan kalian lebih stabil.
Mungkin ia membutuhkan waktu untuk memulihkan kepercayaan setelah pengalaman sebelumnya.
Atau mungkin ia sendiri sebenarnya tidak tahu.
Tidak semua jawaban harus langsung menghasilkan solusi.
Namun, perhatikan apakah ada kemauan untuk bergerak.
Jika seseorang berkata, “Aku belum siap, tetapi aku ingin belajar membangun hubungan yang lebih serius dan aku ingin membicarakannya lagi beberapa bulan ke depan,” setidaknya ada arah.
Sebaliknya, jika selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun jawabannya selalu “belum siap” tanpa pernah ada pembicaraan, perubahan, atau langkah apa pun, kamu berhak mempertanyakan apakah hubungan tersebut memang sedang menuju sesuatu.
Jangan hanya mendengarkan jawabannya, perhatikan juga tindakannya
Dalam hubungan, kata-kata memang penting.
Tetapi komitmen pada akhirnya juga terlihat melalui perilaku.
Seseorang dapat mengatakan bahwa ia menyayangimu, tetapi apakah ia hadir ketika kamu membutuhkannya?
Ia bisa mengatakan ingin hubungan serius, tetapi apakah ia bersedia mendiskusikan masa depan?
Ia bisa mengatakan membutuhkan waktu, tetapi apakah selama waktu tersebut ada usaha untuk membangun kepercayaan dan kedekatan?
Karena itu, jangan hanya mencari jawaban yang ingin kamu dengar.
Carilah konsistensi antara perkataan dan tindakan.
Pasangan yang belum siap tetapi jujur biasanya masih bisa diajak berdialog.
Ia mungkin takut, ragu, atau membutuhkan waktu, tetapi ia tidak sepenuhnya menghindari percakapan.
Sebaliknya, pola menghindar terus-menerus juga merupakan bentuk informasi.
Jika setiap pembicaraan mengenai masa depan selalu berakhir dengan perubahan topik, kemarahan, menghilang, atau membuatmu merasa bersalah karena memiliki kebutuhan yang wajar, persoalannya mungkin bukan sekadar “belum siap”.
Hindari menjadikan pertanyaan ini sebagai tes
Ada satu hal yang penting.
Keempat pertanyaan tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk “menjebak” pasangan.
Jangan bertanya dengan tujuan mencari jawaban yang bisa kamu gunakan untuk memenangkan argumen.
Jangan pula mengajukan pertanyaan sambil berharap pasangan mengatakan kalimat tertentu.
Tujuan sebenarnya adalah mendapatkan kejelasan.
Kamu juga perlu memberikan ruang agar pasangan bisa menjawab dengan jujur, termasuk jika jawabannya tidak sesuai dengan harapanmu.
Sebab, kejelasan yang menyakitkan sering kali tetap lebih sehat daripada ketidakpastian yang dipelihara terlalu lama.
Kamu juga perlu bertanya kepada dirimu sendiri
Ada satu sisi lain yang sering dilupakan ketika seseorang menghadapi pasangan yang enggan berkomitmen.
Kita sibuk bertanya:
“Kenapa dia tidak siap?”
“Apakah dia takut?”
“Kapan dia akan berubah?”
Padahal ada pertanyaan yang tidak kalah penting:
“Sampai kapan aku bersedia berada dalam ketidakpastian ini?”
Kebutuhanmu juga penting.
Jika kamu menginginkan hubungan yang memiliki arah jelas, itu bukan berarti kamu terlalu menuntut.
Jika kamu ingin mengetahui apakah hubungan ini memiliki masa depan, itu bukan berarti kamu tidak sabar.
Begitu pula, jika pasangan membutuhkan waktu, kebutuhan tersebut juga tidak otomatis salah.
Persoalannya adalah apakah kebutuhan kalian masih dapat berjalan berdampingan.
Hubungan yang sehat bukan hanya tentang menemukan seseorang yang mencintai kita.
Lebih dari itu, kita perlu menemukan seseorang yang memiliki kesiapan, nilai, tujuan, dan bentuk komitmen yang cukup sejalan dengan kita.
Jangan menunggu seseorang berubah hanya karena kamu mencintainya
Salah satu jebakan terbesar dalam hubungan adalah jatuh cinta pada potensi seseorang.
“Kemungkinan dia nanti berubah.”
“Mungkin kalau hubungan kami sudah lebih lama, dia akan siap.”
“Mungkin setelah kariernya stabil, dia akan serius.”
“Mungkin kalau aku cukup sabar, dia akhirnya memilihku.”
Kemungkinan-kemungkinan tersebut memang bisa terjadi.
Tetapi hubungan tidak seharusnya dibangun hanya berdasarkan harapan bahwa seseorang akan menjadi versi yang kita inginkan di masa depan.
Lihatlah siapa dia sekarang.
Apa yang ia katakan sekarang.
Apa yang ia lakukan sekarang.
Apa yang ia inginkan sekarang.
Kemudian tanyakan kepada dirimu sendiri:
“Kalau tidak ada yang berubah dari hubungan ini dalam satu atau dua tahun ke depan, apakah aku tetap bahagia menjalaninya?”
Pertanyaan tersebut sering kali jauh lebih jujur daripada bertanya kapan pasangan akan berubah.
Pada akhirnya, komitmen harus lahir dari dua orang yang sama-sama memilih
Komitmen yang sehat bukan hasil dari tekanan.
Bukan hasil dari rasa takut kehilangan.
Bukan pula hasil dari seseorang yang terus mengejar sementara yang lain terus menghindar.
Komitmen seharusnya muncul ketika dua orang sama-sama berkata:
“Aku memilih hubungan ini dan bersedia ikut membangunnya.”
Jika pasanganmu belum siap, kamu tidak selalu harus langsung pergi.
Kamu boleh mendengarkan alasannya.
Kamu boleh memberikan waktu.
Kamu boleh melihat apakah ada perubahan.
Tetapi memberikan waktu berbeda dengan menunggu tanpa batas.
Empat pertanyaan besar tadi dapat membantumu memahami keadaan dengan lebih jernih:
Apa yang sebenarnya membuatmu takut atau ragu untuk berkomitmen?
Ketika membayangkan masa depan, apakah kamu melihat aku di dalamnya?
Menurutmu, seperti apa bentuk komitmen yang kamu inginkan?
Kalau belum siap sekarang, apa yang perlu terjadi agar kamu merasa siap?
Yang paling penting bukan hanya jawaban yang diberikan.
Perhatikan juga apakah jawabannya jelas, apakah ia mau berdialog, apakah tindakannya konsisten, dan apakah kebutuhan kalian masih bisa dipertemukan.
Karena terkadang, masalah terbesar dalam hubungan bukan ketika seseorang belum siap berkomitmen.
Masalahnya adalah ketika satu orang terus menunggu sementara orang lainnya tidak pernah benar-benar berniat untuk datang ke arah yang sama.
Dan pada titik tertentu, mencintai seseorang juga berarti cukup menghargai diri sendiri untuk bertanya:
“Apakah hubungan ini sedang menuju masa depan yang sama, atau aku hanya sedang berharap sendirian?