JawaPos.com - Di tengah derasnya informasi di media sosial, tren kesehatan muncul hampir setiap hari. Mulai dari pola makan tertentu, minuman “detoks”, olahraga ekstrem, hingga berbagai metode yang diklaim mampu menurunkan berat badan dengan cepat atau membuat tubuh lebih sehat dalam waktu singkat.
Masalahnya, sesuatu yang sedang populer belum tentu aman. Banyak tren kesehatan terlihat menarik karena menawarkan hasil instan, mudah dipraktikkan, atau didukung oleh testimoni orang yang mengaku berhasil. Padahal, kondisi setiap orang berbeda. Metode yang tampak aman bagi satu orang belum tentu cocok untuk orang lain.
Lebih jauh lagi, sebagian tren kesehatan dapat membuat seseorang kekurangan nutrisi, mengalami dehidrasi, mengganggu fungsi organ, atau bahkan menunda penanganan medis yang sebenarnya dibutuhkan.
Karena itu, penting untuk tidak langsung mengikuti tren hanya karena sedang viral. Sebelum mencoba metode kesehatan tertentu, perhatikan bukti ilmiahnya, pahami risikonya, dan bila perlu konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (22/8), terdapat tujuh tren kesehatan yang sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan.
1. Diet ekstrem dengan menghilangkan kelompok makanan tertentu
Salah satu tren yang sering muncul adalah diet yang mengharuskan seseorang menghilangkan kelompok makanan tertentu secara total. Ada yang menghindari karbohidrat, lemak, buah, produk susu, atau berbagai makanan lain dengan alasan makanan tersebut dianggap sebagai penyebab utama kenaikan berat badan.
Mengurangi makanan tertentu memang dapat menjadi bagian dari strategi pengaturan pola makan. Namun, menghilangkannya secara ekstrem tanpa alasan medis dapat menyebabkan pola makan menjadi tidak seimbang.
Tubuh membutuhkan berbagai zat gizi, termasuk karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat. Jika seseorang membatasi terlalu banyak jenis makanan, kebutuhan nutrisi hariannya bisa sulit terpenuhi.
Diet yang terlalu ketat juga dapat membuat seseorang mudah lapar, lemas, sulit berkonsentrasi, atau mengalami penurunan berat badan yang tidak sehat. Dalam jangka panjang, pola diet ekstrem juga berpotensi sulit dipertahankan sehingga berat badan dapat kembali naik setelah pola makan dihentikan.
Daripada mengejar diet yang menjanjikan penurunan berat badan dalam waktu singkat, lebih baik membangun pola makan yang seimbang dan realistis. Fokusnya bukan sekadar mengurangi angka di timbangan, tetapi memastikan tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.
2. Detoks atau “cleansing” secara berlebihan
Tren detoks sering dipromosikan sebagai cara untuk “membersihkan racun” dari tubuh. Bentuknya beragam, mulai dari hanya mengonsumsi jus selama beberapa hari, minuman tertentu, teh pelangsing, hingga program puasa ekstrem.
Konsep ini terdengar menarik karena tubuh memang terpapar berbagai zat dari lingkungan dan makanan. Namun, tubuh manusia sebenarnya sudah memiliki sistem untuk mengolah dan membuang zat sisa melalui organ seperti hati dan ginjal.
Masalah muncul ketika program detoks membuat seseorang hanya mengonsumsi sedikit kalori atau cairan tertentu dalam waktu lama. Kondisi tersebut dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi dan nutrisi.
Produk “detoks” tertentu juga dapat memiliki efek pencahar atau diuretik. Penurunan berat badan yang terjadi setelah menggunakannya belum tentu berarti lemak tubuh berkurang. Sebagian penurunan tersebut bisa berasal dari berkurangnya cairan tubuh dan isi saluran pencernaan.
Karena itu, jangan mudah percaya pada klaim bahwa suatu minuman atau program tertentu dapat “mengeluarkan racun” dan memperbaiki kesehatan secara instan.
3. Olahraga terlalu ekstrem demi hasil cepat
Olahraga merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat. Namun, semakin berat olahraga bukan berarti semakin sehat.
Di media sosial, seseorang mungkin melihat tantangan olahraga ekstrem, latihan berjam-jam, atau program yang menjanjikan perubahan bentuk tubuh dalam waktu singkat. Hal tersebut dapat membuat orang terdorong meningkatkan intensitas latihan secara tiba-tiba.
Padahal, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Olahraga berlebihan tanpa istirahat yang cukup dapat meningkatkan risiko cedera, kelelahan, nyeri otot berkepanjangan, dan penurunan performa. Dalam kondisi tertentu, aktivitas fisik yang sangat berat juga dapat menimbulkan masalah serius, terutama jika seseorang tidak terbiasa berolahraga atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Prinsip yang lebih aman adalah meningkatkan aktivitas secara bertahap. Intensitas latihan sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan, kondisi tubuh, usia, tujuan olahraga, serta pengalaman seseorang.
Istirahat juga bukan berarti malas. Pemulihan merupakan bagian penting dari program olahraga.
4. Mengandalkan suplemen atau vitamin dosis tinggi
Suplemen sering dipasarkan dengan berbagai klaim menarik. Ada yang disebut mampu meningkatkan energi, memperkuat daya tahan tubuh, mempercepat pembakaran lemak, membuat kulit lebih sehat, atau meningkatkan performa fisik.
Namun, suplemen bukan pengganti pola makan sehat.
Mengonsumsi vitamin atau mineral dalam jumlah lebih banyak juga tidak otomatis memberikan manfaat lebih besar. Beberapa zat gizi justru dapat menimbulkan masalah jika dikonsumsi dalam dosis tinggi atau dalam jangka panjang.
Selain itu, seseorang mungkin sebenarnya tidak membutuhkan suplemen tertentu. Kebutuhan suplementasi seharusnya mempertimbangkan pola makan, kondisi tubuh, faktor risiko, serta kebutuhan individu.
Kewaspadaan juga diperlukan terhadap produk yang menggunakan klaim berlebihan seperti “100 persen aman”, “tanpa efek samping”, atau “pasti berhasil”. Klaim semacam itu sebaiknya tidak langsung dipercaya tanpa memeriksa informasi yang kredibel.
Jika ingin menggunakan suplemen secara rutin, terutama dalam dosis tinggi atau bersamaan dengan obat tertentu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
5. Puasa terlalu lama tanpa memahami kondisi tubuh
Puasa memiliki tempat dalam berbagai tradisi dan pola makan. Beberapa bentuk intermittent fasting juga menjadi populer sebagai strategi pengaturan pola makan.
Namun, semakin lama seseorang berpuasa bukan berarti manfaatnya semakin besar.
Puasa yang terlalu panjang atau dilakukan tanpa perencanaan dapat membuat seseorang kekurangan energi dan cairan. Bagi sebagian orang, kondisi tersebut dapat menimbulkan pusing, lemas, sulit berkonsentrasi, atau gangguan pola makan.
Risikonya juga berbeda pada setiap orang. Orang dengan kondisi medis tertentu, mereka yang mengonsumsi obat tertentu, serta kelompok yang memiliki kebutuhan nutrisi khusus perlu lebih berhati-hati.
Jika seseorang ingin mencoba pola intermittent fasting, sebaiknya tidak sekadar mengikuti jadwal yang sedang viral. Pertimbangkan apakah pola tersebut sesuai dengan kondisi dan rutinitas sehari-hari.
Yang paling penting, jangan menjadikan rasa lapar ekstrem sebagai ukuran keberhasilan menjalani pola hidup sehat.
6. Mengikuti tren kesehatan hanya berdasarkan influencer
Media sosial dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat, tetapi juga menjadi tempat berkembangnya berbagai klaim kesehatan yang belum tentu benar.
Seorang influencer mungkin membagikan pengalaman pribadi tentang bagaimana ia berhasil menurunkan berat badan setelah mengikuti pola makan tertentu. Orang lain mungkin menunjukkan perubahan tubuh setelah mengonsumsi produk tertentu.
Pengalaman tersebut memang bisa menjadi cerita pribadi, tetapi bukan berarti metode tersebut terbukti efektif dan aman untuk semua orang.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap hubungan sebab-akibat berdasarkan pengalaman pribadi. Misalnya, seseorang mengonsumsi minuman tertentu lalu berat badannya turun. Belum tentu minuman tersebut yang menyebabkan penurunan berat badan. Bisa saja orang tersebut juga mengurangi asupan kalori, meningkatkan aktivitas fisik, memperbaiki pola tidur, atau mengalami perubahan lain pada saat yang sama.
Sebelum mengikuti tren kesehatan, periksa sumber informasinya. Cari tahu apakah klaim tersebut didukung penelitian yang berkualitas dan apakah ada konsensus dari organisasi kesehatan atau tenaga profesional.
7. Menghentikan pengobatan medis karena mengikuti terapi alternatif yang sedang viral
Ini merupakan salah satu tren yang paling perlu diwaspadai.
Terapi komplementer atau alternatif tertentu mungkin digunakan oleh sebagian orang untuk mendukung kesehatan. Namun, masalah dapat muncul ketika seseorang mengganti pengobatan medis yang sudah diresepkan dengan metode yang belum terbukti efektif.
Misalnya, seseorang mendapatkan diagnosis penyakit tertentu kemudian memutuskan berhenti mengonsumsi obat karena percaya bahwa ramuan, terapi tertentu, atau metode “alami” dapat menyembuhkan penyakit tersebut.
“Alami” juga tidak selalu berarti aman. Bahan alami dapat memiliki efek samping, berinteraksi dengan obat, atau tidak memberikan manfaat yang diklaim.
Yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang menunda pemeriksaan atau pengobatan karena terlalu percaya pada klaim kesehatan di internet. Kondisi medis tertentu membutuhkan diagnosis dan penanganan yang tepat waktu.
Jika ingin menggunakan terapi komplementer bersama pengobatan medis, diskusikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan yang menangani kondisi tersebut.
Mengapa Tren Kesehatan Mudah Dipercaya?
Ada beberapa alasan mengapa tren kesehatan cepat menyebar.
Pertama, manusia cenderung tertarik pada hasil yang cepat. Kalimat seperti “turun berat badan dalam beberapa hari” atau “tubuh lebih sehat hanya dengan satu kebiasaan” terdengar jauh lebih menarik daripada anjuran untuk memperbaiki pola makan, tidur, dan aktivitas secara konsisten selama berbulan-bulan.
Kedua, testimoni pribadi terasa lebih mudah dipercaya. Foto sebelum dan sesudah atau cerita seseorang tentang keberhasilannya dapat memberikan kesan bahwa suatu metode pasti bekerja.
Ketiga, algoritma media sosial dapat membuat seseorang terus melihat informasi yang serupa. Setelah menonton beberapa video tentang diet tertentu, misalnya, pengguna dapat semakin sering mendapatkan konten dengan tema yang sama. Akibatnya, suatu klaim dapat terasa benar hanya karena sering muncul.
Padahal, popularitas bukan ukuran keamanan atau efektivitas.
Bagaimana Mengenali Tren Kesehatan yang Patut Dicurigai?
Ada beberapa tanda peringatan yang bisa diperhatikan.
Waspadai produk atau metode yang menjanjikan hasil luar biasa dalam waktu sangat singkat. Klaim seperti “pasti berhasil”, “tanpa usaha”, atau “cocok untuk semua orang” juga perlu dipertanyakan.
Perhatikan pula apakah metode tersebut meminta seseorang melakukan tindakan ekstrem, seperti tidak makan dalam waktu sangat lama, mengonsumsi satu jenis makanan saja, berolahraga tanpa batas, atau menggunakan produk tertentu dalam dosis yang tidak jelas.
Klaim yang hanya mengandalkan testimoni juga perlu diperiksa kembali. Testimoni dapat menunjukkan pengalaman seseorang, tetapi tidak cukup untuk membuktikan efektivitas suatu metode bagi populasi yang lebih luas.
Hal lain yang penting adalah transparansi. Produk dan metode yang kredibel biasanya memiliki informasi yang jelas mengenai kandungan, cara penggunaan, manfaat yang didukung bukti, serta risiko atau efek samping yang mungkin terjadi.
Sehat Tidak Harus Mengikuti Tren
Pada akhirnya, kesehatan bukanlah kompetisi untuk mencoba sebanyak mungkin tren terbaru.
Kebiasaan yang terlihat sederhana justru sering menjadi fondasi kesehatan yang lebih kuat: mengonsumsi makanan bergizi dan beragam, aktif bergerak, tidur cukup, menjaga kebersihan, mengelola stres, menghindari kebiasaan yang berisiko, serta melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kebutuhan.
Perubahan gaya hidup juga tidak harus ekstrem. Justru, kebiasaan yang dapat dilakukan secara konsisten biasanya lebih realistis dibandingkan metode yang hanya mampu dijalankan selama beberapa hari atau minggu.
Sebelum mengikuti tren kesehatan, biasakan bertanya tiga hal: Apa buktinya? Apa risikonya? Dan apakah metode ini benar-benar sesuai dengan kondisi saya?
Jika jawabannya tidak jelas, jangan terburu-buru mencobanya.
Kesehatan bukan sesuatu yang seharusnya dipertaruhkan demi mengikuti tren. Sesuatu yang viral belum tentu bermanfaat, dan sesuatu yang terlihat alami belum tentu bebas risiko. Karena itu, jadilah konsumen informasi kesehatan yang kritis, periksa sumbernya, dan jangan ragu meminta saran tenaga kesehatan ketika memiliki keraguan.
Ingat, tujuan utama hidup sehat bukan mengikuti apa yang sedang populer, melainkan menjaga tubuh dengan cara yang aman, masuk akal, dan dapat dilakukan secara berkelanjutan.