JawaPos.com - Ada hubungan yang sering kita abaikan meskipun sebenarnya paling menentukan bagaimana kita menjalani hidup: hubungan dengan diri sendiri.
Kita begitu sibuk menjaga perasaan orang lain, memenuhi harapan keluarga, menjadi pasangan yang baik, menjadi teman yang bisa diandalkan, atau mengejar kesuksesan, sampai lupa bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya, apakah aku baik-baik saja?”
Tidak sedikit orang yang terlihat kuat dari luar, tetapi diam-diam memiliki hubungan yang buruk dengan dirinya sendiri. Mereka mudah menyalahkan diri, merasa tidak pernah cukup baik, sulit memaafkan kesalahan masa lalu, takut mengecewakan orang lain, dan terus membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
Ironisnya, seseorang bisa sangat memahami orang lain tetapi tidak tahu bagaimana memperlakukan dirinya sendiri.
Padahal, memperbaiki hubungan dengan diri sendiri bukan berarti menjadi egois, selalu mengikuti keinginan sendiri, atau berhenti menerima kritik. Justru sebaliknya, hubungan yang sehat dengan diri sendiri berarti mampu mengenali kebutuhan, menerima kekurangan, bertanggung jawab atas kesalahan, menetapkan batasan, dan tetap menghargai diri bahkan ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.
Jika akhir-akhir ini Anda merasa jauh dari diri sendiri, jangan langsung menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Anda. Hubungan dengan diri sendiri juga bisa diperbaiki, sedikit demi sedikit.
Menurut berbagai konsep dalam psikologi, ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (22/8), terdapat tujuh cara yang bisa mulai Anda lakukan.
1. Berhenti berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang tidak akan Anda gunakan kepada orang lain
Coba perhatikan suara di dalam kepala Anda ketika melakukan kesalahan.
Ketika terlambat, apakah Anda berkata, “Aku memang bodoh.”
Ketika gagal, apakah Anda berpikir, “Aku tidak akan pernah berhasil.”
Ketika membuat keputusan yang keliru, apakah Anda langsung menyimpulkan, “Kenapa aku selalu menghancurkan semuanya?”
Jika iya, mungkin masalahnya bukan hanya pada kesalahan yang Anda lakukan, tetapi juga pada cara Anda memperlakukan diri setelah melakukan kesalahan.
Dalam psikologi, konsep self-compassion atau belas kasih kepada diri sendiri mengajarkan pentingnya memperlakukan diri dengan pemahaman dan kebaikan, terutama ketika sedang mengalami kegagalan atau penderitaan.
Bayangkan seorang teman dekat datang kepada Anda dan berkata bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar. Kemungkinan besar Anda tidak akan langsung mengatakan, “Kamu memang tidak berguna.”
Anda mungkin akan mengatakan, “Tidak apa-apa, semua orang bisa melakukan kesalahan. Coba kita pikirkan apa yang bisa diperbaiki.”
Lalu mengapa Anda tidak memberikan perlakuan yang sama kepada diri sendiri?
Bersikap lembut kepada diri sendiri bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Anda tetap bisa mengakui bahwa tindakan Anda salah sambil mengatakan:
“Aku memang melakukan kesalahan, tetapi kesalahan ini tidak menentukan seluruh nilai diriku.”
Kalimat sederhana seperti itu dapat mengubah cara Anda memandang kegagalan.
Mulailah memperhatikan kata-kata yang Anda gunakan terhadap diri sendiri. Ketika muncul pikiran yang terlalu keras, berhentilah sejenak dan tanyakan:
“Apakah aku akan mengatakan hal yang sama kepada seseorang yang sangat kusayangi?”
Jika jawabannya tidak, mungkin Anda juga tidak perlu mengatakannya kepada diri sendiri.
2. Belajar menerima diri tanpa harus berhenti berkembang
Salah satu kesalahpahaman tentang menerima diri adalah anggapan bahwa self-acceptance berarti menyerah.
Padahal, menerima diri bukan berarti mengatakan, “Aku seperti ini dan tidak perlu berubah.”
Menerima diri berarti mampu mengatakan:
“Aku tahu siapa diriku sekarang, termasuk kelebihan dan kekuranganku, dan aku tetap memilih untuk bertumbuh.”
Ada perbedaan besar antara menerima diri dan menyerah pada keadaan.
Anda bisa menerima bahwa saat ini Anda masih mudah cemas, tetapi tetap belajar mengelolanya.
Anda bisa menerima bahwa Anda pernah membuat keputusan buruk, tetapi tetap berusaha mengambil keputusan yang lebih baik.
Anda bisa menerima bahwa Anda belum mencapai sesuatu yang diinginkan, tanpa menganggap diri Anda sebagai manusia yang gagal.
Banyak orang justru membuat proses berkembang menjadi hukuman bagi dirinya sendiri.
Mereka berpikir, “Aku baru boleh menghargai diriku kalau sudah sukses.”
Akibatnya, setiap pencapaian terasa tidak pernah cukup.
Setelah mendapatkan pekerjaan, mereka ingin jabatan lebih tinggi. Setelah mencapai target, mereka membuat target baru. Setelah dipuji orang lain, mereka kembali mencari pengakuan berikutnya.
Pertumbuhan akhirnya bukan lagi sesuatu yang menyenangkan, tetapi menjadi usaha tanpa akhir untuk membuktikan bahwa dirinya layak.
Cobalah mengubah cara berpikir.
Anda tidak harus membenci diri Anda yang sekarang untuk menjadi versi diri yang lebih baik.
Anda bisa mengatakan:
“Aku menghargai diriku hari ini, sekaligus ingin menjadi lebih baik di masa depan.”
Keduanya tidak bertentangan.
3. Berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran nilai diri
Media sosial membuat kebiasaan membandingkan diri menjadi semakin mudah.
Anda melihat seseorang membeli rumah.
Teman Anda menikah.
Orang lain mendapatkan pekerjaan impian.
Seseorang memulai bisnis dan terlihat sukses.
Orang lain tampak memiliki hubungan yang bahagia.
Sementara Anda mungkin sedang menghadapi kehidupan yang terasa biasa-biasa saja.
Tanpa disadari, Anda mulai berpikir bahwa hidup Anda tertinggal.
Padahal, Anda sedang membandingkan kehidupan nyata Anda dengan potongan kehidupan orang lain yang terlihat oleh Anda.
Perbandingan sosial memang merupakan bagian dari perilaku manusia. Namun, ketika kebiasaan membandingkan diri membuat harga diri terus bergantung pada pencapaian orang lain, hubungan Anda dengan diri sendiri dapat menjadi semakin buruk.
Karena itu, salah satu cara memperbaiki hubungan dengan diri sendiri adalah menentukan ukuran keberhasilan yang lebih personal.
Alih-alih bertanya:
“Apakah aku lebih sukses daripada orang lain?”
Cobalah bertanya:
“Apakah aku berkembang dibandingkan diriku yang dulu?”
Alih-alih:
“Mengapa hidupku tidak seperti mereka?”
Tanyakan:
“Apa yang sebenarnya penting bagiku?”
Anda tidak harus memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain agar kehidupan Anda berarti.
Setiap orang memiliki waktu, keadaan, kemampuan, prioritas, dan perjalanan yang berbeda.
Jangan biarkan pencapaian orang lain menjadi bukti bahwa Anda tidak cukup baik.
4. Belajar mengatakan “tidak” tanpa merasa bersalah
Hubungan yang sehat dengan diri sendiri membutuhkan batasan.
Namun bagi sebagian orang, mengatakan “tidak” terasa sangat sulit.
Mereka takut dianggap egois.
Takut mengecewakan orang lain.
Takut tidak disukai.
Akhirnya mereka mengatakan “iya” meskipun sebenarnya lelah, tidak nyaman, atau tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya.
Dalam jangka pendek, menyenangkan orang lain mungkin membuat Anda merasa aman. Namun jika terus dilakukan, Anda bisa kehilangan hubungan dengan kebutuhan diri sendiri.
Anda mulai tidak tahu apa yang sebenarnya Anda inginkan karena terlalu sibuk memenuhi keinginan orang lain.
Belajar mengatakan “tidak” bukan berarti Anda tidak peduli kepada orang lain.
Ini berarti Anda menyadari bahwa energi, waktu, dan kemampuan Anda juga memiliki batas.
Anda tidak harus memberikan penjelasan panjang untuk setiap penolakan.
Anda bisa berkata:
“Maaf, kali ini saya belum bisa membantu.”
Atau:
“Terima kasih sudah mengajak, tetapi saya memilih tidak ikut.”
Atau bahkan:
“Saya perlu waktu untuk diri sendiri.”
Pada awalnya mungkin terasa tidak nyaman.
Itu normal.
Jika selama bertahun-tahun Anda terbiasa mencari persetujuan orang lain, menetapkan batasan mungkin membuat Anda merasa bersalah.
Tetapi rasa bersalah tidak selalu berarti Anda melakukan sesuatu yang salah.
Kadang-kadang rasa bersalah hanya menunjukkan bahwa Anda sedang melakukan sesuatu yang belum terbiasa Anda lakukan.
5. Dengarkan kebutuhan diri sebelum tubuh dan pikiran memaksa Anda berhenti
Banyak orang baru beristirahat ketika sudah benar-benar kelelahan.
Mereka bekerja sampai tidak sanggup berpikir.
Menyimpan emosi sampai akhirnya meledak.
Mengabaikan kebutuhan tidur.
Mengatakan “aku baik-baik saja” meskipun sebenarnya sedang kewalahan.
Ini adalah salah satu bentuk ketika seseorang kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri.
Cobalah mulai melakukan pemeriksaan sederhana terhadap diri sendiri setiap hari.
Tanyakan:
“Apa yang sedang aku rasakan?”
“Apa yang sebenarnya aku butuhkan?”
“Apakah aku sedang lelah, lapar, kesepian, marah, kecewa, atau terlalu banyak menerima tekanan?”
Pertanyaan sederhana ini membantu Anda mengenali kondisi internal sebelum semuanya menjadi terlalu berat.
Terkadang yang Anda butuhkan bukan motivasi tambahan.
Mungkin Anda membutuhkan tidur.
Mungkin Anda membutuhkan waktu sendirian.
Mungkin Anda perlu berbicara dengan seseorang.
Mungkin Anda perlu menyelesaikan konflik yang selama ini dihindari.
Atau mungkin Anda hanya perlu berhenti sejenak tanpa merasa harus produktif.
Istirahat bukan tanda kelemahan.
Mengenali kebutuhan diri bukan kemalasan.
Dan merawat diri bukan sesuatu yang harus Anda lakukan hanya setelah semua pekerjaan selesai.
Anda adalah bagian dari kehidupan yang sedang Anda bangun. Karena itu, diri Anda juga perlu dirawat.
6. Maafkan diri sendiri atas hal-hal yang tidak bisa Anda ubah
Salah satu penghalang terbesar dalam memperbaiki hubungan dengan diri sendiri adalah masa lalu.
Ada orang yang masih menghukum dirinya karena keputusan yang dibuat bertahun-tahun lalu.
Ia terus mengingat kesalahan.
Terus memikirkan apa yang seharusnya dikatakan.
Terus membayangkan bagaimana jika ia mengambil keputusan berbeda.
Masalahnya, masa lalu tidak bisa diubah dengan menyalahkan diri sendiri setiap hari.
Jika Anda memang melakukan kesalahan, ambillah tanggung jawab.
Pelajari akibatnya.
Perbaiki sesuatu jika masih memungkinkan.
Minta maaf jika memang diperlukan.
Tetapi setelah itu, Anda juga perlu belajar melepaskan.
Memaafkan diri sendiri bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan Anda tidak penting.
Memaafkan diri berarti mengakui:
“Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi aku masih bisa menentukan siapa diriku setelahnya.”
Manusia belajar melalui pengalaman.
Versi diri Anda yang melakukan kesalahan di masa lalu mungkin belum memiliki pengetahuan, pengalaman, atau kedewasaan yang Anda miliki sekarang.
Jangan menggunakan pengetahuan yang Anda miliki hari ini untuk terus menghukum seseorang yang dulu belum mengetahuinya.
Dan orang itu adalah diri Anda sendiri.
Mungkin Anda tidak bisa mengubah masa lalu.
Tetapi Anda bisa berhenti membiarkan masa lalu menentukan bagaimana Anda memperlakukan diri sendiri hari ini.
7. Bangun kepercayaan kepada diri sendiri melalui tindakan kecil
Hubungan yang baik dengan diri sendiri tidak hanya dibangun melalui afirmasi positif.
Ia juga dibangun melalui kepercayaan.
Dan kepercayaan kepada diri sendiri tumbuh ketika Anda mulai membuktikan kepada diri bahwa Anda dapat mengandalkan diri sendiri.
Tidak perlu dimulai dengan perubahan besar.
Mulailah dari hal-hal kecil.
Jika Anda berjanji akan tidur lebih awal, cobalah melakukannya.
Jika Anda ingin mulai berolahraga, lakukan secara realistis.
Jika Anda mengatakan akan menyelesaikan satu pekerjaan, selesaikan.
Jika Anda membutuhkan waktu istirahat, berikan waktu itu kepada diri sendiri.
Setiap kali Anda membuat komitmen yang realistis dan menepatinya, Anda sedang mengirimkan pesan kepada diri sendiri:
“Aku bisa mengandalkan diriku.”
Sebaliknya, jika Anda terus membuat janji yang terlalu besar lalu gagal memenuhinya, kepercayaan terhadap diri sendiri dapat melemah.
Karena itu, jangan membuat perubahan hidup berdasarkan semangat sesaat.
Buatlah komitmen kecil yang mampu Anda jalankan secara konsisten.
Misalnya, daripada berkata:
“Mulai besok aku akan mengubah seluruh hidupku.”
Cobalah:
“Setiap malam aku akan menyediakan 15 menit untuk menenangkan diri dan mengevaluasi hariku.”
Perubahan kecil yang konsisten sering kali jauh lebih berarti daripada perubahan besar yang hanya bertahan beberapa hari.
Hubungan dengan diri sendiri tidak harus sempurna
Memperbaiki hubungan dengan diri sendiri bukan proyek yang memiliki garis akhir.
Akan ada hari ketika Anda merasa percaya diri.
Ada hari ketika Anda kembali meragukan diri sendiri.
Ada saat ketika Anda berhasil menetapkan batasan.
Ada saat ketika Anda kembali mengatakan “iya” karena takut mengecewakan orang lain.
Ada hari ketika Anda mampu menerima diri.
Ada pula hari ketika Anda kembali membandingkan diri dengan orang lain.
Itu bukan berarti semua usaha Anda gagal.
Menjadi manusia memang berarti mengalami naik turun.
Yang penting adalah Anda mulai menyadari bagaimana Anda memperlakukan diri sendiri.
Ketika melakukan kesalahan, apakah Anda langsung menghukum diri?
Ketika gagal, apakah Anda menganggap diri tidak berharga?
Ketika lelah, apakah Anda mengizinkan diri beristirahat?
Ketika orang lain mengecewakan Anda, apakah Anda tetap memaksa diri untuk mempertahankan hubungan tersebut?
Dan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana, apakah Anda masih bisa mengatakan:
“Aku mungkin belum berada di tempat yang kuinginkan, tetapi aku tetap layak menghargai diriku.”
Hubungan dengan diri sendiri mungkin tidak selalu terasa mudah.
Namun semakin Anda belajar mendengarkan diri, menerima diri, menjaga batasan, memaafkan kesalahan, dan memenuhi kebutuhan yang sehat, semakin kuat pula fondasi psikologis yang Anda bangun.
Pada akhirnya, Anda tidak perlu menjadi manusia yang sempurna untuk memiliki hubungan yang baik dengan diri sendiri.
Anda hanya perlu mulai memperlakukan diri sebagai seseorang yang juga pantas mendapatkan pengertian.
Karena sebelum meminta dunia memahami Anda, ada satu orang yang perlu terlebih dahulu Anda pelajari untuk pahami:
diri Anda sendiri.