← Beranda
Batal Ketemu Secara Mendadak, 8 Sisi Kepribadian Ini Konon Sering Berada di Baliknya
Irfan FerdiansyahSenin, 17 Agustus 2026 | 05.15 WIB
seseorang yang membatalkan rencana di menit-menit terakhir (Freepik/EyeEm)

JawaPos.com – Pernah menyiapkan waktu untuk bertemu seseorang, tetapi beberapa saat sebelum jadwal tiba justru mendapat kabar bahwa pertemuan dibatalkan?

Kebiasaan tersebut memang dapat membuat orang yang menunggu merasa kecewa. Namun, pembatalan mendadak tidak selalu berarti seseorang malas, tidak menghargai orang lain, atau tidak memiliki komitmen.

Ada berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi perilaku tersebut. Kondisi emosional, tingkat energi, cara seseorang mengelola jadwal, hingga kecemasan dalam situasi sosial bisa ikut berperan.

Karena itu, kebiasaan membatalkan rencana secara tiba-tiba sebaiknya tidak langsung digunakan untuk memberikan label pada kepribadian seseorang. Perilaku yang sama bisa muncul dari alasan yang berbeda pada setiap orang.

Baca Juga: Jika Anda Melihat 8 Perilaku Ini dari Pasangan, Anda Hanya Menjadi Pelampiasan Menurut Psikologi

Dilansir dari Geediting, berikut sejumlah karakter dan kondisi yang dapat dikaitkan dengan kebiasaan membatalkan rencana di waktu terakhir.

1. Mudah Cemas Ketika Menghadapi Situasi Sosial

Ada orang yang terlihat nyaman berkomunikasi melalui pesan, tetapi merasa berbeda ketika waktu pertemuan semakin dekat.

Bayangan harus bertemu langsung, berbicara, atau berada di tengah banyak orang dapat memunculkan kekhawatiran. Bagi mereka, membatalkan rencana terkadang terasa sebagai cara tercepat untuk mengurangi tekanan tersebut.

Namun, rasa gugup sebelum bertemu orang lain tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kecemasan sosial. Intensitas dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari perlu diperhatikan.

2. Memiliki Standar yang Terlalu Tinggi

Perfeksionisme ternyata tidak hanya muncul dalam urusan pekerjaan. Dalam kehidupan sosial, seseorang juga bisa memiliki gambaran tertentu mengenai bagaimana sebuah pertemuan seharusnya berlangsung.

Ketika kondisi fisik, suasana hati, penampilan, atau keadaan lainnya dirasa tidak sesuai harapan, mereka mungkin memilih tidak datang.

Masalahnya, standar yang terlalu tinggi dapat membuat seseorang kesulitan menerima bahwa sebuah rencana tidak harus berlangsung sempurna untuk tetap menyenangkan.

3. Energi Sosial Sudah Habis

Bertemu dan berinteraksi dengan orang lain membutuhkan energi, terutama bagi orang yang lebih nyaman dengan lingkungan tenang atau waktu sendiri.

Seseorang mungkin menyetujui ajakan ketika kondisi tubuh dan pikirannya masih baik. Namun, setelah menjalani aktivitas sepanjang hari, energinya bisa berkurang drastis.

Pada kondisi seperti ini, membatalkan pertemuan dapat terasa sebagai kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan diri.

4. Kurang Cermat Menyusun Jadwal

Tidak semua pembatalan berkaitan dengan kepribadian atau kondisi emosional. Masalah sederhana seperti pengaturan waktu juga bisa menjadi penyebab.

Orang yang terlalu banyak menerima ajakan atau pekerjaan mungkin baru menyadari adanya jadwal yang bertabrakan ketika hari pelaksanaan sudah dekat.

Akibatnya, salah satu agenda terpaksa dibatalkan. Kebiasaan tersebut dapat dikurangi dengan membuat jadwal yang lebih realistis dan tidak menerima terlalu banyak komitmen sekaligus.

5. Keputusan Sangat Dipengaruhi Suasana Hati

Sebagian orang sangat responsif terhadap perubahan emosi. Ketika merasa bersemangat, mereka mudah mengatakan iya terhadap berbagai rencana.

Sebaliknya, ketika suasana hati berubah menjadi buruk atau tubuh terasa lelah, keinginan untuk bersosialisasi ikut menurun.

Jika keputusan selalu bergantung pada mood saat itu, seseorang bisa menjadi tidak konsisten dalam memenuhi janji yang sudah dibuat sebelumnya.

6. Tidak Nyaman Mengatakan “Tidak” Sejak Awal

Ada orang yang sebenarnya tidak ingin mengikuti suatu acara, tetapi kesulitan menolak ajakan secara langsung.

Daripada mengecewakan orang lain, mereka memilih menyetujui rencana terlebih dahulu. Masalah baru muncul ketika waktu pertemuan semakin dekat dan mereka tidak lagi sanggup menjalankannya.

Belajar menyampaikan penolakan secara sopan sejak awal justru bisa menjadi pilihan yang lebih sehat dibanding membatalkan secara mendadak.

7. Sangat Mengutamakan Kebebasan Pribadi

Sebagian individu kurang nyaman dengan jadwal yang sudah ditentukan jauh-jauh hari. Mereka lebih menyukai kehidupan yang fleksibel dan spontan.

Ketika jadwal yang telah dibuat terasa seperti kewajiban yang membatasi ruang gerak, muncul keinginan untuk membatalkannya.

Hal tersebut tidak selalu berarti seseorang egois. Namun, jika terjadi berulang kali dan merugikan orang lain, penting untuk menemukan keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan tanggung jawab terhadap komitmen.

8. Sedang Mengalami Kelelahan Mental

Kelelahan secara mental tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa tetap bekerja, berkomunikasi, dan menjalani rutinitas sambil sebenarnya merasa sangat terkuras.

Dalam kondisi tersebut, aktivitas sosial yang biasanya menyenangkan pun dapat terasa berat.

Keinginan untuk membatalkan rencana bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat. Jika rasa lelah berlangsung lama dan mulai mengganggu berbagai aspek kehidupan, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang lebih tepat.

 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho