Namun, setelah pernikahan benar-benar dijalani, banyak orang menyadari bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga tidak datang hanya karena seseorang telah menemukan pasangan yang dicintai.
Pernikahan adalah hubungan yang terus dibentuk oleh kebiasaan.
Cara Anda berbicara ketika sedang marah. Cara Anda merespons ketika pasangan bercerita. Cara Anda menghadapi perbedaan. Cara Anda memperlakukan pasangan ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Hal-hal kecil tersebut, jika dilakukan berulang kali, dapat menentukan apakah hubungan terasa aman dan hangat atau justru perlahan menjadi tempat yang melelahkan.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (11/8), dalam psikologi hubungan, konflik itu sendiri bukan selalu tanda bahwa sebuah pernikahan buruk. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana pasangan menghadapi konflik dan pola perilaku apa yang terus berulang di antara mereka.
Karena itu, jika Anda ingin benar-benar bahagia setelah menikah, mungkin bukan hanya kebiasaan buruk pasangan yang perlu diperhatikan.
Ada beberapa kebiasaan dalam diri sendiri yang juga perlu ditinggalkan.
Berikut enam di antaranya.
1. Berhenti Mengharapkan Pasangan Selalu Memahami Anda Tanpa Berbicara
Salah satu kesalahan yang sering terjadi setelah menikah adalah menganggap pasangan seharusnya bisa memahami kita tanpa perlu dijelaskan.
"Kalau dia benar-benar mencintaiku, dia pasti tahu."
Kalimat seperti ini terdengar romantis, tetapi dalam kehidupan nyata justru bisa menjadi sumber kekecewaan.
Pasangan Anda bukan pembaca pikiran.
Ia mungkin mencintai Anda, peduli kepada Anda, dan mengenal Anda selama bertahun-tahun. Namun, ia tetap tidak mungkin mengetahui semua kebutuhan, kekhawatiran, keinginan, dan batasan Anda tanpa komunikasi yang jelas.
Misalnya, Anda merasa kecewa karena pasangan pulang terlambat tanpa memberi kabar.
Alih-alih mengatakan, "Aku khawatir kalau kamu pulang terlambat dan tidak memberi kabar," Anda memilih diam.
Ketika pasangan bertanya, "Kamu kenapa?"
Anda menjawab:
"Tidak apa-apa."
Padahal sebenarnya Anda berharap dia menyadari sendiri bahwa Anda sedang kecewa.
Ketika ia tidak menyadarinya, Anda semakin marah.
Akhirnya masalah yang sebenarnya sederhana berubah menjadi konflik besar.
Psikologi hubungan menunjukkan bahwa komunikasi yang sehat bukan tentang membuat pasangan mampu membaca pikiran kita, melainkan tentang membantu pasangan memahami apa yang kita rasakan dan butuhkan.
Karena itu, tinggalkan kebiasaan menguji cinta pasangan melalui diam.
Jangan membuat pasangan harus menebak-nebak.
Jika Anda membutuhkan perhatian, katakan.
Jika Anda merasa terluka, jelaskan.
Jika ada sesuatu yang tidak Anda sukai, bicarakan.
Mengungkapkan kebutuhan bukan berarti Anda manja.
Justru itu adalah bentuk kedewasaan emosional.
Pernikahan yang sehat bukan hubungan antara dua orang yang selalu tahu apa yang dipikirkan satu sama lain.
Pernikahan yang sehat adalah hubungan antara dua orang yang bersedia menjelaskan, mendengarkan, dan berusaha memahami.
2. Tinggalkan Kebiasaan Mengungkit Kesalahan Lama Saat Bertengkar
Setiap pasangan pasti pernah melakukan kesalahan.
Ada kata-kata yang pernah menyakitkan.
Ada janji yang pernah dilanggar.
Ada keputusan yang pernah mengecewakan.
Namun, jika setiap pertengkaran selalu membuka kembali seluruh kesalahan masa lalu, hubungan akan menjadi tempat di mana seseorang merasa tidak pernah benar-benar mendapatkan kesempatan untuk berubah.
Bayangkan Anda sedang bertengkar tentang masalah sederhana hari ini.
Pasangan terlambat melakukan sesuatu yang sudah disepakati.
Kemudian Anda berkata:
"Memang kamu selalu seperti ini."
Lalu muncul kesalahan tiga tahun lalu.
Kemudian kesalahan dua tahun lalu.
Lalu masalah saat masa pacaran.
Akhirnya, pertengkaran hari ini bukan lagi tentang masalah yang sedang terjadi.
Semua luka lama dikumpulkan menjadi satu.
Ini adalah pola komunikasi yang sangat melelahkan.
Jika sebuah masalah lama memang belum selesai, tentu masalah tersebut perlu dibicarakan.
Tetapi ada perbedaan besar antara menyelesaikan masalah lama dan menggunakan kesalahan lama sebagai senjata ketika bertengkar.
Yang pertama dapat membantu hubungan.
Yang kedua justru dapat menghancurkannya.
Pasangan akan mulai merasa:
"Apa pun yang kulakukan, aku tetap akan dihakimi berdasarkan kesalahan masa lalu."
Perasaan seperti ini dapat membuat seseorang berhenti terbuka.
Ia mungkin mulai menyembunyikan perasaan, menghindari percakapan, atau memilih diam karena takut setiap pembicaraan akan berubah menjadi daftar kesalahan.
Karena itu, belajarlah membedakan antara mengingat untuk belajar dan mengingat untuk menyerang.
Jika masalah sudah benar-benar diselesaikan dan Anda memilih untuk memaafkan, jangan terus menggunakannya sebagai amunisi.
Jika belum selesai, bicarakan dengan tenang pada waktu yang tepat.
Jangan jadikan masa lalu sebagai senjata untuk memenangkan pertengkaran hari ini.
Dalam pernikahan, tujuan konflik bukan mencari siapa yang menang.
Tujuannya adalah mencari cara agar hubungan menjadi lebih baik.
3. Berhenti Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain
Ini adalah kebiasaan yang tampak sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar.
"Suami temanku lebih perhatian."
"Istrinya si A lebih pengertian."
"Lihat pasangan mereka, hidupnya jauh lebih romantis."
"Kenapa kamu tidak seperti suaminya dia?"
Perbandingan seperti ini mungkin dilakukan ketika seseorang sedang kecewa.
Namun, bagi pasangan yang mendengarnya, pesan yang tertangkap sering kali bukan:
"Aku ingin hubungan kita lebih baik."
Melainkan:
"Menurutmu, aku tidak cukup baik."
Inilah masalahnya.
Setiap pasangan memiliki kondisi yang berbeda.
Anda mungkin hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan rumah tangga orang lain.
Anda melihat mereka pergi berlibur.
Anda melihat hadiah yang diberikan.
Anda melihat foto romantis.
Anda melihat bagaimana pasangan mereka memperlakukan satu sama lain di depan umum.
Tetapi Anda tidak melihat seluruh cerita.
Anda tidak tahu bagaimana mereka menyelesaikan konflik.
Anda tidak tahu tekanan finansial yang mereka hadapi.
Anda tidak tahu masalah keluarga mereka.
Anda tidak tahu percakapan yang terjadi ketika pintu rumah mereka tertutup.
Karena itu, membandingkan bagian terbaik dari hubungan orang lain dengan bagian tersulit dari hubungan Anda sendiri hampir selalu menghasilkan ketidakpuasan.
Lebih buruk lagi, ketika pasangan terus dibandingkan, ia dapat merasa bahwa apa pun yang dilakukan tidak pernah cukup.
Daripada berkata:
"Kenapa kamu tidak bisa seperti dia?"
Cobalah berkata:
"Aku akan merasa lebih dicintai kalau kamu lebih sering melakukan ini."
Perbedaannya sangat besar.
Kalimat pertama menyerang identitas pasangan.
Kalimat kedua menjelaskan kebutuhan Anda.
Jika Anda ingin bahagia dalam pernikahan, berhentilah mengejar hubungan yang terlihat sempurna.
Bangun hubungan yang benar-benar sehat untuk Anda dan pasangan.
4. Jangan Menjadikan Diam sebagai Hukuman
Diam tidak selalu buruk.
Kadang-kadang seseorang memang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum berbicara.
Itu sehat.
Namun, ada perbedaan antara mengambil waktu untuk menenangkan diri dan mendiamkan pasangan dengan sengaja agar ia merasa bersalah atau takut kehilangan Anda.
Yang pertama adalah regulasi emosi.
Yang kedua dapat menjadi bentuk hukuman emosional.
Misalnya, setelah bertengkar Anda sengaja tidak menjawab semua pertanyaan pasangan.
Anda menghindari tatapan.
Anda tidak memberi penjelasan.
Anda berharap pasangan merasa tidak nyaman sampai akhirnya menyerah dan meminta maaf.
Masalahnya, pola seperti ini tidak menyelesaikan konflik.
Justru membuat pasangan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ia mungkin berpikir:
"Apakah hubungan ini masih baik-baik saja?"
"Apa yang sebenarnya dia inginkan?"
"Apakah aku harus terus mengejarnya?"
"Kenapa setiap konflik berakhir seperti ini?"
Dalam jangka panjang, pola seperti itu dapat membuat hubungan terasa tidak aman.
Jika Anda sedang terlalu emosional, Anda tidak harus langsung menyelesaikan masalah.
Anda boleh berkata:
"Aku sedang sangat emosi. Aku takut mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Beri aku waktu sebentar untuk menenangkan diri, nanti kita lanjutkan pembicaraan."
Perhatikan perbedaannya.
Anda tidak menghilang.
Anda tidak menghukum.
Anda hanya meminta ruang untuk mengatur emosi.
Setelah keadaan lebih tenang, kembali dan selesaikan pembicaraan.
Kedewasaan dalam pernikahan bukan berarti tidak pernah marah.
Kedewasaan berarti tahu bagaimana menghadapi kemarahan tanpa sengaja menghancurkan rasa aman pasangan.
5. Tinggalkan Kebiasaan Menganggap Pasangan Sebagai Lawan
Salah satu perubahan terbesar setelah menikah adalah cara memandang konflik.
Apakah Anda melihat pasangan sebagai musuh yang harus dikalahkan?
Atau sebagai seseorang yang berada di sisi yang sama dengan Anda?
Ketika pasangan memiliki pendapat berbeda, Anda mungkin secara otomatis merasa harus membuktikan bahwa Anda benar.
Lalu percakapan berubah menjadi kompetisi.
Siapa yang paling masuk akal?
Siapa yang paling banyak berkorban?
Siapa yang lebih sering melakukan kesalahan?
Siapa yang harus meminta maaf terlebih dahulu?
Padahal dalam pernikahan, memenangkan argumen belum tentu berarti memenangkan hubungan.
Anda bisa memenangkan perdebatan tetapi kehilangan kedekatan.
Anda bisa membuktikan bahwa Anda benar tetapi membuat pasangan merasa tidak dihargai.
Karena itu, ketika terjadi konflik, cobalah mengganti pertanyaan:
"Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku benar?"
menjadi:
"Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama?"
Perubahan kecil dalam cara berpikir ini dapat mengubah seluruh dinamika hubungan.
Anda tidak lagi berdiri di satu sisi dan pasangan di sisi lain.
Kalian berdua berdiri di sisi yang sama, menghadapi masalah yang sama.
Masalahnya adalah masalah.
Pasangan bukan masalahnya.
Ini bukan berarti Anda harus selalu mengalah.
Bukan berarti Anda harus menyetujui semua hal.
Dan bukan berarti perilaku yang salah harus dibiarkan.
Artinya, ketika ada perbedaan, Anda tetap berusaha menjaga martabat dan rasa aman pasangan sambil mempertahankan batasan Anda sendiri.
Hubungan yang kuat bukan dibangun oleh dua orang yang selalu sepakat.
Hubungan yang kuat dibangun oleh dua orang yang bisa berbeda tanpa berhenti saling menghormati.
6. Berhenti Menganggap Hubungan Akan Bahagia dengan Sendirinya
Mungkin ini adalah kebiasaan yang paling penting untuk ditinggalkan.
Banyak orang mengira bahwa setelah menikah, tugas membangun hubungan sudah selesai.
Padahal justru sebaliknya.
Pernikahan bukan garis akhir.
Pernikahan adalah awal dari pekerjaan emosional yang baru.
Ketika masih berpacaran, Anda mungkin punya banyak waktu untuk berbicara.
Setelah menikah, muncul pekerjaan.
Tagihan.
Anak.
Keluarga besar.
Tanggung jawab rumah.
Karier.
Kelelahan.
Masalah keuangan.
Rutinitas.
Semua itu dapat membuat pasangan yang dulu sangat dekat perlahan menjadi seperti dua orang yang hanya bekerja sama mengurus kehidupan.
Mereka masih tinggal serumah.
Masih makan bersama.
Masih berbicara.
Tetapi hubungan emosionalnya semakin jauh.
Karena itu, kebahagiaan dalam pernikahan perlu dipelihara dengan sengaja.
Tidak harus selalu dengan hal-hal besar.
Kadang-kadang cukup dengan bertanya:
"Hari ini bagaimana?"
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Apa yang paling membuatmu lelah hari ini?"
"Terima kasih sudah melakukan itu."
"Mau kita makan berdua malam ini?"
Atau sekadar memeluk pasangan tanpa alasan khusus.
Hal-hal kecil seperti ini mungkin terlihat sepele.
Tetapi hubungan dibangun dari banyak momen kecil yang terjadi berulang kali.
Jangan menunggu hubungan menjadi dingin baru berusaha menghangatkannya.
Jangan menunggu pasangan meminta perhatian baru Anda memberikannya.
Jangan menunggu konflik besar baru mulai berbicara.
Rawat hubungan ketika semuanya masih baik-baik saja.
Karena hubungan yang bahagia bukan hubungan yang tidak pernah mengalami masalah.
Hubungan yang bahagia adalah hubungan yang memiliki cukup rasa aman, perhatian, penghargaan, dan komunikasi sehingga ketika masalah datang, keduanya masih merasa bahwa mereka berada dalam satu tim.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Membuat Pernikahan Bahagia?
Banyak orang mencari rahasia pernikahan bahagia dalam hal-hal besar.
Rumah yang bagus.
Pendapatan tinggi.
Liburan bersama.
Hadiah mahal.
Foto romantis.
Padahal, fondasi hubungan sering kali justru berada pada hal-hal yang jauh lebih sederhana.
Cara Anda berbicara kepada pasangan.
Cara Anda meminta maaf.
Cara Anda mendengarkan.
Cara Anda menghargai usaha kecil.
Cara Anda mengendalikan diri ketika marah.
Cara Anda memberikan ruang.
Cara Anda menunjukkan bahwa pasangan tetap penting meskipun kehidupan sedang sibuk.
Kebahagiaan dalam pernikahan bukan berarti setiap hari terasa romantis.
Ada hari ketika Anda lelah.
Ada hari ketika pasangan membuat Anda kesal.
Ada hari ketika masalah terasa terlalu banyak.
Ada masa ketika hubungan terasa biasa saja.
Itu semua manusiawi.
Yang penting adalah bagaimana Anda berdua kembali menemukan satu sama lain setelah melewati masa-masa sulit.
Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang menemukan manusia yang sempurna.
Tidak ada pasangan yang selalu sabar.
Tidak ada suami atau istri yang selalu mengerti.
Tidak ada hubungan yang bebas dari konflik.
Yang ada adalah dua manusia yang memiliki kekurangan, tetapi bersedia terus belajar mencintai dengan cara yang lebih sehat.
Enam Kebiasaan yang Perlu Anda Tinggalkan
Jika ingin merangkum semuanya, mungkin keenam kebiasaan tersebut adalah:
1. Berharap pasangan bisa membaca pikiran Anda.
Belajarlah mengungkapkan kebutuhan dengan jelas.
2. Mengungkit kesalahan masa lalu sebagai senjata.
Belajarlah menyelesaikan masalah tanpa terus menghukum.
3. Membandingkan pasangan dengan orang lain.
Fokuslah membangun hubungan yang sehat untuk kalian sendiri.
4. Menggunakan diam sebagai hukuman.
Jika membutuhkan waktu, komunikasikan dengan jelas dan kembali setelah tenang.
5. Menganggap pasangan sebagai lawan saat konflik.
Ingat bahwa kalian berada di tim yang sama.
6. Menganggap kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.
Rawat hubungan setiap hari melalui perhatian-perhatian kecil.
Pada akhirnya, pernikahan yang bahagia tidak dibangun dalam satu malam.
Ia dibentuk dari ribuan percakapan kecil.
Ribuan keputusan untuk mendengarkan.
Ribuan kesempatan untuk memaafkan.
Ribuan tindakan sederhana untuk mengatakan:
"Aku masih memilihmu."
Mungkin itulah salah satu rahasia terbesar hubungan jangka panjang.
Bukan menemukan pasangan yang tidak pernah membuat kita kecewa.
Tetapi menemukan cara untuk tetap saling menghormati ketika kekecewaan datang.
Bukan mencari hubungan tanpa konflik.
Tetapi belajar menyelesaikan konflik tanpa menghancurkan hubungan.
Dan bukan menunggu pasangan berubah terlebih dahulu.
Melainkan berani bertanya kepada diri sendiri:
"Kebiasaan apa dalam diriku yang perlu aku tinggalkan agar hubungan ini menjadi lebih baik?"
Karena terkadang, jalan menuju pernikahan yang lebih bahagia tidak dimulai dengan meminta pasangan melakukan lebih banyak.