← Beranda
Jika Anda Ingin Merasa Lebih Bahagia Saat Menghadapi Tantangan Sehari-hari, Lakukan 8 Kebiasaan Ini
Irfan FerdiansyahRabu, 12 Agustus 2026 | 04.23 WIB
seseorang yang bahagia saat menghadapi tantangan / foto: Magnific/katemangostar
 
JawaPos.com - Hidup tidak pernah benar-benar berjalan tanpa masalah. Setiap hari, kita mungkin harus menghadapi pekerjaan yang menumpuk, hubungan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan, tekanan finansial, kemacetan, komentar orang lain, hingga berbagai hal kecil yang perlahan menguras energi.

Menariknya, kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh seberapa sedikit masalah yang kita miliki.

Dua orang bisa menghadapi situasi yang hampir sama, tetapi merasakan pengalaman yang sangat berbeda. Seseorang mungkin mudah merasa kewalahan ketika menghadapi tekanan, sementara orang lain mampu tetap tenang, melihat persoalan secara lebih jernih, lalu melanjutkan hidup tanpa terlalu lama terjebak dalam emosi negatif.

Psikologi menunjukkan bahwa kesejahteraan emosional bukan hanya tentang apa yang terjadi kepada kita, tetapi juga tentang bagaimana kita merespons apa yang terjadi.

Artinya, kita memang tidak bisa mengendalikan semua keadaan. Namun, ada kebiasaan tertentu yang dapat membantu kita membangun cara berpikir dan pola respons yang lebih sehat ketika menghadapi tantangan.

Jika akhir-akhir ini Anda merasa hidup terasa berat, bukan berarti Anda harus mengubah seluruh kehidupan dalam satu malam. Justru, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan pengaruh besar terhadap cara Anda menjalani hari.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (11/8), terdapat delapan kebiasaan yang dapat membantu Anda merasa lebih bahagia dan lebih tangguh ketika menghadapi tantangan sehari-hari.

1. Belajar Menerima Hal yang Tidak Bisa Anda Kendalikan

Salah satu sumber stres terbesar dalam kehidupan adalah berusaha mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.

Kita mungkin terus memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita, mengapa seseorang memperlakukan kita dengan cara tertentu, mengapa masa lalu tidak berjalan sesuai harapan, atau mengapa keadaan tidak berubah secepat yang kita inginkan.

Masalahnya, semakin kita memaksa sesuatu yang tidak dapat dikendalikan, semakin besar energi mental yang terkuras.

Psikologi banyak membahas pentingnya membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Kita mungkin tidak dapat menentukan perilaku orang lain, tetapi kita masih dapat menentukan bagaimana kita meresponsnya.

Kita mungkin tidak dapat mengubah sesuatu yang sudah terjadi, tetapi kita dapat menentukan apa yang akan kita lakukan setelahnya.

Kita mungkin tidak dapat memastikan hasil dari sebuah usaha, tetapi kita dapat memilih seberapa serius kita mempersiapkan diri.

Perubahan cara berpikir sederhana ini dapat membuat hidup terasa lebih ringan.

Ketika menghadapi masalah, cobalah bertanya kepada diri sendiri:

"Apa yang masih bisa saya lakukan dalam situasi ini?"

Pertanyaan tersebut mengalihkan perhatian dari ketidakberdayaan menuju tindakan.

Daripada menghabiskan waktu memikirkan sesuatu yang tidak dapat diubah, Anda mulai mencari satu langkah kecil yang masih mungkin dilakukan.

Bukan berarti menerima keadaan sama dengan menyerah. Penerimaan justru dapat menjadi langkah awal untuk bertindak dengan lebih rasional.

Anda tidak perlu menyukai keadaan yang terjadi. Anda hanya perlu mengakui bahwa keadaan tersebut memang sedang terjadi, kemudian menentukan respons terbaik yang bisa Anda berikan.

2. Biasakan Berbicara kepada Diri Sendiri dengan Lebih Baik

Cara kita berbicara kepada diri sendiri sering kali jauh lebih keras dibandingkan cara kita berbicara kepada orang lain.

Ketika seorang teman melakukan kesalahan, kita mungkin berkata, "Tidak apa-apa, semua orang bisa salah."

Namun ketika kita sendiri melakukan kesalahan, kita bisa mengatakan:

"Saya memang bodoh."

"Saya selalu gagal."

"Saya tidak pernah bisa melakukan sesuatu dengan benar."

Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, bukan hanya suasana hati yang dapat terpengaruh. Cara kita memandang diri sendiri juga dapat menjadi semakin negatif.

Karena itu, salah satu kebiasaan penting adalah mengembangkan self-compassion, atau belas kasih terhadap diri sendiri.

Self-compassion bukan berarti memanjakan diri atau membenarkan semua kesalahan. Ini berarti memperlakukan diri sendiri dengan pengertian ketika mengalami kegagalan, kesulitan, atau kekurangan.

Bayangkan Anda sedang berbicara kepada seseorang yang sangat Anda sayangi.

Apa yang akan Anda katakan ketika dia gagal?

Kemungkinan besar Anda tidak akan menghina atau mempermalukannya. Anda akan membantunya memahami kesalahan dan mencari jalan keluar.

Cobalah memberikan perlakuan yang sama kepada diri sendiri.

Alih-alih berkata:

"Saya gagal. Saya memang tidak mampu."

ubah menjadi:

"Hasilnya belum sesuai harapan. Apa yang bisa saya pelajari dari pengalaman ini?"

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dapat mengubah arah pikiran.

Kesalahan tidak lagi menjadi bukti bahwa Anda tidak berharga. Kesalahan menjadi informasi yang dapat membantu Anda berkembang.

3. Berhenti Membandingkan Kehidupan Anda dengan Orang Lain

Media sosial membuat kebiasaan membandingkan diri menjadi semakin mudah.

Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan baru, membeli rumah, menikah, bepergian, membangun bisnis, atau mencapai sesuatu yang sudah lama kita inginkan.

Tanpa sadar, kita kemudian membandingkan bagian tersulit dalam hidup kita dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain.

Inilah yang membuat perbandingan sosial menjadi melelahkan.

Kita sering melihat hasil akhir seseorang, tetapi tidak melihat proses, kegagalan, ketakutan, masalah pribadi, atau pengorbanan yang berada di belakangnya.

Jika kebiasaan membandingkan diri membuat Anda merasa tertinggal, cobalah mengubah objek perbandingan.

Daripada bertanya:

"Mengapa hidup saya tidak seperti dia?"

cobalah bertanya:

"Apakah saya hari ini sedikit lebih baik dibandingkan diri saya beberapa waktu lalu?"

Perbandingan dengan diri sendiri biasanya jauh lebih konstruktif.

Mungkin Anda belum mencapai tujuan besar yang Anda inginkan. Tetapi mungkin Anda sekarang lebih disiplin, lebih berani mengatakan tidak, lebih mampu mengendalikan emosi, atau lebih memahami apa yang sebenarnya Anda inginkan.

Kemajuan kecil tetap merupakan kemajuan.

Kebahagiaan tidak harus menunggu sampai Anda memiliki kehidupan yang sempurna. Anda dapat belajar menghargai perjalanan sambil tetap berusaha memperbaiki kehidupan.

4. Luangkan Waktu untuk Menghargai Hal-Hal Kecil

Ketika kehidupan terasa berat, perhatian kita cenderung tertuju pada masalah.

Kita memikirkan tagihan yang belum dibayar, pekerjaan yang belum selesai, konflik yang belum terselesaikan, atau masa depan yang belum pasti.

Akibatnya, berbagai hal positif yang sebenarnya masih ada menjadi tidak terlihat.

Salah satu kebiasaan yang dapat membantu adalah melatih rasa syukur secara sederhana.

Tidak perlu memaksakan diri untuk merasa bahagia setiap saat.

Cukup luangkan beberapa menit dan tanyakan:

"Apa yang masih berjalan dengan baik dalam hidup saya hari ini?"

Jawabannya tidak harus sesuatu yang besar.

Mungkin Anda menikmati makanan yang enak.

Mungkin ada seseorang yang mengirim pesan dan membuat Anda tersenyum.

Mungkin Anda memiliki waktu untuk beristirahat.

Mungkin pekerjaan hari ini selesai lebih cepat.

Atau mungkin Anda hanya menikmati udara pagi dan secangkir kopi dalam suasana tenang.

Hal-hal kecil seperti ini mudah dianggap remeh karena kita terbiasa mencarinya hanya ketika semuanya berjalan baik.

Padahal, kemampuan untuk menyadari pengalaman positif di tengah kehidupan yang tidak sempurna dapat membantu kita membangun perspektif yang lebih seimbang.

Bersyukur bukan berarti mengabaikan masalah.

Anda bisa mengakui bahwa hidup sedang sulit sekaligus menyadari bahwa masih ada sesuatu yang patut dihargai.

Keduanya dapat terjadi pada saat yang sama.

5. Jangan Menunggu Motivasi untuk Melakukan Hal yang Baik bagi Diri Sendiri

Banyak orang berpikir bahwa mereka harus merasa termotivasi terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.

Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, motivasi sering kali muncul setelah kita mulai bergerak.

Ketika sedang stres atau tidak bahagia, kita mungkin ingin mengisolasi diri, terus berbaring, menunda pekerjaan, atau menghabiskan waktu tanpa tujuan.

Sesekali melakukan hal tersebut tentu bukan masalah.

Namun jika menjadi pola yang terus berulang, aktivitas pasif dapat membuat kita semakin sulit mendapatkan energi positif.

Karena itu, cobalah tetap melakukan aktivitas sederhana yang biasanya membantu Anda merasa lebih baik.

Berjalan kaki.

Merapikan kamar.

Mandi.

Berolahraga ringan.

Menyelesaikan satu pekerjaan kecil.

Bertemu dengan orang yang membuat Anda nyaman.

Mengerjakan hobi.

Atau sekadar keluar rumah dan mendapatkan udara segar.

Dalam psikologi, pendekatan yang menekankan keterlibatan kembali dalam aktivitas yang bermakna dikenal dalam berbagai bentuk intervensi perilaku. Intinya sederhana: tindakan dan suasana hati saling berhubungan.

Anda tidak harus menunggu sampai merasa bahagia untuk mulai bergerak.

Terkadang, justru dengan bergerak terlebih dahulu, perasaan Anda perlahan ikut berubah.

Karena itu, ketika hari terasa berat, jangan bertanya:

"Apa yang membuat saya ingin melakukan sesuatu?"

Cobalah bertanya:

"Apa satu hal kecil yang bisa saya lakukan sekarang agar keadaan sedikit lebih baik?"

Satu langkah kecil jauh lebih realistis daripada memaksa diri menyelesaikan semuanya sekaligus.

6. Belajar Mengatakan "Tidak" Tanpa Terlalu Banyak Rasa Bersalah

Ada orang yang merasa harus selalu membantu, selalu tersedia, dan selalu menyenangkan orang lain.

Mereka takut mengecewakan orang.

Akibatnya, mereka menerima terlalu banyak pekerjaan, terlalu banyak permintaan, atau terlalu banyak tanggung jawab.

Pada akhirnya, mereka kelelahan dan merasa tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

Kemampuan menetapkan batas atau boundaries menjadi sangat penting.

Mengatakan "tidak" bukan berarti Anda egois.

Anda hanya sedang mengakui bahwa waktu, energi, dan perhatian Anda memiliki batas.

Tentu, mengatakan tidak kepada orang lain tidak selalu mudah.

Namun Anda tidak perlu memberikan penjelasan panjang setiap kali menolak sesuatu.

Anda dapat mengatakan:

"Maaf, saya belum bisa membantu kali ini."

atau:

"Saya tidak bisa mengambil tanggung jawab itu sekarang."

Sederhana.

Semakin Anda terbiasa menetapkan batas yang sehat, semakin kecil kemungkinan Anda menjalani kehidupan hanya berdasarkan ekspektasi orang lain.

Kebahagiaan bukan hanya tentang mendapatkan lebih banyak hal.

Terkadang, kebahagiaan juga datang dari keberanian untuk mengurangi hal-hal yang menguras diri.

7. Hadir di Saat Ini, Bukan Terus-Menerus Hidup di Masa Lalu atau Masa Depan

Pikiran manusia sering berjalan ke mana-mana.

Ketika sedang mengerjakan sesuatu, kita memikirkan kejadian kemarin.

Ketika sedang beristirahat, kita memikirkan pekerjaan besok.

Ketika sesuatu yang buruk terjadi, kita mengulang percakapan tersebut berkali-kali di kepala.

"Seharusnya tadi saya mengatakan ini."

"Bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu?"

"Bagaimana jika semuanya gagal?"

Memikirkan masa lalu dan masa depan sesekali tentu normal.

Namun jika terlalu sering dilakukan, kita bisa kehilangan pengalaman yang sedang berlangsung.

Latihan mindfulness dapat membantu seseorang mengembangkan perhatian terhadap pengalaman saat ini dengan lebih sadar dan tanpa terlalu cepat menghakimi.

Anda tidak harus melakukan meditasi selama berjam-jam.

Cobalah memulai dari aktivitas sederhana.

Ketika minum, rasakan rasa minumannya.

Ketika berjalan, perhatikan langkah kaki dan lingkungan sekitar.

Ketika berbicara dengan seseorang, benar-benar dengarkan.

Ketika makan, cobalah tidak selalu melihat layar.

Kebiasaan sederhana tersebut melatih pikiran untuk kembali ke saat ini.

Anda mungkin menemukan bahwa banyak momen dalam kehidupan sebenarnya tidak seburuk yang dibayangkan.

Sering kali, penderitaan mental bertambah karena kita bukan hanya menghadapi masalah yang sedang terjadi, tetapi juga menghadapi berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi.

Hadir di saat ini membantu kita membedakan antara masalah nyata yang perlu diselesaikan dan kekhawatiran yang hanya berputar di dalam pikiran.

8. Bangun Hubungan yang Memberikan Rasa Aman dan Dukungan

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Kita membutuhkan hubungan dengan orang lain, bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk mendapatkan dukungan ketika menghadapi masa sulit.

Namun memiliki banyak kenalan tidak selalu berarti memiliki hubungan yang mendukung.

Yang lebih penting adalah memiliki beberapa hubungan di mana Anda dapat menjadi diri sendiri tanpa harus terus-menerus berpura-pura.

Seseorang yang bisa mendengarkan.

Teman yang dapat membuat Anda tertawa.

Anggota keluarga yang memberikan rasa aman.

Atau orang yang dapat mengingatkan Anda bahwa satu kegagalan tidak menentukan seluruh kehidupan Anda.

Ketika menghadapi masalah, jangan selalu berusaha menyelesaikannya sendirian.

Terkadang, berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu kita melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda.

Bahkan ketika orang tersebut tidak dapat memberikan solusi, didengarkan saja sudah bisa membuat beban terasa lebih ringan.

Karena itu, jangan hanya menjaga hubungan ketika Anda sedang membutuhkan bantuan.

Bangun dan rawat hubungan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Kirim pesan.

Tanyakan kabar.

Luangkan waktu untuk bertemu.

Dengarkan ketika mereka bercerita.

Hubungan yang sehat dibangun dari perhatian kecil yang dilakukan secara konsisten.

Kebahagiaan Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah

Pada akhirnya, penting untuk memahami bahwa menjadi lebih bahagia bukan berarti Anda tidak akan pernah sedih, kecewa, marah, takut, atau lelah.

Semua emosi tersebut merupakan bagian normal dari kehidupan manusia.

Tujuan kesehatan psikologis bukan menghilangkan seluruh emosi negatif.

Yang lebih penting adalah memiliki kemampuan untuk mengalami emosi tersebut tanpa membiarkannya mengendalikan seluruh kehidupan.

Anda bisa kecewa dan tetap melanjutkan hidup.

Anda bisa takut dan tetap mengambil langkah.

Anda bisa gagal dan tetap menghargai diri sendiri.

Anda bisa mengalami hari yang buruk tanpa menyimpulkan bahwa seluruh kehidupan Anda buruk.

Inilah salah satu perubahan perspektif yang penting.

Kebahagiaan bukan kondisi permanen yang harus kita pertahankan setiap detik.

Kebahagiaan lebih mirip kemampuan untuk menemukan makna, menikmati momen positif, membangun hubungan yang sehat, dan kembali bangkit setelah menghadapi kesulitan.

Jadi, Anda tidak perlu mengubah hidup secara drastis mulai hari ini.

Mulailah dengan satu kebiasaan.

Mungkin berhenti membandingkan diri dengan orang lain.

Mungkin belajar berbicara lebih lembut kepada diri sendiri.

Mungkin berjalan kaki selama beberapa menit.

Mungkin menghubungi seseorang yang sudah lama tidak Anda ajak bicara.

Atau mungkin cukup belajar menerima bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginan Anda.

Perubahan kecil yang dilakukan berulang kali dapat membentuk pola hidup yang berbeda.

Dan ketika tantangan berikutnya datang—karena tantangan pasti akan datang—Anda mungkin belum menjadi seseorang yang selalu tenang atau selalu bahagia.

Namun Anda bisa menjadi seseorang yang lebih mampu menghadapi semuanya.

Karena pada akhirnya, hidup yang bahagia bukanlah hidup tanpa masalah.

Hidup yang lebih bahagia adalah kehidupan di mana kita belajar menghadapi masalah tanpa kehilangan diri sendiri.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho