← Beranda
7 Pelajaran yang Dipetik dari Semua Pemimpin dalam Perjalanan Menuju Puncak, Apa Sajakah Itu?
Irfan FerdiansyahSelasa, 11 Agustus 2026 | 04.30 WIB
seseorang yang menuju puncak sebagai pemimpin./Magnific/yanalya

JawaPos.com - Menjadi seorang pemimpin bukanlah sekadar memiliki jabatan, memimpin sebuah perusahaan, mengarahkan sebuah organisasi, atau berdiri di depan banyak orang.

Kepemimpinan sesungguhnya adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan keputusan sulit, kegagalan, tekanan, pengorbanan, dan pembelajaran.

Tidak ada pemimpin besar yang tiba-tiba berada di puncak. Di balik keberhasilan mereka biasanya terdapat perjalanan yang panjang: pernah diragukan, pernah melakukan kesalahan, pernah kehilangan kesempatan, bahkan pernah berada dalam situasi ketika menyerah terasa jauh lebih mudah daripada melanjutkan perjuangan.

Menariknya, meskipun setiap pemimpin memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda, terdapat sejumlah pelajaran yang hampir selalu muncul dalam perjalanan mereka menuju keberhasilan.

Dari pemimpin dunia, pengusaha, tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, hingga orang-orang yang memimpin tim kecil, kita dapat melihat pola yang sama. Mereka belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang menjadi orang yang paling pintar atau paling kuat, melainkan tentang kemampuan untuk terus berkembang, mengambil tanggung jawab, memahami orang lain, dan tetap berjalan ketika keadaan tidak sesuai harapan.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (10/8), terdapat tujuh pelajaran penting yang dapat dipetik dari perjalanan para pemimpin menuju puncak.

1. Tidak Ada Jalan Menuju Puncak yang Benar-Benar Mudah

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang kesuksesan adalah anggapan bahwa orang-orang yang berada di puncak pasti memiliki perjalanan yang lebih mudah dibandingkan orang lain.

Kenyataannya justru sering sebaliknya.

Di balik sebuah pencapaian besar biasanya terdapat bertahun-tahun kerja keras yang tidak terlihat. Ada keputusan yang salah, kegagalan yang memalukan, penolakan, kritik, kehilangan, dan masa-masa penuh keraguan.

Orang hanya melihat hasil akhirnya.

Ketika seseorang berhasil menjadi pemimpin perusahaan besar, memenangkan kepercayaan banyak orang, membangun organisasi yang kuat, atau mencapai posisi yang dihormati, publik sering kali hanya melihat pencapaiannya. Mereka jarang melihat malam-malam ketika orang tersebut harus bekerja lebih lama, keputusan sulit yang harus diambil, atau kegagalan yang harus ditanggung sebelum keberhasilan datang.

Inilah pelajaran pertama yang penting: jangan mengukur perjalanan kita dengan membandingkannya dengan hasil akhir orang lain.

Kita sering membandingkan bab pertama kehidupan kita dengan bab kesepuluh kehidupan orang lain.

Padahal setiap orang memiliki titik awal, kesempatan, tantangan, dan waktunya masing-masing.

Pemimpin yang matang memahami bahwa kemajuan tidak selalu terlihat setiap hari. Ada periode ketika seseorang bekerja keras tetapi hasilnya belum tampak. Ada masa ketika usaha terasa sia-sia. Namun, proses tersebut sering kali justru membentuk kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.

Kesulitan bukan selalu tanda bahwa kita berada di jalan yang salah.

Kadang-kadang, kesulitan adalah bagian dari proses yang sedang mempersiapkan kita.

Pemimpin belajar untuk tidak mencari jalan yang paling mudah, tetapi mencari jalan yang paling bermakna dan memberikan pertumbuhan.

Mereka memahami bahwa puncak bukanlah tempat untuk menghindari kesulitan. Puncak adalah hasil dari kemampuan menghadapi kesulitan satu demi satu.

Karena itu, ketika perjalanan terasa berat, pertanyaan yang lebih baik bukanlah, "Mengapa semuanya begitu sulit?"

Pertanyaannya adalah:

"Apa yang sedang diajarkan oleh kesulitan ini kepada saya?"

Pertanyaan tersebut mengubah cara kita memandang masalah. Kegagalan menjadi pelajaran. Kritik menjadi bahan evaluasi. Hambatan menjadi latihan. Dan kesulitan menjadi bagian dari perjalanan menuju kedewasaan.

2. Pemimpin Besar Tidak Takut Mengambil Tanggung Jawab

Salah satu ciri paling kuat dari seorang pemimpin adalah kesediaannya untuk bertanggung jawab.

Ketika sesuatu berjalan dengan baik, mudah bagi seseorang untuk mengatakan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja tim.

Namun, ketika sesuatu berjalan buruk, karakter seseorang benar-benar terlihat.

Apakah ia mencari kambing hitam?

Apakah ia menyalahkan keadaan?

Apakah ia menyalahkan orang lain?

Ataukah ia berani mengatakan, "Saya bertanggung jawab atas keputusan ini"?

Pemimpin yang kuat memahami bahwa tanggung jawab adalah harga dari kepemimpinan.

Semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

Ini bukan berarti seorang pemimpin harus menanggung semua kesalahan seorang diri. Kepemimpinan tetap membutuhkan tim dan kolaborasi. Namun, seorang pemimpin tidak boleh menjadikan orang lain sebagai tempat untuk melarikan diri dari tanggung jawab.

Ada perbedaan besar antara pemimpin yang mengatakan, "Ini salah mereka," dan pemimpin yang mengatakan, "Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki situasi ini?"

Kalimat kedua menunjukkan pola pikir yang jauh lebih konstruktif.

Tanggung jawab membuat seseorang memiliki kendali.

Jika kita selalu menyalahkan orang lain, kita memberikan kendali atas kehidupan kita kepada orang lain.

Sebaliknya, ketika kita berani bertanya apa yang dapat kita lakukan, kita mulai mengambil kembali kendali tersebut.

Dalam kehidupan profesional maupun pribadi, sikap ini sangat penting.

Ketika sebuah proyek gagal, seorang pemimpin dapat mengevaluasi proses.

Ketika tim tidak mencapai target, ia dapat bertanya apakah arahan yang diberikan sudah cukup jelas.

Ketika anggota tim kehilangan motivasi, ia dapat bertanya apakah lingkungan kerja yang diciptakan sudah mendukung.

Bukan berarti semua masalah berasal dari pemimpin. Namun, pemimpin selalu memiliki tanggung jawab untuk mencari bagian yang dapat diperbaiki.

Tanggung jawab bukan beban yang menjatuhkan pemimpin. Justru tanggung jawab adalah fondasi yang membuat seseorang layak dipercaya.

3. Kemampuan Mendengarkan Lebih Berharga daripada Sekadar Banyak Bicara

Banyak orang menganggap pemimpin adalah orang yang paling banyak berbicara.

Padahal, semakin tinggi posisi seseorang, semakin penting kemampuan untuk mendengarkan.

Seorang pemimpin berhadapan dengan berbagai perspektif. Anggota tim memiliki pengalaman yang berbeda. Pelanggan memiliki kebutuhan yang berbeda. Mitra memiliki kepentingan yang berbeda. Bahkan orang yang tidak setuju dengan keputusan pemimpin pun mungkin memiliki informasi yang berharga.

Jika seorang pemimpin hanya mau mendengar orang yang setuju dengannya, ia akan menciptakan lingkungan yang penuh dengan bias.

Lama-kelamaan, orang-orang akan berhenti memberikan pendapat jujur.

Mereka hanya akan mengatakan apa yang ingin didengar oleh pemimpin.

Di situlah sebuah organisasi mulai kehilangan salah satu aset terbesarnya: kejujuran.

Pemimpin yang baik tidak selalu harus menerima semua pendapat. Namun, mereka bersedia mendengarkan sebelum mengambil keputusan.

Mendengarkan juga bukan sekadar diam ketika orang lain berbicara.

Mendengarkan berarti berusaha memahami.

Apa yang sebenarnya mereka khawatirkan?

Apa masalah yang mereka hadapi?

Mengapa mereka memiliki pandangan yang berbeda?

Informasi apa yang mungkin belum kita ketahui?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat seorang pemimpin memiliki perspektif yang lebih luas.

Bahkan kritik dapat menjadi sumber pertumbuhan.

Kritik yang disampaikan dengan buruk tetap mungkin mengandung informasi yang berguna. Sebaliknya, pujian yang terus-menerus tidak selalu berarti kita sudah melakukan semuanya dengan benar.

Karena itu, pemimpin yang terus berkembang biasanya memiliki satu kebiasaan penting: mereka menciptakan ruang bagi orang lain untuk berbicara.

Mereka tidak merasa kehilangan wibawa ketika mengakui bahwa orang lain mungkin memiliki jawaban yang lebih baik.

Justru di situlah letak kekuatan mereka.

Pemimpin tidak harus menjadi orang yang paling tahu. Pemimpin harus mampu mengumpulkan pengetahuan dari orang-orang di sekitarnya dan menggunakannya untuk mengambil keputusan yang lebih baik.

4. Kegagalan Bukan Kebalikan dari Kesuksesan

Banyak orang takut gagal karena menganggap kegagalan sebagai lawan dari keberhasilan.

Padahal, dalam banyak perjalanan kepemimpinan, kegagalan justru merupakan bagian dari proses menuju keberhasilan.

Tidak ada manusia yang selalu membuat keputusan tepat.

Seorang pemimpin akan menghadapi situasi yang informasinya tidak lengkap. Ia harus mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Kadang keputusan tersebut berhasil. Kadang tidak.

Yang membedakan pemimpin yang berkembang dengan mereka yang berhenti bukan jumlah kegagalannya, tetapi cara mereka merespons kegagalan.

Kegagalan dapat menghasilkan dua reaksi.

Reaksi pertama adalah rasa malu yang membuat seseorang berhenti mencoba.

Reaksi kedua adalah rasa ingin tahu:

"Mengapa ini gagal?"

Pertanyaan tersebut sangat penting.

Jika sebuah strategi tidak berhasil, apa penyebabnya?

Jika sebuah keputusan menghasilkan konsekuensi buruk, asumsi apa yang ternyata salah?

Jika sebuah proyek gagal mencapai target, bagian mana dari proses yang perlu diperbaiki?

Dengan cara tersebut, kegagalan berubah menjadi data.

Seorang pemimpin tidak perlu mencintai kegagalan. Namun, ia perlu memahami bahwa kegagalan dapat memberikan informasi yang tidak bisa diperoleh hanya melalui teori.

Orang yang tidak pernah gagal mungkin bukan berarti selalu hebat.

Bisa jadi ia hanya belum pernah mengambil risiko yang cukup besar.

Dalam perjalanan menuju puncak, keberanian untuk mencoba sering kali sama pentingnya dengan kemampuan untuk berhasil.

Karena itu, jangan jadikan satu kegagalan sebagai identitas.

"Gagal dalam sebuah proyek" berbeda dengan "saya adalah orang gagal."

Yang pertama adalah sebuah peristiwa.

Yang kedua adalah label yang kita berikan kepada diri sendiri.

Pemimpin belajar memisahkan keduanya.

Mereka dapat berkata:

"Keputusan saya kali ini salah."

Tanpa harus berkata:

"Saya adalah orang yang tidak mampu."

Perbedaan kecil dalam cara berpikir tersebut dapat menentukan apakah seseorang bangkit atau menyerah.

5. Puncak Tidak Akan Berarti Jika Tidak Ada Orang yang Tumbuh Bersama Kita

Salah satu pelajaran terpenting dalam kepemimpinan adalah bahwa keberhasilan tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa tinggi seseorang naik.

Keberhasilan juga dapat diukur dari seberapa banyak orang lain yang ikut tumbuh karena kehadirannya.

Pemimpin yang hanya mengejar pencapaian pribadi mungkin dapat mencapai posisi tinggi. Namun, pengaruhnya akan terbatas jika ia tidak mampu mengembangkan orang lain.

Pemimpin sejati tidak hanya bertanya:

"Bagaimana saya bisa menjadi lebih baik?"

Mereka juga bertanya:

"Bagaimana saya bisa membuat orang-orang di sekitar saya menjadi lebih baik?"

Pertanyaan tersebut mengubah cara seseorang memimpin.

Alih-alih menimbun pengetahuan, ia mulai berbagi.

Alih-alih takut kehilangan posisi, ia mulai menyiapkan orang lain untuk mengambil tanggung jawab.

Alih-alih menciptakan ketergantungan, ia membangun kemandirian.

Inilah alasan mengapa mentor, guru, dan pemimpin yang baik sering kali meninggalkan warisan yang lebih besar daripada pencapaian pribadi mereka.

Mereka tidak hanya menghasilkan sesuatu.

Mereka menghasilkan manusia-manusia yang mampu menghasilkan sesuatu setelah mereka pergi.

Dalam organisasi, hal ini sangat penting.

Sebuah perusahaan yang hanya bergantung pada satu orang tidak memiliki sistem kepemimpinan yang kuat.

Sebaliknya, organisasi yang memiliki banyak orang kompeten dan mampu mengambil keputusan akan lebih tahan terhadap perubahan.

Pemimpin yang hebat pada akhirnya harus mampu menciptakan pemimpin baru.

Karena tujuan kepemimpinan bukan membuat semua orang selalu membutuhkan kita.

Tujuan kepemimpinan adalah membuat orang lain cukup kuat untuk berjalan bahkan ketika kita tidak lagi berada di samping mereka.

6. Konsistensi Sering Lebih Penting daripada Bakat

Dunia sering memberikan perhatian besar kepada bakat.

Kita mengagumi orang yang tampak sangat cerdas, kreatif, karismatik, atau memiliki kemampuan luar biasa.

Namun, dalam perjalanan panjang menuju puncak, bakat saja jarang cukup.

Ada sesuatu yang sering kali lebih menentukan: konsistensi.

Bakat dapat membuat seseorang memulai lebih cepat.

Namun, konsistensi membuat seseorang terus bergerak.

Seseorang mungkin memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa. Tetapi jika ia tidak mau belajar, kemampuannya akan tertinggal.

Seseorang mungkin sangat pintar. Tetapi jika ia tidak disiplin, potensinya mungkin tidak pernah menjadi hasil nyata.

Seseorang mungkin memiliki visi besar. Tetapi jika ia tidak mampu menjalankan langkah-langkah kecil secara konsisten, visi tersebut hanya akan tetap menjadi gagasan.

Pemimpin memahami kekuatan dari tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.

Membaca sedikit setiap hari.

Belajar dari kesalahan.

Mengevaluasi keputusan.

Mendengarkan tim.

Menepati janji.

Datang ketika dibutuhkan.

Menyelesaikan pekerjaan.

Mengambil keputusan.

Melakukan evaluasi.

Semua terlihat sederhana.

Namun, ketika dilakukan selama bertahun-tahun, tindakan kecil tersebut membentuk reputasi dan karakter.

Kepemimpinan pada akhirnya bukan hanya tentang momen-momen besar.

Ia juga dibentuk oleh ribuan keputusan kecil yang dilakukan ketika tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, dan tidak ada orang yang memperhatikan.

Itulah sebabnya integritas sangat erat kaitannya dengan konsistensi.

Orang mempercayai pemimpin bukan karena satu pidato yang menginspirasi, tetapi karena mereka melihat pola perilaku yang dapat diprediksi.

Jika seseorang mengatakan satu hal tetapi melakukan hal yang berbeda, kepercayaan akan hilang.

Sebaliknya, ketika kata-kata dan tindakan berjalan searah, kepercayaan tumbuh.

Kehebatan tidak selalu terlihat dalam tindakan besar. Sering kali ia dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan tanpa henti.

7. Pemimpin Harus Memiliki Visi, tetapi Tetap Bersedia Berubah

Pelajaran terakhir mungkin terlihat bertentangan dengan pelajaran sebelumnya.

Seorang pemimpin membutuhkan visi.

Tanpa visi, seseorang hanya akan bereaksi terhadap keadaan. Ia tidak tahu ke mana harus membawa dirinya sendiri atau orang-orang yang dipimpinnya.

Namun, memiliki visi bukan berarti harus keras kepala.

Dunia berubah.

Teknologi berubah.

Pasar berubah.

Kebutuhan manusia berubah.

Orang-orang berubah.

Karena itu, strategi yang berhasil hari ini belum tentu berhasil besok.

Pemimpin yang baik memiliki tujuan yang jelas, tetapi cukup fleksibel dalam menentukan cara untuk mencapainya.

Misalnya, tujuan sebuah organisasi mungkin tetap sama: memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.

Namun, cara mencapai tujuan tersebut dapat berubah seiring munculnya teknologi baru.

Visinya tetap.

Metodenya berkembang.

Ini merupakan perbedaan penting antara keteguhan dan kekakuan.

Keteguhan berarti tetap memegang prinsip penting meskipun keadaan berubah.

Kekakuan berarti menolak perubahan hanya karena cara lama terasa lebih nyaman.

Pemimpin yang matang tahu kapan harus bertahan dan kapan harus berubah.

Mereka tidak menganggap perubahan sebagai ancaman semata.

Mereka melihat perubahan sebagai informasi.

Ketika lingkungan berubah, mereka bertanya:

"Apa yang perlu kita pelajari?"

"Apa yang perlu kita hentikan?"

"Apa yang harus kita mulai?"

"Bagaimana kita dapat tetap setia pada tujuan sambil mengubah cara mencapainya?"

Kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting karena dunia bergerak dengan cepat.

Pemimpin masa depan bukan hanya orang yang mampu membuat rencana.

Mereka adalah orang yang mampu memperbarui rencana ketika kenyataan menunjukkan bahwa rencana tersebut tidak lagi relevan.

Visi memberikan arah. Fleksibilitas membuat kita mampu mencapai arah tersebut meskipun jalannya berubah.

Kepemimpinan Adalah Perjalanan, Bukan Gelar

Pada akhirnya, tujuh pelajaran tersebut membawa kita pada satu kesimpulan penting: kepemimpinan bukanlah sebuah gelar.

Seseorang tidak otomatis menjadi pemimpin hanya karena memiliki jabatan.

Sebaliknya, seseorang dapat menjadi pemimpin bahkan ketika tidak memiliki posisi formal.

Seorang guru yang menginspirasi muridnya adalah pemimpin.

Seorang orang tua yang membimbing keluarganya adalah pemimpin.

Seorang anggota tim yang berani mengambil tanggung jawab ketika situasi sulit adalah pemimpin.

Seorang pengusaha yang menciptakan kesempatan bagi orang lain adalah pemimpin.

Bahkan seseorang yang sedang berusaha memperbaiki dirinya sendiri sedang belajar bentuk kepemimpinan yang paling dasar: memimpin diri sendiri.

Sebelum mampu memimpin orang lain, seseorang perlu belajar memimpin dirinya sendiri.

Mengendalikan emosi.

Menepati komitmen.

Mengakui kesalahan.

Belajar dari kegagalan.

Mengelola waktu.

Menentukan prioritas.

Berani mengambil keputusan.

Dan tetap melakukan hal yang benar ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Dari sana, kepemimpinan berkembang.

Kita mulai belajar memahami orang lain. Kita belajar bekerja sama. Kita belajar menerima kritik. Kita belajar membuat keputusan yang tidak selalu populer. Kita belajar bahwa tidak semua masalah memiliki solusi sempurna.

Dan semakin jauh perjalanan kita, semakin kita menyadari bahwa menjadi pemimpin bukan berarti memiliki semua jawaban.

Menjadi pemimpin berarti bersedia terus mencari jawaban.

Puncak Bukan Akhir dari Perjalanan

Ada satu hal lagi yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang "menuju puncak".

Puncak bukanlah akhir.

Setelah mencapai satu tujuan, akan muncul tujuan berikutnya.

Setelah mendapatkan jabatan, muncul tanggung jawab baru.

Setelah membangun perusahaan, muncul tantangan untuk mempertahankannya.

Setelah mencapai keberhasilan pribadi, muncul pertanyaan tentang warisan apa yang ingin ditinggalkan.

Karena itu, orang yang benar-benar memahami kepemimpinan tidak terlalu terobsesi dengan posisi di puncak.

Mereka lebih memperhatikan siapa diri mereka selama perjalanan.

Apakah mereka menjadi lebih bijaksana?

Apakah mereka menjadi lebih rendah hati?

Apakah mereka mampu membuat keputusan yang lebih baik?

Apakah orang-orang di sekitar mereka menjadi lebih kuat?

Apakah mereka meninggalkan sesuatu yang bernilai?

Pada akhirnya, mungkin ukuran terbesar dari seorang pemimpin bukanlah seberapa tinggi ia berhasil naik.

Melainkan seberapa banyak kebaikan, keberanian, pengetahuan, dan kesempatan yang ia tinggalkan sepanjang perjalanan.

Puncak mungkin memberikan pemandangan yang indah.

Tetapi perjalananlah yang membentuk seorang pemimpin.

Di sanalah karakter ditempa.

Di sanalah keberanian diuji.

Di sanalah kegagalan memberikan pelajaran.

Di sanalah kepercayaan dibangun.

Dan di sanalah seseorang akhirnya memahami bahwa kepemimpinan bukan tentang berdiri paling depan agar terlihat oleh semua orang.

Kepemimpinan adalah tentang berjalan terlebih dahulu ketika arah belum jelas, mengambil tanggung jawab ketika keadaan sulit, dan membantu orang lain menemukan kekuatan mereka sendiri untuk ikut melangkah.

Itulah sebabnya perjalanan menuju puncak tidak pernah benar-benar hanya tentang mencapai puncak.

Perjalanan itu adalah tentang menjadi seseorang yang pantas berada di sana.

EDITOR: Hanny Suwindari