← Beranda
Ingin Membuat Hidup Menjadi Jauh Lebih Bahagia? Lakukan 7 Perubahan Kebiasaan Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 11 Agustus 2026 | 02.09 WIB
seseorang yang menjadi lebih bahagia./Magnific/Sorapop

JawaPos.com - Banyak orang mengira kebahagiaan akan datang ketika hidup akhirnya menjadi sempurna.

Ketika memiliki lebih banyak uang.
Ketika mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Ketika menemukan pasangan yang tepat.
Ketika memiliki rumah sendiri.
Ketika semua masalah selesai.

Namun, kenyataannya hidup hampir tidak pernah benar-benar bebas dari masalah.

Selalu ada sesuatu yang perlu dipikirkan. Ada pekerjaan yang melelahkan, hubungan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan, rencana yang gagal, kekhawatiran tentang masa depan, dan masa lalu yang sesekali masih muncul dalam pikiran.

Karena itu, kebahagiaan yang bertahan lama biasanya bukan hasil dari memiliki kehidupan yang sempurna. Kebahagiaan lebih sering berkaitan dengan bagaimana seseorang menjalani kehidupan yang sebenarnya ia miliki.

Dalam psikologi, kebiasaan sehari-hari dapat memainkan peran penting dalam memengaruhi suasana hati, cara berpikir, hubungan sosial, dan kemampuan seseorang menghadapi tekanan.

Artinya, Anda tidak selalu harus mengubah seluruh hidup untuk merasa lebih bahagia.

Terkadang, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten justru dapat memberikan dampak yang besar.

Jika akhir-akhir ini Anda merasa hidup terasa terlalu berat, terlalu monoton, atau Anda seperti kehilangan kegembiraan dalam menjalani hari, mungkin sudah waktunya untuk melihat kembali kebiasaan yang selama ini Anda lakukan.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (10/8), terdapat tujuh perubahan kebiasaan yang dapat membantu Anda membangun kehidupan yang lebih bahagia.

1. Berhenti Menunggu Kehidupan Menjadi Sempurna

Salah satu jebakan terbesar dalam mencari kebahagiaan adalah kebiasaan mengatakan kepada diri sendiri:

"Saya akan bahagia kalau..."

Saya akan bahagia kalau mendapatkan pekerjaan baru.

Saya akan bahagia kalau punya lebih banyak uang.

Saya akan bahagia kalau berat badan turun.

Saya akan bahagia kalau menemukan pasangan.

Saya akan bahagia kalau masalah keluarga selesai.

Tanpa disadari, kalimat tersebut membuat kebahagiaan selalu ditempatkan di masa depan.

Masalahnya, ketika satu tujuan tercapai, sering kali muncul tujuan baru.

Anda mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, tetapi kemudian menginginkan kenaikan gaji.

Anda mendapatkan kenaikan gaji, tetapi kemudian merasa ingin memiliki rumah.

Setelah memiliki rumah, muncul kekhawatiran mengenai cicilan, pekerjaan, atau kebutuhan lainnya.

Ini bukan berarti memiliki tujuan adalah sesuatu yang buruk. Justru tujuan dapat memberikan arah dalam kehidupan.

Namun, ada perbedaan besar antara mengejar kehidupan yang lebih baik dan menolak menikmati kehidupan yang sedang dijalani.

Cobalah mengubah kebiasaan tersebut.

Daripada berkata:

"Saya baru akan bahagia setelah semuanya beres."

katakan:

"Saya bisa berusaha memperbaiki hidup saya sambil tetap menikmati hal-hal baik yang ada hari ini."

Kebahagiaan tidak harus menjadi hadiah yang diberikan setelah semua masalah selesai.

Anda boleh menikmati secangkir kopi pagi ini meskipun pekerjaan belum sempurna.

Anda boleh tertawa bersama teman meskipun sedang menghadapi masalah.

Anda boleh merasa bersyukur meskipun masih memiliki banyak hal yang ingin dicapai.

Jangan menunda seluruh kebahagiaan Anda hanya karena kehidupan belum sesuai dengan rencana.

2. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Membandingkan diri dengan orang lain merupakan kebiasaan yang sangat mudah dilakukan.

Anda membuka media sosial dan melihat seseorang sedang berlibur.

Orang lain membeli rumah.

Teman lama mendapatkan pekerjaan baru.

Seseorang seusia Anda sudah memiliki bisnis.

Orang lain terlihat memiliki hubungan yang romantis dan bahagia.

Kemudian Anda melihat kehidupan sendiri dan berpikir:

"Mengapa hidup saya tidak seperti mereka?"

Masalahnya adalah Anda sering membandingkan kehidupan nyata Anda dengan versi terbaik kehidupan orang lain.

Anda mengetahui masalah, kegagalan, ketakutan, dan kekurangan diri sendiri.

Sementara itu, yang Anda lihat dari orang lain sering kali hanya bagian yang mereka tampilkan.

Perbandingan seperti ini dapat membuat seseorang merasa tertinggal, meskipun sebenarnya ia sedang berkembang.

Karena itu, salah satu kebiasaan yang perlu diubah adalah berhenti menggunakan kehidupan orang lain sebagai alat ukur harga diri.

Daripada bertanya:

"Apakah saya lebih sukses daripada dia?"

cobalah bertanya:

"Apakah saya lebih baik daripada diri saya beberapa tahun lalu?"

Apakah Anda sekarang lebih sabar?

Lebih mandiri?

Lebih memahami diri sendiri?

Lebih mampu mengatakan tidak?

Lebih berani mengambil keputusan?

Lebih mampu mengendalikan emosi?

Kemajuan tidak selalu terlihat seperti mendapatkan sesuatu yang besar.

Kadang-kadang kemajuan terlihat seperti tidak lagi melakukan hal yang dahulu selalu merusak diri sendiri.

Jika Anda ingin hidup lebih bahagia, belajarlah mengukur perjalanan Anda berdasarkan nilai dan tujuan Anda sendiri.

3. Biasakan Bersyukur, tetapi Jangan Memaksakan Diri untuk Selalu Positif

Bersyukur adalah kebiasaan yang sering dikaitkan dengan kesejahteraan psikologis.

Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami.

Bersyukur bukan berarti Anda harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Anda boleh bersyukur sekaligus merasa sedih.

Anda boleh menghargai kehidupan sekaligus merasa kecewa.

Anda boleh mencintai seseorang sekaligus merasa marah kepadanya.

Dua emosi yang tampaknya bertentangan dapat muncul pada waktu yang sama.

Karena itu, jangan mengubah rasa syukur menjadi kewajiban untuk menekan emosi negatif.

Alih-alih berkata:

"Saya tidak boleh sedih karena masih banyak orang yang lebih menderita."

cobalah mengatakan:

"Saya sedang mengalami masa yang sulit, tetapi masih ada beberapa hal dalam hidup saya yang saya hargai."

Itu jauh lebih realistis.

Anda dapat memulai kebiasaan sederhana.

Setiap malam, sebelum tidur, pikirkan tiga hal kecil yang Anda hargai hari itu.

Tidak harus sesuatu yang luar biasa.

Mungkin makanan yang enak.

Percakapan menyenangkan.

Tubuh yang masih memungkinkan Anda berjalan.

Seseorang yang mengirim pesan.

Pekerjaan yang selesai.

Matahari pagi.

Atau bahkan sekadar memiliki beberapa menit ketenangan.

Kebiasaan seperti ini membantu mengarahkan perhatian pada hal-hal positif yang sering terlewat karena pikiran manusia secara alami cenderung memperhatikan ancaman, masalah, dan hal-hal yang belum selesai.

Kebahagiaan tidak selalu berarti memiliki lebih banyak.

Kadang-kadang kebahagiaan datang ketika kita belajar menyadari bahwa apa yang sudah ada ternyata memiliki nilai.

4. Berhenti Mengatakan "Ya" Ketika Sebenarnya Anda Ingin Mengatakan "Tidak"

Ada orang yang terlihat baik, mudah membantu, dan selalu tersedia untuk orang lain.

Namun di baliknya, mereka sering merasa lelah.

Mereka sulit mengatakan tidak.

Takut mengecewakan orang lain.

Takut dianggap egois.

Takut hubungan berubah.

Akhirnya mereka mengatakan "ya" terhadap terlalu banyak hal.

Ya ketika sebenarnya tidak punya waktu.

Ya ketika sedang kelelahan.

Ya ketika sebenarnya tidak setuju.

Ya ketika sebenarnya ingin beristirahat.

Jika kebiasaan ini berlangsung lama, Anda dapat mulai merasa bahwa hidup Anda dikendalikan oleh kebutuhan dan harapan orang lain.

Belajar mengatakan "tidak" bukan berarti menjadi orang yang egois.

Justru batasan yang sehat merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.

Anda tidak harus memberikan penjelasan panjang setiap kali menolak sesuatu.

Kalimat sederhana seperti:

"Maaf, saya tidak bisa membantu kali ini."

atau

"Saya sedang tidak punya kapasitas untuk melakukannya."

sudah cukup.

Pada awalnya mungkin terasa tidak nyaman.

Tetapi rasa tidak nyaman bukan berarti Anda melakukan sesuatu yang salah.

Terkadang, Anda hanya sedang belajar melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak biasa Anda lakukan.

Ingat:

Anda tidak bertanggung jawab untuk membuat semua orang selalu puas kepada Anda.

Hidup Anda juga membutuhkan ruang untuk istirahat, berkembang, dan melakukan hal-hal yang penting bagi diri sendiri.

5. Habiskan Lebih Banyak Waktu dengan Orang yang Membuat Anda Merasa Menjadi Diri Sendiri

Manusia adalah makhluk sosial.

Kualitas hubungan dengan orang lain dapat memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan emosional.

Namun, tidak semua hubungan memberikan efek yang sama.

Ada orang yang setelah bertemu dengannya Anda merasa lebih ringan.

Anda bisa tertawa.

Anda bisa berbicara tanpa takut dihakimi.

Anda tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.

Tetapi ada pula orang yang membuat Anda merasa harus terus berhati-hati.

Anda merasa tidak pernah cukup.

Anda terus mencari persetujuan.

Anda pulang dengan perasaan lelah secara emosional.

Jika ingin hidup lebih bahagia, mulai perhatikan bagaimana perasaan Anda setelah berinteraksi dengan orang-orang tertentu.

Bukan berarti Anda harus langsung memutus semua hubungan yang sulit.

Tetapi Anda dapat mulai membuat batasan.

Dan yang lebih penting, berinvestasilah pada hubungan yang sehat.

Hubungi teman yang sudah lama tidak Anda ajak berbicara.

Luangkan waktu makan bersama keluarga.

Ajak seseorang berjalan-jalan.

Berbicaralah secara langsung, bukan hanya melalui pesan.

Terkadang kebahagiaan tidak membutuhkan pengalaman yang spektakuler.

Makan sederhana bersama orang yang tepat bisa terasa jauh lebih bermakna daripada menghabiskan banyak uang sendirian.

Hubungan yang baik bukan sekadar membuat Anda merasa tidak kesepian. Hubungan yang sehat membuat Anda merasa diterima sebagai diri sendiri.

6. Berhenti Menghabiskan Seluruh Energi untuk Memikirkan Hal yang Tidak Bisa Anda Kendalikan

Salah satu sumber kelelahan mental terbesar adalah mencoba mengendalikan sesuatu yang memang berada di luar kendali kita.

Anda tidak dapat mengendalikan apa yang orang lain pikirkan tentang Anda.

Anda tidak dapat mengendalikan keputusan orang lain.

Anda tidak dapat mengubah masa lalu.

Anda tidak dapat memastikan bahwa semua rencana akan berjalan sesuai keinginan.

Anda juga tidak dapat mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi besok.

Namun, manusia sering menghabiskan banyak energi untuk memikirkan hal-hal tersebut.

"Bagaimana kalau nanti gagal?"

"Bagaimana kalau dia tidak menyukai saya?"

"Mengapa dulu saya melakukan itu?"

"Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?"

Memikirkan kemungkinan memang dapat membantu kita mempersiapkan diri.

Tetapi jika pikiran tersebut terus berputar tanpa menghasilkan tindakan yang berguna, ia berubah menjadi beban.

Salah satu latihan sederhana adalah membagi masalah menjadi dua kategori:

Hal yang bisa saya kendalikan.

dan

Hal yang tidak bisa saya kendalikan.

Jika sesuatu berada dalam kendali Anda, tanyakan:

"Apa satu tindakan kecil yang bisa saya lakukan sekarang?"

Jika tidak berada dalam kendali Anda, tugas Anda bukan menemukan cara untuk mengendalikan sesuatu yang mustahil dikendalikan.

Tugas Anda adalah belajar menerima ketidakpastian tersebut.

Mungkin Anda tidak bisa mengendalikan hasil wawancara kerja.

Tetapi Anda bisa mempersiapkan diri.

Anda tidak bisa mengendalikan pendapat orang lain.

Tetapi Anda bisa memastikan bahwa Anda bertindak sesuai nilai yang Anda percaya.

Anda tidak bisa mengubah masa lalu.

Tetapi Anda bisa memutuskan apa yang akan Anda lakukan setelah belajar dari pengalaman tersebut.

Ketenangan sering kali muncul ketika seseorang berhenti berperang dengan sesuatu yang memang tidak dapat ia menangkan.

7. Bangun Kehidupan yang Memiliki Makna, Bukan Sekadar Mengejar Kesenangan

Ini mungkin perubahan yang paling penting.

Kebahagiaan bukan hanya tentang merasa senang sepanjang waktu.

Jika tujuan hidup hanya mencari kesenangan, seseorang dapat dengan mudah terjebak dalam pola:

bekerja → mendapatkan uang → membeli sesuatu → merasa senang → terbiasa → membutuhkan sesuatu yang baru → mengulanginya lagi.

Kesenangan biasanya bersifat sementara.

Sementara itu, kehidupan yang bermakna dapat memberikan kepuasan yang lebih dalam.

Makna dapat muncul dari banyak hal.

Membesarkan anak.

Membangun bisnis.

Merawat keluarga.

Membantu orang lain.

Menciptakan karya.

Belajar sesuatu.

Menjadi orang yang lebih baik.

Mengembangkan kemampuan.

Melayani komunitas.

Atau menjalani pekerjaan yang sesuai dengan nilai pribadi.

Pertanyaannya bukan hanya:

"Apa yang membuat saya senang?"

Tetapi juga:

"Apa yang membuat hidup saya terasa berarti?"

Terkadang sesuatu yang bermakna justru tidak selalu menyenangkan.

Berolahraga mungkin melelahkan.

Belajar mungkin membuat frustrasi.

Membangun bisnis mungkin penuh ketidakpastian.

Merawat keluarga mungkin menguras energi.

Tetapi semua itu dapat memberikan perasaan bahwa hidup Anda memiliki arah.

Karena itu, jangan hanya mengisi hari dengan hal-hal yang membuat Anda nyaman.

Sisihkan waktu untuk sesuatu yang membuat Anda bangga menjadi diri sendiri.

Kebahagiaan Tidak Harus Datang dalam Bentuk yang Besar

Ada kesalahan lain dalam memahami kebahagiaan.

Kita sering menganggap bahwa hidup bahagia harus terlihat luar biasa.

Harus bepergian ke tempat indah.

Harus memiliki banyak uang.

Harus memiliki rumah besar.

Harus memiliki karier yang hebat.

Harus selalu dikelilingi banyak orang.

Padahal, kehidupan yang bahagia sering kali dibangun dari hal-hal yang sangat biasa.

Tidur yang cukup.

Makan dengan baik.

Berjalan di pagi hari.

Berbicara dengan orang yang disayangi.

Memiliki pekerjaan yang terasa berarti.

Menikmati waktu tanpa harus terburu-buru.

Memiliki keberanian untuk mengatakan tidak.

Memaafkan diri sendiri.

Tidak terlalu sibuk membandingkan diri.

Dan mampu menikmati hari biasa tanpa merasa bahwa sesuatu yang luar biasa harus terjadi terlebih dahulu.

Kebahagiaan bukan hanya tentang apa yang Anda miliki.

Kebahagiaan juga berkaitan dengan cara Anda memperhatikan, menafsirkan, dan menjalani apa yang sudah Anda miliki.

Mulailah dari Satu Perubahan Kecil

Anda tidak perlu menerapkan ketujuh kebiasaan ini sekaligus.

Justru perubahan yang terlalu besar sering kali sulit dipertahankan.

Pilih satu saja.

Jika Anda terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, mulai kurangi waktu di media sosial.

Jika Anda terlalu sulit mengatakan tidak, mulai dengan satu batasan kecil.

Jika pikiran Anda terlalu sering memikirkan masa depan, kembalikan perhatian pada hal yang dapat Anda lakukan hari ini.

Jika Anda merasa hidup terlalu monoton, buat satu aktivitas yang benar-benar bermakna dalam rutinitas Anda.

Jika Anda jarang menghargai hal-hal kecil, luangkan beberapa menit setiap malam untuk mengingat apa yang berjalan baik hari itu.

Jangan meremehkan perubahan kecil.

Satu kebiasaan yang dilakukan berulang kali dapat menjadi bagian dari cara hidup Anda.

Dan cara hidup yang berbeda pada akhirnya dapat menghasilkan pengalaman hidup yang berbeda pula.

Pada Akhirnya, Hidup Bahagia Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah

Anda tetap akan mengalami hari buruk.

Anda tetap akan kecewa.

Anda tetap akan kehilangan sesuatu.

Anda tetap akan menghadapi orang yang tidak memahami Anda.

Anda tetap akan membuat kesalahan.

Dan terkadang Anda akan merasa tidak tahu harus melakukan apa.

Itu semua adalah bagian dari menjadi manusia.

Maka, tujuan kebahagiaan bukanlah menciptakan kehidupan di mana Anda tidak pernah merasa sedih.

Tujuannya adalah membangun kehidupan di mana ketika masa sulit datang, Anda memiliki kemampuan untuk melewatinya.

Anda memiliki hubungan yang mendukung.

Anda mengenal diri sendiri.

Anda tahu apa yang penting bagi Anda.

Anda mampu menetapkan batasan.

Anda dapat menerima hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.

Dan Anda masih mampu menemukan sesuatu yang layak dihargai bahkan di tengah hari yang tidak sempurna.

Mungkin itulah bentuk kebahagiaan yang lebih realistis.

Bukan kehidupan yang selalu mudah.

Tetapi kehidupan yang tetap terasa layak dijalani meskipun tidak selalu mudah.

Jadi, jika Anda ingin membuat hidup menjadi jauh lebih bahagia, jangan selalu mencari perubahan besar.

Mulailah dengan melihat kebiasaan kecil yang Anda lakukan setiap hari.

Karena pada akhirnya, hidup Anda bukan hanya dibentuk oleh keputusan besar.

Hidup Anda dibentuk oleh apa yang Anda lakukan berulang kali.

Dan mungkin, perubahan kecil yang Anda mulai hari ini adalah awal dari kehidupan yang selama ini Anda inginkan

EDITOR: Hanny Suwindari