← Beranda
Akankah AI Membuat Kita Lebih Kasar? 7 Cara Komunikasi kepada AI yang Mungkin Merusak Interaksi Antarmanusia Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 15 Juli 2026 | 17.39 WIB
seseorang yang komunikasi dengan AI./Magnific/dimaberlin

JawaPos.com - Kemunculan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, mencari informasi, bahkan mencari teman berbicara. Kini jutaan orang setiap hari meminta AI menulis email, membuat presentasi, menjawab pertanyaan, hingga memberikan saran kehidupan.

Namun, di balik semua kemudahan tersebut muncul sebuah pertanyaan menarik dari sudut pandang psikologi:

Apakah cara kita berbicara kepada AI dapat memengaruhi cara kita memperlakukan manusia?

Pertanyaan ini bukan sekadar kekhawatiran berlebihan. Psikologi telah lama menjelaskan bahwa kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang akan membentuk pola berpikir (habit formation). Otak manusia tidak selalu membedakan apakah suatu perilaku dilakukan kepada manusia atau kepada mesin. Yang diingat otak adalah pola respons yang terus dilatih.

Ketika seseorang setiap hari memberi perintah singkat seperti:

"Buat!"
"Cepat!"
"Salah. Ulangi."
"Ganti."

maka tanpa disadari gaya komunikasi tersebut bisa terbawa ketika berinteraksi dengan rekan kerja, pasangan, anak, atau teman.

Memang belum ada bukti ilmiah yang menyimpulkan bahwa penggunaan AI secara langsung membuat seseorang menjadi lebih kasar. Namun, sejumlah teori psikologi mengenai pembentukan kebiasaan, pembelajaran sosial, dan komunikasi menunjukkan bahwa pola komunikasi yang sering dilatih dapat memengaruhi kebiasaan interpersonal.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (14/7), terdapat tujuh kebiasaan berbicara kepada AI yang patut diwaspadai.

1. Terbiasa Memberi Perintah Tanpa Kata Tolong

AI tidak tersinggung.

Ia tetap menjawab meskipun Anda hanya mengetik:

"Buat artikel."

"Cari data."

"Perbaiki."

Tidak ada ekspresi wajah.
Tidak ada rasa kecewa.

Lama-kelamaan seseorang dapat terbiasa menghilangkan kata-kata sopan karena merasa semuanya tetap berjalan dengan baik.

Dalam psikologi komunikasi, penggunaan kata-kata sopan bukan sekadar formalitas. Kata seperti "tolong", "terima kasih", atau "mohon" membantu membangun empati dan mengingatkan bahwa lawan bicara memiliki perasaan.

Jika kebiasaan ini hilang di dunia digital, ada kemungkinan kebiasaan tersebut ikut memudar dalam interaksi nyata.

2. Menganggap Semua Jawaban Harus Instan

AI menjawab dalam hitungan detik.

Tidak ada waktu berpikir.

Tidak ada jeda.

Tidak ada alasan "sebentar ya."

Akibatnya, sebagian orang mulai terbiasa mengharapkan respons super cepat dari semua orang.

Padahal manusia memiliki:

emosi
kelelahan
pekerjaan lain
kondisi kesehatan
prioritas berbeda

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai ekspektasi yang tidak realistis, yaitu ketika standar yang terbentuk dari teknologi diterapkan kepada manusia.

Akibatnya muncul keluhan seperti:

"Kenapa lama balas chat?"

"Baru juga lima menit."

Padahal lima menit bagi manusia bukanlah sesuatu yang aneh.

3. Mudah Mengoreksi Tanpa Memikirkan Perasaan

Ketika AI salah, kita biasanya langsung menulis:

"Salah."

"Perbaiki."

"Ulang."

Tidak ada konsekuensi emosional.

Namun jika pola ini terbiasa digunakan kepada manusia, seseorang bisa menjadi terlalu lugas tanpa mempertimbangkan dampak psikologis lawan bicara.

Padahal penelitian psikologi menunjukkan bahwa kritik akan lebih mudah diterima bila disampaikan dengan penghargaan terlebih dahulu.

Contohnya:

"Boleh saya usulkan sedikit perbaikan?"

dibanding

"Ini salah."

Perbedaannya tampak kecil, tetapi dampaknya terhadap hubungan sangat besar.

4. Terbiasa Mendominasi Percakapan

AI hampir selalu mengikuti arahan pengguna.

Ia tidak memotong pembicaraan.

Ia tidak memiliki kebutuhan pribadi.

Ia tidak meminta giliran berbicara.

Hubungan seperti ini sepenuhnya berpusat pada pengguna.

Jika terlalu sering terbiasa dengan pola tersebut, seseorang mungkin tanpa sadar membawa kebiasaan yang sama ketika berbicara dengan manusia:

lebih banyak memerintah
lebih sedikit mendengar
kurang memberi ruang orang lain berbicara

Padahal komunikasi sehat adalah dialog, bukan monolog.

5. Menganggap Lawan Bicara Selalu Siap Membantu

AI tersedia kapan saja.

Pukul dua pagi.

Hari libur.

Akhir pekan.

Tidak pernah berkata:

"Saya sedang sibuk."

Sebaliknya, manusia memiliki batas energi dan waktu.

Jika seseorang terlalu terbiasa mendapatkan bantuan instan dari AI, ia bisa menjadi kurang peka terhadap batasan orang lain.

Dalam psikologi, kemampuan menghormati batas pribadi (personal boundaries) merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.

6. Tidak Terbiasa Mengelola Frustrasi

Jika AI salah, pengguna cukup mengetik:

"Ulangi."

"Lebih baik."

"Coba lagi."

Tidak ada konflik.

Tidak ada diskusi.

Tidak ada negosiasi.

Berbeda dengan manusia.

Dalam hubungan nyata, kesalahpahaman memerlukan:

mendengar
menjelaskan
meminta maaf
memahami sudut pandang orang lain

Jika seseorang terlalu sering berinteraksi dengan sistem yang selalu patuh, kemampuan menghadapi konflik nyata bisa berkurang karena otak jarang berlatih menghadapi dinamika sosial yang sesungguhnya.

7. Melupakan Bahwa Empati Perlu Dilatih

AI dapat menghasilkan kalimat yang terdengar penuh empati.

Namun AI tidak benar-benar merasakan emosi.

Sebaliknya, manusia membutuhkan latihan terus-menerus untuk mempertahankan empati.

Psikologi menunjukkan bahwa empati berkembang melalui:

mendengarkan
memahami ekspresi wajah
membaca nada suara
melihat bahasa tubuh
memberi perhatian penuh

Jika sebagian besar interaksi sehari-hari berpindah ke mesin, kesempatan melatih kemampuan tersebut bisa berkurang.

Bukan karena AI membuat manusia kehilangan empati secara langsung, tetapi karena waktu untuk melatih empati terhadap sesama manusia menjadi lebih sedikit.

Apakah Kita Harus Selalu Bersikap Sopan kepada AI?

Pertanyaan ini sering memunculkan perdebatan.

Sebagian orang berpendapat tidak perlu berkata "tolong" atau "terima kasih" kepada AI karena AI tidak memiliki perasaan.

Pendapat tersebut masuk akal.

Namun ada sudut pandang lain yang menarik.

Bersikap sopan kepada AI bukan dilakukan demi AI.

Melainkan demi diri sendiri.

Kebiasaan menggunakan bahasa yang santun dapat membantu mempertahankan pola komunikasi yang sama ketika berbicara dengan manusia.

Dengan kata lain, kesopanan menjadi latihan karakter, bukan hadiah bagi mesin.

Cara Menggunakan AI Tanpa Mengurangi Kualitas Interaksi Sosial

Untungnya, AI tidak harus menjadi ancaman bagi hubungan antarmanusia. Penggunaannya dapat tetap sehat jika disertai kebiasaan yang baik, seperti:

Menggunakan bahasa yang sopan sebagai bentuk latihan komunikasi.
Mengingat bahwa manusia membutuhkan waktu untuk berpikir dan merespons.
Tidak menyamakan AI dengan manusia dalam hal kecepatan maupun ketersediaan.
Tetap melatih kemampuan mendengar secara aktif saat berbicara dengan orang lain.
Menyampaikan kritik dengan cara yang membangun, bukan sekadar menunjukkan kesalahan.
Menghabiskan waktu untuk percakapan tatap muka bersama keluarga, teman, atau rekan kerja.
Menjadikan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti hubungan sosial.

Dengan pendekatan seperti ini, AI justru dapat memperkaya produktivitas tanpa mengikis keterampilan sosial.

Kesimpulan

AI adalah alat yang luar biasa. Ia membantu kita bekerja lebih cepat, belajar lebih mudah, dan menyelesaikan banyak tugas sehari-hari.

Namun, seperti teknologi lainnya, AI juga membentuk kebiasaan. Cara kita berinteraksi dengannya dapat memengaruhi pola komunikasi yang kita gunakan dalam kehidupan nyata. Meski belum ada bukti bahwa AI secara langsung membuat orang menjadi lebih kasar, teori-teori psikologi tentang pembentukan kebiasaan menunjukkan bahwa perilaku yang sering diulang dapat terbawa ke situasi lain.

Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya kecanggihan teknologi, tetapi juga kualitas karakter kita. Menggunakan AI dengan sopan, sabar, dan penuh kesadaran bukan berarti memperlakukan mesin seperti manusia. Sebaliknya, itu adalah cara melatih diri agar tetap menghargai manusia ketika teknologi semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, ukuran kemajuan bukan hanya seberapa pintar AI yang kita gunakan, melainkan juga seberapa manusiawi kita tetap bersikap saat menggunakannya.

EDITOR: Hanny Suwindari