← Beranda
6 Cara Mengenali Pembohong dalam 5 Menit Setelah Bertemu Mereka Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 7 Juli 2026 | 22.10 WIB
seseorang yang pandai mengenali pembohong./Magnific/yanalya

JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa ada seseorang yang terdengar begitu meyakinkan, tetapi entah mengapa cerita yang disampaikan terasa janggal? Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang tidak bisa mengetahui karakter seseorang hanya dari pertemuan pertama.

Namun, psikologi menjelaskan bahwa perilaku komunikasi seseorang sering kali memberikan petunjuk mengenai kebiasaan mereka dalam berkata jujur atau berbohong.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (6/7), salah satu tipe yang sering menjadi perhatian adalah pembohong kompulsif atau compulsive liar.

Mereka memiliki kecenderungan berbohong secara berulang, bahkan ketika kebohongan tersebut tidak memberikan keuntungan yang jelas. 

Berbeda dengan seseorang yang sesekali berbohong untuk menghindari konflik atau menjaga perasaan orang lain, pembohong kompulsif menjadikan kebohongan sebagai pola komunikasi yang berlangsung terus-menerus.

Meskipun mustahil memastikan seseorang adalah pembohong kompulsif hanya dalam waktu lima menit, Anda dapat mengamati sejumlah tanda awal yang menurut penelitian psikologi sering muncul pada individu dengan kebiasaan tersebut.

1. Ceritanya Terlalu Sempurna dan Dipenuhi Detail yang Tidak Penting

Dalam psikologi komunikasi, orang yang mengatakan kebenaran biasanya menceritakan pengalaman secara alami. Mereka mengingat bagian penting, tetapi tidak selalu mengingat seluruh detail kecil.

Sebaliknya, pembohong kompulsif sering kali justru memberikan terlalu banyak informasi. Mereka menjelaskan warna baju, cuaca, jam, posisi duduk, hingga percakapan yang sebenarnya tidak relevan dengan inti cerita.

Alasannya sederhana. Saat seseorang menciptakan cerita, mereka berusaha membuatnya terdengar realistis dengan menambahkan detail sebanyak mungkin.

Misalnya:

"Saya sampai di kantor jam 08.02, pakai kemeja biru, parkir di slot nomor 17, lalu bertemu satpam yang memakai topi hitam."

Detail seperti ini belum tentu berarti bohong. Namun jika hampir semua cerita dipenuhi rincian yang tidak perlu, hal tersebut layak menjadi perhatian.

2. Jawabannya Sering Berubah Saat Ditanya Ulang

Psikologi kognitif menjelaskan bahwa mengingat kejadian nyata jauh lebih mudah dibanding mengingat cerita yang dibuat-buat.

Jika seseorang benar-benar mengalami suatu peristiwa, inti ceritanya biasanya tetap konsisten meskipun diceritakan beberapa kali.

Sebaliknya, pembohong kompulsif sering mengalami kesulitan menjaga konsistensi.

Contohnya, pada awal percakapan mereka mengatakan datang sendiri. Beberapa menit kemudian mereka menyebut datang bersama teman. Saat ditanya lagi, mereka justru mengatakan menggunakan transportasi umum.

Perubahan kecil memang bisa terjadi karena lupa. Namun jika perubahan terjadi berulang pada bagian-bagian penting cerita, hal tersebut dapat menjadi indikator adanya ketidakjujuran.

3. Terlalu Cepat Meyakinkan Bahwa Mereka Jujur

Kalimat seperti:

"Percaya deh."
"Serius, saya nggak bohong."
"Demi apa pun ini benar."
"Sumpah, saya orang paling jujur."

sering digunakan untuk memperkuat kesan dapat dipercaya.

Menariknya, penelitian psikologi komunikasi menunjukkan bahwa orang yang benar-benar jujur umumnya tidak merasa perlu terus-menerus menegaskan kejujurannya. Mereka lebih mengandalkan fakta daripada penekanan emosional.

Bukan berarti setiap orang yang berkata "sumpah" sedang berbohong. Namun jika hampir setiap pernyataan disertai upaya meyakinkan lawan bicara, hal itu bisa menjadi sinyal bahwa mereka sedang berusaha membangun kredibilitas secara berlebihan.

4. Sulit Memberikan Bukti yang Konsisten

Dalam lima menit pertama, Anda mungkin belum sempat meminta bukti secara langsung. Namun Anda bisa memperhatikan bagaimana seseorang merespons pertanyaan sederhana.

Misalnya:

"Bagaimana prosesnya?"
"Siapa saja yang ada di sana?"
"Apa yang terjadi setelah itu?"

Pembohong kompulsif sering kali memberikan jawaban yang berputar-putar atau mengubah topik pembicaraan.

Hal ini terjadi karena mereka harus terus menyusun cerita baru agar sesuai dengan kebohongan sebelumnya.

Sebaliknya, orang yang mengatakan kebenaran biasanya lebih mudah menjelaskan urutan kejadian secara logis.

5. Bahasa Tubuh Tidak Selaras dengan Ucapan

Selama bertahun-tahun muncul anggapan bahwa pembohong selalu menghindari kontak mata. Faktanya, penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar.

Yang lebih penting adalah melihat keselarasan antara ekspresi wajah, nada suara, dan isi ucapan.

Misalnya seseorang mengatakan sangat senang, tetapi wajahnya tampak datar. Atau ia mengaku santai, tetapi nada bicaranya tegang dan gerakan tubuhnya terlihat gelisah.

Ketidaksesuaian seperti ini disebut sebagai incongruence dalam komunikasi nonverbal.

Namun perlu diingat, rasa gugup juga bisa muncul karena pemalu, cemas, atau situasi sosial yang membuat seseorang tidak nyaman. Oleh karena itu, bahasa tubuh tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai seseorang berbohong.

6. Selalu Menempatkan Diri sebagai Tokoh Paling Hebat atau Korban

Salah satu ciri yang cukup sering ditemukan pada pembohong kompulsif adalah kecenderungan membangun citra diri melalui cerita.

Dalam setiap kisah, mereka hampir selalu menjadi:

orang paling sukses,
orang paling pintar,
orang yang selalu benar,
atau justru korban dari semua keadaan.

Mereka jarang mengakui kesalahan sendiri.

Psikolog menjelaskan bahwa pola seperti ini dapat berkaitan dengan kebutuhan memperoleh perhatian, pengakuan, atau kekaguman dari orang lain.

Jika hampir semua cerita yang disampaikan selalu berpusat pada kehebatan diri atau penderitaan yang berlebihan, Anda patut mengamatinya lebih lanjut sebelum mempercayai semua informasi yang diberikan.

Mengapa Pembohong Kompulsif Sulit Berhenti?

Berbohong secara terus-menerus dapat menjadi kebiasaan yang mengakar. Pada sebagian orang, perilaku ini berkembang sejak usia muda sebagai cara menghindari hukuman, mendapatkan perhatian, atau membangun citra diri.

Seiring waktu, kebohongan menjadi respons otomatis ketika menghadapi berbagai situasi sosial.

Dalam beberapa kasus, kebiasaan berbohong juga dapat berkaitan dengan kondisi psikologis tertentu. Namun, hanya profesional kesehatan mental yang dapat melakukan penilaian secara menyeluruh. Karena itu, tidak tepat memberi label "pembohong kompulsif" hanya berdasarkan kesan singkat atau beberapa perilaku saja.

Hal yang Perlu Diingat

Meskipun enam tanda di atas dapat menjadi petunjuk awal, psikologi menegaskan bahwa tidak ada satu pun perilaku yang secara pasti membuktikan seseorang adalah pembohong kompulsif.

Rasa gugup, kecemasan sosial, trauma, budaya komunikasi, hingga kemampuan berbicara yang berbeda-beda dapat membuat seseorang tampak tidak konsisten padahal sebenarnya sedang berkata jujur.

Cara terbaik adalah mengamati pola perilaku yang muncul berulang dalam berbagai situasi, bukan mengambil kesimpulan dari satu percakapan singkat.

Kesimpulan

Mengenali pembohong kompulsif memang tidak semudah melihat ekspresi wajah atau bahasa tubuh. Namun dalam lima menit pertama bertemu seseorang, Anda bisa mulai memperhatikan beberapa indikator, seperti cerita yang terlalu sempurna, jawaban yang berubah-ubah, upaya berlebihan meyakinkan orang lain, sulit mempertahankan konsistensi, ketidaksesuaian bahasa tubuh dengan ucapan, serta kecenderungan selalu menjadi tokoh utama atau korban.

Yang terpenting, gunakan pengamatan tersebut sebagai dasar untuk bersikap lebih hati-hati, bukan sebagai alasan untuk langsung menghakimi seseorang. Dalam psikologi, penilaian terhadap karakter seseorang selalu membutuhkan konteks, waktu, dan bukti yang lebih luas daripada sekadar kesan pertama.

EDITOR: Hanny Suwindari