JawaPos.com - Kelompok masyarakat kelas menengah umumnya berada di posisi ekonomi yang tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Mereka biasanya memiliki pendapatan yang relatif stabil, akses pendidikan yang lebih baik, serta menjadi kelompok konsumen terbesar dalam struktur ekonomi.
Namun, dalam kondisi ekonomi modern saat ini, kelompok ini justru menjadi salah satu yang paling rentan terdampak inflasi. Kenaikan biaya hidup, terutama pada sektor perumahan dan kebutuhan pokok, membuat tekanan finansial semakin terasa.
Di sisi lain, kemampuan menabung juga semakin menurun. Hal ini terjadi karena pendapatan yang cenderung stagnan atau meningkat sangat lambat, sementara pengeluaran terus bertambah dari waktu ke waktu.
Mengutip dari English Jagran, berikut tujuh faktor yang menyebabkan masyarakat kelas menengah mengalami kesulitan dalam menyisihkan tabungan.
Baca Juga: Jika Anda Makan Sambil Berdiri di Meja Dapur, Anda Mungkin Menunjukkan 7 Ciri Ini Menurut Psikologi
1. Gaya hidup meningkat seiring dengan kenaikan gaji bertahap
Gaji naik secara bertahap, tetapi pengeluaran tumbuh lebih cepat, seperti mobil, ponsel baru, atau memiliki rumah.
Terutama di dunia modern, ketika semuanya ada di ujung jari Anda, aplikasi perdagangan cepat juga menghilangkan semua kenaikan gaji tersebut.
2. Tekanan teman sebaya
Menjadi kelas menengah juga berarti aktif secara sosial, termasuk pesta, pernikahan, festival, dan menjamu tamu terjadi secara teratur.
Media sosial modern memudahkan Anda untuk melihat bagaimana orang lain hidup dan dapat memberi tekanan pada ketika Anda mulai membandingkan diri.
3. Jebakan hutang dan cicilan
Orang kelas menengah menggunakan fasilitas kredit untuk menjembatani kesenjangan antara pendapatan dan gaya hidup mereka.
Entah dalam bentuk pembayaran cicilan barang konsumsi, pinjaman tanpa jaminan yang mahal, atau menggunakan kartu kredit untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Berbeda dengan utang investasi seperti hipotek atau biaya pendidikan tinggi, utang gaya hidup tidak menghasilkan pendapatan, yang berarti sangat mahal karena pembayaran bunga sehingga mengurangi tabungan.
4. Mengabaikan pengeluaran rutin
Meski orang cenderung menyadari pembelian besar dan merencanakannya dengan tepat, mereka mengabaikan pengeluaran rutin, seperti belanja kebutuhan sehari-hari, layanan streaming online, biaya kuliah, biaya perawatan kendaraan, dan biaya medis.
Pengeluaran rutin menciptakan biaya gaya hidup yang membatasi kemungkinan untuk menyisihkan sejumlah uang untuk tujuan tabungan.
5. Tabungan darurat
Kurangnya dana darurat akan memaksa seseorang untuk meminjam uang setiap kali terjadi keadaan darurat yang tak terduga berupa kehilangan pekerjaan, biaya perawatan kesehatan, dan lain sebagainya, yang berarti tabungan harus digunakan.
Bahkan, hal ini menciptakan siklus di mana seseorang menabung hanya untuk menggunakan uang tersebut pada saat terjadi kesulitan pertama.
6. Perencanaan anggaran dan pengetahuan keuangan
Banyak individu berpenghasilan menengah memiliki sedikit pemahaman tentang cara merencanakan anggaran, berinvestasi, merencanakan pajak, dan melipatgandakan investasi mereka.
Akibatnya ada dua: uang hanya diam di sana menghasilkan bunga rendah sementara terkikis oleh inflasi dan orang-orang terus melanjutkan cara kerja mereka karena kebiasaan daripada mengotomatiskan tabungan dan investasi.
7. Kenyamanan instan lebih diutamakan
Ketika hidup serba kekurangan, kecenderungannya selalu mengarah pada pengeluaran untuk kenyamanan instan, seperti liburan keluarga, pendidikan anak, fasilitas rumah tangga, dan lain-lain.
Menabung untuk masa depan yang tidak pasti tidak masuk akal jika dibandingkan dengan kemampuan untuk menikmati kehidupan yang lebih nyaman saat ini.