JawaPos.com – Tumbuh bersama orang tua toxic meninggalkan bekas psikologi yang mendalam dan sering kali terus memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri hingga dewasa.
Trauma yang tidak diakui dari masa kecil bisa secara diam-diam merusak kepercayaan diri, hubungan, dan kemampuan seseorang untuk merasa layak dicintai.
Banyak yang tidak menyadari bahwa keyakinan negatif tentang diri mereka bukan kebenaran, melainkan warisan dari pola asuh yang penuh racun emosional.
Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (31/5), berikut lima keyakinan menyedihkan yang kemungkinan besar masih dipegang oleh mereka yang dibesarkan oleh orang tua toxic tanpa mereka sadari sepenuhnya.
1. Tidak ada yang benar-benar bisa mencintaimu
Bahkan ketika orang-orang di sekitar menyatakan cinta dan membuktikannya lewat tindakan nyata, rasa curiga itu tetap tidak hilang begitu saja.
Penelitian menunjukkan bahwa kecurigaan mendalam ini sering berakar dari orang tua toxic yang membuat anak merasa tidak layak dan tidak pernah cukup baik.
Di luar mungkin kamu tampak kuat dan percaya diri, tetapi di dalam ada keyakinan tersembunyi bahwa tidak ada yang benar-benar akan mencintaimu.
Keyakinan ini menciptakan tembok yang mencegah keintiman emosional yang sesungguhnya, padahal itulah yang paling kamu inginkan dalam sebuah hubungan.
Selama keyakinan ini tidak ditantang dan diganti, kamu akan terus menjaga jarak emosional dari orang-orang yang sebenarnya tulus hadir untukmu.
2. Semua orang menyembunyikan sesuatu darimu
Kamu mungkin ingin mempercayai orang lain dengan sepenuh hati, tetapi selalu ada suara kecil yang bertanya apakah kamu sedang membuat kesalahan besar.
Bahkan ketika perilaku seseorang konsisten dan jujur, pikiranmu terus mencari celah yang mungkin membuktikan bahwa kepercayaanmu salah sejak awal.
Pertanyaan seperti "apakah mereka berbohong padaku" atau "apakah aku bodoh karena mempercayainya" terus berputar tanpa bisa dihentikan dengan mudah.
Dibesarkan oleh orang tua yang tidak bisa dipercaya secara tidak sadar membentuk keyakinan bahwa tidak ada orang dewasa yang benar-benar bisa diandalkan.
Kewaspadaan yang terus-menerus ini terasa seperti kebijaksanaan, padahal sebenarnya adalah luka lama yang belum sembuh dan terus menguras energi emosional.
3. Membuka diri adalah sesuatu yang berbahaya
Keintiman sejati membutuhkan kemampuan untuk merasa aman, rileks, dan diterima sepenuhnya oleh orang lain tanpa rasa takut akan konsekuensinya.
Namun anak-anak dari orang tua toxic belajar lebih awal bahwa dunia tidak bisa diprediksi dan keterbukaan sering berujung pada rasa sakit.
Psikolog Daniel S. Lobel menjelaskan bahwa anak yang dibesarkan orang tua toxic cenderung merasa perlu menyenangkan orang lain agar diterima dan tidak ditinggalkan.
Selama bertahun-tahun, kebiasaan menyesuaikan diri secara berlebihan dan menjadi orang yang selalu mengalah menjadi strategi bertahan hidup yang tertanam sangat dalam.
Keintiman sejati sulit tercapai karena mempercayai seseorang sepenuhnya terasa seperti risiko yang terlalu besar untuk diambil dalam hubungan mana pun.
4. Nilai dirimu bergantung pada persetujuan orang lain
Orang tua toxic secara strategis menahan pujian dan persetujuan sebagai cara untuk mempertahankan kendali atas anaknya sepanjang waktu.
Ketika sesekali memberi pujian pun, ia langsung mencabutnya dengan komentar yang meremehkan sehingga kamu tidak pernah benar-benar merasa cukup baik.
Penelitian menunjukkan bahwa penolakan persetujuan secara konsisten mengubah cara anak memproses emosi dan membangun ikatan sosial secara fundamental.
Dampaknya adalah keyakinan yang tertanam bahwa kamu harus terus mendapatkan persetujuan orang lain untuk merasa bernilai dan berhak mengambil ruang.
Tanpa validasi eksternal itu, kamu merasa hampa dan tidak yakin bahwa apa yang kamu lakukan atau siapa dirimu sudah cukup dan layak dihargai.
5. Kamu tidak benar-benar penting bagi siapa pun
Ketika salah satu orang tua bersikap toxic dan yang lainnya diam atau setuju demi menjaga kedamaian, pesan yang diterima anak sangat merusak.
Pesan itu adalah bahwa keberadaan dan perasaanmu tidak cukup penting untuk diperjuangkan oleh siapa pun, bahkan oleh orang yang seharusnya melindungimu.
Keyakinan ini membuat banyak orang dewasa yang tumbuh dalam lingkungan seperti itu justru mencari hubungan yang toxic karena itu terasa seperti hal yang mereka layak dapatkan.
Namun keyakinan bahwa kamu tidak penting adalah kebohongan yang ditanamkan oleh lingkungan yang sakit, bukan kebenaran tentang siapa dirimu sebenarnya.
Mengganti keyakinan mendasar ini adalah langkah krusial menuju kehidupan yang lebih autentik, bebas, dan dipenuhi hubungan yang benar-benar sehat dan saling menghargai.