← Beranda
Orang yang Tetap Bahagia dan Gembira Seiring Bertambahnya Usia, Telah Meninggalkan 9 Kebiasaan Ini
Irfan Ferdiansyah• Jumat, 29 Mei 2026 | 20.37 WIB
seseorang yang tetap bahagia dan gembira seiring bertambahnya usia./Magnific/sevendeman

JawaPos.com - Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan akan semakin sulit dirasakan seiring bertambahnya usia. Tubuh mulai berubah, tanggung jawab bertambah, dan kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Namun menariknya, berbagai penelitian psikologi justru menunjukkan hal yang berbeda: banyak orang menjadi lebih damai, lebih stabil secara emosional, dan lebih bahagia ketika mereka menua.

Rahasia mereka ternyata bukan karena hidup tanpa masalah. Mereka hanya belajar melepaskan kebiasaan-kebiasaan tertentu yang diam-diam menguras energi mental dan emosional.

Orang yang tetap ceria di usia matang biasanya tidak hidup dengan sempurna. Mereka hanya lebih bijak memilih apa yang pantas dipertahankan dan apa yang perlu ditinggalkan.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (27/5), terdapat 9 kebiasaan yang biasanya sudah mereka tinggalkan menurut psikologi.

1. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Salah satu sumber ketidakbahagiaan terbesar adalah kebiasaan membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain.

Ketika masih muda, banyak orang merasa harus mengejar pencapaian tertentu agar dianggap sukses: karier tinggi, rumah besar, pasangan ideal, atau kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial.

Namun orang yang semakin bahagia seiring usia biasanya mulai menyadari bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai social comparison. Semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, semakin besar peluang munculnya rasa iri, tidak puas, dan rendah diri.

Orang yang lebih dewasa secara emosional mulai fokus pada pertumbuhan pribadi, bukan perlombaan sosial. Mereka tidak lagi merasa tertinggal hanya karena hidup orang lain tampak lebih maju.

Dan di situlah ketenangan mulai muncul.

2. Tidak Lagi Berusaha Menyenangkan Semua Orang

Banyak orang menghabiskan bertahun-tahun hidupnya hanya untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain.

Mereka takut mengecewakan siapa pun, sulit berkata “tidak”, dan terus memprioritaskan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri.

Masalahnya, kebiasaan ini sangat melelahkan secara emosional.

Orang yang tetap bahagia saat menua biasanya sudah belajar bahwa mereka tidak bisa membuat semua orang senang. Akan selalu ada kritik, penilaian, dan ketidaksukaan dari sebagian orang.

Dan itu normal.

Menurut psikologi, kemampuan menetapkan batasan yang sehat adalah salah satu tanda kedewasaan emosional. Mereka mulai memilih hubungan yang sehat daripada sekadar diterima semua orang.

3. Meninggalkan Kebiasaan Memendam Emosi

Dulu banyak orang diajarkan untuk menahan kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan agar terlihat kuat.

Padahal emosi yang terus dipendam sering berubah menjadi stres berkepanjangan, kecemasan, bahkan kelelahan mental.

Orang yang lebih bahagia di usia dewasa biasanya sudah belajar mengenali dan mengelola emosinya dengan sehat.

Mereka tidak malu mengakui bahwa dirinya lelah, sedih, atau kecewa. Mereka juga lebih terbuka mencari bantuan ketika diperlukan.

Psikologi modern menunjukkan bahwa menerima emosi jauh lebih sehat daripada terus menyangkalnya.

Karena kebahagiaan sejati bukan berarti selalu merasa senang, tetapi mampu menghadapi emosi dengan lebih tenang.

4. Berhenti Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Banyak orang adalah pengkritik paling kejam bagi dirinya sendiri.

Kesalahan kecil terus diingat. Penyesalan masa lalu diputar berulang-ulang. Mereka merasa belum cukup baik, belum cukup sukses, atau belum cukup sempurna.

Namun orang yang semakin bahagia seiring bertambah usia biasanya mulai meninggalkan kebiasaan menyalahkan diri secara berlebihan.

Mereka memahami bahwa manusia memang tidak luput dari kesalahan.

Psikologi menyebut pentingnya self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri. Orang yang mampu memperlakukan dirinya dengan lebih lembut cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik dan tingkat stres yang lebih rendah.

Alih-alih terus menghukum diri, mereka belajar menerima diri sebagai manusia biasa yang terus berkembang.

5. Tidak Lagi Terobsesi Mengontrol Segalanya

Semakin dewasa, banyak orang sadar bahwa hidup tidak selalu bisa diprediksi.

Rencana bisa berubah. Orang bisa pergi. Situasi bisa di luar kendali.

Orang yang tetap tenang dan gembira biasanya sudah berhenti memaksakan kontrol terhadap semua hal.

Mereka memahami perbedaan antara apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak.

Daripada menghabiskan energi untuk mencemaskan segala kemungkinan buruk, mereka lebih fokus pada respons yang bisa mereka pilih.

Dalam psikologi, kemampuan menerima ketidakpastian merupakan salah satu faktor penting dalam ketahanan mental.

Dan sering kali, kedamaian datang ketika seseorang berhenti melawan hal-hal yang memang tidak bisa diubah.

6. Meninggalkan Dendam yang Berkepanjangan

Memendam dendam mungkin terasa seperti bentuk perlindungan diri. Tetapi dalam jangka panjang, itu justru menjadi beban emosional yang berat.

Orang yang lebih bahagia di usia matang biasanya belajar melepaskan kemarahan yang terus disimpan bertahun-tahun.

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Tetapi itu berarti seseorang memilih untuk tidak terus membawa luka yang sama setiap hari.

Psikologi menunjukkan bahwa memaafkan dapat membantu mengurangi stres, tekanan darah, dan ketegangan emosional.

Karena terkadang, orang yang paling dibebaskan oleh sebuah maaf adalah diri kita sendiri.

7. Tidak Lagi Mengejar Kesempurnaan

Perfeksionisme sering terlihat positif di luar, tetapi diam-diam bisa sangat melelahkan.

Orang perfeksionis cenderung takut gagal, sulit puas, dan terus merasa kurang.

Namun mereka yang tetap menikmati hidup saat menua biasanya sudah meninggalkan tuntutan untuk selalu sempurna.

Mereka mulai menerima bahwa hidup yang baik tidak harus selalu sempurna.

Rumah tidak harus selalu rapi. Karier tidak harus selalu luar biasa. Hidup tidak harus selalu sesuai rencana.

Psikologi menemukan bahwa orang yang terlalu perfeksionis lebih rentan mengalami kecemasan dan kelelahan mental.

Sebaliknya, menerima ketidaksempurnaan justru membuat hidup terasa lebih ringan.

8. Berhenti Mengabaikan Hal-hal Kecil yang Membawa Bahagia

Ketika masih sibuk mengejar target besar, banyak orang lupa menikmati momen sederhana.

Padahal kebahagiaan sering hadir dalam bentuk kecil: secangkir kopi hangat, percakapan ringan, udara pagi, atau waktu bersama orang tersayang.

Orang yang semakin bahagia biasanya mulai lebih menghargai pengalaman kecil sehari-hari.

Dalam psikologi positif, kemampuan menikmati momen sederhana disebut savoring. Kebiasaan ini terbukti membantu meningkatkan rasa syukur dan kepuasan hidup.

Mereka tidak lagi menunggu hidup sempurna untuk merasa bahagia.

Mereka menemukan kebahagiaan di tengah kehidupan biasa.

9. Tidak Lagi Menjalani Hidup Sesuai Ekspektasi Orang Lain

Banyak orang kehilangan kebahagiaan karena terlalu sibuk menjalani hidup yang diinginkan orang lain.

Mereka memilih karier demi gengsi, mempertahankan hubungan karena tekanan sosial, atau terus mengejar standar yang sebenarnya bukan milik mereka sendiri.

Namun seiring bertambahnya usia, orang yang benar-benar bahagia biasanya mulai hidup lebih autentik.

Mereka lebih berani menjadi diri sendiri.

Psikologi menunjukkan bahwa hidup selaras dengan nilai pribadi membuat seseorang merasa lebih puas dan damai secara emosional.

Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukan datang dari memenuhi semua ekspektasi orang lain, melainkan dari merasa nyaman dengan diri sendiri.

Penutup

Menua tidak selalu berarti kehilangan kebahagiaan. Bagi banyak orang, justru di usia yang lebih matang mereka mulai menemukan ketenangan yang dulu sulit dirasakan.

Bukan karena hidup menjadi lebih mudah, tetapi karena mereka belajar melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini membebani pikiran dan hati.

Mereka berhenti membandingkan diri, berhenti mengejar kesempurnaan, berhenti hidup demi validasi orang lain, dan mulai menerima hidup dengan lebih bijak.

Dan mungkin itulah salah satu bentuk kedewasaan paling indah: memahami bahwa kebahagiaan sering datang bukan dari menambah sesuatu, tetapi dari belajar melepaskan hal-hal yang tidak lagi diperlukan.

EDITOR: Hanny Suwindari