← Beranda
Kerap Mengangkat 10 Topik Ini dalam Percakapan? Bisa Jadi Mereka Memiliki Keterampilan Sosial di Bawah Rata-rata Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Kamis, 21 Mei 2026 | 02.22 WIB
seseorang yang sering mengangkat topik kurang baik dalam percakapan./Magnific/DC Studio

JawaPos.com - Tidak semua orang yang kesulitan bersosialisasi tampak canggung atau pendiam. Beberapa justru terlihat sangat banyak bicara, tetapi tanpa sadar sering membawa percakapan ke arah yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bosan, atau ingin segera mengakhiri interaksi.

Menurut psikologi sosial, keterampilan sosial bukan hanya soal kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan membaca situasi, memahami batasan, mengenali minat lawan bicara, serta menjaga keseimbangan dalam komunikasi.

Salah satu tanda seseorang memiliki keterampilan sosial yang kurang matang adalah topik-topik yang mereka pilih berulang kali dalam percakapan. Bukan karena topik tersebut selalu buruk, tetapi cara, waktu, dan frekuensi membahasnya sering menunjukkan rendahnya kesadaran sosial.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (18/5), terdapat 10 topik yang jika terlalu sering diangkat dalam percakapan bisa menjadi sinyal keterampilan sosial di bawah rata-rata.

1. Terus-menerus membicarakan diri sendiri

Ini adalah tanda klasik rendahnya kemampuan sosial.

Mereka selalu mengarahkan percakapan kembali ke pengalaman pribadi, pencapaian, masalah, atau opini mereka sendiri. Ketika orang lain bercerita, respons mereka sering berupa, “Oh itu mirip denganku, waktu aku…”

Psikolog menyebut ini sebagai self-focused communication.

Percakapan sehat bersifat dua arah. Orang dengan keterampilan sosial baik tahu kapan berbicara dan kapan memberi ruang.

Jika seseorang tidak bisa berhenti menjadikan dirinya pusat diskusi, biasanya mereka kurang peka terhadap kebutuhan sosial orang lain.

2. Keluhan tanpa henti tentang hidup

Semua orang butuh curhat sesekali. Tetapi ada perbedaan besar antara berbagi kesulitan dan menjadikan percakapan sebagai tempat membuang semua frustrasi.

Orang dengan keterampilan sosial rendah sering membahas:

pekerjaan yang buruk
keluarga yang menyebalkan
cuaca yang jelek
ekonomi yang kacau
kesehatan yang menurun
orang-orang yang mengecewakan mereka

Keluhan kronis menguras energi sosial.

Menurut psikologi, negativity bias membuat orang lebih mudah mengingat interaksi negatif. Itulah sebabnya orang cenderung menghindari individu yang terlalu banyak mengeluh.

3. Gosip destruktif tentang orang lain

Ada bentuk gosip yang ringan dan bersifat sosial, tetapi orang dengan keterampilan sosial rendah sering membawa gosip ke level yang lebih toksik.

Mereka suka membahas:

kegagalan orang lain
rumor pribadi
drama hubungan
aib seseorang

Masalahnya bukan hanya isi pembicaraan, tetapi implikasinya.

Lawan bicara biasanya berpikir: Jika dia membicarakan orang lain seperti ini, kemungkinan dia juga membicarakanku saat aku tidak ada.

Hal ini mengikis kepercayaan.

4. Topik yang terlalu kontroversial tanpa membaca situasi

Politik, agama, gender, uang, dan isu sosial sensitif bukanlah topik terlarang.

Namun orang dengan kecerdasan sosial rendah sering melemparkannya tanpa konteks yang tepat.

Misalnya:

baru bertemu lalu langsung debat politik
memancing argumen tentang keyakinan pribadi
memaksa orang membela posisi tertentu

Keterampilan sosial tinggi berarti memahami timing.

Tidak semua tempat adalah arena debat.

5. Membandingkan status, gaji, atau pencapaian

Beberapa orang terus mengangkat topik:

siapa lebih sukses
siapa lebih kaya
siapa punya jabatan lebih tinggi
siapa menikah lebih dulu
siapa lebih produktif

Topik seperti ini sering terasa kompetitif dan membuat percakapan berubah menjadi ajang validasi ego.

Psikologi menunjukkan bahwa orang yang terlalu berorientasi pada perbandingan sosial cenderung memiliki kebutuhan validasi eksternal yang tinggi.

Alih-alih membangun koneksi, mereka membangun hierarki.

6. Detail pribadi yang terlalu intim terlalu cepat

Oversharing adalah tanda lain rendahnya keterampilan sosial.

Mereka bisa langsung membahas:

trauma mendalam
masalah rumah tangga
konflik seksual
masalah finansial serius

padahal hubungan belum cukup dekat.

Menurut teori boundary management, hubungan sosial berkembang bertahap. Membuka terlalu banyak informasi pribadi terlalu cepat bisa membuat lawan bicara merasa terbebani.

Kedekatan tidak bisa dipaksa dengan intensitas.

7. Mengulang drama pribadi yang sama berulang kali

Ada orang yang setiap bertemu selalu membawa cerita konflik yang sama.

Mantan.
Atasan.
Teman yang mengkhianati mereka.
Masalah keluarga yang tak pernah selesai.

Masalahnya bukan pada memiliki masalah, tetapi ketidakmampuan melepaskan satu narasi.

Ini membuat percakapan terasa stagnan dan berat.

Orang lain akhirnya merasa hanya menjadi penonton episode yang sama setiap kali bertemu.

8. Mengkritik penampilan atau pilihan hidup orang lain

Komentar seperti:

“Kamu tambah gemuk ya.”
“Kok belum menikah?”
“Jurusan itu kurang bagus.”
“Kerjaanmu kurang bergengsi.”

sering muncul dari orang yang kurang memiliki filter sosial.

Mereka mungkin menganggap dirinya jujur, padahal sebenarnya kurang memahami norma interpersonal.

Psikologi menyebut kemampuan menahan komentar impulsif sebagai bagian dari emotional intelligence.

Tidak semua observasi perlu diucapkan.

9. Topik yang terlalu membosankan tanpa mempertimbangkan audiens

Seseorang bisa terus membahas detail yang sangat spesifik dan niche tanpa memperhatikan apakah orang lain tertarik.

Contoh:

detail teknis kendaraan selama 30 menit
statistik olahraga yang sangat spesifik
fitur gadget minor
cerita pekerjaan internal yang tidak relevan

Antusiasme itu baik, tetapi keterampilan sosial berarti menyesuaikan pembicaraan dengan minat bersama.

Komunikasi bukan monolog terselubung.

10. Merendahkan orang lain sebagai bahan humor

Humor memang alat sosial yang kuat, tetapi orang dengan keterampilan sosial rendah sering menggunakan humor dengan cara yang merusak.

Mereka:

mengejek teman di depan umum
membuat candaan yang mempermalukan
menyamarkan hinaan sebagai “cuma bercanda”

Mereka sering gagal membaca ekspresi tidak nyaman orang lain.

Humor yang baik menciptakan koneksi.
Humor yang buruk menciptakan jarak.

Penutup

Topik percakapan sebenarnya hanyalah permukaan dari sesuatu yang lebih dalam: kesadaran sosial.

Orang dengan keterampilan sosial baik tidak selalu paling lucu, paling pintar, atau paling banyak bicara. Mereka hanya lebih peka terhadap ritme interaksi, emosi orang lain, dan konteks sosial.

Jika seseorang sering mengangkat 10 topik di atas, itu tidak otomatis berarti mereka orang buruk. Bisa jadi mereka hanya belum mengembangkan kemampuan komunikasi interpersonal yang sehat.

Kabar baiknya, keterampilan sosial bukan bakat bawaan.

Ia bisa dipelajari—dimulai dari hal sederhana: lebih banyak mendengar, lebih sedikit mendominasi, dan lebih sadar bahwa percakapan bukan hanya tentang apa yang ingin kita katakan, tetapi juga bagaimana orang lain merasakannya.

EDITOR: Hanny Suwindari