JawaPos.com - Di era media sosial, banyak nasihat hubungan terdengar begitu sederhana, tegas, dan meyakinkan. Kalimat-kalimat singkat yang mudah diingat sering kali dijadikan pegangan dalam menilai cinta, pasangan, bahkan diri sendiri.
Namun di balik kesederhanaannya, tidak semua nasihat itu benar. Beberapa justru menyesatkan, menciptakan ekspektasi yang tidak realistis, dan memperburuk konflik dalam hubungan.
Banyak orang mulai percaya bahwa cinta seharusnya selalu jelas, mudah, dan tanpa hambatan. Jika tidak, maka dianggap ada yang salah.
Padahal, hubungan manusia jauh lebih kompleks dari sekadar kalimat motivasi yang viral di layar ponsel. Ketika realitas tidak sesuai dengan narasi tersebut, konflik menjadi terasa lebih berat, bahkan memicu kesalahpahaman yang mendalam.
Menurut ulasan yang bersumber dari YourTango, seorang psikolog sosial, Dr. Sarah Hensley, mengungkap bahwa salah satu kebohongan terbesar dalam hubungan yang tersebar luas di media sosial adalah ungkapan:
“Jika dia mau, dia pasti akan melakukannya.”
Kalimat ini terdengar logis, namun dalam praktiknya, justru mengabaikan realitas psikologis yang jauh lebih dalam.
Berikut penjelasan mengapa anggapan tersebut bisa merusak cara pasangan menghadapi konflik:
1. Tidak Semua Perilaku Ditentukan oleh Keinginan, Tetapi oleh Kapasitas Emosional
Banyak orang mengira bahwa jika seseorang mencintai pasangannya, maka ia pasti akan menunjukkan cinta itu dengan sempurna. Namun kenyataannya, tidak semua orang memiliki kapasitas emosional yang sama.
Ada individu yang ingin hadir, ingin mencintai dengan baik, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Ini bukan soal niat, melainkan keterbatasan dalam mengelola emosi dan respons batin.
2. Luka Masa Lalu Membentuk Cara Seseorang Merespons Cinta
Menurut Dr. Hensley, gaya keterikatan seseorang terbentuk sejak masa kecil, terutama dari hubungan dengan pengasuh. Mereka yang memiliki kecenderungan menghindar sering kali merasa terancam oleh kedekatan emosional.
Saat konflik muncul, alih-alih mendekat, mereka justru menjauh—bukan karena tidak peduli, tetapi karena sistem saraf mereka merespons sebagai ancaman.
3. Respons ‘Membeku’ dan Menjauh Sering Disalahartikan
Dalam konflik, tidak semua orang akan bereaksi dengan marah atau melawan. Ada yang justru diam, bingung, bahkan merasa kosong. Respons ini dikenal sebagai “freeze” atau membeku.
Banyak pasangan salah mengartikan sikap ini sebagai ketidakpedulian, padahal sebenarnya itu adalah bentuk respons trauma yang tidak disadari.
4. Media Sosial Menyederhanakan Sesuatu yang Seharusnya Dipahami Secara Mendalam
Ungkapan seperti “kalau dia mau, dia pasti bisa” menghapus kompleksitas manusia. Ini membuat seseorang mudah menyalahkan pasangan tanpa mencoba memahami latar belakang emosionalnya.
Akibatnya, konflik tidak diselesaikan, melainkan semakin dalam karena kedua pihak merasa tidak dimengerti.
5. Kunci Hubungan Sehat Ada pada Kesadaran dan Penyembuhan Diri
Daripada berpegang pada narasi sederhana, penting untuk memahami respons diri sendiri dalam hubungan.
Setiap orang memiliki pola trauma yang berbeda, dan tidak ada yang lebih “buruk” atau “lebih baik”. Yang terpenting adalah belajar mengelola emosi, membangun keterampilan komunikasi, dan perlahan menyembuhkan luka batin yang memengaruhi cara mencintai.
Pada akhirnya, hubungan bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang mau belajar memahami. Keinginan saja tidak cukup tanpa kemampuan untuk hadir secara emosional. Ketika seseorang mulai menyadari asal-usul reaksinya, di situlah perubahan dimulai.
Media sosial mungkin menawarkan jawaban cepat, tetapi cinta sejati selalu membutuhkan proses yang lebih dalam—yakni keberanian untuk mengenal diri sendiri sebelum menuntut orang lain untuk sempurna.