← Beranda
4 Alasan Menyakitkan yang Bikin Kamu Susah Putus dan Sering Beri Kesempatan Kedua
Ryandi Zahdomo• Rabu, 1 April 2026 | 05.31 WIB
Ilustrasi Hubungan Toxic (stockking/freepik)

JawaPos.com - Memberi kesempatan kedua dalam sebuah hubungan sering kali dianggap sebagai bentuk ketulusan.

Namun, apa jadinya jika "satu kesempatan lagi" berubah menjadi siklus tanpa akhir?

Banyak orang terjebak dalam hubungan beracun jauh lebih lama dari yang seharusnya, bahkan ketika tanda bahaya (red flag) sudah berkibar nyata di depan mata.

Fenomena ini bukan sekadar masalah cinta buta. Ada alasan psikologis dan situasi mendalam yang membuat seseorang merasa mustahil untuk melangkah pergi.

Baca Juga: Cek Cara Tertawamu! NASA Ungkap Hubungan Tawa dengan Tingkat Kecerdasan Emosional

Mereka sering kali berharap bisa menjadi "sosok ajaib" yang mampu mengubah perilaku pasangannya, padahal kenyataannya mereka sedang mengorbankan kesejahteraan diri sendiri.

Bertahan dalam hubungan yang tidak sehat sering kali memicu konflik batin yang hebat.

Teman dan keluarga mungkin sudah memohon agar Anda pergi, namun ada ikatan tak kasat mata yang menahan langkah Anda.

Dilansir dari YourTango, para ahli mengungkapkan bahwa keputusan untuk bertahan biasanya didorong oleh faktor-faktor yang menyakitkan.

Berikut adalah 7 alasan mendalam mengapa seseorang sulit melepaskan pasangan yang buruk.

Baca Juga: 4 Zodiak yang Perlu Jeda di Dalam Hubungan, Butuh Ruang Privasi untuk Diri Sendiri agar Tidak Merasa Terkekang

1. Ketergantungan dan Stabilitas Finansial

Uang sering kali menjadi faktor utama yang memaksa seseorang untuk tetap bertahan. +

Banyak pasangan yang terjebak karena mereka tidak memiliki keamanan finansial secara mandiri.

Hal ini menciptakan perasaan "terperangkap" yang sangat menyiksa, terutama bagi mereka yang bergantung pada pendapatan utama pasangan.

Penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan finansial menciptakan stres yang luar biasa dalam pernikahan.

Bahkan, sekitar 46% korban kekerasan dalam rumah tangga melaporkan bahwa kekurangan uang adalah alasan signifikan mengapa mereka akhirnya kembali kepada pelaku kekerasan.

Baca Juga: 10 Ciri Kepribadian yang Sering Dimiliki oleh Orang-Orang yang Tidak Memiliki Teman Dekat Menurut Psikologi

Kondisi ini membuat perpisahan terasa seperti ancaman kelaparan atau kehilangan tempat tinggal.

Tanpa adanya kemandirian ekonomi, logika untuk menyelamatkan diri sering kali kalah oleh kebutuhan dasar untuk bertahan hidup secara fisik.


Rasa takut tidak bisa menghidupi diri sendiri atau anak-anak menjadi tembok besar yang menghalangi pintu keluar.

Pada akhirnya, penderitaan emosional dianggap "lebih aman" daripada ketidakpastian ekonomi di luar sana.

2. Ketakutan akan Dampak Negatif pada Keluarga

Menjaga keutuhan keluarga demi anak-anak adalah alasan klasik yang sering terdengar.

Baca Juga: Orang yang Membiarkan Cucian di Mesin Pengering Selama Berhari-hari Biasanya Menunjukkan 8 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

Banyak pasangan memilih berpura-pura bahagia demi menghindari trauma perceraian pada anak, orang tua, atau kerabat lainnya.

Mereka lebih memilih menunggu hingga anak-anak dewasa sebelum memutuskan berpisah.

Sebuah studi tahun 2019 mengungkapkan bahwa anak-anak dari orang tua yang bercerai memang memiliki risiko gangguan kesehatan mental yang lebih tinggi.

Fakta medis ini sering kali menjadi beban moral yang berat bagi orang tua, sehingga mereka rela mengorbankan kebahagiaan pribadi.

Selain faktor anak, tekanan agama dan sosial juga memegang peranan penting. Di beberapa lingkungan, perceraian masih dianggap tabu dan dapat menyebabkan pengucilan dari komunitas atau keluarga besar.

Baca Juga: Orang yang Membuat Orang Asing Merasa Nyaman Secara Instan Memiliki 8 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

Ketakutan akan dikucilkan atau kehilangan hak asuh anak membuat banyak orang memilih untuk bertahan dalam "ilusi stabilitas."

Mereka lebih takut pada penilaian orang lain daripada kehancuran mental yang mereka alami di dalam rumah.

3. Dinamika Hubungan yang Tidak Sehat dan Rasa Percaya Diri

Ketergantungan emosional yang kronis membuat seseorang percaya bahwa sendirian jauh lebih menakutkan daripada disakiti pasangan.

Dinamika ini dipicu oleh ketakutan luar biasa terhadap hal-hal yang tidak diketahui di masa depan jika mereka memilih pergi.

Rendahnya harga diri juga menjadi penghambat besar. Banyak orang yang bertahan karena merasa mereka tidak pantas mendapatkan kebahagiaan atau perlakuan yang lebih baik.

Baca Juga: Orang yang Berbisik “Maaf” kepada Furnitur yang Mereka Tabrak Memiliki 7 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

Penelitian dari Universitas Waterloo menemukan bahwa orang dengan harga diri rendah cenderung menghindari konflik agar tidak ditolak.

Penderitaan ini diperparah jika pasangan adalah seorang narsisis yang gemar melakukan gaslighting.

"Orang-orang yang menjadi korban kendali kasar seorang narsisis (terutama gaslighting) biasanya menjadi tidak percaya diri dalam semua aspek diri mereka, mulai dari penampilan hingga kestabilan mental dan kecerdasan mereka," ujar Terapis Dr. Gloria Brame.


Akibatnya, korban mulai mempercayai bahwa semua masalah adalah kesalahan mereka sendiri.

Mereka kehilangan kemampuan untuk mempercayai persepsi dan penilaian mereka sendiri, sehingga pintu keluar terlihat semakin kabur.

Baca Juga: Jika Anda Terganggu Secara Tidak Rasional oleh Orang yang Berisik, Anda Kemungkinan Memiliki 7 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

4. Jebakan Masa Kecil dan Ikatan Trauma

Mengapa kita sering mengulangi pola buruk yang sama? Jawabannya ada pada cara kerja otak purba kita.

Fungsi utama otak adalah bertahan hidup, dan terkadang ia mengarahkan kita pada situasi yang familiar—meskipun menyakitkan—karena otak merasa kita pernah "selamat" di situasi serupa saat kecil.

"Di sinilah letak rahasia kelam mengapa kita sering mengulangi, bahkan secara aktif mencari, hal-hal buruk yang kita alami di masa kanak-kanak," kata CEO Control Stress, Fritz George Sauer.

Otak secara bawah sadar menganggap lingkungan yang buruk sebagai tempat yang "aman" karena sudah dikenal.

Selain itu, ada yang disebut sebagai ikatan trauma (trauma bonding). Pelatih hubungan Donna Andersen menjelaskan bahwa keterikatan ini berkembang dari ketidakseimbangan kekuasaan dan perlakuan yang tidak konsisten, antara sangat baik dan sangat buruk.

Baca Juga: Jika Anda Selalu Merasa Seperti Orang Luar dalam Keluarga Sendiri, Anda Mungkin Memiliki 7 Ciri Kepribadian Langka Ini Menurut Psikologi

"Karena Anda tidak pernah tahu kapan Anda akan mendapatkan imbalan berupa pasangan yang penuh kasih dan perhatian, Anda terus berusaha untuk mendapatkan persetujuan," ungkap Andersen.

Sikap ini membuat otak terpaku pada momen-momen indah yang langka, sehingga mengabaikan rentetan kekerasan yang terjadi setiap hari.

 

 

EDITOR: Bayu Putra