JawaPos.com - Kecenderungan untuk memaafkan dan mencari pembenaran atas perilaku buruk seseorang yang kita sayangi seringkali terjadi secara naluriah.
Anda mungkin sering berkata dalam hati, "Dia tidak bermaksud begitu" atau "Memang karakternya begitu," demi menjaga hubungan tetap aman.
Sayangnya, sikap pemakluman yang dilakukan secara terus menerus justru akan mengikis batasan pribadi kita, membuat Anda mulai mentoleransi hal-hal yang sebelumnya tidak akan pernah diterima, melansir dari Global English Editing Selasa (21/10).
Intinya, menjaga harga diri bukanlah tindakan egois, tetapi satu di antara fondasi penting dari setiap hubungan yang sehat, tidak peduli seberapa dekatnya hubungan itu.
1. Kritik Terus-menerus yang Disamarkan sebagai "Nasihat Bermanfaat"
Umpan balik yang konstruktif memang berharga dan membantu Anda untuk berkembang menjadi lebih baik lagi. Namun, ada perbedaan mendasar antara bimbingan tulus dengan penghakiman yang hanya bertujuan menjatuhkan mental dan harga diri Anda. Seseorang yang terus menerus mengkritik penampilan, pilihan, atau impian Anda, bahkan dengan dalih "hanya bersikap jujur," perlahan akan mengikis kepercayaan diri Anda. Orang yang sehat secara emosional akan selalu mendukung dan menantang Anda dengan kebaikan, bukan dengan nada merendahkan.
2. Manipulasi dengan Rasa Bersalah atau Pemerasan Emosional
Frasa seperti, "Jika kamu benar-benar mencintaiku, kamu pasti akan melakukan ini" atau "Setelah semua yang telah kulakukan untukmu," adalah contoh jelas pemerasan emosional. Perilaku beracun ini adalah bentuk pengendalian yang halus, memakai rasa bersalah, kewajiban, atau ketakutan untuk memaksa Anda agar mengikuti kemauan mereka. Orang tersebut akan mengubah kasih sayang menjadi alat tawar-menawar, sehingga afeksi menjadi bersyarat.
3. Tidak Menghormati Batasan Pribadi Anda
Batasan adalah garis tak terlihat yang berfungsi melindungi kesejahteraan fisik, mental, dan emosional diri Anda secara utuh. Jika seseorang secara konsisten melanggar batasan yang telah Anda tetapkan, itu adalah pertanda bahwa mereka tidak menghargai otonomi dan kendali penuh Anda atas diri sendiri. Mengabaikan penolakan Anda, mengorek masalah pribadi, atau mengabaikan kebutuhan Anda akan ruang sendiri adalah bentuk ketidakhormatan yang serius. Orang yang benar-benar peduli pada Anda akan menghormati batasan yang sudah Anda tentukan tanpa perlu penjelasan berlebihan.
4. Perilaku Agresif-Pasif dan Pemberian 'Hukuman' Diam
Orang yang dewasa secara emosional akan berkomunikasi secara terbuka ketika mereka sedang frustrasi atau marah pada Anda. Sebaliknya, orang yang memilih menggunakan perlakuan diam, sindiran, atau komentar terselubung alih-alih percakapan terbuka, menunjukkan ketidakdewasaan secara emosional. Agresi-pasif adalah cara terselubung untuk mengungkapkan amarah tanpa harus bertanggung jawab atas emosi yang mereka rasakan saat itu. Pada akhirnya, Anda akan merasa berjalan di atas kulit telur karena tidak tahu pasti apa kesalahan yang sudah dilakukan.
5. Membuat Anda Merasa Bersalah atas Emosi Anda
Pernahkah Anda mengungkapkan rasa sakit hati, namun malah dituduh "terlalu sensitif" atau "bereaksi berlebihan" oleh orang terdekat? Itu adalah validasi emosional yang justru terasa merusak karena membuat Anda merasa emosi yang dirasakan adalah sebuah masalah. Emosi adalah satu di antara bagian dari kodrat manusia yang harus diakui, meskipun tidak selalu dapat diterima secara rasional. Seseorang yang peduli tidak harus selalu setuju dengan emosi Anda, namun mereka tetap akan menghormatinya.
6. Mengubah Setiap Situasi Menjadi Kompetisi
Dalam hubungan yang sehat, Anda harusnya ikut merayakan kesuksesan orang lain, dan begitu pula sebaliknya. Akan tetapi, ada beberapa orang yang selalu berusaha untuk mengungguli Anda. Jika Anda mendapatkan promosi, mereka akan meremehkan dengan mengatakan "nyaris mendapat tawaran yang lebih besar" agar Anda merasa pencapaian Anda tidak berarti. Perilaku semacam ini mengungkapkan rasa iri dan ketidakamanan yang mendalam dalam diri mereka. Kedekatan sejati hanya dapat tumbuh subur dalam atmosfer perayaan timbal balik, bukan perbandingan yang melelahkan.
7. Menyalahkan Anda atas Kesalahan Mereka
Setiap orang pasti melakukan kesalahan, tetapi orang yang dewasa secara emosional akan bertanggung jawab penuh atas tindakan mereka. Ketika seseorang menolak untuk bertanggung jawab dan malah menyalahkan Anda setiap kali terjadi sesuatu yang buruk, itu adalah manipulasi emosional. Pola ini akan merusak diri Anda secara mendalam sebab Anda mulai meragukan diri sendiri dan meminta maaf atas hal-hal yang bukan merupakan kesalahan Anda. Kedekatan sejati tidak mungkin terwujud tanpa adanya akuntabilitas, kejujuran, dan kesediaan mengakui kesalahan yang telah diperbuat.
8. Menggunakan Cinta atau Kedekatan sebagai Senjata
Pengkhianatan yang paling menyakitkan seringkali datang dari orang terdekat sebab mereka memutarbalikkan kasih sayang menjadi bentuk pengendalian emosi. Mereka mungkin akan menahan kasih sayang saat Anda menolak menuruti kemauan mereka. Mereka juga mungkin membuat Anda merasa tidak berharga ketika Anda mulai menunjukkan kemandirian, atau berkata, "Kamu tidak akan pernah menemukan seseorang yang peduli padamu seperti aku." Ingatlah, cinta sejati seharusnya membuat Anda merasa aman dan tidak pernah memaksa Anda untuk meragukan harga diri Anda sendiri.
Banyak orang diajarkan untuk menjaga kedamaian, bersikap sopan, atau menghindari konflik, bahkan dengan mengorbankan diri sendiri dan perasaan yang sedang dialami. Namun, setiap kali Anda membiarkan seseorang melanggar batasan Anda tanpa konsekuensi berarti, Anda hanya akan memperkuat gagasan bahwa Anda tidak layak mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari itu. Mengenali apa yang terasa salah adalah langkah awal yang paling penting untuk berani menegaskan nilai diri Anda sendiri. Pada intinya, Anda tidak berutang akses kepada siapa pun hanya karena Anda peduli pada mereka.