← Beranda
8 Hal yang Dilakukan Orang Hidup Pas-pasan di Toko Kelontong, Pernah Begini Juga?
Mohammad Maulana IqbalMinggu, 12 Oktober 2025 | 20.18 WIB
hal yang dilakukan orang hidup pas-pasan di toko kelontong./Freepik/ freepik

JawaPos.com – Psikologi bisa membaca banyak hal dari kebiasaan kecil, termasuk perilaku orang hidup pas-pasan saat belanja di toko kelontong.

Bagi orang hidup pas-pasan, toko kelontong sering menjadi tempat utama memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan cara sederhana.

Psikologi menilai bahwa kebiasaan di toko kelontong dapat mencerminkan strategi bertahan hidup orang hidup pas-pasan.

Hidup pas-pasan membuat seseorang punya cara unik saat memilih barang di toko kelontong agar tetap hemat.

Perilaku orang hidup pas-pasan di toko kelontong akhirnya menjadi cermin psikologi keseharian yang penuh makna.

Dilansir dari geediting.com pada Minggu (12/10), bahwa ada delapan hal yang dilakukan orang hidup pas-pasan di toko kelontong.

Baca Juga: Akun Medsos Tuding AHY Salip Mobil Sri Sultan HB X Pakai Tot Tot Wuk Wuk, Kemenko Infrastruktur Bantah

  1. Selalu berpegang teguh pada daftar belanja

Orang yang mengalami masa kecil dengan kondisi finansial terbatas biasanya memiliki kebiasaan membuat daftar belanja yang sangat detail dan mendetail.

Mereka tidak hanya menganggap daftar tersebut sebagai pengingat semata, melainkan sebagai alat disiplin untuk mencegah pengeluaran yang tidak perlu terjadi.

Ketika memasuki supermarket, mereka sudah memiliki rencana yang jelas tentang barang apa saja yang harus dibeli tanpa ada ruang untuk pembelian impulsif.

Kebiasaan ini membuat mereka keluar dari toko dengan membawa persis barang-barang yang sudah direncanakan sebelumnya, tidak lebih dan tidak kurang.

Disiplin dalam berbelanja ini sebenarnya merupakan pelajaran hidup yang berharga tentang pengelolaan anggaran dan kontrol keuangan.

Kemampuan mengendalikan diri saat berbelanja menjadi keterampilan yang berguna dalam berbagai aspek kehidupan finansial lainnya.

Baca Juga: Direstui Jadi Ningrat! 5 Weton Istimewa Berhasil Menarik Perhatian Eyang Semar dan Sukses Menerima Kekayaan Semesta

  1. Selalu mengecek harga per satuan

Mereka memiliki kebiasaan refleks untuk selalu memeriksa harga per unit atau per satuan dari setiap produk yang ingin dibeli.

Tidak cukup hanya melihat harga yang tertera di label, mereka akan menghitung dan membandingkan nilai per gram, per liter, atau per pieces dari berbagai pilihan yang tersedia.

Meski kemasan besar tampak menggiurkan, mereka tidak tergesa-gesa mengambilnya jika ternyata harga per satuannya lebih mahal dibanding kemasan yang lebih kecil.

Kebiasaan sederhana ini telah menghemat pengeluaran mereka dalam jumlah yang signifikan selama bertahun-tahun.

Bagi mereka, hal ini bukan hanya tentang menghemat uang, tetapi juga memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan nilai maksimal.

Perhitungan cermat ini mencerminkan pemahaman mendalam bahwa setiap sen memiliki nilai penting dan harus dimanfaatkan dengan bijak.

  1. Memilih produk merek generik

Produk dengan merek generik atau merek distributor menjadi pilihan utama mereka karena menyadari kualitasnya tidak kalah dari produk bermerek terkenal.

Mereka memahami bahwa banyak produk generik diproduksi di pabrik yang sama dengan produk bermerek mahal, hanya berbeda pada kemasan dan label saja.

Pilihan ini bukan karena tidak mampu membeli produk bermerek, melainkan karena kesadaran bahwa yang terpenting adalah isi produk, bukan kemasan atau prestise mereknya.

Mereka tidak terpengaruh oleh iklan atau tampilan kemasan yang menarik jika hal tersebut hanya menambah biaya tanpa memberikan nilai lebih pada produk.

Keputusan ini didasari oleh pengalaman bahwa seringkali produk generik memberikan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Sikap pragmatis ini membantu mereka mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan lain yang lebih penting.

  1. Ahli dalam merencanakan menu makanan

Perencanaan menu mingguan menjadi rutinitas wajib yang selalu mereka lakukan sebelum pergi berbelanja bahan makanan.

Mereka sudah menentukan dengan pasti makanan apa saja yang akan dimasak selama satu minggu ke depan dan menyesuaikan daftar belanja dengan rencana tersebut.

Kebiasaan ini tidak hanya menghemat pengeluaran, tetapi juga secara signifikan mengurangi pemborosan makanan karena setiap bahan yang dibeli memiliki tujuan yang jelas.

Dengan perencanaan yang matang, mereka dapat menghindari pembelian bahan makanan yang akhirnya tidak terpakai dan berakhir di tempat sampah.

Perencanaan menu juga menghemat waktu dan energi mental selama hari kerja karena tidak perlu memikirkan menu mendadak di malam hari.

Sistem ini memungkinkan mereka untuk berbelanja dengan efisien dan memastikan setiap pembelian memberikan kontribusi nyata untuk kebutuhan keluarga.

  1. Tidak mudah tergoda dengan promosi penjualan

Meskipun penawaran diskon dan promosi tampak menarik, mereka memiliki kemampuan untuk menahan diri dan tidak mudah terpengaruh.

Sebelum memutuskan membeli barang yang sedang diskon, mereka selalu bertanya pada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau tidak.

Jika jawabannya tidak, maka sebesar apapun potongan harga yang ditawarkan tidak akan membuat mereka mengubah keputusan.

Mereka memahami bahwa menghemat uang bukan tentang berapa banyak yang dibelanjakan dengan diskon, melainkan berapa banyak yang tidak dikeluarkan untuk barang yang tidak perlu.

Sesekali mereka memang memanfaatkan promosi, tetapi hanya untuk barang-barang yang memang sudah masuk dalam rencana pembelian sebelumnya.

Prinsip dasar mereka adalah lebih baik tidak membeli sama sekali daripada membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan meski harganya murah.

  1. Membeli dalam jumlah besar untuk produk tertentu

Meski tampak kontradiktif karena membutuhkan pengeluaran lebih besar di awal, mereka memahami konsep ekonomi jangka panjang dari pembelian dalam jumlah besar.

Untuk barang-barang yang tidak mudah rusak atau produk yang rutin digunakan sehari-hari, mereka tidak ragu mengeluarkan dana lebih besar untuk mendapatkan harga satuan yang lebih murah.

Strategi ini memerlukan perencanaan anggaran yang cermat dan kemampuan menghitung proyeksi kebutuhan dalam periode waktu tertentu.

Mereka memastikan barang yang dibeli dalam jumlah besar adalah produk yang pasti akan habis digunakan sebelum masa kadaluwarsa atau rusak.

Pembelian ini dilakukan dengan perhitungan matang tentang kapasitas penyimpanan dan kemampuan menggunakan barang tersebut dalam jangka waktu yang wajar.

Bagi mereka yang sudah menguasai seni berhemat, strategi ini menjadi bagian alami dari rutinitas berbelanja yang efisien.

  1. Memaksimalkan penggunaan sisa makanan

Konsep tidak membuang makanan menjadi prinsip fundamental yang mereka pegang teguh dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan saat berbelanja, mereka sudah memikirkan cara memanfaatkan setiap bahan makanan secara maksimal dan bagaimana mengolah sisa makanan menjadi hidangan baru.

Keahlian mereka dalam mengubah makanan sisa menjadi menu yang berbeda dan menarik merupakan hasil dari kreativitas yang diasah oleh kebutuhan.

Pendekatan ini bukan hanya soal menghemat uang, tetapi juga mencerminkan rasa hormat terhadap makanan dan pemahaman bahwa setiap bahan makanan memiliki nilai.

Mereka mampu melihat potensi dalam setiap sisa makanan dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat alih-alih membuangnya.

Filosofi "tidak ada yang terbuang" ini menjadi bagian integral dari cara mereka mengelola dapur dan anggaran rumah tangga.

  1. Memahami nilai sejati dari uang

Yang paling mendasar, mereka memiliki pemahaman yang mendalam tentang arti sebenarnya dari setiap rupiah yang dimiliki.

Setiap keputusan pembelian didasari oleh pertimbangan yang matang antara kebutuhan dan keinginan, dengan selalu memprioritaskan hal-hal yang benar-benar penting.

Mereka mampu membedakan dengan tegas antara apa yang dibutuhkan dan apa yang sekadar diinginkan, serta memiliki keberanian untuk mengatakan tidak pada godaan konsumtif.

Pendekatan berbelanja mereka tidak hanya ramah anggaran, tetapi juga berkelanjutan dan efisien dalam jangka panjang.

Setiap transaksi yang dilakukan merupakan hasil dari evaluasi yang teliti tentang manfaat dan nilai yang akan diperoleh.

Pemahaman mendalam tentang nilai uang ini menjadi keterampilan hidup yang berharga, tidak peduli seberapa baik kondisi finansial seseorang di masa depan.

EDITOR: Hanny Suwindari