JawaPos.com – “Ah, cuma merapikan feed Instagram, ya kan?” Mungkin banyak dari kita berpikir begitu.
Namun dari kebiasaan sepele itu sebenarnya bisa terselip gejala serius alias gangguan obsesif kompulsif tersembunyi.
Kekiniannya tren ‘feed yang rapi’ seolah hanya estetika, padahal bisa jadi alarm dini kecemasan mendalam.
Instagram dan ‘Perang Estetik’
Platform visual seperti Instagram menuntut citra sempurna berupa feed yang serasi, posting yang terkurasi rapi, dan feed grid yang clean.
Banyak pengguna menghabiskan waktu tak sedikit hanya untuk menyelaraskan warna, menghapus posting yang dianggap kurang cocok, atau menata ulang grid demi estetika.
Terlihat wajar? Mungkin saja, terutama jika hanya untuk kesenangan.
Namun studi menunjukkan, orang dengan gejala OCD cenderung memberikan fokus berlebih kepada media sosial, termasuk Instagram.
PMC menyebutkan, mereka lebih terpengaruh dalam hal mood, dan lebih rentan terhadap kecanduan digital dan strategi koping yang tidak sehat.
Saat Rasa ‘Rapi’ Lambat Laun Mengusik
OCD alias gangguan obsesif kompulsif sebenarnya bukan soal kebersihan atau ketertiban yang berlebihan.
Baca Juga: Putu Ayu, Camilan Manis yang Pas untuk Menemani Long Weekend
Menurut Healthline, OCD adalah kondisi kronis yang ditandai oleh obsesi atau pikiran mengganggu yang berulang dan kompulsi atau ritual tindakan untuk meredakan kecemasan. Banyak orang tahu hal ini, bahkan 2–3% orang di AS mengalaminya.
Perlu digarisbawahi, jika tindakan merapikan feed dilakukan sebagai pilihan estetika, biasanya tak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Namun jika dilakukan untuk meredakan kecemasan, mundur tidur karena merasa ‘grid belum sempurna’, terus-menerus menghapus atau mengunggah ulang demi rasa ‘lega’, nah! Itu bisa jadi kompulsi yang tersembunyi di balik estetika.
Obsesif yang Tak Terlihat Tapi Menyita
Ada yang menyebut ini sebagai primarily obsessional OCD, di mana gejala tidak terlihat secara fisik melainkan berupa pikiran berulang (ruminasi) yang membuat seseorang merasa harus bertindak demi rasa aman atau ‘tepat’.
Sama seperti seseorang yang terus merapikan feed agar merasa semua aman, sesuai, dan benar.
Begitulah, meski tampak sepele di permukaan, kompulsi digital seperti terus mengedit dan menyusun grid bisa jadi cara tubuh dan pikiran menenangkan diri, namun justru memperkuat rasa cemas.
Dalam situs People, podcaster Bunnie XO mengingatkan, OCD bukan tentang kebersihan semata.
Ia mengungkap bahwa OCD melibatkan pikiran yang mengganggu, menyebabkan kecemasan luar biasa, dan ritual berulang yang sebenarnya melelahkan dan tidak menyembuhkan, bahkan hanya memberi rasa tenang sementara.
Analoginya mirip ketika kamu merasa feed Instagram tidak sempurna, tapi merapikannya tidak menghilangkan rasa tidak tenang, malah rasa itu akan kembali.
Ini ciri khas siklus obsesi kompulsi berupa ketidaknyamanan mendorong tindakan, tindakan memberi sedikit penawar sementara, lalu obsesi kembali.
Ciri-ciri ‘Merapikan Feed’ yang Perlu Diwaspadai
Menurut Health, jika kamu mengenali beberapa tanda berikut, lebih bijaklah untuk mulai refleksi:
-
Kamu merasa tidak nyaman tidur atau publikasi jika grid belum cocok visual.
-
Merasa waktu berharga tergerus hanya untuk menyusun ulang post demi estetika.
-
Terus mengedit atau menghapus posting hanya demi rasa ‘pas’.
-
Ketika kamu tidak melakukan rutinitas itu, muncul kecemasan atau rasa ‘gatal’ yang sulit diabaikan.
Ini bukan kritik, tapi ajakan untuk menyadari apakah kebiasaan itu sehat atau bisa saja ada sesuatu yang lebih dalam.
Apabila kebiasaan estetik ini mulai mengganggu tidur, pekerjaan, atau suasana hati, bukan salah jika menimbang untuk bicara dengan profesional.
Terapi perilaku kognitif (CBT), termasuk teknik Exposure and Response Prevention (ERP), terbukti efektif untuk mengurai siklus obsesif kompulsi.
Perlahan, orang yang sebelumnya merapikan feed karena kecemasan bisa belajar untuk menahan diri dan mengatasi rasa risau tanpa merapikan terus-menerus.
Merapikan feed Instagram itu tren dan sah-sah saja. Tapi jika dilakukan sebagai respons terhadap kecemasan dan jadi rutinitas yang tak tertahankan, bisa jadi itu tanda OCD tersembunyi.
Daripada terjebak dalam pusaran estetika tanpa sadar, lebih baik bertanya apakah ini benar-benar pilihan, atau hanya usaha meredam kegelisahan?
Jika langkanya pantauan estetik bikin hati lega sesaat, namun rasa gelisah kembali dan menguasai, mari sadari, dan jika perlu, mintalah dukungan profesional.