JawaPos.com – Pernahkah Anda merasa lelah karena selalu mendahulukan kepentingan orang lain? Fenomena ini ternyata umum dialami banyak orang, terutama mereka yang terbiasa menjadi “penolong” dalam lingkaran sosialnya. Namun, para psikolog menegaskan bahwa belajar memprioritaskan diri sendiri justru merupakan langkah penting agar hidup lebih seimbang, sehat, dan bahagia.
Apa itu memprioritaskan diri sendiri?
Menurut Psychology Today (2017), memprioritaskan diri bukan berarti egois atau tidak peduli pada orang lain. Sebaliknya, hal ini adalah seni menempatkan kebutuhan pribadi—baik fisik, emosional, maupun mental—pada posisi yang semestinya. Dengan cara ini, seseorang memiliki energi dan kestabilan lebih baik untuk tetap mendukung orang-orang di sekitarnya.
Situs Psychology Everywhere menambahkan, membangun batasan sehat (healthy boundaries) adalah inti dari praktik ini. Tanpa batasan, seseorang cenderung kehilangan arah, merasa kewalahan, dan bahkan berisiko mengalami burnout.
Psikolog menyebut, individu yang kerap mengabaikan diri demi orang lain menjadi kelompok paling rentan. Mereka antara lain pekerja sosial, tenaga kesehatan, orang tua, hingga mahasiswa aktif dalam berbagai organisasi. Menurut Sova Project Pittsburgh, kelompok ini sering mengalami tekanan berlebih karena kesulitan menolak permintaan meski sebenarnya tidak sanggup.
Keterampilan memprioritaskan diri bisa diterapkan di berbagai aspek kehidupan.
-
Di dunia kerja, artinya tahu kapan harus beristirahat dan kapan berkata “tidak” pada pekerjaan tambahan yang berlebihan.
-
Dalam keluarga, hal ini membantu seseorang menyeimbangkan peran sebagai pasangan, anak, atau orang tua tanpa mengorbankan kesehatan pribadi.
-
Di lingkaran sosial, kemampuan ini justru menumbuhkan relasi yang lebih sehat. Teman atau pasangan yang baik seharusnya menghargai kebutuhan kita untuk mengambil waktu sendiri (me time) tanpa rasa bersalah.
Kapan harus memulainya?
Menurut Therapyside (2023), praktik memprioritaskan diri bisa dimulai dari hal kecil, seperti menyediakan waktu 15 menit per hari untuk aktivitas pribadi yang menyenangkan. Misalnya membaca buku, menulis jurnal, atau sekadar berjalan kaki. Rutinitas sederhana ini memperkuat kesadaran bahwa diri sendiri pun layak mendapat perhatian.
Mengapa penting bagi kesehatan mental?
Psikologi menjelaskan, manusia yang terlalu sering mengabaikan dirinya berisiko mengalami stres kronis, rasa rendah diri, hingga kelelahan emosional. Sebaliknya, dengan mengutamakan kebutuhan pribadi, seseorang mampu mengisi kembali “tangki energi” mereka.
Penelitian dari Psychology Spot (2019) membuktikan, orang yang rutin melakukan self-care dan tahu kapan memprioritaskan diri cenderung lebih tahan terhadap stres serta memiliki kualitas hubungan yang lebih sehat.
Lebih jauh, memprioritaskan diri juga membantu meningkatkan kualitas keputusan. Saat seseorang terbiasa menekan kebutuhan pribadi demi orang lain, pikirannya mudah tertekan sehingga sulit membuat pilihan yang jernih. Dengan memberi ruang pada diri sendiri, individu lebih mampu menimbang konsekuensi dan berpikir rasional.
Selain itu, memprioritaskan diri tidak berarti memutus hubungan dengan orang lain. Justru, orang yang sehat secara emosional lebih mampu menjalin interaksi positif. Mereka bisa hadir dengan penuh empati karena energi dan kondisi mentalnya tidak terkuras. Seperti ditegaskan BINUS Online (2020), keseimbangan hidup tercapai ketika seseorang mampu merawat diri sekaligus tetap terhubung dengan lingkungannya.
Bagaimana cara memulai memprioritaskan diri sendiri?
Para ahli memberikan beberapa strategi praktis yang bisa diterapkan sehari-hari:
-
Kenali kebutuhan pribadi. Catat hal-hal yang membuat Anda bahagia dan sehat, baik secara fisik maupun emosional.
-
Buat batasan sehat. Belajar berkata “tidak” pada hal yang melewati kapasitas Anda.
-
Jadwalkan me time. Alokasikan waktu khusus untuk diri sendiri, sekecil apa pun.
-
Kelola ekspektasi sosial. Berhenti merasa bersalah karena tidak selalu bisa menyenangkan semua orang.
-
Rayakan pencapaian kecil.Memberi penghargaan setelah menyelesaikan tugas akan menjaga motivasi tetap stabil.
Belajar memprioritaskan diri bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk tanggung jawab untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Dengan memahami kapan harus berkata “ya” dan kapan perlu menolak, seseorang bisa menciptakan kehidupan yang lebih bahagia, produktif, dan bermakna—baik dalam hubungan sosial, pekerjaan, maupun keluarga.