← Beranda

Keunikan Perayaan Ramadhan di Berbagai Negara dengan Tradisi yang Beragam

Risma Azzah FatinMinggu, 1 Maret 2026 | 03.28 WIB
Ilustrasi tradisi yang dijalankan pada bulan Ramadhan (Freepik)

JawaPos.com – Ramadhan merupakan bulan kesembilan dalam kalender Hijriah yang berlangsung selama 29 hingga 30 hari, bergantung pada hasil rukyatulhilal.

Pada bulan suci ini, setiap amalan ibadah diyakini dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT, sehingga umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah seperti puasa, salat sunah, dan tadarus al-Qur’an.

Bagi sekitar 1,8 miliar Muslim di seluruh dunia, Ramadan menjadi momentum untuk memperbanyak doa, berbagi kepada sesama, serta melatih pengendalian diri melalui puasa sejak fajar hingga terbenam matahari.

Baca Juga: 5 Perilaku Kecil yang Tanpa Disadari Berpotensi Menyebabkan Gangguan Kecemasan

Tradisi Ramadan pun memiliki corak yang beragam di berbagai negara, mulai dari kebiasaan mengumpulkan permen hingga menyalakan meriam sebagai penanda waktu berbuka.

Dilansir dari laman World Remit, berikut beberapa tradisi pada bulan Ramadhan dari berbagai negara.

  1. Turki

Jika Anda mengunjungi Turki selama bulan Ramadan, bersiaplah untuk perayaan yang sangat meriah, yang memadukan antara yang lama dan yang baru.

Baca Juga: 5 Pendekatan Psikologi yang Dilakukan Orang Sukses dalam Menjaga Kesehatan Mental

Tradisi Ramadan yang unik di Turki ini sudah ada sejak Kekaisaran Ottoman beberapa abad yang lalu, saat belum ada yang namanya jam alarm.

Para penabuh drum yang berdedikasi berbaris di jalan untuk membangunkan semua orang agar bisa sahur, yaitu makanan yang Anda santap saat fajar sebelum berpuasa. Yang membuatnya semakin menarik saat ini adalah para penabuh drum ini tidak mengenakan pakaian biasa, tetapi mengenakan kostum Ottoman, termasuk fez dan rompi.

Bagi para penyuka makanan manis, Anda juga akan tertarik untuk mengetahui bahwa manisan khas Turki, baklava, dan kue kering adalah makanan yang wajib ada untuk berbuka puasa.

Banyak keluarga memiliki resep khusus yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi Anda juga dapat menemukan makanan ini di pasar-pasar di seluruh negeri.

  1. Mesir

Ramadan di Mesir merupakan salah satu festival paling berwarna di seluruh dunia. Jalan-jalan dihiasi dengan lentera warna-warni yang disebut fanous dengan tujuan menyebarkan kegembiraan dan keceriaan. Kisah fanous bermula pada abad ke-10 hingga ke-12 dan berasal dari Kekhalifahan Fatimiyah.

Menurut legenda, ketika Kekhalifahan, pemimpin atau penguasa setempat, mengunjungi Kairo pada hari pertama Ramadan, penduduk setempat menyalakan lilin di jalan-jalan yang gelap untuk menyambut mereka.

Namun seiring berjalannya waktu, lilin-lilin tersebut telah berevolusi menjadi lentera berpola dan dicat indah yang dipasang sebagai hiasan atau terkadang terlihat di tangan anak-anak saat mereka berjalan di jalan sambil bernyanyi dan meminta permen.

  1. Uni Emirat Arab

Di Uni Emirat Arab, mereka memiliki hari istimewa yang disebut haq al laila yang berlangsung sebulan sebelum Ramadan pada tanggal 15 Sha’ban. Praktik ini secara umum dibandingkan dengan tradisi trick or treat di Barat.

Tradisi ini melibatkan anak-anak berdandan dengan pakaian yang cerah dan berwarna-warni dan berkeliling lingkungan mereka untuk mengumpulkan permen dan kacang-kacangan dalam tas jinjing.

Tradisi Ramadan ini merupakan bagian besar dari budaya Uni Emirat Arab dan banyak negara Teluk lainnya, karena tradisi ini menyoroti pentingnya ikatan lokal yang kuat, komunitas, persahabatan, dan nilai-nilai kekeluargaan.

Namun, ini bukan satu-satunya tradisi Ramadan di Uni Emirat Arab yang menekankan pada makanan. Mereka juga memiliki hidangan unik yang disajikan untuk berbuka puasa; hidangan saat Anda berbuka puasa di waktu senja.

Salah satu hidangan mereka yang paling terkenal adalah harees, gandum rebus yang dibumbui dengan daging. Makanan ini memiliki konsistensi yang mirip dengan bubur dan merupakan makanan hangat yang mengenyangkan perut dan jiwa.

  1. Maroko

Mirip dengan Turki, Maroko juga memiliki versi ‘jam alarm manusia' mereka sendiri yang disebut nafar. Nafar memiliki tanggung jawab dan kehormatan besar untuk membangunkan masyarakat tepat waktu untuk sahur dan pada malam terakhir Ramadan mereka diberi penghargaan atas jasa mereka sepanjang bulan.

Tidak seperti di Turki, nafar tidak mengenakan kostum Ottoman, tetapi dapat ditemukan mengenakan pakaian tradisional Maroko seperti topi gandora dan alih-alih menabuh genderang, Anda dapat mendengar mereka menyanyikan lagu-lagu doa di sepanjang jalan.

Jika berbicara tentang berbuka puasa, atau lebih tepatnya apa yang disebut orang Maroko sebagai berbuka puasa, mereka punya cara unik tersendiri.

Di Maroko, saat berbuka puasa, mereka memulainya dengan sesuatu yang ringan seperti kurma, jus, dan makanan manis lainnya. Hidangan yang lebih mengenyangkan adalah harir, sup miju-miju dan tomat hangat, serta telur rebus, kue kering gurih, dan ikan goreng.

  1. Indonesia

Karena 87% penduduk Indonesia beragama Islam, tidak mengherankan jika Ramadan dirayakan secara luas di seluruh negeri. Negara Asia Tenggara ini memiliki tradisi Ramadan yang unik.

Salah satunya, ada padusan, ritual penyucian yang dilakukan untuk membersihkan tubuh dan jiwa sebelum berpuasa dan berdoa. Sebelum hari pertama Ramadan, Anda akan melihat umat Muslim Indonesia mandi di kolam atau mata air alami untuk menyucikan diri dan mempersiapkan diri menghadapi bulan suci mendatang.

Umat ​​Islam Indonesia juga memiliki tradisi Ramadan lain yang disebut nyekar, yang berasal dari umat Islam Jawa.

Mereka percaya bahwa Ramadan adalah awal dari siklus kehidupan baru dan saatnya untuk memulai yang baru, sehingga mereka melakukan salat dan memberi penghormatan kepada mereka yang telah tiada.

  1. Lebanon

Lebanon memiliki banyak tradisi Ramadan yang sama dengan negara-negara tetangganya di Timur Tengah. Salah satunya adalah midfa al iftar dan ini merupakan salah satu tradisi tertua di dunia. Tradisi ini melibatkan penembakan meriam di akhir hari puasa untuk memberi tahu orang-orang bahwa sudah waktunya berbuka puasa.

Tradisi ini konon sebenarnya berasal dari Mesir dan bermula ketika seorang penguasa secara tidak sengaja menembakkan meriam saat matahari terbenam.

Namun, tradisi ini telah berkembang jauh dari sekadar kesalahan tembakan yang tidak disengaja menjadi tradisi yang ditunggu-tunggu setiap hari sepanjang bulan. Saat ini, Lebanon bahkan memiliki meriam bersejarah khusus untuk tujuan ini.

  1. Pakistan

Sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim, Ramadan sangat menyatu dengan budaya Pakistan dan mereka memiliki tradisi uniknya sendiri.

Saat berbuka puasa, makanan yang disajikan biasanya berupa minuman herbal beraroma mawar dan gorengan seperti samosa dan pakora.

Untuk menandai berakhirnya Ramadan dan dimulainya Idul Fitri, ada perayaan yang disebut chaand raat. Sebagai bagian dari perayaan ini, para wanita menggunakan henna dan membeli aksesoris berwarna-warni seperti gelang.

Untuk mengantisipasinya, para pemilik toko mendekorasi toko mereka khusus untuk acara ini dan mendirikan kios-kios henna sementara.

  1. Bangladesh

Setiap tahun saat Ramadan tiba, warga Bangladesh juga berkumpul untuk beribadah dan merayakan festival keagamaan yang berlangsung selama sebulan, seperti yang dilakukan banyak negara lain. Lampu dan dekorasi berjejer di jalan, toko, dan pasar saat banyak orang ikut serta.

Untuk berbuka puasa, hidangan istimewa seperti Jilapi, camilan manis yang populer, Piazu, yang berbahan dasar bawang, dan Beguni, terbuat dari terong, dipersiapkan sebelumnya untuk dinikmati bersama teman dan keluarga yang berkumpul untuk berbuka puasa di malam hari.

EDITOR: Hanny Suwindari