JawaPos.com - Upaya pencarian intensif terhadap personel Sat Narkoba Polres Katingan yang hilang saat menjalankan tugas menggetebek bandar narkotika akhirnya membuahkan hasil pilu. Aiptu Sumaryanto ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di aliran sungai setempat.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi langsung oleh pihak Mabes Polri. Kepastian ini mengakhiri teka-teki keberadaan sang polisi setelah operasi penggerebekan yang berujung perlawanan brutal oleh massa bersenjata beberapa hari lalu.
"Telah ditemukannya satu jenazah atas nama Aiptu Sumaryanto," ujar Dirtipid Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (5/7).
Kronologi Penemuan Jasad Aiptu Sumaryanto
Tim SAR gabungan yang terdiri dari personel Polda Kalteng, Kodim 1019/Ktg, Basarnas, serta dibantu masyarakat sekitar, menyisir lokasi sejak pagi buta sekitar pukul 06.00 WIB.
Operasi pencarian ini dikerahkan secara masif dengan membagi tim ke beberapa titik krusial. Petugas mengandalkan tiga unit perahu karet dan delapan unit kapal ces kecil untuk menyusuri area perairan.
Bukan hanya menyisir area sungai, tim gabungan juga memeriksa kawasan hutan di pinggir sungai hingga memperluas radius pencarian ke area pasar Desa Samba. Setelah beberapa jam melakukan penyisiran, jasad korban akhirnya terlihat.
Jenazah ditemukan di Sungai Desa Tumbang Kalemei, Katingan Tengah, Kalimantan Tengah sekitar pukul 09.30 WIB. Usai dievakuasi dari permukaan air, jasad korban langsung dibawa menggunakan ambulans menuju RS Bhayangkara Palangka Raya guna proses penanganan lebih lanjut.
"Kegiatan penggrebekan narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kec. Katingan Tengah Kab. Katingan Provinsi Kalimantan Tengah terdapat korban jiwa oleh instansi kepolisian personel Sat Narkoba Polres Katingan yang meninggal dunia sebanyak 3 orang," terangnya.
Berawal dari Penggerebekan Bandar Narkoba yang Berujung Maut
Tragedi ini bermula dari operasi penangkapan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei pada Rabu (1/7) dini hari. Operasi yang awalnya berjalan kondusif tersebut mendadak berubah mencekam ketika petugas mendapat perlawanan sengit.
Dalam komando penindakan tersebut, Polres Katingan sebenarnya menerjunkan 12 personel yang dibagi menjadi dua tim. Tim pertama bertugas melakukan penindakan di dalam rumah target utama, sedangkan tim kedua bersiaga di luar sebagai unsur pendukung.
Meski target utama sempat diamankan, situasi di lapangan mendadak tidak terkendali. Sejumlah orang di dalam rumah beserta warga sekitar melakukan provokasi dan menyerang petugas menggunakan senjata tajam jenis parang.
Dikepung Massa Bersenjata Api Rakitan
Berdasarkan laporan resmi kepolisian, jumlah massa di lokasi terus bertambah dalam waktu singkat. Penyerangan terhadap petugas kian brutal karena massa mulai menggunakan senjata api rakitan.
Karena kalah jumlah dan situasi semakin membahayakan nyawa, sejumlah personel terpaksa mengambil keputusan darurat untuk menyelamatkan diri. Mereka nekat melompat dan berenang menyeberangi sungai, lalu berlindung di dalam hutan sambil menunggu bantuan tambahan datang.
Insiden berdarah ini memakan korban jiwa dari pihak kepolisian. Tercatat Aipda Yudhie gugur di lokasi kejadian, sementara Bripda Nopandri Ramadhana dan Aiptu Sumaryanto sempat dinyatakan hilang. Jasad Bripda Nopandri sendiri telah ditemukan lebih awal, dan penemuan jasad Aiptu Sumaryanto hari ini resmi menutup pencarian seluruh personel yang hilang.