JawaPos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jagakarsa, Jakarta Selatan, mendapat respons positif dari sejumlah pihak sekolah.
Meski koordinasi antara sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dinilai berjalan baik, kualitas makanan, variasi menu, dan distribusi kepada siswa tetap perlu dievaluasi.
Hal itu agar manfaat program benar-benar dirasakan peserta didik.
Baca Juga: Pemprov DKI hingga Polisi Dirikan Posko Bersama di Manggarai Cegah Tawuran
Kepala SDN Lenteng Agung 09 Juli Sugiati mengatakan, sebanyak 80,13 persen responden dalam survei yang dilakukan pihak sekolah menginginkan MBG berlanjut.
Menurut dia, program tersebut dirasakan manfaatnya oleh keluarga siswa, terutama karena sekitar 60 persen peserta didik di sekolahnya berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.
“Kalau ditanya, kami berbicara berdasar data. Dari survei yang sudah kami isi, masih 80,13 persen yang menginginkan MBG,” ujar Juli.
Baca Juga: Sastra Indonesia Makin Bergairah! 14.988 Peserta Ikuti Piala H.B. Jassin 2026
Angka tersebut menunjukkan adanya dukungan terhadap keberlanjutan MBG di lingkungan sekolah tersebut.
Namun, hasil survei itu tidak bisa digeneralisasi sebagai gambaran penerimaan masyarakat secara luas.
Dukungan terhadap program juga perlu diikuti evaluasi untuk memastikan makanan yang disediakan memenuhi kebutuhan gizi dan standar keamanan pangan.
Kualitas Menu Masih Perlu Diperhatikan
Juli mengatakan perhatian keluarga siswa terhadap MBG terlihat dari respons orang tua.
Dia menyebut ada keluarga yang menanyakan makanan MBG ketika anak mereka pulang sekolah.
Meski demikian, penerimaan siswa dan keluarga bukan satu-satunya indikator keberhasilan program.
Baca Juga: Kapolres Diadukan kepada Kapolri Gegara SP3 Perkara, Polres Metro Jakpus Pastikan Sudah Sesuai SOP
Kualitas bahan pangan, kebersihan pengolahan, variasi menu, serta ketepatan distribusi juga perlu menjadi perhatian agar makanan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Pihak sekolah, kata Juli, turut memberikan masukan mengenai menu agar makanan yang diberikan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menarik bagi siswa.
Jika ditemukan kekurangan dalam kualitas makanan maupun distribusi, sekolah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mencari penyelesaian.
Baca Juga: Forum Pemred Gelar FP Run 2026, Ingatkan Pentingnya Pers yang Kredibel
Menurut dia, komunikasi antara sekolah dan SPPG selama ini berjalan baik.
Sekolah memiliki saluran koordinasi yang melibatkan komite, penanggung jawab atau PIC MBG, serta pihak SPPG untuk menyampaikan laporan dan masukan.
“Sejauh ini koordinasinya alhamdulillah aman. Kalau ada laporan, responsnya cepat dan langsung ditindaklanjuti,” kata Juli Sugiati.
Baca Juga: Razia Kelab Malam Jakarta PIK-Jaktim: 9 Pengunjung Positif Sabu dan Etomidate
Kecepatan merespons laporan menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan MBG.
Namun, tindak lanjut juga perlu disertai evaluasi untuk memastikan persoalan yang sama tidak berulang dan perbaikan benar-benar berdampak pada kualitas layanan.
Sekolah Berharap Perbaikan Berjalan Berkelanjutan
Respons positif terhadap MBG juga disampaikan staf SDN Jagakarsa 04, H. Muhammad Suparlan.
Dia menilai program tersebut menyentuh kebutuhan siswa secara langsung sehingga pelaksanaannya perlu terus didukung melalui koordinasi dan evaluasi.
Baca Juga: Legislator Minta Informasi Karhutla Jakarta Tidak Timbulkan Kepanikan
Menurut Suparlan, komunikasi antara sekolah dan pihak terkait diperlukan agar masukan maupun kendala yang muncul di lapangan dapat segera ditangani.
Dia berharap MBG dapat terus berjalan dengan manfaat yang semakin optimal bagi peserta didik.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan program tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga konsistensi kualitas pelayanan.
Baca Juga: BI DKI Fasilitasi 22 UMKM di ISEF 2026
Evaluasi yang melibatkan sekolah dan keluarga siswa diperlukan untuk mengetahui persoalan yang mungkin belum tertangani.
SPPG Jagakarsa Perkuat Koordinasi
Kepala SPPG Jagakarsa Andika Jupano mengatakan, koordinasi dengan sekolah menjadi salah satu prioritas dalam pelaksanaan MBG.
Komunikasi tersebut digunakan untuk mendeteksi kendala dan menindaklanjuti masukan dari lapangan.
Baca Juga: Sebabkan Warga Muntaber, Pemkot Tangsel Minta Jaringan Pengolahan Air Dirombak Total
“Koordinasi dengan pihak sekolah menjadi salah satu prioritas utama kami. Komunikasi yang terjalin dengan baik memastikan setiap masukan maupun kendala di lapangan dapat segera dideteksi dan ditindaklanjuti secara cepat,” ujar Andika.
Dia mengatakan evaluasi berkala dilakukan untuk menjaga mutu dan standar pelayanan gizi kepada peserta didik.
SPPG Jagakarsa juga berupaya memperkuat kolaborasi dengan sekolah agar pelaksanaan program berjalan secara berkelanjutan.
Meski demikian, evaluasi perlu disertai pengawasan yang konsisten terhadap mutu makanan, keamanan pangan, dan ketepatan distribusi.
Baca Juga: Buntut Perselisihan Pegawai SPPG Purwakarta di Bogor, BGN Siapkan Sanksi
Transparansi mengenai penanganan keluhan serta hasil perbaikan juga penting agar pelaksanaan program dapat dinilai secara objektif.
Pelaksanaan MBG di Jagakarsa menjadi gambaran bagaimana program pemerintah tersebut diterapkan di tingkat sekolah.
Sejumlah pihak menilai manfaatnya dirasakan peserta didik dan keluarga, sementara koordinasi antara sekolah dan SPPG dinilai membantu penanganan kendala di lapangan.
Baca Juga: Foot Locker Day 2026 Hidupkan M Bloc Space, Sneakers Jadi Cerita dan Gaya Hidup Kontemporer
Namun, respons positif tidak berarti pelaksanaan program terbebas dari kebutuhan perbaikan.
Kualitas menu, kesesuaian kandungan gizi, kebersihan makanan, serta distribusi yang tepat perlu terus diperhatikan.
Keberlanjutan MBG perlu diiringi evaluasi yang terukur.
Baca Juga: BGN Klaim Konsumsi Protein Hewani Anak Naik Jadi 84 Persen Berkat MBG
Pelibatan sekolah, komite, orang tua, dan penyelenggara program dapat membantu memastikan masukan penerima manfaat benar-benar ditindaklanjuti.
Dengan begitu, dukungan terhadap MBG tidak hanya tercermin dari harapan agar program terus berjalan, tetapi juga dari peningkatan kualitas makanan dan pelayanan yang diterima siswa.