JawaPos.com - Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) mendapat sorotan. Pasalnya di sekolah terhadap dua kasus yang cukup mendapat perhatian publik dan berpotensi menimbulkan trauma. Yaitu, oknum guru melakukan pelecehan dan siswa menjadi korban perundungan (bullying).
Atas dua kasus itu pihak sekolah mengklaim telah membuat tindakan tegas dengan menonaktifkan oknum guru yang diduga pelaku pelecehan.
Ketua Dewan Pembina Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) Tamsil Linrung menyampaikan permohohan maaf dan mengklaim membuat tindakan tegas. Oknum guru sudah dinonaktifkan. Menurut dia, tidak ada alasan untuk membenarkan seorang anak pulang dari sekolah membawa luka fisik maupun psikis. Apalagi harus meninggalkan lingkungan belajar karena trauma.
"Saya sudah berkomunikasi langsung dengan orang tua korban perundungan, menyampaikan permohonan maaf dan dukungan moral. Kepada korban dugaan pelecehan dan keluarganya, kami memastikan pendampingan dan pemulihan diberikan sepenuhnya, serta proses keadilan dikawal sampai tuntas," kata Tamsil kepada wartawan pada Minggu (27/9).
Ia menegaskan bahwa tidak ada ruang sedikit pun di ICM yang berbuat hingga mencederai keselamatan anak, dan akhlakul karimah. Pengelolaan sekolah berasrama memang tidak sederhana, tetapi kerumitan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk berpaling dari tanggung jawab.
Terkait penanganan kasus perundungan, Dewan Pembina memastikan nilai-nilai yang menjadi fondasi ICM benar-benar ditegakkan oleh manajemen. Sebab, fungsi Dewan Pembina bukan mengelola operasional sekolah sehari-hari.
Baca Juga: Janji Tindak Lanjuti! KKI Telusuri Dugaan Perundungan Nakes yang Komentar Nirempati Pasien BPJS
Adapun langkah yang dilakukan manajemen sekolah yakni telah melakukan pemeriksaan internal, memberikan sanksi kepada siswa dan pembina yang terkait, memfasilitasi pertemuan antar orang tua, serta melaporkan kejadian tersebut kepada Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Terkait dugaan pelecehan, Tamsil menegaskan sikap ICM yang mendukung penuh proses yang bergulir di ranah aparat penegak hukum. Pihaknya tidak melakukan intervensi apa pun.
Menanggapi informasi yang simpang siur di media sosial, termasuk spekulasi mengenai identitas dan latar belakang keluarga pihak-pihak tertentu, Tamsil menyatakan hal itu merupakan ranah privasi korban maupun yang diduga terlibat.
"Mereka adalah anak di bawah umur yang identitasnya dilindungi hukum dan sepatutnya dilindungi. Saya mengajak semua pihak lebih bijaksana dan menahan diri," imbuhnya.
Tamsil menyampaikan sejumlah langkah konkret yang telah diputuskan ICM. Pertama, pemulihan korban sebagai prioritas utama. Yayasan menanggung sepenuhnya pendampingan psikologis dan pemulihan bagi seluruh korban tanpa syarat apa pun.
Kedua, evaluasi menyeluruh atas sistem, bukan berhenti pada individu yang terlibat. Pembenahan mencakup kesiapan pembina di lapangan, SOP kegiatan luar kelas maupun asrama, mekanisme pengaduan, hingga fasilitas pengamanan.
Ketiga, penguatan langkah mitigasi berupa larangan bimbingan perseorangan di ruang tertutup. Setiap kegiatan siswa didampingi minimal dua guru atau pembina dewasa.
"Ini SOP yang sudah berjalan sejak awal, saya pastikan implementasinya," kata Tamsil.
Keempat, ICM membuka ruang aman bagi siswa dan orang tua untuk bersuara melalui layanan pengaduan serta layanan konseling bagi siswa. Ia menjamin semua laporan akan ditindak lanjuti.
Baca Juga: Eks Kepsek SMPN 18 Malang Terancam Pasal Berlapis Atas Kekerasan Siswa
Sebagai tindak lanjut, ICM akan mengadakan pertemuan langsung dengan seluruh orang tua, membentuk forum pengawasan bersama yang melibatkan perwakilan orang tua dan pemerintah, menyampaikan laporan perkembangan secara berkala, serta membuka pintu sekolah bagi orang tua yang ingin berdialog langsung dengan pengelola kapan pun diperlukan.
Di akhir keterangannya, Tamsil turut membagikan refleksi pribadi sebagai pendiri ICM. Ia mengatakan ICM dibangun dari nol dengan mimpi agar setiap anak mendapat akses pendidikan berkualitas.
Setiap anak yang masuk di gerbang ICM, pulang dalam keadaan lebih baik dari saat ia datang. Lebih berilmu, lebih berakhlak, dan yang paling utama, merasa aman selama proses menimba ilmu di ICM.
Ia berterima kasih kepada para orang tua, alumni, dan masyarakat yang telah menyuarakan keprihatinan mereka Hal itu menunjukkan bahwa banyak pihak masih menaruh harapan pada ICM sebagai rumah pendidikan yang dipercaya.
"Harapan itulah yang akan kami jawab, bukan dengan kata-kata hari ini saja, melainkan dengan langkah-langkah yang bisa disaksikan dan ditagih oleh siapa pun. Sampai tuntas. Saya berdiri pada kepentingan masa depan anak-anak ICM, serta kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan," tutup Tamsil.