JawaPos.com - PT Kereta Api Indonesia atau KAI (Persero) menyiapkan pengembangan Stasiun Gambir, Jakarta secara bertahap. Stasiun yang berada di jantung Ibu Kota ini ditargetkan menjadi integrasi transportasi pusat Jakarta.
KAI mengarahkan Gambir sebagai gerbang perjalanan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ), meningkatkan konektivitas antarmoda, serta menghadirkan pengalaman perjalanan yang semakin nyaman bagi masyarakat.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Gambir memiliki lokasi sangat strategis dengan berbagai simpul kegiatan di Jakarta. Stasiun ini dekat dengan kawasan Monas, pemerintahan, perkantoran, hotel, ruang publik, serta berbagai aktivitas masyarakat.
“Gambir memiliki peran strategis dalam ekosistem transportasi Jakarta. Pengembangannya diarahkan untuk memperkuat fungsi Gambir sebagai gerbang perjalanan KA Jarak Jauh sekaligus mendukung konektivitas masyarakat menuju pusat aktivitas Jakarta,” ujar Anne, Sabtu (29/8).
Baca Juga: Suara Kritis Menghilang, Tanda Awal Kerapuhan Kekuatan Besar
KAI mencatat, pada Januari–Juli 2026 Stasiun Gambir berhasil mengangkut 3.871.579 pelanggan. Dengan rincian 1.990.205 pelanggan naik dan 1.881.374 pelanggan turun.
Berdasarkan kajian pengembangan New Gambir, transformasi akan diarahkan menjadi pusat pengalaman perjalanan yang mengintegrasikan aspek mobilitas, hospitality, leisure, dan nilai tambah kawasan. Konsep tersebut menempatkan Gambir sebagai hub interkoneksi yang menghubungkan KA Jarak Jauh, KRL, MRT, BRT, serta kawasan Monas sebagai pusat aktivitas masyarakat.
“KAI melihat setiap stasiun memiliki peran masing-masing dalam satu sistem transportasi. Manggarai berperan sebagai pusat perpindahan antarlintas, sementara Gambir dikembangkan sebagai gerbang KA Jarak Jauh di pusat Jakarta serta bagian dari penguatan akses menuju kawasan strategis,” imbuh Anne.
Saat ini, Stasiun Gambir melayani 34 perjalanan KA reguler per hari dengan sekitar 78 aktivitas pemberhentian untuk naik dan turun pelanggan KA Jarak Jauh. Di sisi lain, jalur layang di kawasan Gambir juga dilintasi perjalanan Commuter Line pada lintas Jakarta Kota–Bogor dan Jakarta Kota–Nambo.
Namun, hingga saat ini KRL belum melayani pemberhentian di Gambir. Terkait potensi adanya naik turun penumpang KRL, masih dilakukan pembahasan.
Pasalnya, langkah ini membutuhkan kesiapan infrastruktur, kapasitas lintas, sistem operasi, aspek keselamatan, serta koordinasi dengan regulator.
“Apabila layanan Commuter Line di Gambir dikembangkan, maka berbagai aspek harus dipersiapkan secara menyeluruh, mulai dari fasilitas pelayanan pelanggan, kesiapan peron, alur perpindahan, kapasitas lintas, kelistrikan, persinyalan, hingga pola operasi. Keselamatan dan keandalan perjalanan tetap menjadi prioritas utama,” ujar Anne.
Baca Juga: Rute Trans Jateng Diperpanjang hingga KIT Batang, Jangka Panjang sampai Pekalongan
Kebutuhan penguatan integrasi transportasi di kawasan Gambir semakin relevan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat Jabodetabek. Volume perjalanan KRL Jabodetabek meningkat dari 217.964.892 perjalanan pada 2022 menjadi 344.621.825 perjalanan pada 2025, atau bertambah 126.656.933 perjalanan dengan pertumbuhan 58,11 persen dalam tiga tahun.
Pertumbuhan tersebut juga terlihat pada lintas dengan mobilitas tinggi, salah satunya Bogor Line yang pada 2025 melayani 153.538.393 perjalanan atau berkontribusi 44,55 persen dari total perjalanan KRL Jabodetabek. Lintas Bogor Line saat ini melintas di kawasan Gambir, namun belum melayani naik dan turun pelanggan di Stasiun Gambir.
“Karena itu, kesiapan Gambir perlu dilihat sebagai bagian dari pengembangan sistem transportasi yang terintegrasi, termasuk apabila ke depan terdapat pengembangan layanan Commuter Line di stasiun ini,” pungkas Anne.