← Beranda
Jakarta Masuk 5 Besar Kasus TBC, Wagub Rano: Ada Rumah Tak Pernah Kena Matahari
Ryandi ZahdomoSelasa, 30 Juni 2026 | 00.52 WIB
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno. (Istimewa)

JawaPos.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengaku terkejut usai mendapati realita bahwa Jakarta menduduki peringkat kelima sebagai provinsi dengan kasus Tuberkulosis (TBC) tertinggi di Indonesia.

Kondisi sanitasi yang buruk serta padatnya permukiman kumuh di jantung ibu kota ditengarai menjadi pemicu utama cepatnya penularan bakteri mematikan ini. Fakta mencengangkan tersebut didapat pihak pemprov setelah menerima arahan langsung dari Presiden terkait penanganan kesehatan nasional.

"Pada waktu saya diundang, kita dipanggil oleh Presiden, saya mewakili Bapak Gubernur mendapat arahan, saya cukup terkejut. Jakarta ini masuk provinsi nomor lima di antara delapan provinsi yang mempunyai penyakit TBC tertinggi di Indonesia," ujar Rano Karno saat membuka Deklarasi Open Defecation Free (ODF) di Tomang, Jakarta Barat, Senin (29/6).

Baca Juga: Ramalan Zodiak Libra Besok Selasa, 30 Juni 2026: Kesabaran Membawa Hasil Positif, Peluang Karier Terbuka Lebar

Potret Miris Permukiman Gelap di Balik Kemegahan Ibu Kota

Rano menyoroti bagaimana bakteri TBC tumbuh subur di lingkungan padat penduduk. Kurangnya akses cahaya matahari dan sirkulasi udara yang buruk membuat penularan di lingkungan keluarga menjadi tidak terkendali.

Bukan di pinggiran kota, pusat penularan ini justru ditemukan sangat dekat dengan pusat pemerintahan dan pusat keramaian Jakarta.

"Saya jujur saya terkejut. Ternyata maaf, beribu maaf, hampir rata-rata TBC itu berangkat dari keluarga, dari sanitasi, dari lingkungan. Di Jakarta ini ada beberapa wilayah, saya khawatir pun mungkin di sini ada wilayah yang tidak pernah terkena matahari," jelas pria yang akrab disapa Bang Doel tersebut.

Ia menambahkan, kondisi miris ini jamak ditemui di gang-gang sempit yang bahkan tidak memiliki jendela rumah sama sekali.

"Enggak jauh dari Istana saya temukan itu. Bahkan di belakang Bioskop Metropole itu ada satu wilayah sama seperti itu, enggak punya MCK, semuanya (BAB) di kali. Gang sempit, gelap gulita. Pelan-pelan mari kita perbaiki," sambungnya.

Nostalgia Era 1960-an dan Target Pemangkasan RW Kumuh

Kondisi sanitasi ibu kota saat ini mengingatkan Rano pada masa kecilnya di era 1960-an saat tinggal di kawasan Kemayoran. Kala itu, wilayah tempat tinggalnya sempat mendapat julukan miring akibat kebiasaan buruk warga.

"Waktu itu kampung saya terkenal dengan 'Gang Tai', maaf. Karena memang waktu itu kami kalau buang air di got. Sekarang ternyata pada tahun 2026, di Jakarta masih ada yang seperti itu. Tapi bagi saya, mari, tidak ada kata terlambat," tuturnya..

Meski menghadapi tantangan berat, Pemprov DKI mengeklaim ada tren positif dalam penataan lingkungan. Di bawah kepemimpinan Pramono Anung-Rano Karno, jumlah RW kumuh di Jakarta dikabarkan menyusut hingga setengahnya.

"RW kumuh di Jakarta ini pada tahun 2017 sampai 2026 berjumlah hampir 468. Tapi alhamdulillah, dalam waktu satu setengah tahun kami ada di Jakarta, kami bisa menekan hampir 50 persen. Sekarang RW kumuh di Jakarta tinggal 211. Itu menandakan hebatnya masyarakat ingin berubah," kata Rano.

Kesadaran Warga Mulai Meningkat

Sinyal positif perubahan perilaku hidup bersih ini juga terlihat dari melonjaknya pengajuan fasilitas sanitasi yang layak dari warga. Berdasarkan data pemprov, ada sekitar 1.200 proposal pembangunan Mandi Cuci Kakus (MCK) komunal yang masuk ke PD PAL Jaya.

Bagi Rano, fenomena ini menunjukkan bahwa warga Jakarta memiliki komitmen kuat untuk keluar dari bayang-bayang lingkungan kumuh dan ancaman penyakit endemik seperti TBC.

Untuk mempercepat realisasi pembangunan sanitasi ini, Pemprov DKI Jakarta menegaskan tidak akan bertumpu pada APBD semata. Langkah strategis akan diambil dengan menggandeng sektor publik, swasta, hingga institusi akademis lewat skema kerja sama multisektoral.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah