← Beranda
Terungkap! Ini Penyebab 252 Siswa SD di Cakung Keracunan Makan Bergizi Gratis
Ryandi ZahdomoKamis, 14 Mei 2026 | 16.20 WIB
llustrasi sejumlah karyawan SPPG tengah menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG). (Istimewa).

JawaPos.com - Hasil investigasi terhadap kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa SD di Cakung, Jakarta Timur, akhirnya terungkap. Dinas Kesehatan DKI Jakarta menemukan adanya kombinasi fatal antara sanitasi yang buruk dan prosedur pengolahan pangan yang menyimpang.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ani Ruspitawati membeberkan laporan akhir kronologis Kejadian Luar Biasa (KLB) tersebut. Menurutnya, ada ketidaksesuaian pada penerapan higiene di dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Terdapat ketidaksesuaian pada penerapan higiene dan sanitasi pada aspek tempat, penjamah pangan, serta handling bahan dan peralatan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya cemaran terhadap pangan," ujar Ani, Kamis (14/5).

Baca Juga: Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat

Temuan Laboratorium: Bakteri dan Bahan Baku Rusak

Berdasarkan hasil uji laboratorium, ditemukan cemaran mikrobiologi pada pangan siap saji yang dikonsumsi para siswa. Dinkes menyoroti menu bakmi jawa dan pangsit tahu berkuah sebagai jenis pangan berisiko tinggi yang mudah rusak.

Dinkes juga mencurigai adanya penggunaan bahan baku yang sudah tidak layak konsumsi sejak awal proses produksi.

"Adanya dugaan penggunaan bahan pangan yang telah mengalami penurunan mutu, khususnya tahu yang diterima dalam kondisi asam," ungkap Ani.

Kesalahan Prosedur Masak dan 'Time-Temperature Abuse'

Baca Juga: 3 Shio Ini Ditakdirkan Karirnya Moncer Sepanjang Hidupnya, Ada Shio Tikus yang akan jadi Pengusaha dan Kaya Raya

Selain bahan baku, proses pengolahan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cakung Pulogebang 15 juga dinilai bermasalah. Salah satunya adalah teknik memasak mie yang tidak mencapai suhu optimal untuk membunuh kuman.

"Proses pengolahan mie basah tidak melalui tahapan perebusan (boiling), sehingga diduga tidak mencapai suhu optimal untuk menurunkan jumlah mikroorganisme," tambah Ani.

Investigasi juga menemukan terjadinya time-temperature abuse, di mana jeda waktu antara makanan matang hingga dikonsumsi siswa melebihi batas aman 4 jam karena proses masak yang dimulai terlalu dini. Kondisi ini diperparah dengan sanitasi yang kurang optimal dan terjadinya rekontaminasi pada pangan matang.

Status Izin Dapur Makan Bergizi Gratis

Sebelumnya diberitakan, insiden yang terjadi pada Jumat (8/5) ini mengakibatkan 252 siswa dari SDN Cakung Timur 01 serta SDN Ujung Menteng 02 & 03 mengalami gejala keracunan. Sebanyak 188 siswa harus dilarikan ke fasilitas kesehatan, dan 34 di antaranya menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Baca Juga: Jika Anda Masih Membaca Buku Fisik dan Bukan E-Reader, Anda Mungkin Memiliki 5 Ciri Ini Menurut Psikologi

Terungkap pula bahwa SPPG Pulo Gebang 15 ternyata belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Dapur yang baru beroperasi sejak akhir Maret lalu itu diklaim masih dalam masa tenggang pengurusan izin selama tiga bulan sesuai aturan Badan Gizi Nasional (BGN).

EDITOR: Bintang Pradewo