← Beranda
Gubernur Pramono Anung Jamin Sampah Jakarta Sudah Normal usai Longsor Bantargebang
Ryandi ZahdomoRabu, 1 April 2026 | 05.03 WIB
Tim SAR Gabungan mengevakuasi korban meninggal dunia di lokasi longsor gunungan sampah TPST Bantargebang, Bekasi, Jabar. (Basarnas)

JawaPos.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan pengelolaan sampah di Ibu Kota kini sudah kembali pulih.

Sebelumnya, tumpukan sampah sempat menghiasi sejumlah Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Jakarta akibat kendala teknis di hilir.

Masalah ini dipicu oleh insiden longsor di Zona 4A TPST Bantargebang, Bekasi, beberapa waktu lalu.

Longsor tersebut sempat melumpuhkan operasional pengolahan dan distribusi sampah dari berbagai titik di Jakarta selama beberapa hari.

Baca Juga: Panic Buying! Antrean Kendaraan Mengular di SPBU di Pesing Jakarta

Pramono menjelaskan bahwa proses pemulihan pasca-longsor membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari. Namun, saat ini kondisi di lapangan sudah terkendali sepenuhnya.

"Sebagai akibat longsor pada waktu itu di zona 4A kemudian memang harus ada waktu 10 hari untuk apa kita tata kembali, tapi sekarang ini sudah tertata kembali," ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (31/3).

Ia tidak menampik bahwa tumpukan sampah sempat terjadi secara masif di beberapa wilayah akibat terbatasnya kapasitas angkut selama masa penataan ulang tersebut.

"Beberapa tumpukan bukan hanya di Kramat Jati, di beberapa tempat juga terjadi, tetapi sekarang ini hampir semua tumpukan itu sudah bersih kembali karena memang Bantargebang sudah bisa digunakan kembali," ucapnya.

Strategi Kurangi Beban Sampah dari Rumah

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengingatkan pentingnya mengurangi beban TPST Bantargebang dengan cara memotong volume sampah langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga dan perkantoran.

Baca Juga: Avenged Sevenfold Gelar Konser di Jakarta pada 10 Oktober, Simak Harga dan Cara Beli Tiketnya

Menurut Asep, semakin banyak masyarakat yang sadar untuk memilah sampah, maka tekanan terhadap tempat pembuangan akhir akan semakin berkurang.

"Upaya pengurangan sampah di sumber merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang pengelolaan sampah Jakarta, sekaligus untuk mengurangi beban timbunan yang masuk ke tempat pemrosesan akhir setiap harinya," ujar Asep.

Asep mengajak warga untuk mulai menerapkan langkah mudah dalam mengelola limbah harian.

Seperti, memilah sampah organik (mudah terurai), memisahkan material daur ulang dam residu serta sampah B3 rumah tangga. Lalu, melakukan pengomposan untuk sampah sisa makanan.

"Langkah-langkah tersebut terbukti efektif menekan volume sampah yang harus diangkut ke fasilitas pengolahan maupun tempat pemrosesan akhir," tambah Asep.

Baca Juga: Perputaran Uang di Jakarta Tembus Rp 67,5 Triliun Selama Imlek & Lebaran 2026, Target Pajak Tercapai

Selain mengandalkan peran masyarakat, Pemprov DKI juga terus memperkuat sistem hilir dengan teknologi modern. Salah satu senjata andalannya adalah RDF (Refuse Derived Fuel) Plant Rorotan.

Fasilitas ini mampu menyulap sampah menjadi bahan bakar alternatif untuk industri semen.

Namun, Asep kembali mengingatkan bahwa teknologi canggih saja tidak cukup. Partisipasi aktif warga dalam membangun budaya pilah sampah tetap menjadi kunci utama agar Jakarta tetap bersih dan bebas dari ancaman tumpukan sampah di masa depan.

 

EDITOR: Bayu Putra