← Beranda
Terduga Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta Jalani Operasi Kepala, Dirawat di ICU
Ryandi ZahdomoMinggu, 9 November 2025 | 23.25 WIB
Sejumlah siswa SMA 72 yang terluka dirawat di IGD Rumah Sakit Islam Jakarta, Jumat (07/11/2025). Dikabarkan sebelumnya terjadi sebuah ledakan d SMAN 72 Kelapa Gading. Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri mengatakan ada 54 korban luka akibat peristiwa

JawaPos.com - Terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta, yang berstatus anak berhadapan dengan hukum (ABH), kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Setelah menjalani operasi di bagian kepala, kondisinya dilaporkan sudah sadar namun belum stabil.

Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Budi Hermanto mengungkapkan, terduga pelaku mengalami luka cukup berat akibat ledakan.

"Luka pasti di bagian kepala dan ada luka goresan. Iya, menjalani operasi pada bagian kepala," ujar Budi Hermanto di Polda Metro Jaya.

Meski sudah sadar, terduga peklaku masih dirawat di ruang ICU dan dijaga ketat oleh petugas kepolisian.

Pengamanan dilakukan bukan hanya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi juga demi memastikan proses perawatan berjalan aman.

"Dijaga ketat pasti. Bukan hanya pelaku, terhadap korban juga kita jaga, karena kita berharap tidak terjadi fatalitas yang lebih berat," katanya.

Budi menjelaskan, kondisi medis terduga pelaku memang mulai membaik, namun proses pemulihan dilakukan dengan sangat hati-hati.

Selain luka fisik yang cukup berat, polisi juga memperhatikan kondisi psikologisnya mengingat usia pelaku yang masih tergolong anak-anak.

"Sudah sadar, tapi pemulihan harus pelan-pelan karena bentuk perlukaan juga masih berat. Jadi kita harus sama-sama perhatikan dulu pemulihan fisik medis termasuk psikis yang bersangkutan," jelas Budi.

Penyidik dan pihak rumah sakit kini berkoordinasi dengan lembaga perlindungan anak agar proses penanganan sesuai prosedur hukum bagi anak di bawah umur.

"Perlu kami sampaikan kepada rekan-rekan sekalian, untuk sama-sama menjaga hak-hak khusus yang harus dipenuhi, yaitu perlindungan identitas dan perlakuan khusus terhadap anak yang berhadapan dengan hukum," ucap Budi.

Meski berstatus sebagai anak yang berhadapan dengan hukum, penyelidikan terhadap dugaan keterlibatan terduga pelaku dalam kasus ledakan tetap berjalan.

Tim gabungan dari Densus 88 dan Ditreskrimum Polda Metro Jaya masih mendalami motif di balik peristiwa tersebut.

"Untuk motif masih didalami oleh Densus 88 dan Krimum Polda Metro Jaya. Setelah pengumpulan dan analisa barang bukti dari TKP, hasil penggeledahan, serta keterangan saksi, nanti akan disampaikan secara lengkap oleh Pak Kapolri dan Pak Kapolda Metro Jaya," ucap Budi.

Ia juga meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi sembarangan sebelum hasil penyelidikan resmi diumumkan. “Sehingga tidak bias isu motif ataupun kejadian yang terjadi,” tegasnya.

Kronologi Ledakan di SMAN 72 Jakarta

Ledakan di lingkungan SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Jumat (7/11) sekitar pukul 12.15 WIB. Insiden terjadi ketika para siswa dan guru sedang menunaikan salat Jumat di masjid sekolah. 

Ledakan pertama terdengar saat khutbah berlangsung, disusul letusan kedua dari arah luar musala.

Peristiwa itu menyebabkan sejumlah korban mengalami luka bakar dan luka akibat serpihan, serta menimbulkan kepanikan di lingkungan sekolah.

Pelaku teror yang memicu ledakan tersebut diduga merupakan siswa sekolah itu sendiri.

Seorang saksi mata, yang juga siswa SMA 72, ZA, mengatakan pelaku adalah teman satu sekolahnya, siswa kelas XII berinisial FN.

Pelaku dikenal pendiam dan sering menyendiri di lingkungan sekolah. Bahkan FN disebut kerap mengalami bullying. Pelaku juga disebut selalu mengenakan jas warna putih saat berada di sekolah.

ZA menduga menyebut bahwa FN menyimpan dendam kepada teman-temannya karena perundungan yang dilakukan terhadapnya.

Bahkan, FN mengaku telah menempelkan bahan peledak di tiga titik sekolah, termasuk musala dan kantin.

Ledakan pertama terjadi di musala saat salat Jumat berlangsung. Akibatnya, lebih dari 52 siswa mengalami luka.

Ia mengaku mendengar suara ledakan keras hingga dua kali. Saat dicek, ditemukan sejenis bom rakitan yang diduga dibuat dengan baterai dan material logam.

"Bomnya kaya kawat besi, bukan petasan kertas, tapi kaya kaleng minuman. Di dalem diduga ada bahan peledak," jelas ZA.

EDITOR: Bayu Putra