JawaPos.com - Pemandangan kosongnya pasokan BBM di SPBU Shell telah terjadi beberapa hari ini. Namun, pemandangan tersebut tak terlihat di SPBU Shell Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat, Jumat (19/9) siang.
Pasalnya, SPBU ini masih menjual BBM jenis Super, sementara di banyak tempat lain hanya tersisa solar atau BBM untuk kendaraan diesel.
Antrean panjang pun terjadi di SPBU Shell Meruya Utara ini. Pengendara motor hingga mobil rela mengular untuk bisa mengisi bahan bakar.
Rizki, petugas SPBU Shell Meruya, menyebut stok BBM Super di tempatnya masih aman.
"Kita masih jual karena stoknya belum habis. Sehari satu kali pengiriman," ujarnya, Jumat (19/9).
Meski begitu, Rizki memperkirakan stok hanya cukup untuk dua sampai tiga hari ke depan.
"Kemungkinan untuk dua atau tiga hari ke depan masih tersedia khusus untuk Super. Kalau yang V-Power sudah kosong," jelasnya.
Banyak pengendara yang sengaja mampir begitu tahu BBM Super masih tersedia. Salah satunya Adit, pengemudi ojek online.
"Tadi kebetulan lagi lewat sini ternyata ada Super makanya isi sekalian full," ujarnya.
Selain ketersediaan BBM, promo Shell juga jadi alasan Adit setia mengisi bensin di sana.
"Karena emang ada promo voucher jadinya enak beli di Shell," tambahnya.
Berbeda dengan SPBU Shell Meruya, sejumlah SPBU swasta lain di Jakarta Barat seperti Vivo dan BP sudah tidak lagi menyediakan bensin untuk kendaraan bermotor sejak beberapa pekan terakhir. Hanya solar atau BBM diesel yang tersedia.
Penjelasan Menteri ESDM Bahlil
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan perusahaan swasta penyedia BBM non-subsidi, seperti Shell Indonesia, BP, hingga Vivo, setuju untuk membeli BBM dari Pertamina.
Kesepakatan ini diambil setelah rapat bersama yang digelar di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (19/9). Bahlil menegaskan, seluruh badan usaha swasta harus berkolaborasi dengan Pertamina.
"Kami baru selesai rapat dengan teman-teman dari swasta dan Pertamina menghasilkan beberapa hal, yang pertama adalah mereka setuju dan memang harus setuju untuk beli dikolaborasi dengan Pertamina. Syaratnya adalah harus berbasis base fuel, artinya belum dicampur-campur," kata Bahlil.
Ia menggambarkan kesepakatan itu dengan analogi sederhana.
"Jadi, barangnya itu ibarat bikin teh, kalau yang awalnya itu Pertamina mau jual sudah jadi teh. Tapi sekarang mereka bilang jangan teh katanya, air panas saja. Jadi, produknya saja nanti dicampur di masing-masing tangki di SPBU masing-masing dan ini juga sudah disetujui, ini solusi," ungkapnya.
Aturan Baru Soal Kualitas dan Harga
Selain soal pasokan, kesepakatan juga mencakup kualitas dan harga. Kualitas BBM akan dijaga lewat joint surveyor, yakni pemeriksaan bersama sebelum BBM dikirimkan.
Harga BBM akan lebih transparan melalui sistem open book yang disepakati bersama.
"Sudah setuju juga terjadi open book dan ini teman-teman dari swasta juga sudah setuju. Dan kalau ditanya mulai kapan ini berjalan, mulai hari ini sudah dibicarakan, nanti habis ini lanjutkan dengan rapat teknis, stoknya, dan kemudian insyaallah paling lambat 7 hari barang sudah bisa masuk di Indonesia," jelas Bahlil.
Di tengah naiknya permintaan, Bahlil memastikan cadangan BBM nasional masih dalam kondisi aman.
"18-21 hari itu cadangan nggak ada masalah, jadi gak perlu ada rasa keraguan apa-apa, cuman memang ada di teman-teman kita punya SPBU swasta yang cadangannya menipis," imbuhnya.