JawaPos.com - Berkshire Hathaway menginvestasikan total USD 930 juta atau sekitar Rp16,80 triliun, dengan kurs Rp18.060 per dolar AS, pada perusahaan teknologi Italia, Bending Spoons. Investasi ini menarik perhatian karena perusahaan yang identik dengan strategi Warren Buffett tersebut menaruh modal pada bisnis digital yang mengandalkan akuisisi, perombakan operasional, dan kecerdasan buatan (AI).
Berkshire kini menguasai sekitar 4 persen saham Bending Spoons setelah menanamkan USD 600 juta pada Juli dan menambah USD 330 juta melalui transaksi terbaru. Melansir Business Insider, Senin (19/10/2026), Berkshire membeli 10 juta saham dengan harga USD 33 per saham, sekitar 13 persen di bawah harga penutupan USD 38 sebelum pengumuman.
Setelah dukungan Berkshire diumumkan pada Rabu, saham Bending Spoons melonjak hampir 50 persen dalam dua hari, meski terkoreksi pada Jumat. Reaksi ini dikenal sebagai Buffett effect, yakni kenaikan minat pasar setelah investasi dikaitkan dengan reputasi investor ternama.
Bending Spoons membangun bisnisnya dengan membeli perusahaan digital, meningkatkan keuntungan melalui perubahan operasional, lalu menggunakan laba untuk mendanai akuisisi berikutnya. Selama lebih dari satu dekade, perusahaan yang dipimpin CEO sekaligus pendirinya, Luca Ferrari, itu menyatakan tidak pernah menjual bisnis material hasil akuisisi. Portofolionya mencakup AOL, Evernote, Vimeo, Eventbrite, dan WeTransfer.
Baca Juga: Warren Buffett Naik ke Posisi 10 Orang Terkaya Dunia saat Era Kepemimpinannya di Berkshire Berakhir
Dalam keterangan resminya, Ferrari menyatakan perusahaannya berupaya membayangkan "versi paling sukses" dari bisnis yang diakuisisi, kemudian menutup kesenjangan antara potensi dan kenyataan secepat mungkin. Proses tersebut mencakup penataan ulang tim, pembaruan teknologi, desain antarmuka, percepatan pengembangan produk, serta peningkatan pemasaran dan monetisasi. AI turut digunakan dalam transformasi tersebut.
Namun, strategi itu juga membawa konsekuensi bagi tenaga kerja. Dalam podcast Joys of Compounding, Ferrari mengatakan Evernote memiliki sekitar 350 karyawan saat diakuisisi pada awal 2023. Jumlahnya turun menjadi sekitar 60 orang dalam 12 hingga 18 bulan, sebelum akhirnya bisnis tersebut dijalankan oleh sekitar 20 orang. Meski demikian, Ferrari menyebut Evernote telah meluncurkan "pembaruan produk terbesar sejauh ini, mungkin dalam satu dekade."
Investasi ini menyimpang dari pendekatan Buffett yang cenderung menghindari saham teknologi berharga tinggi dan bisnis yang sulit diprediksi. Prinsipnya menekankan margin of safety, yakni selisih pengaman antara harga investasi dan nilai yang diperkirakan. Bending Spoons menghasilkan laba per saham USD 0,32 tahun lalu, sementara harga transaksi terbaru setara lebih dari 100 kali angka tersebut. Pertumbuhan cepat tidak serta-merta membuat valuasinya murah.
Daya tariknya terlihat dari kinerja keuangan. Pendapatan Bending Spoons melonjak 126 persen secara tahunan menjadi USD 704 juta pada kuartal II 2026, sedangkan laba operasional yang disesuaikan naik 150 persen menjadi USD 381 juta. Pertumbuhan ini memberi alasan bagi investor untuk mempertimbangkan perusahaan tersebut, meskipun valuasi tinggi tetap menyimpan risiko jika kinerja melambat.
Selain itu, berkshire dan Bending Spoons memiliki kesamaan dalam orientasi kepemilikan jangka panjang. Berkshire mempertahankan bisnis seperti GEICO, Duracell, dan BNSF Railway, sedangkan Bending Spoons juga memilih mempertahankan perusahaan yang dibelinya.
Ferrari mengatakan pemusatan keputusan dapat "merampas rasa kepemilikan yang berharga" dari pekerja. Namun, berbeda dari pendekatan Berkshire yang relatif memberi keleluasaan kepada perusahaan anak, Bending Spoons aktif merombak bisnis yang diakuisisi.
Taruhan tersebut relatif kecil bagi Berkshire, yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD 1,1 triliun dan kas USD 365 miliar pada akhir Juni. Perusahaan juga memiliki investasi besar di Apple dan Alphabet. Ferrari menyebut Berkshire sebagai "salah satu pengelola modal terbaik dan paling dihormati di dunia" serta "inspirasi sejak lama" bagi Bending Spoons.
Belum diketahui apakah Buffett terlibat dalam keputusan ini setelah mundur sebagai CEO dan ketua Berkshire. Manajer investasi Ted Weschler atau CEO Greg Abel mungkin berada di balik transaksi tersebut.
Abel sebelumnya menambah investasi Alphabet sebesar USD 10 miliar melalui penempatan privat setelah berkonsultasi dengan Buffett. Investasi di Bending Spoons ini menguji arah baru Berkshire dalam menyikapi bisnis teknologi berbasis akuisisi dan transformasi agresif.