JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku tidak banyak membahas keamanan kecerdasan buatan (AI) dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pertemuan mereka pekan lalu. Pernyataan itu muncul hanya beberapa hari setelah AS dan Tiongkok menyepakati pembukaan dialog mengenai risiko dan manfaat AI.
Dilansir dari Kyodo, Rabu (30/9), Trump menyampaikan pengakuan tersebut dalam sebuah acara di Washington pada Selasa. Dia mengatakan tidak ingin terlalu jauh membahas persoalan tersebut karena Amerika Serikat saat ini berada di posisi terdepan dalam pengembangan AI.
"Kami membicarakannya, tetapi tidak terlalu banyak karena saya tidak ingin melakukan apa pun. Kami memimpin, jadi mengapa saya harus melakukan sesuatu?" kata Trump.
Trump mengatakan sejumlah pihak sebelumnya mengusulkan agar AS mengembangkan AI bersama Tiongkok. Namun, dia khawatir kerja sama tersebut justru memungkinkan Tiongkok memperoleh akses dengan cepat terhadap teknologi yang menurutnya belum dikuasai negara tersebut.
Dalam pertemuan Trump dan Xi di Gedung Putih pada pekan lalu, kedua negara memang sepakat memulai dialog mengenai risiko dan manfaat AI serta membangun saluran komunikasi untuk menangani insiden terkait AI.
Sikap Trump terhadap regulasi AI juga kembali terlihat setelah dia bertemu sekitar 20 pemimpin perusahaan teknologi dan AI besar Amerika Serikat di Gedung Putih pada Selasa.
"Saya melihat upaya pengawasan mandiri yang luar biasa, dan mereka memahami bahwa mereka harus melakukan pengawasan sendiri," ujar Trump kepada wartawan.
Trump mengatakan dirinya bersama sejumlah peserta pertemuan telah menandatangani kesepakatan AI yang disebutnya "mengikat secara moral".
Dalam dokumen tersebut, perusahaan pengembang model AI terdepan didorong menerapkan praktik keselamatan, termasuk "pengendalian internal yang kuat" untuk mencegah peretasan yang tidak disengaja dan risiko lainnya. Perusahaan juga diminta bekerja sama dengan pihak ketiga untuk melakukan penilaian secara independen. Reuters juga melaporkan kesepakatan itu bersifat sukarela.
Enam perusahaan, yakni Anthropic, Google, Meta, Nvidia, OpenAI, dan xAI, menandatangani kesepakatan tersebut. Mereka juga sepakat bertemu secara berkala untuk mengembangkan standar dan praktik terbaik guna meningkatkan keamanan sistem AI.
Namun, para pemimpin perusahaan yang hadir tidak memiliki pandangan yang sama mengenai seberapa cepat pengembangan AI seharusnya dilakukan.
CEO Anthropic Dario Amodei sebelumnya menyerukan perlunya memperlambat laju pengembangan AI di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa teknologi tersebut dapat berkembang di luar kendali manusia. Reuters melaporkan Amodei baru-baru ini juga menyerukan industri AI untuk memperlambat pengembangan model terdepan.
Meski mengakui adanya "manfaat luar biasa" dari AI, Amodei memperingatkan bahwa teknologi tersebut juga memiliki risiko nyata.
"Saya pikir teknologi ini memiliki risiko yang sangat nyata, dan mekanisme untuk mengatasi risiko tersebut masih dalam pembahasan," ujarnya.
Trump juga mengatakan sedang mempertimbangkan pembentukan sebuah komite bersama perusahaan-perusahaan teknologi tersebut untuk mengawasi keamanan perangkat AI.
Pembentukan mekanisme pengawasan tersebut muncul ketika pendekatan AS dan Tiongkok terhadap tata kelola AI masih memiliki perbedaan. Dalam pertemuan dengan Trump, Xi sebelumnya menekankan bahwa kedua negara memiliki kemampuan sekaligus tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengelola AI agar bermanfaat bagi masyarakat serta tetap berada di bawah kendali manusia.