← Beranda
Dua Penembakan di Afrika Selatan Tewaskan 27 Orang, Tentara Dikerahkan
Rian Alfianto• Senin, 28 September 2026 | 18.39 WIB
Anggota masyarakat berdiri di lokasi penembakan massal pada Sabtu malam ketika para tersangka melepaskan tembakan di sebuah bar di kota Wedela, barat daya Johannesburg, Afrika Selatan, Minggu, 27 September 2026. (STR/AP)

JawaPos.com - Dua penembakan massal terjadi dalam selang sekitar empat jam di dua wilayah permukiman Afrika Selatan dan menewaskan sedikitnya 27 orang. Setelah serangan tersebut, tentara dikerahkan ke lokasi penembakan di Wedela, sementara polisi masih memburu para pelaku di kedua lokasi.

Pengerahan tentara dilakukan ketika kepolisian masih belum menangkap satu pun pelaku. Unit khusus telah diterjunkan ke Wedela, dekat Johannesburg, dan Lwandle, dekat Cape Town, untuk mencari para penembak serta menyisir wilayah di sekitarnya.

Penembakan terbaru ini kembali menempatkan persoalan kriminalitas bersenjata sebagai perhatian utama di Afrika Selatan. Terlebih, serangan tersebut terjadi hanya lima hari setelah penembakan lain menewaskan sedikitnya 11 orang di KwaMakhutha, dekat Durban.

Baca Juga: Kebakaran Pasar Serdang: Kantong Plastik Bensin Ditemukan di Plafon Ruang Kepala Pasar

Tentara Dikerahkan untuk Membantu Polisi

Melansir AP News, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa sebelumnya telah mengerahkan tentara ke jalan-jalan pada Maret sebagai bagian dari operasi selama setahun untuk membantu polisi memerangi kriminalitas di sejumlah wilayah dengan tingkat kejahatan tinggi.

Pengerahan tersebut mencakup kawasan di sekitar Johannesburg dan Cape Town serta sejumlah wilayah lainnya.

Saat mengumumkan kebijakan itu, Ramaphosa mengatakan kejahatan yang dilakukan kelompok kriminal terorganisasi merupakan ancaman terbesar terhadap demokrasi dan pembangunan ekonomi Afrika Selatan.

Namun, pengerahan tentara ke jalan juga mendapat kritik dari sejumlah pihak yang menilai langkah tersebut menunjukkan adanya persoalan dalam kemampuan kepolisian menangani kriminalitas.

Pada Minggu (28/9), tentara kembali dikerahkan ke lokasi penembakan bar di Wedela.

Ramaphosa mengatakan aparat keamanan akan terus melakukan segala upaya untuk menekan kriminalitas.

"Ini tidak bisa terus seperti ini. Ini adalah tingkat kriminalitas yang harus kita turunkan, dan pasukan keamanan kita sekarang akan terus menarik semua pemberhentian," kata Ramaphosa. 

27 Orang Tewas dalam Dua Penembakan

Penembakan pertama terjadi pada Sabtu malam di sebuah bar di Wedela, sebelah barat daya Johannesburg.

Polisi mengatakan delapan pria bersenjata dengan senapan AK-47 dan pistol melepaskan tembakan ke arah pengunjung yang berada di luar bar. Mereka kemudian masuk ke dalam tempat tersebut dan melanjutkan penembakan.

Sebanyak 17 orang tewas dan sedikitnya 15 lainnya terluka. Korban tewas terdiri dari 13 laki-laki dan empat perempuan. Para pelaku kemudian menggeledah sejumlah pengunjung dan mengambil telepon seluler mereka sebelum melarikan diri menggunakan dua kendaraan. 

Dua mobil juga dibakar di luar bar saat penembakan berlangsung. Sekitar empat jam kemudian, penembakan kedua terjadi di Lwandle, kawasan dekat Cape Town.

Sebanyak 10 orang tewas dan 11 lainnya terluka dalam serangan di sebuah toko yang terhubung dengan tempat hiburan. Polisi mengatakan mereka memburu sejumlah tersangka, tetapi belum memberikan jumlah pasti.

Hingga kini, belum ada penangkapan dalam kedua kasus tersebut.

Saksi Sempat Mengira Suara Tembakan sebagai Kembang Api

Penembakan di Lwandle terjadi ketika area hiburan tersebut sedang ramai. Rekaman dari lokasi memperlihatkan orang-orang bernyanyi dan menari sebelum suara rentetan tembakan terdengar dan kepanikan terjadi.

Saksi Kamvalethu Galada mengatakan dirinya sempat mengira suara tersebut merupakan kembang api. Ia kemudian menyadari telah terjadi penembakan ketika orang-orang mulai menjatuhkan diri ke tanah.

Lima Hari Sebelumnya, 11 Orang Tewas

Dua penembakan terbaru terjadi hanya lima hari setelah serangan bersenjata di KwaMakhutha, sekitar 30 kilometer di selatan Durban.

Dalam kejadian tersebut, beberapa pria bersenjata menyerang sebuah pesta di sebuah rumah. Sedikitnya 11 orang tewas, termasuk seorang perempuan hamil.
Polisi belum melaporkan adanya penangkapan dalam kasus tersebut.

Sementara itu, penyelidikan terhadap dua penembakan terbaru masih berlangsung. Polisi belum memastikan motif serangan, tetapi penyelidikan awal mengarah pada dugaan bahwa salah satu kasus berkaitan dengan perebutan wilayah antara kelompok penambang ilegal, sedangkan kasus lainnya kemungkinan dipicu persaingan bisnis.

Hampir 60 Pembunuhan Setiap Hari

Afrika Selatan telah lama menghadapi persoalan kriminalitas dengan tingkat pembunuhan yang tinggi. Data kepolisian menunjukkan 5.427 kasus pembunuhan tercatat dalam tiga bulan yang berakhir pada 30 Juni, atau rata-rata hampir 60 pembunuhan setiap hari.

Penembakan menjadi metode yang paling umum dalam kasus pembunuhan di negara tersebut.

Polisi dan pakar kriminal telah lama mengidentifikasi banyaknya senjata api ilegal yang beredar sebagai salah satu persoalan utama. Kepemilikan senjata api legal di Afrika Selatan diperbolehkan, tetapi diatur secara ketat dan membutuhkan persyaratan kompetensi.

Sejumlah perkiraan dari partai politik dan asosiasi pemilik senjata nasional menyebut terdapat antara 2 juta hingga 6 juta senjata api ilegal yang beredar di negara tersebut.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah