← Beranda
Riyadh Dua Kali Siaga Ancaman Udara, Serangan Houthi ke Arab Saudi Meningkat
Dhimas GinanjarSabtu, 19 September 2026 | 17.18 WIB
Tim Pertahanan Sipil Arab Saudi di Provinsi Taif memeriksa lokasi yang rusak akibat puing-puing yang jatuh setelah intersepsi dan penghancuran drone yang diluncurkan oleh kelompok Houthi pada Kamis. (Foto SPA)

JawaPos.com - Pertahanan Sipil Arab Saudi mengeluarkan dua peringatan terkait potensi bahaya di Riyadh dan kota Al-Kharj pada Sabtu (19/9) dini hari. Peringatan tersebut kemudian dicabut setelah otoritas menyatakan situasi aman, di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap Arab Saudi.

Dilansir dari Arab News, Sabtu (19/9), peringatan pertama dikeluarkan sekitar pukul 02.58 waktu setempat. Sejumlah saksi melaporkan mendengar sedikitnya dua ledakan di Riyadh. Beberapa menit kemudian, Pertahanan Sipil mengumumkan bahwa situasi telah aman.

Peringatan serupa juga dikeluarkan di Kepulauan Farasan, wilayah barat daya Arab Saudi. Namun, jenis ancaman yang memicu peringatan tersebut belum segera diketahui.

Peringatan kedua untuk Riyadh dan Al-Kharj dikeluarkan pada pukul 05.19. Lebih dari 10 menit kemudian, Pertahanan Sipil kembali menyatakan bahwa bahaya telah berakhir.

Peringatan tersebut dikirimkan ke telepon seluler warga melalui Platform Peringatan Dini Nasional. Salah satu pesan yang diterima warga Riyadh berbunyi, “Wilayah ini berada di bawah ancaman udara dari pihak musuh.”

Warga Riyadh Diminta Tetap di Dalam Rumah

Peringatan tersebut menjadi perkembangan yang tidak biasa bagi Riyadh. Warga diminta tetap berada di dalam rumah, menjauh dari jendela dan area terbuka, serta mengikuti instruksi keselamatan resmi dari pemerintah.

Pertahanan Sipil sebelumnya juga mengeluarkan peringatan serupa di sejumlah wilayah Arab Saudi pada Jumat (18/9). Daerah yang terdampak antara lain Jeddah dan Taif di Provinsi Makkah, Khamis Mushayt di Provinsi Asir, serta AlUla di Provinsi Madinah.

Peringatan terbaru itu muncul beberapa jam setelah juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim bahwa kelompoknya telah menggagalkan apa yang disebutnya sebagai “upaya kriminal” yang diduga dilakukan Arab Saudi di ibu kota Yaman, Sanaa. Saree juga mengancam akan memberikan respons, menurut laporan Reuters.

Kelompok Houthi menguasai Sanaa serta sebagian besar wilayah utara dan barat Yaman. Dalam beberapa pekan terakhir, kelompok tersebut meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, termasuk menggunakan drone dan rudal.

Serangan Houthi Sasar Infrastruktur Arab Saudi

Peningkatan serangan tersebut berlangsung setelah Houthi mengumumkan blokade laut pada Juli yang menargetkan kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan Arab Saudi di Laut Merah.

Serangan yang terjadi belakangan ini semakin berdampak pada kawasan berpenduduk dan infrastruktur penting di Arab Saudi.

Pada Kamis (17/9), puing-puing drone Houthi yang berhasil dicegat dan dihancurkan jatuh di Taif. Insiden tersebut menewaskan seorang warga Yaman serta melukai seorang perempuan Arab Saudi dan seorang warga Pakistan yang mengalami luka kritis. Sejumlah bangunan dan kendaraan juga mengalami kerusakan.

Insiden itu terjadi dua hari setelah pertahanan udara Arab Saudi mencegat sebuah drone di sebelah selatan Makkah. Otoritas Saudi menyatakan drone tersebut berupaya memasuki wilayah udara kota suci tersebut.

Pejabat Arab Saudi menyebut upaya serangan ke wilayah udara Makkah sebagai eskalasi besar. Namun, Houthi membantah bahwa kelompoknya menargetkan Makkah.

Pada awal September, serangan Houthi di wilayah selatan Arab Saudi juga melukai puluhan orang dan merusak sejumlah fasilitas terkait energi, menurut otoritas Saudi. Konflik terbaru ini menandai peningkatan ketegangan setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022 menghentikan pertempuran berskala besar di Yaman.

Milisi Irak Ikut Menargetkan Arab Saudi

Arab Saudi juga menghadapi serangan dari kelompok milisi Irak yang bersekutu dengan Iran.

Pada 11 September, Arab Saudi untuk sementara menghentikan operasional Jalur Pipa Timur-Barat setelah beberapa drone menyerang wilayah Riyadh dan Madinah. Serangan tersebut melukai sejumlah orang.

Pemerintah Arab Saudi menyatakan drone-drone itu diluncurkan dari Irak. Riyadh juga memberikan kesempatan kepada pemerintah Baghdad untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah serangan serupa kembali terjadi.

Jalur Pipa Timur-Barat memiliki arti strategis karena memungkinkan Arab Saudi mengirimkan ekspor minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran penting dan titik sempit strategis di kawasan.

Gelombang serangan Houthi terbaru berlangsung ketika pertempuran di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman semakin meningkat. Badan migrasi PBB menyatakan pada Jumat (18/9) bahwa sedikitnya 112.000 orang baru-baru ini mengungsi di dalam Yaman. Selain itu, hampir 3.000 orang melarikan diri melalui jalur laut menuju Djibouti.

Meningkatnya kehadiran Houthi di sepanjang Laut Merah juga memicu kekhawatiran terhadap Selat Bab Al-Mandab. Selat tersebut merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden serta menjadi rute penting bagi pengiriman energi dan perdagangan global.

EDITOR: Dhimas Ginanjar