← Beranda
Menurut WMO Dunia Alami Penurunan Cadangan Air Daratan Sejak 2025
AntaraJumat, 18 September 2026 | 16.41 WIB
SAWAH KERING: Fenomena El Nino berdampak rendahnya curah hujan hingga mengakibatkan kekeringan. (NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN)

JawaPos.com - Dunia akan mengalami penurunan cadangan air tawar di daratan bumi pada tahun ini. Sebanyak 42 persen wilayah mengalami kekurangan air menurut laporan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

Dikutip dari Sputnik tahun ini akan menjadi tahun terkering dalam 35 tahun terakhir. Aliran debit sungai rendah di mana hampir dua per tiga daerah aliran sungai memiliki ketinggian air di bawah kondisi normal sepanjang tahun itu.

Tahun ini juga akan menjadi tahun keempat berturut-turut di mana terjadi penurunan massa gletser dalam skala besar. Hal itu menimbulkan risiko jangka pendek, seperti banjir, serta masalah jangka panjang terkait ketersediaan air.

Dalam lima tahun terakhir, banjir dan kekeringan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya terjadi di berbagai wilayah dunia. Asia dan Afrika menyumbang sedikitnya separuh dari seluruh bencana terkait air serta 80 persen lebih korban jiwa yang tercatat akibat bencana tersebut, menurut WMO.

WMO pun menekankan pentingnya negara-negara mempersiapkan diri dalam menghadapi kenyataan baru berupa kelangkaan air, sekaligus menekankan pentingnya pertukaran data dalam kondisi seperti itu. Organisasi tersebut juga menyoroti perlunya sistem peringatan dini bencana yang terintegrasi untuk membantu negara menghadapi risiko terkait air secara lebih efektif.

WMO menilai pentingnya kerja sama internasional karena kondisi ketersediaan air berbeda-beda antar-wilayah dan perubahan tersebut dapat berdampak terhadap masyarakat, lingkungan, serta perekonomian.

WMO memperingatkan peningkatan polusi akibat kebakaran hutan dan gelombang panas berisiko menghambat upaya global memperbaiki kualitas udara serta melindungi kesehatan manusia dan ekosistem.

Dalam Buletin Tahunan Kualitas Udara dan Iklim, Senin, badan PBB tersebut menyoroti keterkaitan erat antara perubahan iklim dan polusi udara serta menyerukan kebijakan terpadu untuk menangani kedua masalah tersebut.

Menurut laporan itu, kejadian ekstrem berupa asap kebakaran telah meningkat tiga kali lipat secara global sejak tahun 1990-an.

 

WMO mengutip sebuah studi yang memperkirakan asap kebakaran berkontribusi terhadap hampir 100.000 kematian tambahan setiap tahun selama periode 2010 hingga 2018.

Badan tersebut juga memperingatkan model risiko konvensional yang selama ini digunakan dapat meremehkan angka kematian akibat kebakaran hutan hingga 93 persen, karena belum memperhitungkan secara memadai tingkat toksisitas partikel halus PM2.5 dari kebakaran.

"Memenuhi pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan semakin sulit, karena cuaca ekstrem yang memicu kebakaran diperkirakan meningkat pada masa mendatang," menurut laporan tersebut. Gelombang panas juga memperburuk polusi ozon di permukaan tanah. Suhu lebih tinggi, udara stagnan, dan paparan sinar matahari yang intens mendorong pembentukan ozon.

WMO memperkirakan risiko kesehatan akibat ozon akan semakin meningkat dan berpotensi menyebabkan puluhan ribu tambahan angka kematian dini. Buletin tersebut juga menyerukan peningkatan pemantauan terhadap polutan, termasuk karbon hitam dan mikroplastik di atmosfer.

 

 

EDITOR: Diar Candra