JawaPos.com – Anthropic mengungkap sebuah tim kecil yang kemungkinan terdiri atas pengembang lepas di Rusia diduga menggunakan chatbot kecerdasan buatan (AI) Claude untuk mengembangkan perangkat lunak kawanan drone serang “kamikaze” otonom.
Dilansir dari lamanya The Guardian pada Minggu (13/9), Perangkat lunak tersebut disebut memiliki kemampuan mendukung panduan terminal, pemilihan target, serta koordinasi beberapa pesawat nirawak dalam satu operasi.
Menurut Anthropic, drone yang dikembangkan itu diprogram untuk memilih target secara mandiri dan menabraknya hingga meledak tanpa campur tangan manusia dalam pengambilan keputusan akhir.
Dalam laporan setebal 154 halaman, Anthropic menyatakan tim tersebut berulang kali memilih sejumlah lokasi di wilayah Donetsk, Ukraina, sebagai target dan menggunakan jaringan privat virtual (VPN) untuk menghindari pembatasan geografis.
Pengembangan perangkat lunak itu menjadi sorotan karena drone kecil kini telah berkembang menjadi salah satu senjata utama dalam perang Rusia-Ukraina.
Anthropic juga menemukan indikasi meningkatnya penggunaan AI oleh pelaku kejahatan siber dan peretas yang didukung negara untuk mengatur hingga menjalankan sebagian besar tahapan serangan terhadap target pemerintahan, militer, dan diplomatik Ukraina.
Kelompok peretas yang diduga memiliki keterkaitan dengan aktor ancaman berbasis di Rusia disebut memanfaatkan AI dalam operasi pengelabuan (phishing), pembajakan jaringan Wi-Fi hotel, serta pengambilalihan akun WhatsApp.
AI juga diduga digunakan untuk membangun sistem yang dapat mendeteksi ketika perangkat lunak berbahaya mereka dikenali oleh sistem keamanan, kemudian menulis ulang kode hingga mampu menghindari pendeteksian.
Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya serangan Rusia menggunakan drone terhadap Ukraina, sementara kedua negara juga terus melancarkan serangan pesawat nirawak ke wilayah masing-masing.
***