JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjadikan pemilu paruh waktu (midterm elections) November 2026 sebagai pertarungan langsung atas masa depan pemerintahannya.
Dia menjanjikan USD 5.000 atau sekitar Rp87,55 juta dengan kurs Rp17.510 per dolar AS kepada setiap warga dewasa AS jika Partai Republik mempertahankan kendali atas DPR dan Senat, sekaligus mengatakan perang dengan Iran akan berakhir segera setelah pemilu.
Janji tersebut disampaikan Trump dalam konvensi pemilu paruh waktu pertama yang pernah digelar Partai Republik di Dallas. Konvensi dua hari itu digelar ketika partai Republik menghadapi risiko kehilangan kendali DPR, sementara sejumlah kandidat di daerah pemilihan ketat memilih menjaga jarak dari Trump karena tingkat kepuasan terhadap presiden berada di sekitar 38 persen.
Dilansir dari The Guardian, Kamis (10/9/2026), Trump mengatakan kepada massa, "Jika Partai Republik menang, Anda menang bersama kami, dan Anda akan mendapatkan USD 5.000." Dengan sekitar 270 juta warga dewasa, Reuters memperkirakan pembayaran itu membutuhkan sekitar USD 1,35 triliun atau sekitar Rp23.636 triliun. Mekanisme dan dasar hukumnya belum dijelaskan.
Baca Juga: Mark Zuckerberg Tolak Proposal Regulator AI Nasional dalam Pembicaraan Pribadi dengan Donald Trump
Besarnya tawaran tersebut memperlihatkan bagaimana Trump berusaha mengubah pemilu legislatif menjadi referendum atas dirinya. Ia bahkan meminta pemilih menganggap dirinya ikut bertarung.
"Saya meminta Anda berpura-pura bahwa saya ada di surat suara," ujar Trump. Ia juga mengklaim masa pemerintahannya sebagai "dua tahun paling sukses, secara finansial dan dalam segala hal lainnya, dalam sejarah kepresidenan," tanpa memberikan bukti atas klaim tersebut.
Pada saat yang sama, Trump membawa perang Iran langsung ke dalam kalkulasi politik pemilu. Sebelum menyampaikan pidato, ia mengatakan konflik akan berakhir "segera setelah" pemilu November karena Iran disebut berusaha memengaruhi hasil pemungutan suara.
Trump juga menyatakan harga minyak akan turun setelah perang berakhir. Reuters melaporkan konflik telah berlangsung lebih dari enam bulan dan belum menunjukkan tanda segera berakhir.
Dalam konvensi, Trump tetap membela keputusan menyerang Iran. Ia memperingatkan Teheran agar "jangan bertingkah macam-macam" atau AS "akan menghantam mereka dengan sangat keras." Ia juga mengatakan Iran saat itu hanya berjarak "dua, mungkin tiga minggu" dari memiliki senjata nuklir ketika keputusan menyerang dibuat. Pernyataan tersebut disampaikan ketika kenaikan harga minyak mulai menambah tekanan ekonomi terhadap pemerintahannya.
Klaim Trump mengenai akhir perang juga berhadapan dengan penilaian dari lingkaran pemerintahannya sendiri. Reuters melaporkan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio termasuk pejabat yang secara pribadi memperingatkan Trump bahwa konflik dapat berlangsung hingga akhir masa jabatannya pada Januari 2029. Kontras itu membuat janji mengenai berakhirnya perang setelah pemilu paruh waktu menjadi klaim politik yang jauh lebih besar daripada sekadar pernyataan soal kebijakan luar negeri.
Sementara itu, Trump memperingatkan pemilih bahwa kemenangan partai Demokrat akan membalik kebijakannya. "Jika kita kalah, Anda akan kehilangan perbatasan, Anda akan kehilangan pemotongan pajak, Anda akan kehilangan keselamatan dan keamanan, Anda akan kehilangan kekayaan Anda," katanya.
Ia juga menyerang Demokrat dengan menyebut adanya "awan kecil yang gila dan sakit" di atas AS serta mengatakan, "Kami akan mengalahkan komunisme di Amerika."
Namun, strategi tersebut membawa risiko bagi Partai Republik. Banyak kandidat yang menghadapi persaingan ketat memilih tidak hadir, sementara suasana arena Dallas juga dilaporkan tidak seramai yang digambarkan Trump.
Ia menyatakan arena "penuh" dan bahkan mengatakan jumlah orang di luar gedung sama banyaknya dengan yang berada di dalam, tetapi reporter The Guardian tidak melihat kondisi tersebut.
Konvensi yang seharusnya menonjolkan penurunan biaya hidup, keamanan perbatasan dan kepentingan pekerja justru banyak diisi serangan terhadap Demokrat terkait isu budaya, termasuk hak transgender.
Ketua Komite Nasional Demokrat Ken Martin menyebut acara itu sebagai "pertunjukan aneh untuk menyenangkan ego rapuh Trump dan menilai presiden sedang menyeret partainya menuju kekalahan."
Bagi partai Republik, persoalannya kini bukan hanya mempertahankan Kongres, tetapi apakah Trump masih mampu mengubah ketidakpuasan terhadap ekonomi dan perang Iran menjadi suara bagi partainya pada November.
Baca Juga: Donald Trump Sebut Selat Hormuz Wilayah Amerika Serikat di Tengah Ketegangan Militer dengan Iran