← Beranda
Di Balik Perang Teknologi AS-Tiongkok, Ada Metrologi Kuantum yang Menentukan Standar Masa Depan
Mellyna Putri DiniarSenin, 7 September 2026 | 20.56 WIB
Ilustrasi metrologi kuantum, sains presisi yang diam-diam menopang teknologi dunia dan kini menjadi taruhan besar Tiongkok / Foto: (Futura)

JawaPos.com — Persaingan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok selama ini identik dengan perebutan cip canggih, kecerdasan buatan, dan mineral tanah jarang. Namun, di balik pertarungan tersebut terdapat bidang yang jauh lebih sunyi tetapi berpotensi memengaruhi arah teknologi global: metrologi kuantum. 

Beijing kini mendorong pengembangannya sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian teknologi sekaligus meningkatkan pengaruhnya terhadap standar pengukuran yang akan menopang industri masa depan.

Sebagai informasi, metrologi kuantum adalah ilmu pengukuran yang memanfaatkan prinsip fisika kuantum untuk mencapai tingkat ketelitian yang melampaui metode konvensional. Penerapannya mencakup giroskop kuantum untuk navigasi tanpa GPS, jam atom untuk menyelaraskan jaringan komunikasi, hingga sensor yang mampu mendeteksi perubahan material pada skala sangat kecil. Presisi semacam ini juga penting dalam pembuatan cip karena kesalahan pengukuran sekecil nanometer dapat memengaruhi hasil produksi dan penelitian.

Metrologi mungkin terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, setiap cip, satelit, perangkat medis, hingga sensor iklim bergantung pada pengukuran yang akurat. Futura menjelaskan bahwa metrologi memastikan satu nanometer benar-benar setara dengan satu nanometer dan sebuah prosesor bekerja sesuai rancangan hingga skala atom. Ketika sirkuit semakin kecil dan teknologi kuantum berkembang, kebutuhan terhadap presisi tersebut ikut meningkat.

Dilansir dari Futura, Senin (7/9/2026), Beijing menempatkan metrologi sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat kemampuan teknologi hingga 2030. Rencana yang diterbitkan Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar Tiongkok menargetkan lebih dari 50 teknologi metrologi dasar, 20 acuan pengukuran kelas dunia, serta 100 instrumen dan material referensi baru.

Di pusat strategi itu terdapat metrologi kuantum, yang memanfaatkan prinsip fisika kuantum untuk menghasilkan pengukuran melampaui kemampuan metode konvensional. Tiongkok menargetkan pengembangan giroskop kuantum untuk navigasi tanpa GPS, sisir frekuensi optik berukuran mini untuk mengukur frekuensi cahaya secara sangat presisi, serta pengukuran skala nanometer untuk memeriksa kinerja cip.

Langkah tersebut bukan sekadar pembangunan laboratorium. Tujuan yang lebih besar adalah mengurangi ketergantungan pada lembaga dan standar pengukuran yang selama ini banyak dipengaruhi negara-negara Barat. Futura menilai strategi Beijing pada akhirnya diarahkan untuk ikut menentukan aturan teknis yang digunakan dalam pengukuran dan sertifikasi teknologi masa depan.

Signifikansinya terlihat dari persaingan dengan Washington. South China Morning Post melaporkan rencana Tiongkok itu muncul ketika AS memperketat pembatasan ekspor cip canggih dengan alasan keamanan nasional, sementara Beijing menggunakan pengaruhnya atas mineral tanah jarang melalui pembatasan ekspor. 

Dalam rencana tersebut, pemerintah Tiongkok menyatakan, “Pada 2030, kemampuan dasar metrologi akan ditingkatkan secara menyeluruh, dengan terobosan penting pada lebih dari 50 teknologi inti metrologi.”

Amerika Serikat sendiri tidak mengabaikan bidang ini. Program CHIPS for America, yang berada di bawah National Institute of Standards and Technology (NIST), pada April 2024 membuka peluang pendanaan senilai USS 54 juta atau sekitar Rp952,6 miliar dengan kurs Rp17.640 per dolar AS untuk layanan pengukuran, metrologi manufaktur, dan pengembangan fasilitas uji metrologi semikonduktor.

Persaingan itu menunjukkan bahwa metrologi bukan sekadar urusan laboratorium. Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan AS-Tiongkok mencatat bahwa teknologi kuantum memiliki implikasi terhadap penginderaan, pertahanan, pencitraan medis, eksplorasi sumber daya, dan keamanan. Lembaga tersebut juga menyebut kedua negara menginvestasikan miliaran dolar dalam riset kuantum secara luas, dengan Tiongkok menggunakan pendekatan terpusat yang digerakkan negara.

Dampaknya dapat meluas ke perdagangan, kesehatan, pemantauan iklim, pertahanan, hingga manufaktur. Standar pengukuran menentukan bagaimana suatu produk diuji, disertifikasi, dan diperdagangkan lintas negara. Karena itu, kemampuan menetapkan acuan pengukuran dapat memberi pengaruh lebih dalam daripada sekadar menghasilkan satu perangkat teknologi unggulan.

Bagi dunia teknologi, inilah alasan perlombaan metrologi patut diperhatikan. Tiongkok tidak hanya berusaha membuat teknologi yang lebih presisi, tetapi juga membangun kemampuan untuk menentukan bagaimana presisi itu didefinisikan. Jika standar tersebut semakin diterima secara internasional, persaingan teknologi AS-Tiongkok dapat bergeser dari perebutan produk menuju perebutan aturan dasar yang menentukan produk mana yang dianggap memenuhi standar dunia.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho