JawaPos.com – Banjir dahsyat yang dipicu runtuhnya gletser di kawasan Himalaya dekat perbatasan Nepal dan Tiongkok menewaskan sedikitnya 903 orang, sementara lebih dari 3.000 lainnya masih dilaporkan hilang.
Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Selasa (1/9), Bencana tersebut memicu banjir bandang dan tanah longsor yang menghancurkan sejumlah desa serta permukiman di sepanjang sistem Sungai Trishuli dan Bhotekoshi.
Operasi pencarian sempat dihentikan akibat kekhawatiran banjir susulan dari danau yang terbentuk karena tumpukan puing, sebelum akhirnya dilanjutkan setelah kondisi dinilai lebih terkendali.
Di Nepal, sekitar 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air dilaporkan hilang di 11 lokasi yang tersebar di distrik Rasuwa dan Nuwakot.
Pemerintah Nepal telah mengerahkan sekitar 19.000 personel keamanan dan 16 helikopter untuk mempercepat operasi pencarian, termasuk menyelamatkan pekerja yang terjebak di terowongan dan kawasan terdampak.
Namun, cuaca buruk, medan pegunungan, jalan yang rusak, serta terowongan yang dipenuhi lumpur menjadi kendala besar dalam upaya penyelamatan.
Diketahui sebanyak 2.498 orang masih dinyatakan hilang di Nepal, termasuk ratusan warga negara asing, sementara pihak berwenang di wilayah Tibet, Tiongkok, juga melaporkan ratusan orang belum ditemukan.
Tim penyelamat menghadapi kesulitan dalam mengidentifikasi korban karena banyak jenazah ditemukan jauh dari lokasi bencana dan fasilitas penyimpanan jenazah mulai mengalami keterbatasan kapasitas.
Nepal dan Tiongkok kini bekerja sama melakukan pencarian serta identifikasi korban dengan memanfaatkan satelit, radar, drone, anjing pelacak, dan peralatan pendeteksi kehidupan.
Kerugian akibat bencana tersebut diperkirakan mencapai lebih dari USD 4 miliar atau sekitar Rp66,8 triliun, berdasarkan perkiraan otoritas Nepal.
Tiongkok telah mengerahkan lebih dari 2.100 petugas penyelamat dan mengalokasikan CNY 220 juta atau sekitar Rp514 miliar untuk operasi bantuan.
Sementara dukungan internasional juga datang dari PBB, India, Australia, Korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, dan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
Pemerintah Nepal menegaskan bahwa operasi penyelamatan masih menjadi prioritas utama karena ribuan orang belum ditemukan dan ancaman banjir susulan masih membayangi wilayah pegunungan di sekitar perbatasan kedua negara.