← Beranda
Korban Banjir Nepal-Tibet Tembus 1.000, Lebih dari 600 Orang masih Terjebak di Terowongan PLTA
Rian AlfiantoRabu, 2 September 2026 | 05.42 WIB
Setiap pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal mempekerjakan ratusan pekerja, termasuk buruh lokal dan migran serta insinyur berketerampilan tinggi. (Reuters)

 

 


JawaPos.com - Korban tewas akibat banjir dahsyat di Nepal dilaporkan telah menembus 1.000 orang. Lebih dari 600 pekerja masih hilang dan diduga terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berlumpur di Sungai Trishuli.

Operasi penyelamatan terus dilakukan, namun keluarga pekerja mulai cemas karena pencarian berjalan lambat. Penyidik bahkan memompa udara ke beberapa terowongan untuk menjaga peluang hidup para pekerja di bawah tanah.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mengatakan Senin bahwa 279 orang telah dievakuasi dari lokasi proyek pembangkit listrik tenaga air. Tim penyelamat internasional yang terdiri dari militer Tiongkok dan Nepal memimpin operasi tersebut.

Sejumlah ahli dari India, Korea Selatan, dan Australia ikut membantu pencarian. Medan yang ditinggalkan banjir membuat upaya penyelamatan menjadi sangat sulit.

 

Terowongan Dipenuhi Lumpur, Harapan Keluarga mulai Menipis

Para insinyur mulai memompa udara ke dalam terowongan sejak akhir pekan. Tim penyelamat berhasil masuk ke salah satu terowongan yang menuju fasilitas pembangkit listrik pada Senin.

Mereka terpaksa mundur setelah tidak menemukan siapa pun di dalamnya. Bagi keluarga pekerja hilang, setiap jam sangat berarti.

"Aku berharap kita bisa menemukannya. Aku berharap dia akan pulang," kata Anushila Bhandari, istri insinyur Aurus Bhandari yang berusia 33 tahun, kepada BBC Nepali.

Keluarga lain masih berusaha mempertahankan harapan. "Saya masih memiliki harapan 50 persen bahwa dia masih hidup karena ada sistem oksigen di dalam," kata Sita Pandey, yang suaminya bekerja di pembangkit saat banjir, kepada surat kabar Nepal, Kantipur.

Jiban Khadka, kerabat yang juga terjebak di fasilitas tersebut, menilai operasi penyelamatan harus berjalan lebih cepat. "Semakin lama waktu berlalu, semakin mati harapan kami. Operasi ini harus bergerak jauh lebih cepat karena setiap detik sangat berarti bagi kami," katanya kepada Kantipur. "Itu operasi yang sangat lambat dan membuat frustrasi," tambah Khadka.

 

Medan Banjir Nepal Menjadi Tantangan Besar bagi Tim Penyelamat

Nepal sangat bergantung pada energi hidroelektrik dan membangun proyek pembangkit di sepanjang sungai pegunungannya selama bertahun-tahun. Sebanyak 11 proyek pembangkit listrik, baik sudah jadi maupun dalam pembangunan, rusak akibat banjir menurut otoritas setempat.

Arnold Dix, insinyur Australia yang membantu otoritas Nepal dari jarak jauh, menggambarkan kondisi lokasi sebagai medan yang hampir tak dikenali. "Jejak sebenarnya dari terowongan-terowongan itu telah hilang, semuanya benar-benar lenyap. Tampak seperti lanskap bulan," katanya kepada BBC Radio 4's World at One.

Menurut Dix, setelah lokasi pembangkit diketahui, penyelamat harus menentukan akses terbaik ke fasilitas tersebut. Proses ini dapat melibatkan penggalian hingga penghancuran batu besar.

"Ada batu besar lebih besar dari rumah. Saya belum pernah melihat itu seumur hidup saya. Ini benar-benar operasi yang luar biasa," ujar mantan kepala International Tunnelling Association tersebut.

Meskipun demikian, Dix masih melihat peluang bagi para pekerja yang terjebak. Lingkungan bawah tanah mungkin memberi perlindungan dari banjir di permukaan.
Pemerintah Nepal: Banjir Ini Bukan Bencana Biasa

Perdana Menteri Balendra Shah mengatakan operasi pencarian dan penyelamatan kini "diintensifkan." Ia menilai bencana ini menunjukkan meningkatnya risiko di kawasan Himalaya akibat perubahan iklim.

"Insiden ini menunjukkan bahwa risiko yang kita hadapi di kawasan Himalaya meningkat seiring dengan perubahan iklim," tulis Shah di Facebook Senin malam. "Sudah waktunya bagi kita dengan tegas mengangkat kepada komunitas internasional persoalan bencana akibat perubahan iklim," lanjutnya.

Pernyataan ini tempatkan tragedi Nepal dalam konteks luas. Banjir besar tidak hanya menghancurkan permukiman dan infrastruktur, tetapi juga mengancam proyek energi penting bagi perekonomian Nepal.

 

Ratusan Jenazah Belum Teridentifikasi

Besarnya dampak banjir terlihat dari penanganan korban meninggal dunia. Dari sekitar 900 jenazah ditemukan, hanya 4 persen berhasil diidentifikasi, menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Nepal kepada BBC Nepali.

Di distrik Chitwan, sekitar 300 jenazah terbawa sungai hingga ke tepian. Karena keterbatasan fasilitas penyimpanan, sebagian korban harus dimakamkan sementara.

Di kawasan hutan dekat kota, petugas medis dan relawan mengambil sampel DNA jenazah belum teridentifikasi. Pemerintah menyatakan keluarga bisa mengambil jenazah setelah identitas terkonfirmasi dengan DNA.

"Kami tidak memiliki cukup freezer di sini... Kami harus pilih pemakaman sementara. Kami benar-benar kewalahan," kata Ganesh Aryaal, kepala distrik, kepada BBC Nepali.

Harapan kini bergantung pada kecepatan tim penyelamat menembus lumpur, batu, dan reruntuhan yang tutup akses ke terowongan.

Lebih dari 600 pekerja hilang, ribuan lainnya belum ditemukan. Operasi di Sungai Trishuli jadi bagian terpenting respons Nepal terhadap bencana.

Bagi keluarga korban, bukan soal menemukan lokasi terowongan lagi. Mereka harus tahu apakah orang tercinta masih hidup di bawah tanah. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan