JawaPos.com - Elon Musk kembali mencoba memecahkan hambatan yang mengancam ekspansi kecerdasan buatan atau AI. Kali ini, bukan kekurangan cip Nvidia yang menjadi sasaran, melainkan keterbatasan pasokan listrik untuk pusat data. Namun, solusi Musk untuk mempercepat pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas membawa persoalan lain yang tidak kecil: polusi udara.
SpaceX tengah membangun fasilitas pengecoran rahasia di Bastrop, Texas, untuk memproduksi sendiri bilah dan sudu turbin gas, komponen yang menjadi salah satu titik tersulit dalam rantai pasokan energi. Jika berhasil, langkah itu dapat memberi bisnis Musk keunggulan manufaktur yang sulit ditiru pesaing.
Dilansir dari TechCrunch, Senin (31/8/2026), Musk mengonfirmasi fungsi fasilitas tersebut melalui unggahan di X. "SpaceX dan Tesla masing-masing membangun kapasitas produksi tenaga surya 100 gigawatt per tahun secepat mungkin. Namun, gas alam masih dibutuhkan untuk melengkapi dan menjadi penopang awal tenaga surya selama beberapa tahun," tulisnya.
Baca Juga: Startup Operation Bluebird Luncurkan Twitter Versi Baru di Tengah Sengketa Elon Musk
Musk melanjutkan, "Faktor pembatas produksi turbin gas alam adalah pengecoran bilah dan sudu. Dengan melakukan pengecoran sendiri di SpaceX, kami dapat mempercepat pengoperasian turbin gas alam hingga 18 bulan, dan ini merupakan perubahan besar."
Masalahnya, permintaan listrik pusat data berkembang jauh lebih cepat daripada pembangunan infrastruktur energi. Badan Energi Internasional atau IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data global hampir dua kali lipat pada 2030. Sementara itu, GE Vernova dilaporkan pada dasarnya telah menjual habis kapasitas produksi turbin hingga 2030 akibat lonjakan permintaan infrastruktur AI.
Kondisi tersebut mendorong perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Google, Meta, OpenAI, dan Microsoft membangun pembangkit listrik berbahan bakar gas di dekat pusat data. Strateginya sederhana: mendapatkan pasokan listrik lebih cepat daripada menunggu jaringan listrik umum diperluas. Setelah bertahun-tahun menekankan energi surya dan angin, gas alam kembali menjadi jalan pintas untuk menghidupkan infrastruktur AI.
Hambatan terbesar terletak pada komponen yang hendak diproduksi SpaceX. Menurut laporan The Information, bagian terpanas turbin bekerja pada suhu sekitar 3.000 hingga 3.600 derajat Fahrenheit, atau sekitar 800 derajat lebih tinggi daripada titik leleh logam pembentuknya. Bilah tersebut harus memiliki saluran pendingin internal, lapisan pelindung panas, dan struktur kristal tunggal tanpa sambungan mikroskopis yang dapat memicu keretakan.
Hanya empat perusahaan di dunia yang menguasai proses pengecoran itu dalam skala industri, dan seluruh kapasitas mereka saat ini telah terserap. Karena itu, keberhasilan SpaceX dapat membuat Musk menguasai kemampuan manufaktur yang sangat dibutuhkan industri AI global. Namun, mempercepat pasokan turbin juga berarti mempercepat penggunaan pembangkit gas.
Risiko tersebut sudah terlihat di Memphis, tempat pusat data Colossus milik xAI menggunakan turbin gas sejak 2024. NAACP berulang kali menuduh perusahaan mengoperasikan turbin tanpa izin dan pengendalian polusi yang diwajibkan hukum federal. Organisasi itu memperingatkan emisi turbin dapat menghasilkan polutan pembentuk kabut asap serta bahan kimia berbahaya seperti formaldehida.
Kontroversi serupa juga muncul di Virginia, kawasan yang dijuluki "Data Center Alley." Analisis yang menggunakan model dampak kesehatan COBRA milik EPA memperkirakan emisi delapan turbin gas yang beroperasi penuh waktu di satu fasilitas dapat berdampak pada lebih dari 2,5 juta penduduk dan menyebabkan sekitar 3,4 hingga 6,5 kematian dini tambahan setiap tahun.
"Ketika pusat data besar menggunakan turbin bahan bakar fosil di kawasan padat penduduk, bahkan peningkatan kecil polusi udara dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan yang nyata," kata ilmuwan kesehatan Michael Cork.
Baca Juga: Elon Musk Bangun Fasilitas Roket Terbesar SpaceX di Louisiana, Picu Dukungan dan Kekhawatiran Warga
Analisis itu memperkirakan kerugian kesehatan tahunan dapat mencapai USD 53 juta hingga USD 99 juta, atau sekitar Rp 941,28 miliar hingga Rp1,76 triliun, dengan kurs Rp17.760 per dolar AS.
Bagi Musk, pengecoran internal dapat menjadi jalan pintas untuk mengatasi kemacetan energi AI. Namun, semakin cepat turbin diproduksi dan dioperasikan, semakin besar pula pertanyaan tentang biaya lingkungan dari perlombaan AI yang kini tidak hanya membutuhkan cip dan modal, tetapi juga listrik dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.