← Beranda
Profil Raja Harald V yang Mangkat di Usia 89 Tahun, Kisah Cinta dan Modernisasi Kerajaan Norwegia
Rian AlfiantoSabtu, 29 Agustus 2026 | 14.24 WIB
Ilustrasi Raja Harald V. (FEA for All).

 

JawaPos.com - Raja Harald V dari Norwegia mangkat pada Jumat (28/8) waktu setempat dalam usia 89 tahun. Selama memimpin sejak 1991, Harald dikenang sebagai salah satu raja paling modern di Skandinavia, yang berhasil memadukan tradisi monarki dengan nilai-nilai demokrasi dan kehidupan masyarakat Norwegia yang terus berubah.

Mangkatnya Harald menutup perjalanan panjang seorang raja yang sejak masa kanak-kanak telah mengalami perang, pengasingan, perubahan sosial hingga berbagai persoalan kesehatan. Ia bukan sekadar kepala negara, tetapi juga figur yang ikut mengubah cara keluarga kerajaan Norwegia berhubungan dengan rakyatnya.

Masa Kecil di Tengah Perang dan Pengasingan

Harald lahir di Skaugum pada 21 Februari 1937. Ia menjadi pangeran pertama yang lahir di wilayah Norwegia dan kemudian naik takhta sejak era Abad Pertengahan.

Ketika Nazi menginvasi Norwegia pada 1940, Harald yang baru berusia tiga tahun harus meninggalkan tanah air bersama ibunya dan dua saudara perempuannya.

Mereka kemudian menghabiskan masa awal perang di Washington, D.C., setelah mendapat undangan pribadi dari Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt.

Setelah kembali ke Norwegia pada 1945, Harald menjalani pendidikan yang juga mencerminkan perubahan zaman. Ia menjadi anggota pertama keluarga kerajaan Norwegia yang bersekolah di sekolah negeri, meninggalkan tradisi lama yang memisahkan keluarga kerajaan dari kehidupan pendidikan masyarakat umum.

Pendidikannya kemudian berlanjut di Akademi Militer Norwegia dan Balliol College, Oxford.

Kisah Cinta Ubah Monarki Norwegia

Salah satu bagian paling menentukan dalam kehidupan Harald adalah kisah cintanya dengan Sonja Haraldsen, seorang perempuan dari kalangan rakyat biasa.

Hubungan mereka berlangsung selama sekitar satu dekade dan sempat memicu perdebatan politik serta konstitusional. Penolakan terhadap rencana pernikahan itu bahkan membuat Harald mengambil sikap tegas kepada ayahnya, Raja Olav V.

Harald menyatakan bahwa jika dirinya tidak diperbolehkan menikahi Sonja, ia akan memilih tetap tidak menikah seumur hidup. Keputusan tersebut berpotensi mengakhiri garis keturunan kerajaan.

Pada akhirnya, setelah mendapat persetujuan pemerintah dan parlemen, Harald dan Sonja menikah pada 1968.

Pernikahan itu menjadi salah satu tonggak penting dalam modernisasi monarki Norwegia.

Pilihan Harald memperlihatkan bahwa keluarga kerajaan mulai lebih dekat dengan realitas kehidupan masyarakat, sekaligus membuka jalan bagi penerimaan hubungan antara bangsawan dan rakyat biasa.

Punya Prestasi Atletik

Sebelum menjadi raja, Harald juga dikenal sebagai pelaut berprestasi. Ia mewakili Norwegia dalam cabang olahraga layar pada tiga Olimpiade Musim Panas berturut-turut, yakni Tokyo 1964, Mexico City 1968 dan Munich 1972.

Prestasinya tidak berhenti pada partisipasi di Olimpiade. Harald juga mencapai level dunia dengan meraih medali dalam kejuaraan dunia dan Eropa.

Kecintaannya terhadap olahraga layar menjadi salah satu sisi personal yang membuat sosoknya berbeda dari gambaran raja yang hanya menjalankan tugas seremonial.

Dari istana, Harald Mendorong Toleransi

Sebagai kepala negara dalam sistem monarki konstitusional, Harald dikenal konsisten menyuarakan toleransi dan persatuan nasional.

Salah satu pidatonya yang paling dikenang disampaikan pada 2016. Dalam pidato tersebut, ia secara terbuka menekankan pentingnya kebebasan beragama dan rekonsiliasi dengan masyarakat adat Sami di Norwegia.

Pesan tersebut mendapat perhatian luas secara internasional dan memperkuat citra Harald sebagai raja yang berusaha menempatkan monarki di tengah masyarakat modern, bukan terpisah darinya.

Tetap Bertakhta Meski Kesehatan Memburuk

Dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya, kesehatan Harald beberapa kali menjadi perhatian publik. Namun, ia berulang kali menegaskan tidak akan turun takhta.

Sikap itu berkaitan dengan sumpah konstitusional yang diucapkannya di hadapan parlemen Norwegia, Storting, ketika naik takhta pada 1991. Bagi Harald, sumpah tersebut merupakan janji untuk mengabdi kepada Norwegia sepanjang hidupnya.

Dalam salah satu fase terakhir penyakitnya, Harald dirawat di National Hospital di Oslo setelah mengalami infeksi bakteri dalam aliran darah dan mendapatkan perawatan antibiotik.

Putra sulungnya, Putra Mahkota Haakon, kemudian menjalankan tugas sebagai wali raja ketika Harald menjalani perawatan.

Pengadilan kerajaan sebelumnya menyebut kondisi Harald berkaitan dengan pengobatan kortison untuk anemia hemolitik.

Obat tersebut menyebabkan penumpukan cairan di tubuhnya. Anemia hemolitik sendiri merupakan kondisi langka ketika sel darah merah dihancurkan lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk menggantinya.

Harald juga sempat beberapa kali menjalani perawatan medis. Pada Februari, ia dibawa ke rumah sakit di Kepulauan Canary saat berlibur dan mendapat perawatan untuk infeksi kulit.

Setahun sebelumnya, ketika jatuh sakit dalam perjalanan pribadi di Malaysia, Harald dipasangi alat pacu jantung sementara. Ia kemudian diterbangkan kembali ke Norwegia menggunakan pesawat medis dan menjalani pemasangan alat pacu jantung permanen.

Warisan Harald V Bagi Norwegia

Harald V meninggalkan warisan yang lebih luas daripada sekadar masa pemerintahan selama lebih dari tiga dekade.

Ia tumbuh sebagai anak kerajaan yang mengalami pengasingan akibat perang, menempuh pendidikan di sekolah negeri, memperjuangkan pernikahan dengan perempuan biasa, berprestasi sebagai atlet dan akhirnya menjadi kepala negara yang dikenal mengedepankan toleransi.

Baca Juga: Raja Harald V dari Norwegia Dirawat, Kondisi Memburuk akibat Anemia Hemolitik

Perjalanan itu menjadikan Harald sebagai simbol transisi monarki Norwegia menuju bentuk yang lebih terbuka dan dekat dengan masyarakat.

Di tengah perubahan zaman, ia tetap mempertahankan institusi kerajaan, tetapi pada saat yang sama menunjukkan bahwa tradisi dapat berjalan berdampingan dengan nilai demokrasi, keberagaman dan kehidupan masyarakat modern.

 

EDITOR: Kuswandi